Sunday, May 13, 2007

Burnout

Hampir seminggu gw nggak ng-update blog. Lagi sibuk dengan kerjaan, itu sudah pasti. Sudah 4 minggu gw baru bisa meninggalkan tempat kerja paling cepat jam 21:30. Malah di beberapa hari tertentu gw baru bisa sampai rumah tepat sebelum kereta kencana gw berubah jadi labu ;-). Tapi.. mengingat gw pernah sok merasa diri hypergraphia, kayaknya kesibukan bukan alasan untuk nggak ng-update kan? Hehehe.. Malah semakin sibuk, semakin besar dorongan untuk babbling alias mengoceh nggak tentu arah.

Tampaknya, alasan utama gw nggak nggak ng-update adalah karena terjangkit burnout. Ohya, burnout ini adalah istilah untuk menggambarkan kelelahan mental akibat tekanan psikis (baca: stress) berkepanjangan. Panduan lengkap tentang burnout bisa dibaca sendiri di sini, tapi kurang lebihnya burnout dijelaskan sebagai:

“Burnout is a state of emotional and physical exhaustion caused by excessive and prolonged stress. It can occur when you feel overwhelmed and unable to meet constant demands. As the stress continues, you begin to lose the interest or motivation that led you to take on a certain role in the first place. Burnout reduces your productivity and saps your energy, leaving you feeling increasingly hopeless, powerless, cynical, and resentful.”

Sebenarnya, kalau patokan simtomnya adalah cynical dan resentful, agak susah mendiagnosa diri gw sendiri sebagai burnout..hehehe.. Soalnya, dua kata sifat itu kayaknya sudah built-in dalam diri gw sejak lahir *oops ;-)* Tapi.. kalau dipakai bahasan reduce productivity and saps your energy, apalagi dikaitkan dengan emotional and physical exhaustion dan disebabkan oleh excessive and prolonged stress, kayaknya gw memenuhi diagnosa tersebut, deh!

Pegang banyak project dalam waktu yang bersamaan, pulang malam berhari2, atau “pindah kerja” dari kantor ke rumah (baca: bawa setumpuk bahan untuk dikerjain di rumah) memang bukan hal baru buat gw. Hampir sepuluh tahun gw di industri yang “kejam” ini, dan sudah tak terhitung berapa malam yang gw lewatkan sambil kerja. Namanya juga penyedia jasa, mesti siap di-abuse klien kapan saja dan dimana saja. Seperti cerita Jeng Okke, pelanggan tuh rata2 adalah raja yang ngeselin, hehehe.. (OOT: makanya, nggak salah ya, kalau pas jadi pelanggan pun gw berlagak jadi raja yg ngeselin? Hehehe.. Itung2 balas dendam ;-)) Walaupun ada juga klien2 baik hati (yes, darling, it is still you.. and your current partner, my fellow Sanurian ;-)).

Tapi entah kenapa, 4 minggu terakhir ini rasanya beda. Gw bener2 merasa emotionally drained. Padahal CD player di ruang kerja gw udah minta2 ampun gara2 disuruh muter suara Karen Carpenter terus menerus (she’s still my favorite singer, menurut gw belum ada suara penyanyi lain yang punya soothing effect sebesar Karen). Padahal juga gw udah ngabisin hampir 2 botol minyak aromatherapy supaya tungku kecil di meja kerja gw ngebul terus. Padahal juga gw udah pijat refleksi, udah berenang lebih lama dari biasanya, udah baca novel yang nggak pakai mikir, udah nonton film sampai bego,.. Padahal juga project2nya tergolong menarik, bikin gw bisa ke Surabaya dan Medan, dan makan malam buffet tiap malam selama seminggu penuh di sebuah hotel bintang lima (hehehe.. lagak gw udah kayak ibu2 Arisan! aja deh, tiap malam makan di resto mewah ;-))

Biasanya, salah satu dari escape route gw itu bisa menanggulangi dan mengembalikan keseimbangan gw. Entah kenapa, kali ini tidak ada yang berhasil. Tetap aja gw plongo memandangi report yang harus dikerjakan. Malah, akhir2 ini produktivitas gw untuk nge-blog juga hilang.. hehehe.. Bahaya banget gak sih, secara nge-blog itu kan salah satu escape route gw juga. Lha, kalo nggak bisa nge-blog, writer’s block gini, tambah merasa nista gak sih.. hehehe..

Dalam keadaan burnout, gw jadi ingat satu puisi favorit gw bertahun2 lalu, buah karya Sapardi Djoko Damono:

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

Sapardi Djoko Damono, 1973
(karena gw males nyalin ulang, gw pinjam puisi ini dari sini)

Dulu2 gw nggak nyadar kenapa suka ama puisi ini. Baru sekarang gw nyadar bahwa puisi ini bagus banget karena “kena” banget untuk menggambarkan burnout. Kadang yang dibutuhkan hanya katup kecil untuk lepas dari semua tekanan. Seperti tokoh di puisi ini, yang hanya perlu menangis lirih saja. Lirih saja, karena yang penting ada katup yg terbuka supaya tekanan [dalam diri] tidak menjadi besar. Seperti a dry teapot over a high flame, yang hanya membutuhkan lubang kecil untuk memperkecil kemungkinan terjadinya ledakan. Nah.. yang diperlukan adalah menentukan di bagian mana katup itu terletak dan bagaimana membukanya.

Konon, katanya, where work is religion, then burnout is the crisis of faith. Well.. walaupun gw menyukai profesi gw sekarang, tetap belum se-dedicated itu sampai menganggapnya agama.. hehehe.. tolong dicatat! Tapi, kayaknya, bagian kedua dari pemeo itu tepat deh: burnout is the crisis of faith ;-) Untung aja gw udah pernah playing housewife, dan sadar bahwa buat gw playing housewife punya ambang burnout yang lebih rendah daripada bekerja, sehingga gw tidak impulsif dan resign.. hehehe..

Tapi, beneran deh! Sekarang gw lagi benar2 merasa jadi a dry teapot over a high flame (walaupun kata teapot mungkin harus diganti dengan jug atau kettle, biar lebih proporsional dengan ukuran badan gw ;-)). Nggak tau mau ngapain, padahal besok gw musti submit 1 proposal, kirim 1 report, dan meeting untuk mendiskusikan 2 project yg akan jalan dua minggu lagi. Report-nya baru jadi separoh, proposalnya belum kepegang sama sekali, sementara written brief untuk dua project yang mau jalan itu belum gw baca sama sekali.

Ngomong2.. kalau gw di-kloning, kira2 clone gw bisa langsung bantuin kerja gak ya? Soalnya ada satu escape route a.k.a katup lagi yang belum gw coba: cuti sampai bosen.. hehehe.. Orang HR udah ribut nanyain kapan gw mau ngambil cuti 5 tahunan (yang lamanya sebulan penuh itu), yang harus dihabiskan tahun ini. Weleh, Mas, Mas.. gimana mau ngambil cuti 5 tahunan, lha wong cuti gw tahun 2006 aja masih sisa 7 hari dan harus dihabiskan sebelum Juli 2007 ;-).