Monday, October 27, 2008

Necessity is the Mother of Invention

*Sebangsa leftover dari Lebaran lalu ;-)*

Ketika tahu gw akan "sendirian" tanpa staf garda belakang selama libur Lebaran, gw sempat ngeri. Tugas2 domestik kerumahtanggaan sih nggak seberapa bikin bingung, tapi... punya bayi umur 5 bulan? Belum pernah! Di kasus Ima lebaran pertamanya jatuh saat dia sudah 7 bulan. Sudah lepas ASI, sudah makan bubur, dan sudah bisa duduk sendiri. Itupun gw tidak completely alone, karena yang pulang hanya pengasuhnya saja. Tetap ada PRT yang bantu2 mencuci tumpukan celana Ima.

Naaah... sekarang? Gw mesti berlaku bak Betari Durga bertangan 6.. hehehe.. karena harus mencuci tumpukan celana bekas ompol, menggendong bayi yang belum bisa duduk sendiri, sekaligus menjadi pemasok tunggal ASI. Dan... did I mention bahwa Nara ini bayi caper? Yang kalau nggak digendong sebentaaarrr aja, bakal nangis keras2? Dan tangisannya lebih keras daripada lampornya Nyi Roro Kidul? Dan.. ohya, selain caper, Nara juga punya bakat jadi satpam! Pokoknya, sebelum ayam jantan berkokok, pantang buatnya untuk tidur ;-)

Tapi the show must go on. Maka, akhirnya tibalah hari yang ditakutkan: hari dimana tidak satu pun orang tersisa (halah! hiperbola!) untuk membantu gw.

Hari pertama, bangun jam 10 pagi, setelah semalam nemenin Nara bergadang, langsung angkut2 pakaian kotor buat dicuci. Belum juga mulai kerja, baru sampai di service area, gw sudah mati ucap! Alih2 menemukan botol2 dengan merek pelembut, pembersih lantai, dll, gw malah menemukan sederet botol plastik BEKAS minuman. Tidak ada satupun tanda2 botol mana berisi produk apa! Pun, nggak ada kertas petunjuk!

Ah, tapi gw kan tahu baunya! Tinggal dicium kan? Maka mulailah gw menggunakan penciuman untuk melacak masing2 produk ;-) Ada 4 botol yang terlihat, dan gw tengarai sebagai 4 macam produk: pembersih lantai, pelembut pakaian, deterjen cair (yang dipakai untuk baju2 tertentu), dan karbol.

Botol pertama, terkonfirmasi sebagai pembersih lantai. Botol kedua, tidak diragukan lagi, pasti karbol. Botol ketiga, teridentifikasi sebagai deterjen cair. Maka... gw tidak repot2 lagi mencium botol keempat. Pasti pelembut pakaian toh ;-)?

Dengan riang gw mencuci baju, menguceknya, dan kemudian membilasnya beberapa kali. Tolong dicatat, setiap kali membilas tentunya membutuhkan tenaga tak sedikit untuk memeras sisa air di baju. Lega banget ketika akhirnya tiba pada bilasan terakhir. Tinggal menambahkan pelembut, dan... jemur! Tapi... lho, lho... kok pelembutnya berbusa? Bukannya pelembut itu dipakai di bilasan terakhir dan tidak perlu dibilas lagi? Logikanya nggak berbusa dong?

Penuh kecurigaan, gw mencium isi botol keempat itu. Bener kok, wanginya lembut. Mirip wangi bayi. Mirip dengan produk pencuci botol bayi yang selalu gw pakai. Jadi ini pelembut kan?

Eh.. bentar. Balik ke kalimat sebelumnya. Mirip dengan PRODUK PENCUCI BOTOL BAYI. Dan merek yang sama mengeluarkan produk deterjen cair. Dan gw pernah beli produk itu buat coba2. Jadi.... WAAAAAKSSSS, ini deterjen cair juga, tapi khusus untuk baju bayi!!!

Terpaksa deh, ulang dari awal mencucinya... hehehe....

Hari pertama penuh bencana itu belum berakhir, rupanya. Sorenya, gw mau mensterilkan botol2 Nara. Semua botol yang sudah gw cuci masuk dalam panci besaaaar yang kemudian direbus sampai mendidih. Di tengah proses, gw ingat bahwa teething ring Nara udah beberapa hari gak gw minta sterilkan. Jadi... tanpa pikir panjang, gw cemplungkan saja teething ring itu di panci, nyalain kompor, dan... gw tinggal rebusan itu untuk ngurusin Nara.

Sepuluh menit berlalu... botol2 gw angkat dari panci, dan..... teething ring berbentuk buah ceri yang indah itu sudah jadi kismis... HAHAHAHAHA... alias meleleh :-( Oh, oh, oh... ternyata, teething ring itu cuma boleh DICELUP ke air hangat, atau dicuci dengan produk khusus untuk mensterilisasi :-( It's a big no-no to boil the toy!

*Tapi gw udah beliin yang baru kok, buat menebus fuilty geeling gw ;-) Tuh, yang bentuknya es krim*

Bercermin dari kegagalan hari pertama, hari berikutnya bapaknya anak2 yang mencuci baju. Kalau gw orangnya sedikit perfeksionis, ngeyel mau mencuci manual, maka bapaknya lebih praktis: memanfaatkan mesin cuci. Tapi... saking praktisnya, dia main menuangkan aja seluruh isi keranjang baju kotor Nara ke mesin cuci.

