Monday, February 05, 2007

The Amazing Race Jakarta

Mungkin gw memang sudah terlalu banyak nonton televisi. Soalnya, waktu salah satu klien meng-SMS gw menanyakan kabar pasca banjir, jawaban gw adalah: “I’m fine. I just feel like The Amazing Race contestant, with all these Road Blocks and Detours

Nggak sehat ya? Yaah.. tapi gimana lagi? Lebih gak sehat [mental] lagi kalau gw berharap keadaan negeri ini berubah ;-)

***

Jumat lalu, untuk pertama kalinya gw ikutan The Amazing Race Jakarta. Tugas untuk Jumat lalu adalah: Saving Princess Ima. Ya, hari itu Ima memang jadi sejenis Rapunzel: terkurung di sekolahnya lantaran jalanan sekitar sekolah berubah menjadi sungai. Supir jemputan sekolah sudah mengkonfirmasi bahwa mobilnya tidak mungkin menjemput anak2 dari sekolah.

Jam 09:00 Mbak Pengasuhnya Ima diterjunkan lebih dahulu. Rencananya adalah menggunakan bajaj, yang dipercayai mengerti jalan2 tikus anti banjir. Tapi, ketika jam 10:30 Ima menelepon dari sekolah dan mengatakan Mbaknya belum muncul, terpaksa team kedua yang terdiri dari gw & bapaknyaima diturunkan. Mbaknya Ima diasumsikan tidak berhasil mengatasi road block berupa [meminjam kata Gubernur DKI tercinta, Bang Sut] ”sekedar fenomena alam”.

Perjalanan team kedua (baca: sweeping team) lumayan mulus. Dari pemukiman kami hingga daerah Pulomas, sungainya hanya konstan berdebit setengah roda. Masih bisa dilewati mobil walaupun harus hati2 sekali! Tapi.. pas sebelum mencapai ujung Pulomas, kami harus detour. ”Fenomena alam” sudah 50cm, mustahil mobil melintas.

Detour pertama, kami memutar lewat jalan tembus ke arah Pulogadung. Gagal. ”Fenomena alam” yang sama sudah menjadi road block di sungai kecil ujung jalan. Terpaksa, kami detour untuk kedua kalinya. Kali ini melewati Terminal Pulogadung.

Jalanan sepanjang arah terminal sebenarnya juga sudah banjir. Sempat ingin tukar tambah mobil dengan pelampung renang, sayangnya pedagang asongan yang biasanya ramai menawarkan life saving device wannabe ini tak tampak batang hidungnya. Terpaksa, dengan mengucap bismillahirahmanirrohim, kami mengubah kodrat kereta besi menjadi kendaraan amfibi ;-). Mencemplungkan diri ke jalanan yang airnya sudah sekitar 30cm. Demi sang putri, lautan pun kuseberangi ;-)

Alhamdulillah, tak lama kemudian kami mencapai jalur Trans Jakarta yang bebas banjir. Gimana gak bebas banjir, lha wong di kanannya ada gorong2 dan di kiri ada pembatas dari batu ;-). Air yg jatuh ke landas pacu Trans Jakarta langsung masuk gorong2, sementara banjir dari jalan umum tidak masuk ke jalurnya. Terima kasih sekali lagi kepada Bapak Gubernur DKI tercinta! Untung Bapak cepat tanggap dalam masalah lingkungan, mendahulukan pembangunan Trans Jakarta. Coba, kalau awal 2007 ini busway belum jadi, lewat mana rakyat menghindari banjir?

*Catatan: ohya, lupa bilang. Dari awal tulisan, bacanya dengan Sarkastik Mode: ON ya ;-)*

Sayangnya, walaupun sudah lewat busway hingga mencapai RS Mediros, akhirnya kami harus menyerah pada road block terakhir. Perempatan yg memisahkan Kelapa Gading, Pulomas, dan Cempaka Putih sudah tidak mungkin dilalui.

Lantas, Ima bagaimana? Beruntung Mbak Pengasuhnya Ima (baca: advanced team) berhasil menyelamatkan sang putri dengan menggunakan.. BECAK! Jadilah sang putri menunggang becak mengarungi samudra.

