Tuesday, February 06, 2007

Latah: Eh, Kok Lali Ya?

Lantaran mau mengomentari tulisan Mas Iman tentang latah ini, gw jadi mengaduk2 laci ingatan gw dari masa awal perkuliahan dulu. Gw ingat banget latah ini dibahas di mata kuliah Psikologi Umum I, mata kuliah prasyarat untuk hampir semua mata kuliah di semester II. Gw juga masih ingat di bab berapa hal ini dibahas. Masalahnya.. gw justru lupa istilah ilmiah untuk latah. Gw cuma ingat istilah ilmiah ini diakhiri dengan "IA". Padahal, gangguan yang diakhiri dengan "ia" itu ombyokan (= berjibun) di psikologi. Ada aphasia, amnesia, dementia, pedophilia, bulimia, anorexia dan ia-ia lainnya.

Googling kesana kemari, tetap aja gw nggak nemu istilahnya. Yang gw temukan cuma bahasan latah sebagai culture-specific syndrom saja. Well.. memang latah merupakan simtom yang lazimnya (atau malah hanya) terdapat dalam ras Melayu. Cumaaa.. gw yakin bahwa latah bisa digolongkan pada salah satu gangguan wicara (speech disorder).

*Note: yang gw bicarakan di sini adalah latah sebagai gangguan fisik ya, bukan latah gaul yang terbentuk karena proses belajar. Kalau latah gaul, nanti kapan2 aja dibahasnya ;-) Soalnya teorinya beda ;-)*

Naaah.. setelah berkali2 mencoba memasukkan berbagai keyword di google, bolak-balik ngutak-utik kata aphasia dan variannya tanpa hasil, akhirnya gw mendapatkan situs yg memuat istilah ilmiah latah. Nama canggih dari latah adalah.. COPROLALIA dan ECHOLALIA. Rupanya gw salah mengingat plesetan yg gw bikin untuk gangguan ini. Dulu, gw mengingatnya dengan nama ”Eh, Kok Lali ya?” (= eh, kok lupa ya?), tapi yg muncul dari ingatan gw adalah plesetan yang satu lagi: gangguan ”Apa sih ya?”, alias kode gw untuk gangguan aphasia.

*Catatan lagi: pelajaran buat yg masih berstatus pelajar dan mahasiswa! Hati2 kalau bikin jembatan keledai untuk menghafal materi kuliah/sekolah. Bisa2 kepleset kayak gw.. hehehe..*

Kenapa ”latah” punya dua nama ilmiah? Yaah.. karena latah itu juga berjenis2, dan berbeda satu sama lainnya. Sebenarnya malah bukan cuma dua jenis latah. Yang dua itu hanya menggambarkan latah verbal. Kalau latah non-verbal, istilahnya diakhiri dengan -praxia. Misalnya, kalau latah dengan membuat obscene motion saat kaget, istilahnya adalah copropraxia.

Balik ke latah verbal. Perhatikan deh, ada dua jenis. Latah yang pertama: mengulangi omongan orang lain secara spontan jika kaget. Ini yang disebut sebagai Echolalia (echo = mengulang); si penderita sekedar mengulang tanpa mengubah apa2. Tapi ada jenis latah lainnya, yaitu: kalau kaget, maka yang dikeluarkannya adalah sumpah serapah. Penderita tidak mengulangi apa yg membuatnya kaget, melainkan mengeluarkan reaksi khas berupa kata2 [yang biasanya] kotor. Nah.. inilah yang disebut Coprolalia, berasal dari kata Yunani ”Coprol” yang berarti.. feces!

Sebenarnya Echolalia dan Coprolalia ini tidak hanya terjadi pada ras Melayu. Pasien autistik dan sindrom Tourette biasanya juga menunjukkan gejala2 ini sampai batas tertentu. Tapi memang hanya di tlatah Nusantara dan Malaya terdapat orang2 dengan kondisi mental yang [bisa dibilang] normal menunjukkan either echolalia atau coprolalia. Itu sebabnya muncul satu istilah baru: latah, yang diaplikasikan pada kedua gangguan ini sekaligus.

Mengenai mengapa coprolalia (= latah dengan mengeluarkan reaksi khas kata2 kotor) sering terjadi pada ras Melayu yang ”normal” (baca: tidak autis, schizophrenic, menderita sindrom Tourette, atau gangguan lainnya), seingat gw memang belum bisa dijelaskan secara ilmiah. Tapi.. ada hipotesa menarik mengenai penyebabnya.

Hipotesa dari salah satu dosen gw, yang Psikoanalis sejati, tentang kenapa coprolalia itu berupa kata2 anonoh (=tidak senonoh). Katanya: latah jenis coprolalia ini merupakan pembuktian dari teori Freud. Freud mengatakan bahwa manusia adalah mahluk dengan instink kebinatangan, yang perilakunya didorong oleh instink kebinatangan tersebut. Nah.. instink binatang kan nggak jauh dari kopulasi dan proses reproduksi, jadi nggak heran kalau yang dikeluarkan sebagai reaksi adalah istilah2 ”seputar paha”.. ;-)

Mengenai mengapa terjadi pada manusia ”normal” (sekali lagi: tidak autis, schizophrenic, menderita sindrom Tourette, atau gangguan lainnya) di tlatah Melayu, gw juga punya hipotesa sendiri. Well.. hipotesa gw adalah: karena manusia2 di tlatah ini cenderung suka merepresikan segala sesuatu. Kalau pakai teorinya Freud, ya karena manusia2 ini punya superego (= the moral part) yang terlalu kuat. Dengan segala tabu dan norma sosial, serta keharusan mempertahankan keselarasan, membuat mereka menekan id (= the irrational and emotional part) dengan superego. Bukan dengan ego (= the rational part, which develops the sense that you can’t always have what you want). Makanya, walaupun kelihatan “normal”, sebenarnya ada bagian2 yang menggelegak dan akhirnya keluar dalam bentuk latah (= coprolalia) itu.

Hipotesa gw ini menjelaskan juga kenapa lebih banyak perempuan yang mengalami coprolalia di tlatah Melayu ;-). Budaya timur lebih banyak memberikan tabu kepada perempuan daripada pria kan ;-)? Nggak heran lebih banyak perempuan yang memaksimalkan fungsi superego. Lha wong bersikap rasional (baca: memaksimalkan fungsi ego) pun sering dianggap tabu untuk perempuan timur ;-).

Anyway.. bahasannya serius ya? Hehehe.. Ya deh, biar gak kelewat serius, gw kasih fun fiction. Perhatikan istilah echolalia dan coprolalia itu. Dua2nya mengandung kata Lali, yang dalam bahasa Jawa berarti Lupa. Hmm.. ada hubungannya nggak ya, antara latah (yang notabene ”lupa” atau ”terlewat” memproses informasi sebelum bereaksi) dengan bahasa Jawa? Katanya sih dari bahasa Yunani, tapi jangan2 nenek moyangnya Yunani itu Jawa ya? Yunani itu jangan2 anak turunnya (Mbak)Yu Nani.. HAHAHA.. Hidup Jawa! Jawa rulez!