Monday, June 23, 2008

Sure-a-Name


Nama belakang man of the match pada laga Jerman vs Portugal di Euro 2008 tersebut terlalu sulit diucapkan bagi seorang teman gw. Memang, buat yang nggak biasa berbahasa Jerman, deretan huruf mati yang bisa sampai 4 digit itu cukup bikin lidah keseleo ;-) Apalagi huruf hidupnya juga cuma dua jenis: e, dan ei ;-) Oleh karena itu, gw kasih pengucapan yang lebih user friendly buat teman gw itu: Bastian si Penunggang Babi.

Setidaknya, itu terjemahan awal versi gw terhadap surname Bastian, karena schwein memang berarti babi dan steiger gw tengarai berasal dari kata steigen yang artinya "naik". Belakangan, setelah merujuk pada kamus Jerman - Inggris, baru gw tahu bahwa steigen lebih tepat diterjemahkan sebagai to elevate, bukan to ride, sehingga kemungkinan terjemahannya adalah: Pengangkat Babi. Itu juga kalau tidak terjadi kemungkinan ketiga: bahwa Schweinsteiger merupakan bentuk ringkas dari der Teiger des Schwein, yang kurang lebih artinya adalah: Pembuat Adonan Babi ;-)

Apa pun terjemahan sebenarnya, gw jadi bertanya2: kakek moyangnya si Bastian ini kerjanya apa sih, kok memilih nama keluarga kebabi-babian gini ;-)?

*OOT: waktu masih menterjemahkan sebagai Penunggang Babi, gw kira kakek moyangnya adalah Ndoro Bei versi Jerman. Ndoro Bei Jawa nunggang jaran teji, sopo ngerti Ndoro Bei Jerman nunggange pancen babi ;-)*

Nama keluarga, atau surname, memang erat kaitannya dengan sejarah kakek moyang yang pertama kali memilih nama tersebut. Menurut cerita Bapak, yang mendengarnya dari guru sekolah dasarnya yang Meneer Belanda, penggunaan nama keluarga di Eropa diprakarsai oleh Napoleon Bonaparte. Gunanya untuk mengklasifikasikan dan memperjelas lajur keturunan masing2 orang.

Belakangan, berdasarkan percakapan di sini, gw baru tahu bahwa pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Nama keluarga sudah dipakai oleh kaum priyayi Eropa sejak sebelum bapak-ibunya Napoleon Bonaparte pacaran (eh.. ortunya pakai pacaran nggak ya ;-)?). Tapi... memang baru digunakan oleh semua orang setelah Kaisar Napoleon mendekritkan hukuman bagi mereka yang tidak menggunakan nama keluarga pada tahun 1825.

Anyway.. menurut gurunya Bapak itu, dalam sejarah Belanda banyak orang yang buru2 ngambil nama keluarga. Sekenanya aja. Ada yang pas disensus kakinya lagi sakit, langsung terinspirasi menamai keluarganya Poot (= kaki). Atau ada yang nenek-moyangku-orang-pelaut-gemar-mengarung-luas-samudra.. maka ngambil nama keluarga Van der Sar (= dari laut). Gw nggak tahu apakah tradisi ini berlaku umum di seluruh jazirah Eropa atau enggak.. hehehe.. tapi dari situs ini sih kelihatannya bangsa Eropa punya pakem yang sama dalam membuat nama keluarga. Nama Franz Beckenbauer (becken = tanah ceruk, bauer = petani) dan Christian Ziege (ziege = kambing) menunjukkan bahwa pola surname Jerman jauhnya Berlin Timur - Berlin Barat dengan surname Belanda ;-)

Nah.. makanya gw jadi curious terhadap kakek moyangnya si Bastian. Dulu pekerjaannya apa ya? Jangan2 pas disensus dan "ditodong" bikin nama keluarga, kakek moyangnya si Bastian lagi nggendong babi. Atau.. memang pekerjaannya jadi kuli angkut babi? Bagian ngangkat2 babi di peternakan untuk dimasukkan ke gerobak yang akan membawa si babi ke pejagalan ;-)?

Loncat ke benua Asia.. ;-)

Orang Jawa sebenarnya tidak punya tradisi nama keluarga. Bagi orang Jawa, tradisinya adalah memberikan "nama tua" bagi orang yang sudah menikah. Tapi sekelompok orang Jawa yang terpengaruh didikan Belanda dan pemikiran Eropa, memang kemudian memulai kebiasaan menggunakan nama keluarga ini. Seperti Ki Hajar Dewantara, yang nama kecilnya adalah RM Soewardi. Setelah dewasa, alih2 mengganti namanya, beliau "mencomot" nama ayahnya, KPH Soerjaningrat sebagai "nama keluarga". Dengan demikian beliau terkenal sebagai RM Soewardi Soerjaningrat.

