Sunday, January 06, 2008

"Cari Duit itu Ternyata Capek!"

Sejak pertama kali mendengar bahwa Kidzania akan dibuka di Jakarta, gw sudah bertekad bulat untuk tidak membocorkan informasi ini pada Ima. Bukannya nggak sayang anak.. tapi.. pasti kalau Ima tahu, dia bakal minta berkunjung. Sementara gw males aja kalau harus ngantri karcis berdesak2an. Maklum, selain aktivitas/kondisi yang bikin gw keringetan, satu hal lagi yang gw benci adalah: TERJEBAK DALAM ANTRIAN YANG NGGAK MAJU2, baik yang ber-setting kemacetan lalu lintas maupun antrian karcis ;-)

Dasar anak gw anak gaul, tetap aja Ima akhirnya tahu dari teman2nya. Dan mulailah permintaan untuk berkunjung terdengar. Mulanya sih gw bilang bahwa nanti aja berkunjungnya, kalau adiknya sudah lahir dan "Ibu cuti panjaaaang banget!" ;-) Tapi lama2 nggak tega juga, apalagi setelah beberapa temannya berkunjung ke wahana itu lebih dari 2x dalam liburan sepanjang 2 minggu lalu.

Jadi, setelah Ima diajak karibnya sekelas, Dennisa, untuk main bareng di Kidzania tanggal 3 Januari, akhirnya gw luluh juga. Dengan janji bahwa Ima main sendiri, nggak usah ditemani ibu atau mbak pengasuhnya, akhirnya gw rela juga antri karcis tanggal 1 Januari kemarin. Iya, ngambil karcisnya juga harus beberapa hari sebelumnya, karena kalau baru beli hari-H bisa2 nggak bakal dapat.

Berhubung gw ini jenis orang yang nggak suka ngerepotin orang lain dengan memakai fasilitas umum terlalu lama (baca: nanya2 di counter sementara banyak orang lain ngantri di belakang gw) dan selalu butuh kepastian, sebelum beli karcis gw survey dulu. Nge-browse situsnya untuk memastikan segala hal; gimana cara beli karcis, bagaimana sistem keamananya kalau anak bermain sendiri tanpa pendampingan orang dewasa, dll.

So, berangkatlah gw di hari Tahun Baru yang berawan-akan-hujan menuju Kidzania dengan bekal pengetahuan yang cukup dan rencana yang matang ;-) Plan A: gw beli karcis 1 karcis aja untuk tanggal 3 Januari sesi pagi hari, dimana Ima bisa masuk sendiri bareng temannya. Plan B: kalau karcis yang gw inginkan habis, gw beli tanggal berikutnya, atau berikutnya lagi, tapi Ima masuk bareng mbak pengasuhnya. Jadi nggak ada ceritanya gw bakal bingung di depan counter.

Sayang, ternyata tidak semua ibu2 seperti gw.. hehehe.. Semua rencana matang gw hancur berantakan karena.. ibu2 yang lain memilih bertanya on the spot ;-) Mengandalkan kompas bacot ;-) Jadi, bayangkan saja berapa waktu yang terbuang karena tidak ada counter informasi khusus untuk menjawab ibu2 yang gagap informasi ini. Transaksi yang maksimal membutuhkan waktu 3 menit/orang (sudah termasuk dialling dan nunggu approval via satelit buat yang bayar dengan kartu kredit), molor jadi sekitar 10 menit per orang. Sebabnya? Ya itu tadi! Masing2 ibu bertanya panjang lebar di counter sebelum bertransaksi.

Iih.. kalau nggak sayang anak, gw udah kabur deh dari tempat itu. Mendingan dianggap kuper daripada ngantri panjang lebar.. HAHAHA.. Itu aja muka gw udah mulai berasap gara2 jengkel lihat ibu2 pada tanya yang itu lagi itu lagi, sampai akhirnya bapaknyaima ngalah dan menggantikan gw di antrian ;-)

*Saran buat yang rencana ngantri karcis di Kidzania: silakan bawa makanan, minuman, cemilan, buku bacaan, kalau perlu DVD player dan DVD-nya sekalian.. hehehe.. Soalnya antriannya puaaaanjang. Dan luaaaama.*

Well.. akhirnya sampai juga giliran gw, dan gw menyelesaikan transaksi kurang dari 1 menit. Petugasnya sampai bingung kenapa gw nggak nanya2 kayak ibu2 yang lain.. hehehe.. sempat ditanyain apakah gw udah pernah ke Kidzania sebelumnya. Yeee.. emangnya semua ibu2 gagap informasi dan cuma bisa mengandalkan kompas bacot ;-)? Malu bertanya memang sesat di jalan, Mas, tapi kebanyakan bertanya itu menjengkelkan orang lain.. hehehe..

