Friday, February 22, 2008

Squib

Kalau dunia pendidikan itu seperti dunia sihir dalam saga Harry Potter, maka gw pasti termasuk kategori squib. Iya, squib, yaitu sama sekali nggak bisa nyihir walaupun lahir dari kalangan penyihir. Kebalikan dari yang disebut sebagai muggle-born, yaitu penyihir yang lahir dari kalangan muggle alias non-penyihir.

Gimana nggak pure-blood? Dari kedua belah pihak, keluarga gw isinya tenaga pengajar melulu ;-)

Dari 10 bersaudara di keluarga bapak, ada 2 orang yang mengabdi sebagai dosen hingga akhir hayatnya. Yang pertama Bude gw yang sulung, seorang sarjana Sastra Indonesia, yang melanglang buana mengajarkan bahasa nasional kita ini di berbagai universitas. Kebetulan Bude memang ikut suaminya, yang berpindah2 tugas di beberapa negara Eropa & Amerika, sebelum akhirnya menetap di New Zealand. Yang satunya lagi Oom gw yang nomor 4. Sejak lulus sekitar awal 70-an, beliau tetap setia mengajar di almamaternya hingga wafat akhir tahun 2006. Bapak sendiri juga sempat menjadi dosen di almamaternya sebelum hijrah ke Jakarta, dan di Jakarta pun sempat menjadi dosen tamu di berbagai universitas.

Mundur satu generasi, maka Eyang Putri (ibunya Bapak) adalah salah satu pemrakarsa pendirian Yayasan Pemeliharaan Anak & Bayi di Surakarta. Menurut sejarahnya, lembaga yang memelihara anak terlantar sekaligus menjadi institusi pendidikan non-formal bagi perawat anak ini bermula di garasi rumah Eyang di Jebres, Solo. Eyang Putri sendiri yang turun tangan mengajar semua calon perawat anak. Sementara Eyang Kakung, setelah tidak terlalu aktif lagi di kantor, mengisi masa tuanya sebagai dosen notariat di sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta.

Darah pendidikan yang kental juga muncul dari garis Ibu. Eyang Kakung (bapaknya Ibu) adalah seorang guru Sekolah Rakyat, yang pensiun sebagai Penilik Sekolah se-Jawa Tengah. Eyang Putri memang ibu rumah tangga biasa, namun.. menurut cerita adik2nya, beliau adalah orang yang mengajar Eyang Buyut Putri (neneknya Ibu) untuk belajar membaca/menulis huruf latin serta berbahasa Belanda. Maklum, Eyang Buyut Putri gw itu umurnya sepantaran dengan Ibu Kita Kartini, jadi tentunya tidak termasuk generasi yang mendapatkan manfaat dari gerakan emansipasi wanita ;-)

Ibu sendiri juga pernah jadi guru lho! Lantaran nggak boleh kuliah di luar Solo, sementara waktu itu Universitas Sebelas Maret belum berdiri, maka Ibu terpaksa masuk satu2nya perguruan tinggi yang ada di kotanya waktu itu: IKIP. Sempat mengajar beberapa waktu di sebuah SD di kawasan Margoyudan (Solo), sebelum akhirnya diboyong Bapak hijrah ke Jakarta.

Hehehe.. dengan garis seperti ini, bener kan, gw squib ;-)? Kalau keluarga gw seperti keluarganya Sirius Black, pasti nama gw udah dihapus dari pohon silsilah ;-)

***

Tapi.. sebagai squib, kadang2 sisi pure-blood gw menyeruak juga sih ;-). Yang jelas, gw itu kan orangnya sok tahu. Dan maunya ngebeneriiiiiin melulu pendapat orang lain ;-) Persis seperti ibu guru yang titi teliti. Yang jelas juga, gw selalu merasa terganggu kalau ada penyimpangan atau ketidakpasan dalam sudut ilmu pengetahuan. Seperti waktu Ima TK dulu, gw sering terganggu kalau ibu gurunya mengajarkan lagu anak2 yang syair/nadanya salah. Lantas, waktu Ima kelas I, gw pernah protes pada gurunya karena mengajarkan bahwa yang termasuk segi empat adalah empat persegi panjang dan bujur sangkar saja (belah ketupat, jajaran genjang, dan trapesium tidak termasuk). Gw juga bukan jago geometri sih, tapi.. bukannya definisi segi empat itu adalah bidang datar 2 dimensi yang memiliki 4 sisi ;-)? Setidaknya, salah satu komentar di situs ini sih mendukung pendapat gw ;-) Belum lagi soal pendidikan seks yang bikin gw agak eyel2an sama gurunya karena beda orientasi ;-)