Kasus yang sama terjadi pada keluarga Bapak. Eyang Kakungnya Bapak sebenarnya punya "nama tua" Notodipuro. Karena bapaknya bernama Pak Noto, maka semua anak laki2nya setelah dewasa dinamai dengan "Noto" juga. Hanya kakak sulungnya Eyang Kakung yang diberi nama tua sama dengan ayahnya: Notodipuro. Selanjutnya, ada yang namanya Notodiputro dan Noto-Noto yang lain

*Catatan: tapi gw yakin 68% (dibuktikan secara statistik oleh Fertob) bahwa Notodiprojo ini nggak ada hubungan dekat dengan keluarga besarnya Bapak ;-)*

Eyang Kakung kebagian nama tua Notodisoerjo (ejaan Van Ophuysen). "Noto" artinya menata atau mengatur. "Soerjo" (baca: suryo) tentu saja artinya matahari. Sementara "di" hanya menunjukkan kata tempat. Kurang lebih artinya "tukang ngatur matahari".. hehehe.. Menurut gw, ini nama tua yang paling dahsyat dibandingkan dengan nama2 saudara lelaki Eyang ;-)

Mestinya, Eyang kemudian memberikan nama tua buat ke-8 putranya. Tapi.. Eyang malah menggunakan nama itu sebagai nama keluarga. Jadilah.. kesepuluh putra-putri Eyang semuanya menyandang Notodisurjo (ejaan Suwandhi). Dan kemudian, ke-8 putranya juga memberikan nama Notodisurjo pada anak2nya.

Walaupun semua anak Eyang menyandang nama Notodisurjo, sebenarnya hanya Bapak dan Budhe yang dengan tertib menggunakan dan meneruskannya. Budhe, mungkin karena pengaruh tinggal puluhan tahun di Eropa & Amerika. Sementara Bapak.. yaah.. Bapak mah emang orangnya teratur dan suka mengklasifikasi.. hehehe.. Mungkin juga karena hanya Bapak & Budhe yang sempat mendapat pendidikan gaya Belanda, sementara adik2nya yang lain bersekolah di jaman Jepang dan kemerdekaan.

Budhe Nini, satu2nya kakak Bapak, hingga meninggal tetap dengan tertib selalu menuliskan namanya sebagai Nini Tiley - Notodisuryo. Walaupun Budhe dulu suka ngomel2 karena namanya dituliskan dengan hyphenate gaya Amerika, dimana antara garis tidak diberi spasi (Tiley-Notodisuryo instead of Tiley[spasi]-[spasi]Notodisuryo).

Omelan Budhe memang beralasan, karena hyphenate gaya Amerika berbeda dengan gaya Belanda. Dalam gaya Amerika, maiden name (surname asli si perempuan) dituliskan lebih dahulu, baru surname suaminya. Sementara dalam gaya Belanda, surname suami dituliskan lebih dahulu. Dengan demikian, kesalahan penulisan ini menjadikan artinya berbeda: seolah2 Budhe adalah Ny Notodisuryo yang lahir dari keluarga Tiley, instead of the other way around). Nggak tahu juga kenapa Budhe tidak mengubahnya saja menjadi Nini Notodisuryo-Tiley, biar gak terjadi konflik lagi. Mungkin karena Budhe - seperti juga gw - orangnya ngeyelan... HAHAHAHA... Yup! Ngeyel runs in the family ;-)

Adik2nya Bapak & Budhe cenderung tidak membiasakan penggunaan nama keluarga pada anak2nya. Beberapa sepupu gw hanya menggunakan nama Notodisurjo di paspor, karena memang harus ada nama keluarga.. hehehe.. Untuk sehari2, bahkan di ijazah & KTP, nama ini tidak tercantum.

Tapi... adik2nya Bapak cenderung punya cara unik untuk melestarikan nama keluarga yang dahsyat ini ;-) Entah disengaja atau tidak, para paman gw memastikan salah satu anak laki2nya memiliki nama yang berarti "Matahari" ;-)

Jadilah.. nama Aditya yang artinya sama dengan Suryo itu disandang oleh 3 sepupu laki2 dari ayah yang berbeda2. Dengan variasi yang berbeda2 ;-) Yang satu namanya Aditya, satunya Raditya, dan.. yang terakhir Rachmanditya.

Panggilannya? Adit, Didit, dan Ditya.. hehehe.. Jadi, kalau ada yang teriak, "Diiiiit..." pada pertemuan keluarga, pasti yang nengok 3 orang ;-)

Now, sure, a surname in our family is a name to keep ;-)