Wednesday, January 16, 2008

Mrs. Tambourine Mom

Mrs. Tambourine Mom itu julukan baru bapaknyaima buat gw ;-) Diambil dari lagu tua si gaek Bob Dylan: Mr. Tambourine Man, dan memang cocok buat menggambarkan penampang gw saat ini. Maklum, di kehamilan kali ini gw tidak melebar seperti jaman hamil Ima dulu. Cuma diameter perut aja nambah terus. Malah ukuran vital gw sekarang lebih kecil (baca: lingkar lengan dan paha – ukuran vital buat beli baju ;-)). Sampai memasuki bulan ke-7 ini berat badan gw cuma nambah 3kg. Dulu waktu hamil Ima juga nambahnya cuma 3kg sih.. tapi per bulan.. hehehe..

Anyway.. being a Mrs. Tambourine Mom, membuat gw menyadari beberapa hal yang selama ini nggak pernah terpikir oleh gw.

Yang pertama, tentu aja, menyadari betapa nggak sehatnya pola makan gw dulu. Buktinya sekarang setelah mengubah drastis pola makan, rasanya lebih sehat dan technically lebih kurus. Ternyata menyugesti diri sendiri bahwa makanan2 tertentu (yang kurang bermanfaat buat kesehatan) nggak enak itu lumayan mudah. Contohnya, gw dulu tuh hobi banget makan duren. Kalau lagi tugas ke Medan, bisa berjam2 nongkrong di lapak duren menikmati butir demi butir yang keemasan itu. Pulang ke Jakarta masih ngeborong duren yang cukup buat dicemil selama 3-4 hari (harus habis dalam 4 hari, soalnya kalau enggak rasanya keburu asem ;-)). Sekarang, begitu duren dinyatakan haram buat gw, ternyata mudah aja tuh untuk meredam keinginan makan duren. Gw sekarang nggak tergoda kalau lewat toko buah yang jual duren ;-)

Tapi.. ternyata, yang lebih susah adalah menyugesti diri sendiri untuk menyukai makanan2 tertentu (yang sebenarnya cukup baik buat kesehatan)! Sampai sekarang, gw tetap nggak bisa mengubah mind-set bahwa ikan adalah makanan enak. Udah nyoba berbagai macam teknik CBT maupun NLP, teteeeup.. aja yang namanya tenggorokan gw susah menelan ikan. Maklum, dari dulu masakan ikan yang gw sukai cuma ikan bakar dan sashimi.. hehehe.. Keseringan makan ikan bakar lama2 bosen juga, sementara sashimi juga itungannya haram buat gw – karena mentah.

Ternyata memerintahkan perasaan untuk ”membenci” memang lebih sulit daripada ”mencintai” ya.. HAHAHAHA..

Terus.. being a Mrs. Tambourine Mom, juga membuat gw lebih menyadari betapa carut-marutnya pengaturan milik publik di Indonesia. Pertama2, gw jadi lebih menyadari betapa ngawurnya orang2 membuat polisi tidur. Dari beberapa bulan sebelum hamil sih gw udah dengar adik gw sering ngomelin “polwan bunting” di depan kompleks.. hehehe.. Memang gundukan penghambat laju kendaraan itu sedemikian tinggi dan curam, sehingga lebih cocok dibilang polwan bunting daripada ”sekedar” polisi tidur. Mobil adik gw yang ceper itu seringkali (atau selalu ya?) tergesek saat melewatinya.

Dulu2 sih gw nggak sadar karena mobil gw lumayan tinggi. Baru, setelah menjadi tergantung sama taksi dan bajaj, gw menyadari penderitaan orang2 lain ;-) Asli lho, kalau gw lupa ngasih tahu pengemudi taksi, bisa dipastikan badan gw akan terhempas berkali2 di medan yang tidak bersahabat itu. Nggak baik kan, buat kesehatan ibu hamil? Hehehe.. Nah, bayangin aja kalau gw lagi naik bajaj! Nggak usah dihempaskan gundukan aja, naik bajaj itu udah bikin badan terhempas2.

Semenjak jadi pelanggan taksi, gw juga jadi tambah menyadari betapa menyebalkannya para pengendara motor itu (no offense ya, para pengendara motor ;-) I’m talking about statistic, not about individual.. hehehe.. dan modenya masih berkutat pada perilaku pengendara motor yang “nggak sopan” ;-)). Sekarang kan tiap sore gw jadi Hantu Casablanca, hehehe.. alias nungguin taksi pas di samping underpass [yang katanya] seram itu. Naah.. penderitaan gw dimulai sepanjang trotoar sejak mulai keluar kantor. Para pengendara motor dengan semena2 menggelinding di jalur pejalan kaki tersebut, membuat gw mesti minggiiiiiir banget, nunggu mereka ”berkenan” turun ke jalur kendaraan bermotor. Padahal kan nggak gampang meminggirkan perkusi sebesar ini.. hehehe.. Coba aja lihat marching band tuh, yang pada pegang perkusi kan jalan aja susah, apalagi minggir ;-)

Pernah sih mencoba2 nggak mau minggir, pasang body aja, biar mereka yang minggir. Eh, ternyata efeknya nggak sedahsyat seperti kalau gw bermobil.. hehehe.. Yang ada malah para pengendara motor itu ngomel2in gw yang nggak mau minggir. Ternyata urutan mematuk berlaku banget di sini.. hehehe.. pengendara mobil kalah sama metromini raja jalanan, motor kalah sama pengendara mobil, naaah.. giliran pengendara motor deh menganiaya kaum pejalan kaki. Pertanyaannya.. sekarang siapa yang bisa gw aniaya ya.. untuk melestarikan urutan ini ;-)?