Jadi, akhirnya Ima main juga bareng temannya Dennisa sesuai rencana. Cuma diantar mbak-nya sampai pintu masuk, dan dijemput di pintuk keluar 5 jam kemudian. Ima senang banget bisa main sendiri tanpa diikuti mbak-nya. Dia merasa jadi anak gede ;-) Dan dia juga senang sekali bisa main2 di Kidzania yang menurutnya asyik banget ;-) Walaupun, dia agak kecewa juga karena hanya sempat bermain di 3 wahana; salon, apotik, dan klinik gigi. Kidzania-nya penuh banget seperti Dufan di hari Minggu ;-) Lamaan ngantrinya daripada mainnya ;-) Dan dia agak kecewa karena wahana impiannya: nursery room serta SPBU, nggak bisa dimasukinya. Antrian sudah terlalu panjang saat dia mencapai wahana tersebut.

Tapi yang paling menarik buat gw adalah kesan2 Ima berikut ini seputar pengalaman pertama main di Kidzania:

"Cari duit itu ternyata capek, ya, Bu!"

"Udah capek-capek kerja, dapat Kidzos (= mata uang di Kidzania), ternyata nggak bisa dipakai buat beli makanan. Restorannya minta dibayar pakai rupiah. Uangku yang beneran udah habis, jadi aku nggak bisa makan. Padahal aku laper banget tadi"

"Main sama Dennisa ternyata ada nggak asyiknya juga. Dennisa itu kayak Ibu, maunya kerjaaaaa melulu! Aku baru duduk sebentar udah diajak2 kerja lagi, katanya, 'Ayo, Ima, kita kerja! Kalau kita nggak kerja kita nggak dapat duit! Ayo, jangan males!'. Padahal kan aku udah capek, maunya duduk aja"
Hehehehe.. nggak rugi deh gw ngantri karcis sampai bete, karena ternyata bagian terpenting dari segala role play di situ adalah mengajarkan the facts of life ;-). Iya, Nak, di dunia nyata juga kayak di Kidzania kok! Cari duit itu capeeeeeekkk banget. Untuk dapat pekerjaan aja kita mesti ngantri. Sekalinya dapat kerjaan, digaji, belum tentu hasilnya seperti yang diharapkan. Kalau Mbak Ima kan udah capek2 kerja, ternyata duit Kidzos-nya nggak laku buat beli makanan ya.. kalau di dunia nyata, bayarannya sering kali cuma numpang lewat aja. Habis buat bayar ini-itu ;-) Apalagi sekarang bahan bakar naik, dan semua barang2 ikut naik harganya. Gado-gado langganan Ibu aja harganya baru naik, dari Rp 4,000 jadi Rp 6,000 karena, "Minyak tanahnya (untuk ngerebus bahan2 dan nggoreng kerupuk) mahal, Bu, kalau harga nggak naik saya nggak ada untungnya".

Dan soal kalimat yang terakhir.. yaaaah, maaf deh, Nak. Bukannya Ibu workaholic (well, mungkin sedikit sih, tapi nggak banyak2 kok ;-)). Tapi emang bener kata Dennisa tuh: kalau santai2 terus kapan bisa jadi orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes .. hehehe.. Oops, boro2 masuk daftar Forbes, bisa beli makanan aja enggak ;-) Capek nggak capek, ya mesti kerja terus, Nak. Namanya juga rakyat jelata.. hehehe..

Jadi sekarang Mbak Ima tahu kan, kenapa Ibu mesti kerja terus ;-)? Ntar deh, Nak, kalau bulu ketek udah laku jadi alat pembayaran, kita bisa santai2 sedikit.. HAHAHA.. ;-)