Tuesday, May 29, 2007

Each one is a blessing, but..

"Sweetie, sometimes when you're at work, and I'm home alone with three young boys, I'm not so happy, and now I'm gonna be alone with four kids. Each one is a blessing, yes, but I don't think I can take anymore blessings. More blessings could make me lose my mind. Do you understand?"

(Lynette Scavo, a fictional character in Desperate Housewives)

***

Selain small talk tentang ukuran badan sebagai indikasi kemakmuran, ada satu lagi small talk yang sering bikin tempra gw kumat: tentang kapan Ima punya adik.

Oh, well, gw tahu bahwa salah satu “takdir” manusia adalah menjawab never-ending chain of questions: dimulai dengan pertanyaan, “Udah punya pacar belum?” Yang kemudian diikuti dengan, “Kapan menikah?”, dan kalau sudah menikah pertanyaannya, “Kapan nih punya anak?”, dan.. terakhir, kalau sudah punya anak satu pertanyaannya, “Kapan ada adiknya?” .. dan kalau adiknya berasal dari jenis kelamin yg sama, maka ada pertanyaan bonus, “Kapan punya anak [sebut jenis kelamin anak yg belum dipunyai]?”

*habis pertanyaan ini, biasanya orang bisa santai beberapa tahun sampai muncul periode pertanyaan, “Kapan mantu?”, yang diikuti dengan, “Kapan punya cucu?”.. setidaknya itu yg gw lihat dari pengalaman nyokap yang sampai hari ini cucunya baru satu ;-)*

Pertanyaan pertama, kedua, dan ketiga gw lalui dengan sukses. Gw hati2 banget milih pacar, jadinya nggak sering putus sambung. Di resume pacaran gw daftarnya gak panjang, tapi lama. Nggak ada bolong2 yg bikin gw pusing untuk menjawab pertanyaan pertama (“Udah punya pacar belum?”). Beberapa bulan sebelum lulus kuliah juga gw udah diijon, jadi setelah lulus dan kerja nggak sempat memusingkan jawaban untuk pertanyaan kedua (“Kapan menikah?”) yang menjengkelkan itu. Terus.. baru lima bulan nikah, gw juga langsung hamil,.. dan dengan ketepatan presisi dan akuisisi, hamil yang pertama itu langsung muncul Ima. Jadi selamatlah dari kepusingan menjawab pertanyaan ketiga ;-).

But I’m not so lucky with the 4th question.. ;-)

Dari dulu, rencananya, memang baru mau mikir punya anak kedua kalau Ima sudah masuk SD. Atau paling enggak kalo Ima udah umur 5 tahun. Bukan gw nggak suka anak kecil, I do love children, and see a child as a blessing. Tapi.. gw sadar diri lah! Gw tuh perfeksionis dan butuh kepastian. Yang namanya punya anak tuh buat gw seperti Pak Harto waktu ngebangun negeri ini: ada era pembangunan yang lamanya 25 tahun sebelum masuk era tinggal landas.. hehehe.. Jadi, begitu hamil, gw udah mikir repelita untuk masukin anak ke SD, lantas untuk repelita ke-2 memasukkan dia ke SMP, .. demikian seterusnya hingga era tinggal landas saat si anak mencapai usia 25 tahun. Setelah umur 25 tahun, terserahlah bagaimana dia tinggal landas. Mau sekolah lagi dan menunda pernikahan, monggo.. mau menikah dan bikin gw mantu dulu juga monggo. Pokoknya, rencana gw, setidaknya secara material adalah: mengumpulkan biaya untuk era tinggal landas per anak, yang cukup untuk bayar kuliah S2 atau untuk bikin pesta pernikahan yang “lumayan” berkesan.

Nah, berhubung gw belum sampai tahap bekerja untuk mencari segenggam berlian, gw sadar banget bahwa dari sisi materi dan imaterial repelita gw terbatas untuk 1-2 anak saja. Dan kalaupun mau punya anak ke-2, itu mesti nunggu sampai repelita pertama berjalan dengan sukses. Gw nggak mau buru2 punya anak banyak, tapi malah nggak satu pun dari mereka tinggal landas.

Mengingat perkembangan akhir2 ini, dimana masuk kuliah aja muahalnya ampun2an, gw juga terpaksa lihat2 lagi repelitanya. That’s why ketika Ima sudah hampir berusia 8 tahun, dan udah kelas II SD, yang berarti sudah lewat 2-3 tahun dari rencana gw mulai mikir anak kedua, gw masih santai2 aja. Nggak ngerasa perlu usaha punya anak lagi. Nggak merasa sirik kalau ada yang hamil lagi. Punya anak satu lagi memang akan menyenangkan, as I do love children, tapi.. kalau nggak punya anak kedua juga menyenangkan. Setidaknya gw bisa fokus mendedikasikan waktu gw yang sedikit ini untuk Ima, dan mendedikasikan pendapatan gw yang nggak seberapa ini seluruhnya untuk Ima tinggal landas kelak.

I’m happy and contended with my life, with the only daughter I have.