Gw jadi berasa trenyuh ingat penderitaan Umminya Ankaa jaman hamil dulu, yang kalau naik bis atau kereta nggak ada yang nawarin duduk. Pasti lebih berat lagi daripada cuma harus jalan minggir2 sejauh 500-an meter di jalur-pejalan-kaki-yang-diakuisi-oleh-pengendara-motor-dengan-semena-mena.

Eh.. takjubnya, pas gw sempat keceplosan sharing tentang penderitaan ibu hamil di bis, beberapa teman gw ternyata responsnya begini:

“Ya, habis gimana? Saya itu juga capek, kerja seharian. Mosok sesudah kerja seharian, dapat tempat duduk susah2, harus berdiri lagi cuma karena ada ibu-ibu hamil? Nggak adil juga, memangnya cuma orang hamil yang boleh capek?”

“Habis gimana ya, gw sendiri suka sebal sama ibu2 [hamil] itu. Manipulatif! Gw tuh demi dapat tempat duduk kadang2 naik bis yang rutenya berlawanan, sehingga saat orang2 udah turun di terminal, gw dapat tempat duduk. Gw udah rugi waktu, bayar ongkos 2x, mosok harus berdiri lagi karena ada ibu2 [hamil] sih? Ya kalau mereka mau duduk, usaha dong kayak gw”

Well, gw tahu, udah nggak jamannya jadi knight in shining armor. Lagian, kalaupun masih jaman, kan tugasnya pangeran berkuda putih itu menyelamatkan putri cantik, bukan ibu2 hamil.. HAHAHAHA.. Tapi.. tetap aja, takjub juga mendengar responsnya ;-)

Yaah.. sebenarnya pendapat mereka masuk akal juga sih; mereka juga capek, mereka udah susah2 usaha cari tempat duduk. Tapi di sisi lain, secara gw udah pernah hamil (dan lagi hamil juga), gw ragu kalau ibu2 hamil ini sekedar manipulatif. Dengan keadaan hamil, terus terang sih kondisi tubuh dan ambang ketahanan terhadap lelah tuh menurun drastis. Kalau yang kerja seharian aja capek, apalagi yang kerja seharian dalam kondisi hamil. Dan setidaknya, yang kerja seharian masih punya sisa tenaga untuk rute memutar (biar bisa dapat tempat duduk saat orang2 turun di terminal yang bukan tujuannya). Gw nggak yakin ibu2 hamil punya stamina yang sama untuk melakukannya.

Anyway.. penderitaan terbaru gw berkaitan dengan kelangkaan kedelai ;-)

Setelah nggak berhasil menyugesti diri sendiri bahwa ikan itu adalah makanan yang enak, gw agak tergantung pada tempe dan tahu. Pengusaha kecil tahu/tempe terancam gulung tikar karena harga kedelai yang melonjak. Lha, kalau sekarang tempe dan tahu hilang juga dari pasaran, gw mau makan apa dong?

Bener2 deh, gw jadi pingin nyanyi lagunya Bob Dylan itu:

Hey! Mr Tambourine Man, play a song for me
I'm not sleepy and there is no place I'm going to
Hey! Mr Tambour
ine Man, play a song for me
In the jingle jangle morning I'll come followin' you

Then take me disappearin' through the smoke rings of my mind,
Down the foggy ruins of time, far past the frozen leaves,
The haunted, frightened trees, out to the windy beach,
Far from the twisted reach of crazy sorrow.
Yes, to dance beneath the diamond sky with one hand waving free,
Silhouetted by the sea, circled by the circus sands,
With all memory and fate driven deep beneath the waves,
Let me forget about today until tomorrow.

Interpretasi tentang lagu ini sendiri beragam. Konon, banyak yang menginterpretasikan lagu ini sebagai kisah tentang pengedar narkoba. ”Play a song for me” itu eufemisme dari “loe jual nggak?”. Tapi Bob Dylan sendiri mengatakan tidak, liriknya lebih menggambarkan jiwa dan pikiran yang bebas.

Well, apa pun interpretasi aslinya, kayaknya lagu ini nyambung sama hidup gw lebih dari sekedar penggambaran penampang. Soalnya kayaknya gw juga butuh a song untuk let me forget about today until tomorrow ;-)