Wednesday, August 03, 2005

Etika Menyebut Nama Tuhan

Gara2 Ima sekarang berangkat jam 6:00 tanpa harus gw antar, gw bisa punya waktu luang sebelum berangkat ke kantor jam 7:30. Untuk nonton gossip! Dan pagi ini gosipnya adalah tentang Bang Haji yang akhirnya mengakui sudah pernah menikah siri dengan Angel Lelga, dan baru saja menceraikannya.

Tapi bukan gosipnya yg mau gw bahas, melainkan jawaban Bang Haji ketika ditanya oleh wartawan kenapa menikah dan kenapa bercerai:

Kenapa menikah? Begini ya, yang namanya takdir mubrom itu ada tiga: lahir, jodoh, dan mati. Itu semua di tangan Allah, jodoh itu ditentukan oleh Allah. Dalam perjalanan rumah tangga kami, ternyata kami tidak berjodoh

Well, gw bukanlah orang yg bisa jadi contoh untuk ketaatan beragama. Dan gw juga nggak berniat (dan kalopun niat, yang pasti gw nggak credible) menghakimi keimanan orang lain. Tapi dengan segala kemanusiaan gw, gw merasa nggak nyaman bahwa takdir Tuhan (dan dengan demikian: Tuhan sendiri) dibawa2 sebagai sebab utama dalam kasus ini.

Jangan salah terka! Bukannya gw nggak percaya Tuhan. Gw sangat percaya Tuhan, dan sangat percaya pada takdir. Tapi gw juga percaya bahwa takdir itu adalah sesuatu di titik akhir: kalau segala logika dan penjabaran sudah tidak bisa lagi menjelaskan, baru kita bisa bilang bahwa itu adalah takdir. Kalau segala usaha sudah kita lakukan untuk menghindari atau mendapatkan sesuatu tidak berhasil, baru kita bisa bilang bahwa takdirnya begitu.

Buat gw, kata takdir adalah kata yang sakral. Takdir adalah alasan yang berani gw ungkapkan jika dan hanya jika sesuatu tidak bisa lagi diterangkan dengan cara lain. Kalau ditanya kenapa gw menikah dengan suami gw, misalnya, gw hanya berani jawab karena setelah bersama2 dengannya selama lebih dari 7 thn, dialah yang paling cocok dengan gw, dan in my human opinion tidak ada lagi alasan untuk meragukan bahwa dia jodoh gw. Karena setelah 7 thn mencoba mengenal dia, mencari sisi yang meruntuhkan hipotesa bahwa dia adalah jodoh gw, gw nggak menemukannya. Dan in my human opinion, 7 thn itu sudah cukup. Tujuh tahun yang gw mulai dari tingkat I kuliah hingga 1 thn bekerja, dari masa gw hanya sekedar lulusan SMA yang kekanak2an hingga bermetamorfosa menjadi wanita dewasa. Dari seorang remaja yang melihat pacar lebih sebagai teman hura2 hingga perempuan yg mencari pasangan hidup. Dengan bekal pengenalan selama 7 thn itulah gw berani melangkah ke pelaminan dan berkata insya Allah gw memang menikah karena ketemu jodoh; bukan karena gw asal nikah, tapi karena gw memenuhi takdir mubrom yang sudah digariskan Allah sebelum Ia memberi gw nyawa.

Nah, gw kok rada nggak sreg ya, kalau ada orang kenal dengan orang lain lalu tertarik, kemudian menikah, lantas bercerai sebelum melewati tahun perkawinan 2 digit mengatakan bahwa itu adalah Takdir Mubrom yang tidak bisa dipertanyakan. Kalau gw kok ngelihatnya itu lebih seperti kontrol diri yang lemah terhadap nafsu duniawinya. Dalam hal ini kan belum ada data signifikan untuk menolak/menerima hipotesa nol dan hipotesa alternative, karena kita belum menggunakan seluruh kemampuan kita untuk memastikan apakah dia jodoh kita. Bisa jadi memang itu takdir mubrom, tapi bisa saja kan, sebenarnya kita tidak berjodoh tapi ketidakjodohan kita itu baru terlihat setelah nafsu menyurut?

Dan, tanpa bermaksud menghakimi Rhoma Irama, gw kok merasa beliau terlalu enteng membawa2 nama Tuhan. Bukan mengenai pernikahannya dengan Angel Lelga saja dia menggunakan nama Tuhan untuk justifikasi keputusannya yang (sangat mungkin) lebih didasari nafsu manusia. Saat kisah hidupnya diulas oleh Kompas pun dia mengatakan hal yang sama mengenai keputusannya menikahi Ricca Rahim. Simak saja kisahnya di sini!

In my humble, humanly opinion, kok ini seperti menyebut nama Tuhan dengan tidak hormat ya? Atau mungkin memang sudah saatnya kita membuat panduan Etika Menyebut Nama Tuhan? Sehingga nama Tuhan tidak dilacurkan oleh orang2 yang memiliki locus of control eksternal.




Takdir Mubrom adalah takdir yang ditentukan secara pasti; pasti terjadi dengan atau tanpa ikhtiyar kita. Lengkapnya baca di sini.