Thursday, March 01, 2007

The Unforgettable Nightmare

Peringatan!

Posting ini berisi keluh kesah dan gerutuan gw. Tidak disarankan dibaca oleh mereka yang tidak ingin membaca caci maki, atau mereka yang mencari pencerahan dari apa yang dibaca ;-). Bagi mereka yang tidak berniat memberikan dukungan, dimohon untuk tidak meninggalkan komentar; kecuali siap didamprat oleh macan betina buas yang sedang ngamuk ;-)

Pada 22 Januari 2007, gw melakukan KESALAHAN TERBESAR dalam hidup gw.

Apa kesalahan gw? Nggak sengaja menabrak orang sampai mati? Membakar pasar? Menghancurkan rumah orang? Enggak kok, kesalahan gw cuma: menyerahkan kartu kredit untuk digesek di sebuah hotel di Kupang.

Eh! Bukan cuma itu! Ada kesalahan kedua: menyerahkan kartu kredit LAIN untuk digesek di sebuah hotel di Kupang ketika slip transaksi kartu kredit pertama tidak keluar.

Dan seperti kesalahan2 besar lainnya, kesalahan gw itu menyebabkan the unforgettable nightmare. Hingga kini, 38 hari setelah kesalahan itu dilakukan, gw masih terus dan terus dan terus lagi dihantui masalah yang sama: harus menelepon ke bank, menjelaskan kepada CSO-nya bahwa transaksi itu tidak pernah terjadi, karena transaksi yang sama masih saja ditagihkan ke rekening gw.

Nightmare pertama gw terjadi tanggal 30 Januari 2007. Hari itu gw menerima tagihan dari Citibank (nama bank sengaja dibesarkan sesuai dengan besarnya kejengkelan gw). Gw kaget karena tercatat ada 2x transaksi di Hotel Sasando International Kupang. Gw segera ingat bahwa Citibank adalah kartu kredit pertama yang gw gesek di sana, dan slip tidak keluar. Masih dengan tenang, percaya akan nama besar Citibank dan statusnya sebagai bank internasional, gw menghubungi CSO-nya. Beres! Kata CSO-nya, tagihan itu dihilangkan sementara dari tagihan, gw tinggal mengirimkan bukti dan berkas2 pendukung, dan 14 hari kerja kemudian sudah diberi surat keputusan.

Besoknya, gw langsung kirim bukti2 tersebut, dan mengkonfirmasi penerimaannya.

Gw pikir masalah selesai dong? Ketika 20 hari kemudian, tanggal 20 Februari 2007, gw menerima surat dari Citibank, gw udah yakin surat itu berisi pernyataan bahwa transaksi dihapuskan. Bukti gw kuat kok, selain bukti pembayaran tunai gw juga dibekali dengan surat pernyataan dari hotel terkait mengenai kegagalan transaksi. Ternyata.. SALAH, saudara2! Surat itu berisi pernyataan bahwa hingga tanggal dikirimkannya surat itu (15 Februari 2007), Citibank belum menerima dokumen yang gw kirimkan dan karenanya jumlah itu akan ditagihkan kembali.

Duh.. ini sih namanya ngebangunin macan tidur. Gw telfon lagi CSO-nya, dan mendapat kabar bahwa contact person yang pertama gw hubungi belum menyerahkan dokumen ke bagian investigasi. Yang bisa mereka lakukan adalah minta gw mengirimkan ulang dokumennya, dengan janji akan segera diurus.

Hari itu gw kirim ulang dokumennya rangkap tiga: 2x by fax, 1x by courier. Gw confirm ulang, katanya sudah diterima. Besoknya, gw konfirmasi lagi, sudah ada catatan bahwa dokumen sudah diteruskan ke bagian investigasi.

Selesai? Ya enggak dong ;-) Namanya juga unforgettable nightmare ;-). Hari ini, 1 Maret 2007, gw terima tagihan baru yang teteup kekeuh surekeuh menagihkan kedua transaksi. Kemana aja tuh dokumen rangkap 4 yang gw kirim? Nggak dibaca apa yaks?

Waktu gw cek ke CSO-nya, yang bisa dilakukan cuma: nanti kami cek dulu, dan nanti kami hubungi kembali. Hello? This is the same rhetoric answer I’ve got. And for the record, I’ve been calling them for eleven times! Komplit bakal jadi selusin kali gw nelfon, karena besok gw harus nelfon lagi untuk memastikan apakah sudah diurus.

