Tuesday, February 13, 2007

From Guantanamo to Paradise Now

Dari kemarin mau ngerjain PR dari Mbak Evy, tapi kok ya tetap kena writer’s block. Yah.. itulah masalahnya jika menulis mengikuti emotional push. Giliran diminta ngebahas sesuatu yg mood-nya belum dapat, ya nggak bisa ;-). Jadi PR-nya ntar ya, Mbak, mesti cari the muse dulu ;-)

Meanwhile, yang keluar dari jari malah tulisan tentang ini:

Sampai setengah buku, gw rada bosan membaca Neraka Guantanamo (M. Begg, ditulis bersama V. Brittain). Tidak ada ketegangan setinggi Schindler’s List (T. Keneally), atau kengerian seintensif The Gulag Archipelago (A. Solzhenitsyn). Memang, Moazzam Begg disiksa oleh tentara Amerika. Tapi.. tanpa mengecilkan penderitaan Pak Begg, siksaan itu tampak seperti gelitikan saja jika dibandingkan dengan kekejaman Nazi atau KGB. Menjadi isyu lebih karena pelakunya Amerika (yang biasanya berkoar tentang human right), bukan karena perilaku luar biasa kejam. Ditendang, ditaruh dalam sel ukuran 6x8 kaki (1.8 x 2.5m), tidak boleh tidur, nggak boleh ngomong, dilecehkan.. sounds like [maaf] the standard-yet-mild-degree of torture dalam kondisi perang.

Ada juga sih, hal baru yg gw dapat dari sini. Seperti misalnya: ternyata kamp di Guantanamo menjadi notorius tidak sepenuhnya disebabkan karena arogansi Amerika, atau kebencian terhadap Islam. Kekejaman di sana sedikit banyak disebabkan kebodohan. Banyak tentara Amerika yang merupakan tentara cabutan, hanya bertugas 2-6 minggu per tahun. Tentara2 ini diambil dari orang2 yang bahkan bahasa Inggrisnya lebih jelek daripada gw (judging from their limited vocabulary, and the way they spell some English words ;-)); orang2 yang belum tentu lulus High School, seumur hidupnya tidak pernah keluar dari negara bagiannya, dan mungkin nggak bakal pegang paspor kalau nggak menjadi tentara cabutan.

So, setidaknya buku ini mengubah persepsi gw yang kadang menggeneralisasikan pandangan politik pemerintah Amerika Serikat dengan rakyat Amerika Serikat. Dan bikin gw diem2 ngakak: ternyata Amrik lebih parah daripada Indonesia.. hehehe.. di Indonesia mah kita cuma kenal supir [angkot] batangan, eh, di sana malah ada tentara batangan.. HAHAHAHA..

Tapiii.. pandangan gw terhadap buku ini benar2 berubah ketika menemukan percakapan tentang bom bunuh diri berikut ini:

“Nah, Moazzam, apa pendapatmu tentang bom bunuh diri?”

“Serangan bunuh diri bukan fenomena baru,” aku memulai, “dan jelas bahwa itu tidak eksklusif di dunia Muslim. Fenomena ini adalah produk dari situasi ekstrem, upaya terakhir, ditambah oleh keyakinan teguh untuk melawan penindasan, dengan senjata terakhir: nyawa. Tak seorang pun, Muslim atau bukan, yang dengan sadar mengorbankan nyawanya, menganggapnya sebagai sebuah tindakan jahat – karena dia melakukannya demi keluarga, teman, tanah air, atau keimanan. Ada perbedaan pendapat di antara para ahli fiqih. Sebagian sepenuhnya menolaknya, dengan mengutip pernyataan Al Quran yang dengan tegas melarang bunuh diri, dalam keadaan apa pun. Ahli fiqih lainya menukil contoh yang terjadi pada masa awal Islam, yaitu para tentara yang menyerang pasukan musuh yang jumlahnya jauh lebih banyak – itu berarti mereka dengan sengaja menyebabkan kematian mereka sendiri. Tentu saja dalam kasus ini, musuhlah yang membunuh mereka. Bagaimana menetapkan kasus itu pada masa sekarang juga menimbulkan perdebatan seru, terutama di wilayah-wilayah yang dijajah seperti Palestina dan Chechnya. Saya pikir, pada prinsipnya, tidak banyak bedanya antara menjatuhkan smart bomb dari ketinggian 20.000 kaki di angkasa, yang biasanya membunuh banyak penduduk sipil, yang Anda sebut sebagai collateral damage, dan seseorang yang membunuh penduduk sipil dengan bom di restoran..”