Nah.. kalau kemudian gw terus dicecar dengan pertanyaan kapan Ima punya adik, menasihati gw supaya nggak usah khawatir punya anak lagi karena “Pasti nanti ada rejekinya”, atau membandingkan gw dengan orang2 lain yang anaknya sudah dua atau tiga.. it’s really annoying, you know ;-) Apalagi kalau mereka menatap dengan pandangan takjub saat gw bilang bahwa gw ngerasa cukup dengan satu anak, walaupun nggak nolak kalau diberkahi dengan satu anak lagi.

Hey, can’t you see what Lynette sees? Each one is a blessing, yes, but I don’t think I can take anymore blessing.. ;-) Yang namanya punya anak itu juga harus disesuaikan dengan kemampuan diri. Apa pun, kalau kebanyakan, dan nggak sesuai diri, jadinya nggak bagus ;-)

Gw rada2 skeptis dengan nasihat “Pasti ada rejekinya”. Iya, gw tahu Tuhan ngasih rejeki ke setiap orang. Jadi, kalau gw punya satu anak lagi, pasti anak itu juga sudah diatur rejekinya oleh Yang di Atas. Iya, gw juga percaya bahwa seberapa baiknya gw menghitung, kalau Tuhan mau, yang sekarang udah gw kumpulkan juga bisa hilang dalam hitungan detik. Tapi.. apa lantas itu jadi justifikasi untuk tidak usah melakukan kalkulasi?

Menurut gw, ada bedanya antara pasrah dan bodoh ;-). Kalau kita berusaha sebaik2nya mencukupi kebutuhan anak, dan kemudian terjadi bencana sehingga back to square one, itu kita harus pasrah. Tapi.. kalau mencukupi hidup satu anak aja kesulitan, lantas udah mau punya anak kedua, itu namanya bodoh. Kalau suami belum punya kerjaan tetap, anak pertama masih belajar jalan, hidup masih numpang orang tua dan menitipkan anak pada orang tua, lantas sudah hamil lagi, itu namanya [maaf] es-ti-yu-pi-ai-di.

Jangan sampai dong kita yang punya anak, tapi yang repot orang lain. Berani punya anak, ya mesti berani tanggung resikonya ;-) Dan yang namanya resiko itu bukan jangka pendek. Yang namanya siap punya anak, kalau buat laki2, bukan cuma siap menunggui istrinya di kamar saat istrinya menyusui. Harus siap banting tulang untuk ngasih makan anak-istri, bukan mengandalkan sokongan ortu. Siap punya anak, buat perempuan, bukan cuma siap menahan sakit saat melahirkan atau siap menyusui saja. Tapi juga harus siap tentang bagaimana mengurus dan mengasuh si anak. OK, perannya bisa dibalik: si istri yang kerja banting tulang untuk ngasih makan suami-anak, dan si suami yg bertugas ngurus dan mengasuh anak.. I don’t mind.. tapi, yg jelas, yang namanya punya anak itu harus siap. Siap material, dan siap imaterial.

Gw ngelihat anak itu sebagai sebuah titipan sih. Jadi mesti dijaga dan diperlakukan dengan baik dan penuh tanggung jawab. Karena bukan milik sendiri, mesti diperlakukan dengan baik dan istimewa. Kayak tamu kehormatan aja.. kita kan merasa mendapatkan kehormatan jika mereka menginap di tempat kita, dan karena itu menunjukkan rasa hormat dgn memberikan pelayanan terbaik. Dan untuk memberikan pelayanan terbaik, kita nggak bisa bermain di level masal.

Mungkin sulit bagi gw untuk jadi kaya dan memberikan materi berkelimpahan buat anak gw, tapi.. I’ll be damned if I let my child[ren] committed suicide seperti di berita ini, ini, atau kasus lama ini.

Hehehe.. gw udah mulai jengkel nih kalo ada pertemuan2 dan ditanya dengan pertanyaan yg sama. Dan mulai jengkel dengan pandangan takjub dan tuduhan egois kalo gw bilang gw happy dengan just one child. Mungkin udah waktunya gw menghentikan pertanyaan2 itu dengan jawaban yang lebih cynical ya? Hehehe..

Jawaban gw saat usia Ima 2-5 tahun masih sopan: “Masih belum kepikir. Nanti dulu sampai Ima agak besar, paling enggak sampai umur 5 tahun”. Jawaban gw saat usia Ima 5-7.5 tahun, which is sekarang: “Iya, belum dapat. Tapi nggak ngoyo kok. Kalau dikasih alhamdulillah, nggak dikasih alhamdulillah juga”. Mungkin.. alternatif jawaban berikutnya: “Iya nih, nggak tahu kapan. Masih nyoba2 terus sih, soalnya lupa dulu caranya gimana, ya, sampai bisa hamil”

Atau.. gw ganti aja dengan line andalan ibu ini ketika ditanya2 tentang menikah melulu, “Tenang aja, paling lambat 9 bulan sebelum menopause deh saya hamil lagi”.. hehehe.. Ada yang mau nambahin ;-) ?

Anyway.. ini sekedar curhatnya ibu2 yang udah sampai di Level 4 (hehehe.. game kali ;-)). Buat yang masih struggle untuk melewati level 1, atau level 2, gw punya sedikit saran: berhentilah bermain tenis. Lho, kok, sarannya gitu? Iya.. gw baca di Readers Digest, katanya no one will marry a tennis player, since love means nothing to them ;-).