Naah.. kasus terakhir yang bikin gw terganggu adalah soal Lomba Sains yang dikerjakan Ima minggu lalu.

Jadi, ceritanya, Sabtu pekan lalu (16 Februari 2008) Ima menjadi anggota kontingen sekolahnya pada Lomba Sains yang diadakan oleh Komik Sains Kuark. Pulangnya, Ima membawa serta soal yang tadi dikerjakan. Baru baca soal pertama aja, gw udah merasa terusik. Sebab, soal pertamanya berbunyi demikian:

Dari keempat hewan di bawah ini, manakah hewan yang jenis makanannya berbeda dari yang lain?

a. Kantong Semar

b. Katak

c. Lebah

d. Laba-laba

Nah, kalau pertanyaannya gini, jawabannya A atau C? Kalau dari segi makanannya sih yang paling beda memang lebah. Tapi.. setahu gw sih yang namanya Kantong Semar itu tumbuhan, bukan hewan ;-). Memang Kantong Semar itu makan serangga seperti katak dan laba-laba, tapi kategorinya bukan hewan. Jadi gw sih nggak bisa nyalahin kalau kemudian ada yang bingung dan nggak bisa jawab soal ini. Dan jangan lupa lho, Kantong Semar itu bukan cuma bisa makan serangga seperti Katak & Laba-laba, tapi bisa juga makan anak kodok (yang masih kecil dan lompat ke dalamnya), makan lebah, dan makanan2 lain yang nggak dimakan oleh 3 pilihan jawaban lainnya.

Kenapa sih soalnya harus menyebut ”dari keempat hewan”, kalau hewannya hanya tiga? Kenapa nggak disebut ”dari keempat mahluk” atau apa gitu? Kalau pertanyaannya begini, kan menyesatkan pengetahuan anak, hehehe.. Lha ngajarin Sains, tapi pemahamannya tentang kategori flora/fauna malah salah ;-)

Itu salah satu ”kesalahan bahasa” yang menurut gw fatal akibatnya terhadap pemahaman Sains anak. Masih ada beberapa kesalahan lain (yang nggak kalah fatal) di soal2 berikutnya. Makanya, begitu Ima nanya apakah boleh langganan Majalah Kuark, gw bilang mau gw pikir2 dulu. Bukannya apa2, kredibilitas majalah tersebut sebagai sumber ilmu pengetahuan langsung turun beberapa tingkat di mata gw.. hehehe.. Nggak mau juga gw bayar mahal2 untuk membuat anak gw sesat pengetahuan ;-)

***

Dipikir2, ada untungnya juga gw jadi squib ya? Ada untungnya buat anak2 gw maksudnya ;-)

Setidaknya, karena gw squib, nggak bisa mengajar, jadinya reaksi gw terbatas pada merasa terganggu aja. Coba, kalau gw bisa ngajar juga, bisa2 gw segitu nggak percayanya sama lembaga pendidikan di Indonesia dan anak2 gw semua ikut homeschooling aja ;-) Kan lagi nge-trend tuh di Indonesia ;-) Biar bisa gw pastikan bahwa semua informasi yang masuk adalah benar.. HAHAHAHAHA..

Eh, kira2, kalo gw bikin homeschooling, anak2 gw jadi tambah pinter atau enggak ya? Yang pasti tambah stres, soalnya gw kan bukan tipe guru yang sabar. Gw guru yang demanding.. hehehe.. Dan lagi gw termasuk yang setuju sama pendapatnya Daoed Joesoef tentang kemungkinan dampak negatif sistem ini pada kemampuan sosial anak2 (tautan aslinya sudah hilang, tapi untung ada yang meng-kopas-nya di sini)