”Jadi kamu setuju dengan seseorang yang punya ’tujuan yang benar’, memasuki sebuah mal, dengan 40 pound TNT terikat di sekeliling tubuhnya, menunggu saat yang tepat untuk membunuh sebanyak mungkin orang kafir?” katanya,

”Tidak, saya tidak setuju. Tapi isunya bukan cara yang dipakai. Isu yang penting adalah targetnya. Saya percaya secara kategoris menjadikan penduduk sipil target dalam operasi militer adalah salah. Seperti juga melakukan carpet bomb atas penduduk sipil.. pada area yang dicurigai menjadi markas musuh, hanya karena para pengebom, dalam pesawat B52 mereka, tidak harus melihat wajah korban-korban mereka”

(Begg, Neraka Guantanamo, hal.239 – 230)

Mendadak sontak, gw merasa mendapat pencerahan ;-)

Sebenarnya pencerahan yang mirip sudah gw dapatkan saat menonton Paradise Now. Film Palestina pemenang beberapa penghargaan ini menceritakan sisi lain terorisme menggunakan bom bunuh diri: sisi pelakunya. Mengharukan sekali melihat ”pejuang yang terpilih” melewati hari terakhir bersama keluarganya, menguatkan hati mengucap ikrar di depan rekaman terakhir. Gw sempat mematikan film karena terharu ketika kedua pejuang terpilih ini dimandikan [seperti memandikan jenazah] dan melakukan shalat jenazah. Tapi yang paling bikin ”mak nyess” adalah adegan ketika Said ragu2 menaiki bis kota yang penuh berisikan penduduk sipil yang ”bukan targetnya”. It’s not an easy decision for them, but still they have to carry on.

Kalau sempat, nonton deh film itu. Bener2 bagus! Kalau nggak suka genre-nya, baca review menariknya di sini.

Tapi.. dengan buku dan film ini, gw jadi lebih bisa melihat bahwa segala sesuatu itu tidak hitam putih. Pun dalam kasus terorisme dengan bom bunuh diri

Selama ini kita selalu terfokus pada bayangan kita sendiri tentang detik2 terakhir: si pelaku bertatap mata dengan calon korbannya, menarik sumbu ledak, dan meledaklah mereka bersama2. Dalam bayangan kita, hal ini terlihat kejam sekali, pembunuhan berdarah dingin, karena hanya orang yang kejamlah yang tega melihat korbannya mati.

Dengan bayangan2 itu, kita selalu lupa melihat dari sisi si pelaku. Kita cenderung mengambil sikap bahwa si pembunuh pasti menikmati aksinya. Pasti melakukannya dengan senang hati, tanpa memikirkan orang lain. Kita selalu lupa melihat kemungkinan lain: bahwa ini adalah suatu keputusan berat, suatu upaya terakhir jika tidak punya senjata lagi. Karena mereka tidak punya pesawat tempur untuk menjatuhkan bom, mereka terpaksa membawa sendiri bom tersebut ke titik ledak. Bukan karena mereka menikmati meledakkan sambil menatap mata korban. Mekanismenya lebih mirip pejuang kemerdekaan RI yang menggunakan bambu runcing; bukan karena mereka menikmati menusuk perut musuh, tapi karena mereka tidak punya senapan.

Don’t take me wrong.. di sini gw bukan mau mendukung gerakan terorisme. Gw tetap masih menganggap bahwa bunuh diri itu dilarang. Nggak perduli alasannya karena putus asa atau demi memperjuangkan sesuatu. Tapi.. dengan buku dan film ini, gw jadi lebih bisa melihat bahwa segala sesuatu itu tidak hitam putih. Pun dalam kasus terorisme dengan bom bunuh diri.

Dan seperti biasa.. kalau gw udah mikir2, maka imajinasi gw bisa meluas kemana2.. hehehe.. Gw jadi mikir: kedua tokoh dalam Paradise Now memang sedang dalam keadaan berperang. Lepas dari apa kata kitab suci, de facto-nya Palestina sudah didiami bangsa Arab berabad2, dan Yahudi baru berpikir untuk kembali setelah holocaust. Suka nggak suka, ini kelihatan seperti agresi dan penjajahan. Oleh karenanya, gw sangat bisa memahami konteks mengapa Said & Khaled (kedua tokohnya) melihat nyawa sebagai senjata terakhir untuk membela negara.

Yang jadi masalah adalah bom di Indonesia. Apakah kita dalam keadaan perang? Apakah nyawa sudah menjadi senjata terakhir untuk menyelesaikan perbedaan? Biarpun pemerintah nggak puguh mengatasi banjir, kayaknya masih belum perlu kita mengambil tindakan sendiri2 dengan bom bunuh diri.

Dan gw juga tambah mikir.. kalau bom bunuh diri di Indonesia tidak sebanding dengan yang di Paradise Now, bandingan yang cocok apa ya? Jangan2 malah lebih sebanding dengan ”menjatuhkan smart bomb dari 20,000 kaki di angkasa lantaran mengira bahwa desa itu penuh dengan jaringan teroris”? Iya, kalau nge-bomnya adalah di cafe dan di mall, hanya karena menengarai bahwa di situ banyak turis asing, kan sama konyolnya dengan the collateral damage. Bukan merupakan upaya puncak dengan nyawa sebagai senjata terakhir, melainkan membunuh penduduk sipil dengan data yang tidak akurat.