Belum selesai nightmare Citibank, muncul lagi nightmare BCA (nama bank sengaja juga dibesarkan untuk menunjukkan kejengkelan).

Tanggal 21 Februari 2007, gw terima tagihan kartu kredit dari BCA. Ada 3x transaksi di hotel yang sama. Waktu lihat tagihan itu gw baru ingat: ketika gesekan Citibank tidak berhasil, gw sodorkan kartu BCA gw. Gw pikir mesinnya nggak kompatibel dgn Citibank, karena merupakan mesin BCA. Entah gimana ceritanya kok bisa tergesek 3x.

Seperti di kasus Citibank, gw telfon juga CSO-nya BCA. Well.. ternyata nightmare Citibank belum ada apa2nya lho, dibandingkan dengan nightmare BCA ;-) One thing for sure, CSO di BCA lebih tidak ramah dibandingkan Citibank. Secondly, kebijakan BCA lebih tidak mengutamakan konsumen dibandingkan Citibank.

Kalau Citibank masih dengan ramah mendengarkan keluhan gw, mau bekerjasama me-written off tagihan itu untuk sementara, BCA sama sekali tidak mau tahu. Keluhan gw memang dicatat, tapi tagihan tidak dibekukan. Gw tetap harus membayarnya, dan jika kemudian terbukti gw tidak melakukan, baru dana yang sudah gw bayarkan akan dikembalikan. FYI, total jumlah tagihan itu nyaris mencapai 1.5jt; bukan jumlah yang kecil untuk gw “titipkan” ke BCA hingga terbukti tidak bersalah.

Eh.. masih ada lagi yang menjengkelkan! Tidak seperti Citibank yang mengizinkan gw tetap memakai kartunya, BCA serta merta memblokir kartu kredit gw. Diblokir hingga gw terbukti tidak bersalah. Dan setelah nanti gw dinyatakan “bersih”, maka kepada gw akan dikenai biaya penyelidikan sebesar Rp 30,000 PLUS biaya ganti kartu yang diblokir sebesar Rp 50,000. Dan kalau gw terbukti bersalah, maka gw harus membayar 3x transaksi itu PLUS bunga yang terjadi selama penyelidikan. Bandingkan dengan Citibank yang tidak akan membebankan bunga pada transaksi yang dipertanyakan.

Hingga tulisan ini diturunkan, gw masih belum tahu kapan mimpi buruk ini berakhir. Mungkin tidak akan berakhir, judging from the past month experience :-(

Hhh.. begitulah nasib konsumen di Indonesia. Konsumen bukan raja, melainkan pengemis. Ataupun kalau ada intensi menjadikan konsumen raja, maka sering kali terbentur oleh kemampuan petugas dan koordinasi yang tidak beres.

Padahal.. boleh di-cek, gw tuh nggak pernah terlambat bayar tagihan. Setiap kali terima tagihan, selalu gw catat di PDA dan di Microsoft Outlook. Alarm akan berbunyi mulai 3 hari sebelum jatuh tempo. Kalaupun gw gak dengar PDA bunyi, Outlook akan kasih tahu. Sebaliknya, kalau weekend dan gw gak buka Outlook kantor maka PDA gw akan bunyi.

Dan boleh di-cek juga, gw tuh hampir tidak pernah bayar nggak full. Kecuali kalau tagihannya luar biasa besar dan membahayakan kesehatan keuangan rumah tangga (biasanya pas beli alat elektronik gitu) gw selalu bayar full. Tapi apa yang gw dapatkan? Untuk masalah kecil seperti ini saja gw harus bolak-balik telfon CSO, dilempar kesana kemari.. masih pakai disuruh bayar sampai terbukti tidak bersalah lagi!

So.. itulah keluhan gw hari ini. Moral of the story-nya? Kayaknya lebih baik kita kembali ke cara lama aja deh.. hehehe.. simpan duit di dalam bambu atau di bawah ubin.. hehehe.. Bayar segala macam pakai uang tunai. Nggak usah pakai kartu kredit segala.

Dan.. ohya, saran gw: rajin2lah telat bayar tagihan kartu kredit.. hehehe.. soalnya nggak ada untungnya juga loe jadi pelanggan yang baik. Tetap aja loe diperlakukan bak pesakitan ketika transaksi bermasalah. Jadi, mendingan sekalian aja ngemplang (= nggak bayar utang) ;-)