Hasilnya? Di tengah mencuci dia bingung sendiri: kok banyak kapas2 ya, yang ngambang di mesin cuci? Tapi kebingungannya nggak lama, karena... sebentar kemudian sebuah disposable diapers menyembul bak lumba2 ;-)

Makanya toh, Pak, kalau mau nyuci lihat2 dulu isinya. Jangan main cemplungin... hehehe... Untung disposable diaper yang ada feces-nya langsung masuk keranjang sampah, nggak pernah mampir ke keranjang pakaian kotor ;-)

Dan bencana demi bencana terus berdatangan, sebagian karena ada mom's helper yang berniat baik membantu semua pekerjaan ibunya. Tapi... seperti layaknya other 9-year-old helper, kerjanya harus mendapat finishing touch (= eufemisme dari dikerjakan ulang) dari orang tuanya ;-)

*Makanya bener banget tuh kalau anak kecil gak boleh dipekerjakan. Kasihan yang mempekerjakan juga... HAHAHAHA... Damn Erik Haerik Erikson dengan Psychosocial Development Theory-nya! Pasti waktu menelurkan teori mengenai Industry vs Inferiority pada anak usia sekolah, dia nggak memperhatikan dampaknya pada si ibu ;-)!

***

Tapi, walaupun hari2 pertama penuh dengan bencana, dari hari ke hari ada juga proses belajarnya. Dan... beruntunglah kami, karena dianugerahi kemampuan berpikir, sehingga semua necessity yang muncul dari kesulitan2 tugas domestik ini benar2 menjadi the mother of invention ;-)

Temuan pertama terjadi pada hari keempat lebaran. Eyangnya Ima & Nara sudah berangkat ke Solo untuk pertemuan keluarga tahunan. Tapi, sebelum berangkat, beliau berbaik hati memasakkan nasi sebanyak2nya dalam magic jar di rumah kami.

Benar2 "sebanyak2nya" dalam arti harafiah... karena... jadi lebih banyak daripada yang mampu kami makan, dan besoknya nyaris basi!

Rasanya pingin nangiiiis deh melihat nasi sebanyak itu nyaris tak termakan. Dibuang kok sayang, sementara banyak orang nggak bisa makan. Tapi... mau dimakan kok juga udah benyek2 gimanaaaaa gitu.

Gw sudah hampir membuang nasi2 itu, ketika tiba2 mendapat pencerahan. Aha! Kenapa nggak digoreng aja? Kan tahan lebih lama?

Berhubung nggak punya bumbu nasi goreng, terpaksa deh mengarang bebas. Beruntung, beberapa tahun lalu sempat dapat tugas mewawancarai dan mengobservasi ibu2 masak nasi goreng. Jadilah, gw buka2 laci memori mengingat bumbunya apa saja. Yang penting bawang putih (rada banyak), bawang merah, cabe, dan... sisanya gw tuangin aja kecap ikan dan kecap asin.

Eh, jadinya enak juga lho! Setidaknya, bisa dimakan tanpa rasa terpaksa... hehehe... Ini temuan #1: bahwa ternyata gw bisa memasak kalau terpaksa ;-) Mengingat biasanya gw nggoreng nugget aja gosong ;-)

Temuan kedua juga masih berkaitan dengan makanan ;-) Berhubung gw tetap nggak jago masak (meskipun bisa berimprovisasi masak nasi goreng ;-)), akhirnya kami lebih banyak makan di luar. Kendalanya - selain dana membengkak - adalah mengatur posisi Nara ;-) Dia kan belum bisa duduk sendiri, jadi nggak bisa ditaruh di kursi makan anak2. Ditaruh di kereta? Coba aja! Pasti ada yang mengira lampor datang ;-). Jadi, kami harus bergantian menggendong Nara.

*Catatan: kami di sini artinya gw & bapaknya ya! Ima kan belum bisa. Eh, bisa sih, tapi kalau Ima nggendong, harus ada yang ngawasin juga, jadi sama aja lah!*

Dan temuan baru dari bapaknya anak2 adalah: makan sambil tetap menggendong Nara ;-) Seperti di gambar samping ini: Nara digendong dengan kantong kangguru, lalu kepalanya ditutupi tisyu, naaah... bisa deh makan tanpa kepalanya Nara kejatuhan makanan ;-)

Tapi temuan baru ini hanya bisa digunakan oleh bapaknya ;-) Soalnya gw kurang tinggi... HAHAHAHA... Atau mungkin gw cukup tinggi, tapi Nara yang terlalu tinggi untuk ukuran bayi ;-) Soalnya, kalau gw pakai posisi seperti itu, maka kepalanya Nara akan tepat berada di depan bibir gw. Dengan demikian... percuma juga kepalanya Nara ditutupin tisyu. Kalau mau nggak kotor, Nara mesti pakai jas hujan ;-) Belum lagi, tetap aja sendok susah masuk ke mulut gw ;-)

***

Dengan pengalaman ini, gw jadi benar2 membuktikan bahwa necessity is the mother of invention ;-) Mungkin, kalau para garda belakang ini pulangnya lebih dari 10 hari, bakal lebih banyak lagi temuan2 yang kami dapatkan ;-)

Tapi... mendingan nggak jadi penemu deh, daripada hidup jungkir balik kayak kemarin... hehehe... Makanya, ketika si Mbak balik dari kampung, langsung kami sambut dengan hangat. She's our savior.. HAHAHAHA...

Rescue me before I lose control
Rescue me from this fire in my soul
There's only you who can stop me from falling
I need a saviour, need my saviour


(Savior - dipopulerkan oleh Anggun)