Monday, November 06, 2006

Sex Education

Gw dan bapaknyaima percaya bahwa anak itu sebenarnya hanya bentuk yang lebih sederhana dari orang dewasa. Yah.. kalau orang dewasa prosesornya Core Duo, anak2 prosesornya Pentium 3 lah! Jadi pada prinsipnya yang bisa dimengerti oleh orang dewasa, bisa juga dimengerti oleh anak, walaupun dalam versi yang lebih sederhana.

So, sejak kecil Ima kami perlakukan sebagai orang dewasa. Kami berusaha untuk tidak menutupi informasi apa2 dari Ima, atau memberikan penjelasan gampang yang menyesatkan. Termasuk juga dalam soal seks; walaupun tentunya harus disesuaikan dengan prosesornya.

Tapi, ternyata, mencoba menjadi orang tua yang berani beda [pinjem tagline-nya sebuah acara di sebuah TV swasta: menguak soal2 yang tabu menjadi hal yang layak diperbincangkan ;-)] selalu membawa kesulitan tersendiri. Bagaimana tidak? Lantaran pembicaraan itu dianggap wajar dalam keluarga, anak seringkali menganggapnya wajar juga dibicarakan di luar keluarga. Buntutnya, Ima sering bikin kuping orang2 merah, dan bikin gw ditegur orang sekitar ;-)

Masalah pertama terjadi waktu umurnya sekitar 2 tahun. Lantaran sering dimandikan bersama Aziz, sepupunya yang hanya 5 bulan lebih tua, Ima mulai bertanya2 tentang perbedaan anak laki2 dan perempuan. Yaaah.. pertanyaannya sekitar2 kenapa Aziz pipisnya berdiri sementara Ima jongkok lah! Karena gak mau membohongi anak2, ya sekalian aja gw & bapaknya menjelaskan tentang beda struktur fisik lelaki dan perempuan. Plus dengan nama ilmiahnya; gak disamarkan dengan berbagai nama binatang.. hehehe..

Masalahnya, Ima lantas dengan semangat mengamalkan pengetahuan barunya itu. Saban kali ketemu orang, dia langsung nembak bertanya apakah orang itu punya p***s atau v****a. Kalau nanyanya ke bapaknya atau ibunya aja sih gak papa. Dengan cool kita masih menjawab pertanyaan wajar itu. Tapi tiba2 aja suatu hari adik gw protes dengan kuping merah padam: Kacau tuh anak loe, Mbak! Masak temen2 gw ditanyain punya p***s atau enggak?

Hehehe.. ya maaf! Karena Ima biasa mendapatkan jawaban wajar dari pertanyaan itu, ya dia pikir semua orang akan menganggapnya wajar.

Masalah kedua muncul saat Ima di TK. Saat itu dia sedang tertarik dengan proses reproduksi dan ingin tahu darimana datangnya adik bayi. Lagi2, dengan tujuan mulia memperlakukan anak sebagai orang dewasa kecil, kami menjelaskan bahwa: adik bayi datang dari perut ibu, dan keluar either secara normal melalui v****a atau sobekan operasi di perut. Gimana adik bisa ada di perut ibu? Ada di perut ibu karena bapak menaruhnya di dalam perut ibu. Gimana bapak menaruhnya di perut ibu? Kalau bapak sayang2an sama ibu, bapak bisa menaruhnya di situ.

Sampai situ Ima manggut2. Konsep sayang2an dia sudah mengerti sebagai peluk2an dan cium2an. Untuk sementara, kami juga nggak memperjelas lebih lanjut prosesnya. Nunggu pertanyaan berikutnya beberapa tahun lagi.. hehehe..

Nah.. masalahnya ibu guru di TK masih menjelaskan secara konservatif: adik bayi dibeli ibu di RS. Dengar penjelasan yang gak masuk akal gini, tentu aja Ima protes *like mother like daughter, gampang terusik sama sesuatu yang gak pas ;-)* Tentu aja si ibu guru kejet2 lantaran Ima bilang yang menaruh adik bayi di perut ibu tuh bapak, bukan RS. Buntutnya, pas ngambil raport, gw diinterogasi sama gurunya dan dikasih petuah macem2.

Lama gw gak perlu lagi member sex education ke Ima. Tiba2 aja, masa2 sulit ini muncul lagi Sabtu lalu. Kebetulan gw lagi nonton Pretty Woman di Trans TV, dan Ima ikutan. Awalnya dia menduga Vivian dan Edward itu sekedar pacaran, dan gw *tentu saja* gak mencoba mengoreksi. Tapi, gara2 baca subtitle-nya, tiba2 aja Ima tanya:

Bu, PSK itu apaan sih?

Mati gw! Jawab apaan? Hehehe.. Mana bapaknyaima langsung senyum2 busuk sambil pasang mampus-loe-expression gitu! Tapi gw gak mati gaya ;-) Gw bilang: PSK di film ini adalah perempuan yang dibayar oleh laki2 untuk pura2 jadi pacarnya. Kenapa Edward harus bayar Vivian untuk pura2 jadi pacarnya? Karena Edward gak punya pacar, tapi dia harus datang ke pesta sama pacar, jadi dia menyewa orang untuk pura2 jadi pacarnya.

Hmm.. Ima manggut2, dan gw pikir masalahnya selesai. Tapi.. walah! Tiba2 Richard Gere dan Julia Robert beradegan BBM (=bobok-bobok malam). Langsung deh Ima tanya lagi:

Bu, Mbak Ima mau tanya ya! Kok belum menikah udah bobok-bobok bareng sih?

Nah.. pertanyaan yang ini baru bikin gw mati ucap.. hehehe.. Untung bapaknyaima menyelamatkan dengan jawaban: budayanya beda. Dalam budayanya Edward & Vivian, bobok-bobok bareng sebelum menikah itu tidak aneh.

Ima manggut2 lagi. Soal perbedaan budaya sih dia udah ngerti, karena sudah sering diberi contoh tentang kenapa ada anak tetangga yang diperbolehkan orang tuanya melakukan apa yang terlarang buat Ima (and vice versa): yaitu karena keluarga beda2 aturannya.

Setelah bapaknya keluar kamar, baru Ima nanya lagi:

Jadi, kalau menurut ibu, bobok-bobok bareng sebelum menikah itu boleh atau enggak sih?

Hehehe.. kemarin sih gw jawabnya ngebalikin lagi ke jawaban bapaknya: di budaya tertentu dianggap biasa, tapi di budaya lain seperti contohnya di budaya kita hal itu termasuk yang gak boleh.

Cuma.. sekarang gw jadi ketar-ketir sendiri. Ntar kalau Ima bilang begitu ke gurunya gimana? Technically kan gw gak bilang itu benar, tapi.. apa iya gurunya bisa terima konsep bahwa ada budaya2 yang menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar? Hehehe..

Yah.. look at the bright side, gw udah ada pengalaman sebelumnya diinterogasi guru TK, jadi mungkin kalaupun disidang lagi gak bakal terlalu berat.. HAHAHAHA..

Yang jelas, walaupun ada kesulitan2 begini, gw tetap akan bertahan dengan metode transparansi pada anak seperti ini ;-). Gw tetap percaya bahwa lebih baik membuka informasi daripada menyesatkan pengetahuan anak, hehehe.. Apalagi di topik seksual, kalau ditutup2i malah bikin gapsek (=gagap seksual). Lebih berbahaya kan? Hehehe..