Saturday, November 18, 2006

Finish the Business

Sepertinya gw terlalu terburu2 menuliskan posting lalu. Setelah beberapa jam setuju dengan akar perbedaan kami, dan setuju untuk saling menghormati, ternyata ada yang masih menganggapnya unfinished business. Masih belum selesai jika gw belum mengaku kalah dan convert kali ya ;)? Bukan masalah menang atau kalah, katanya, tapi masalah fakta bahwa orang2 yang percaya agama itu telah mengalami pembodohan spiritual (duh, bahasanya, gw kira cuma gw yang suka pakai bahasa aneh.. HAHAHAHA.. ;)) dan terlalu takut untuk menghadapi kenyataan ;).

Teman ini mem-posting sebuah konsep yang [menurut dia] lebih murni dari agama2 yang [menurut dia] telah tercemar. Berikut kutipannya:

Dalam tubuh anda ada JIWA EGO dan JIWA ETERNAL.

Jiwa Ego yang dikendalikan pikiran-pikiran dari otak.

Jiwa Eternal dikendalikan oleh pikiran-pikiran dari hati.

Jiwa Ego adalah anda yang memilik nama atau panggilan.

Jiwa Eternal adalah anda yang tidak memilik nama atau panggilan. Sehingga seringkali Jiwa Eternal tidak dikenal anda sama sekali.

Manusia terdiri dari satu tubuh dan satu roh dengan dua jiwa. Jiwa Ego memilik tubuh (materi) dan Jiwa Eternal memilik tubuh energi (non materi) . Kedua Jiwa ini mengalami transformasi karena adanya tubuh manusia hidup.

Pikiran anda merupakan ekspresi Jiwa Ego anda sementara Suara Hari Nurani anda merupakan ekspresi Jiwa Eternal anda , kedua seiring bertentangan satu sama lain (pertentangan dalam batin), dan sering kali akan dimenangkan oleh Jiwa Ego anda. Dari sini dapat diketahui keberadaab Jiwa anda.

Ketika kesadaran Jiwa Ego lebih dominan dan berkuasa, maka Jiwa Eternal tidak disadari oleh kita. Kita kehilangan kontak dengan Jiwa Eternal (Yuen Shen) ini ketika usia anda semakin bertambah. Ini adalah anda yang sebenarnya, tanpa nama, tanpa bentuk. Jiwa Eternal anda semakin lemah dan bahkan suaranya tidak terdengar lagi. Kita kehilangan suara hati nurani yang kekal dan mengandung cinta kasih universal atau kebenaran sejati ----Suara Tuhan.

Secara sadar anda telah membesarkan Jiwa Ego dengan berbagai ilmu pengetahuan dan dogma agama dan semakin berkuasa..Bahkan cinta kasih, kebaikan, amal perbuatan yang diajarkan oleh agama-agama yang anda lakukan atau berikan semua sebenarnya untuk kepentingan dan keuntungan sang Jiwa Ego anda. Jiwa Ego menguasai pikiran-pikiran di dalam otak anda....yang selalu mencari keuntungan sebesar-besarnya dan kepentingan-kepentingan yang bersifat egoistik. Kesadaran Jiwa Ego adalah kesadaran duniawi.

Ketika raga anda mati, masa transformasi terhenti. Jiwa Ego ikut mati meninggalkan semua harta dan kekuasaan yang anda kumpul semasa hidup dengan berbagai cara, baik atau jahat. Sementara itu, Jiwa Eternal yang terabaikan masih tertidur untuk menuju ke Sumber Sejati.

(dari milis Psikologi Transformatif)

Hehehe.. I just smile and politely write back; saying that I agree with the essence of his concept.. and I have found the similar concept, with different terminology, in the religion I believe in. Dan gw juga katakan: karena itu gw tetap yakin bahwa apa yang diajarkan agama itu bukan sekedar untuk kepentingan/keuntungan apa yang disebutnya jiwa ego itu, tapi kalaupun tetap dianggap gw sudah terbodohi secara spiritual, buat gw juga gak masalah ;)

Nggak tahu deh, dia akan setuju enggak ;) Yang jelas, buat gw, I have tied the lose end ;) Well.. kita nggak tahu pasti kapan enough is enough itu, tapi kita bisa memutuskan kapan hendak menganggapnya begitu. Di kasus gw, gw memutuskan untuk berhenti karena gw sudah mendapatkan apa yang gw ingin dapatkan dari pembicaraan ini: mengerti cara berpikirnya dan mengetahui akar permasalahannya.

Hehehe.. satu yang tidak gw sertakan dalam reply kepada teman tersebut: kalau konsep agama sejati adalah demikian, maka sekitar 2 tahun lalu seorang teman sudah mendiskusikannya dengan gw ;). Tanpa jargon2 jiwa ego dan jiwa eternal, teman gw yang santun dan sangat eager belajar agama ini, juga sudah mengingatkan gw supaya pikiran dan hati nurani itu seimbang. Jangan cuma pikiran (baca: kepintaran) yang di-pursue, tapi dengarkan hati. Feel first, then think; begitu kalimat sederhana si bapak itu. Sama intinya, tanpa bungkusan jargon atau konsep macem2 ;).

Well.. tetap ada yang gw pelajari dari my short encounter with that thirst-for-new-religion flock ;). Pelajaran kesabaran, itu sudah pasti.. hehehe.. Tapi pelajaran yang sangat berharga adalah: gw mendapatkan info dari tangan pertama, sebuah contoh nyata, tentang betapa berbahayanya jika pikiran (baca: kepintaran) didewakan. Pada suatu titik, bisa2 kita berkhotbah tentang jangan sampai kehilangan suara hati.. tapi pada saat yang bersamaan suara hatinya sudah melemah, atau bahkan menghilang.

Sebab.. suara hati (jiwa eternal?) seperti apa yang membiarkan diri kita tidak mau mendengarkan orang lain, melihat kemungkinan fakta2 berbeda yang ditawarkan orang lain, dan memelihara pikiran (jiwa ego?) bahwa aku [dan hanya aku] yang benar ;)?

Sesuatu yang perlu direnungkan oleh kita semua ;).

Phieewww.. selama ini konsep diri gw adalah: gw kebanyakan berpikir, sulit mendengarkan kata hati ;). All brain, no feeling (all brain itu maksudnya kebanyakan pakai otak lho, ya, bukan berarti otak gw besar banget sampai memenuhi seluruh rongga tengkorak ;). Lagian, kepintaran kan ditentukan oleh sel-sel kelabu di lipatan otak, bukan di besarnya otak ;)). Ternyata gw over-confidence dalam menilai diri gw sendiri.. HAHAHAHA..

Have a nice weekend, everyone!