Demikianlah akhir kisah Princess masa kini: bukan pangeran yang datang, melainkan inang pengasuh. Bukan kuda putih bersayap yg dikendarainya menuju kebebasan, melainkan becak pengangkut sayuran yang tidak beratap dengan air banjir merendam kakinya. Dan akhir kisahnya tidak happily ever after, melainkan fevery all night long. Iya! Ima jadi sakit tenggorokan dan demam selama akhir minggu :- (

***

Saat mengarungi Jakarta Jumat lalu, gw terus2an mantengin Suara Metro 107.8 FM mencari berita banjir. Tapi ada satu masa ketika gw pingin nimpuk radio, yaitu ketika sebuah Iklan Apologia Pemerintah disiarkan. Iklan itu berbunyi kurang lebih begini:

”Banjir yang melanda Jakarta bukan semata2 akibat kerja pemerintah Jakarta yang tidak transparan. Menurut Bang Yos, banjir di Jakarta disebabkan juga oleh kondisi geografis yang tidak menguntungkan. Sekitar 40% wilayah Jakarta terletak di dataran rendah, dengan ancaman dari 13 sungai besar”

Menurut gw iklan ini konyol banget. Pertama, kalau sudah tahu kondisi geografis kota kita parah, maka yang pertama2 harus dilakukan oleh pemerintah adalah merancang strategi untuk mengatasi kondisi yg tidak ideal ini. Kalau cuma terlahir dengan tanpa kaki, maka yang pertama harus kita beli adalah kaki palsu kan, biar bisa jalan? Bukan malah beli sepatu Nike buat lari, ngeceng, atau lari sambil ngeceng ;-)

Nah.. makanya, kalau udah tahu Jakarta rawan banjir, usahakan dong untuk mengatasi banjir. Kalau masyarakat yg jorok dianggap sebagai biang keladi sungai yang mendangkal, ya dana pembangunan daerah ditujukan untuk mendidik supaya mereka tidak jorok saja. Bukan malah mendahulukan Trans Jakarta yang bikin tanah gak rata ;-). Toh giliran banjir, Trans Jakarta juga gak bisa jalan :-(. Kalau memang fenomena alam ini tidak bisa mengatasi, ya cari alternatif lain. Bikin Jakarta jadi Venezia kedua, misalnya. Naah.. kalau Jakarta jadi Venezia, kan bisa bikin TransGondola Jakarta ;-)

Tapi, apa iya sih, banjir di Jakarta ini tidak bisa diatasi? Kok banyak yg bilang bisa2 aja, salah satunya pendapat di sini ;-)

Kekonyolan yang kedua: isi pesan iklan [yang katanya] layanan masyarakat itu adalah untuk mengajak masyarakat tidak mengotori sungai. Lha, kalau gitu, bukankah semestinya iklan tersebut dipasang di radio2 yg lebih mungkin didengarkan oleh penduduk di bantaran kali? Biar mereka lebih sadar? Kalau diputar di radio yg pendengarnya bukan masyarakat pinggir kali, apa hubungannya? Cuma jadi apologia saja, lempar tanggung jawab bahwa banjir bukan kesalahan pemerintah.

***

Apa pun penyebab banjirnya, gw acung jempol pada tindakan Pak Presiden meninjau langsung bencana banjir di hari pertama. Bukan cuma meninjau, tapi beliau juga mau berjalan dalam banjir. Padahal, gak akan susah buat beliau minta diistimewakan dan disediakan perahu karet – biar bisa meninjau banjir tanpa membuat kakinya basah. Personal touch yang kayak gini yang bikin gw salut sama presiden yg sekarang. Kalau beliau tidak bisa menyelesaikan masalah yg diwarisinya dari generasi sebelumnya, yaa.. mungkin memang masalahnya yg sudah terlalu kronis. Tapi, setidaknya, beliau mau turun dan menunjukkan keperdulian.

Dan gw salut, beliau langsung mengatakan bahwa pemerintah Jakarta harus mengambil tindakan secepatnya untuk menyelamatkan rakyat. Bahwa istana terendam tidak apa2. Jelas banget kok, beliau mengucapkan itu di layar televisi!

Makanya, ketika dua hari kemudian ada yang mengatakan belum bisa membuka pintu air ke arah istana belum dibuka karena ”belum ada ijin Presiden” [dan kemudian meralatnya menjadi, ”Ya, memang itu tidak membutuhkan perintah Presiden, tapi sopan2nya kan lapor dulu pada Presiden”], gw terpaksa garuk2 kepala gw yg gak gatal. Kemane aje, Bang, nggak nyimak omongan atasannya ;-)?