Tuesday, May 08, 2007

Girl Power dalam Legenda

Hehehe.. curhat Susilo yang lucu ini bikin gw pingin nulis tentang ”Kartini” dan kekuasaannya (note: Kartini di sini adalah generic term untuk perempuan ;-))

Gw memang tidak pernah ikutan gerakan feminisme, girl power, atau mendengang-dengungkan emansipasi wanita. Bukan apa2, walaupun secara de jure dunia ini penuh dengan chauvinisme laki2, tapi de facto tampaknya perempuan yg berkuasa. Tengok saja syair lama milik Oom Ismail yang berbunyi:
Namun ada kala pria tak berdaya
Tekuk lutut di sudut kerling wanita
(
Sabda Alam, Ismail Marzuki)
Tapi, sebenarnya, jauh sebelum Oom Ismail bikin lagu itu, indikasi atas kekuasaan wanita sudah muncul dalam bentuk legenda dan mitos. Cinderella dan Snow White yang disiksa ibu tirinya, apa bukan bukti kekuasaan perempuan? Hehehe.. Secara mereka tuh ibu tiri, yang kaya tuh bapak kandungnya Cinderella dan Snow White, tapi kok ya bisa menyiksa anak2 yang lebih berhak atas harta bapaknya ;-).

Jangan dikira cuma dongeng Barat yang menunjukkan indikasi demikian. Legenda Timur pun punya! Contoh yang pernah bikin gw ilfeel banget ada dalam legenda Mahabharata tentang asal-usul Pandawa dan Kurawa.

Menurut legenda, pewaris tahta Astina yang asli adalah Woro Bisma, aka Bisma Dewabrata. Namun, tahta itu lenyap dari tangannya lantaran ”kekuasaan” ibu tirinya, Dewi Satyawati. Si ibu tiri ini hanya bersedia dinikahi oleh Prabu Sentanu, ayah Bisma yang juga Raja Astina, jika ada jaminan bahwa putranya yang kelak menjadi raja. Bisma divetakompli untuk memilih antara mempertahankan haknya, atau membahagiakan ayahnya. Dasar si Bisma ini anak baik, dia memilih yang kedua: melepaskan tahta dan menuruti pre-marital agreement calon ibu tirinya. Apa isi perjanjian pra-nikah itu? Hmm.. Dewi Satyawati ini berargumen bahwa biarpun Bisma rela melepas tahta, belum tentu anak keturunannya kelak akan menghormati keputusan ini. Sang Dewi khawatir nanti anak-cucunya digugat oleh anak-cucu Bisma. Makanya, dia baru mau dinikahi ayah Bisma kalau Bisma janji tidak akan menikah dan punya anak. Coba, kurang jago negosiasi apa lagi nih si ibu ;-)? Berpikirnya udah 3-4 generasi ke depan untuk mengamankan posisi ;-)

*tuh, siapa bilang wanita Timur tidak sadar hak? Hehehe.. Jangan2 pre-marital agreement malah diilhami oleh ibu tiri si Bisma ini ;-)*

Yang lebih canggih lagi, ketika dua anak laki2nya meninggal sebelum memiliki putra mahkota, Dewi Satyawati tetap kekeuh pakai plan B untuk mengamankan posisi: dia panggil anak dari suami pertamanya (note: anak tiri Prabu Sentanu), untuk menyumbangkan sperma pada janda2 kedua putranya dan menghasilkan putra mahkota Astina. Dari situ lahirnya Destarata (ayah Kurawa), Pandu Dewanata (ayah Pandawa), dan Yamawidura. Bisma? Yaa.. Bisma tetap tinggal di sana untuk melayani raja2 Astina. Kasiyaaan.. deh Bisma! Nasib tragis bagi seorang pewaris tahta yang sah untuk melayani pemegang tahta yang bahkan tidak ada hubungan darah dengan pendiri tahta itu.

Hehehe.. biarpun gw ilfeel banget sama Dewi Satyawati, mesti gw akui bahwa perempuan ini adalah contoh bagus untuk girl power ;-).

Legenda Timur tentang kekuasaan perempuan bukan cuma di cerita wayang. Di novel sejarah Senopati Pamungkas pun ada contoh lain. Kali ini kisahnya tentang Permaisuri Indreswari, d/h Dara Petak, putri boyongan tanda takluknya Kerajaan Melayu pada Majapahit. Kalau baca novelnya Oom Arswendo ini, ada bagian yang menceritakan Permaisuri Indreswari dengan canggihnya menyingkirkan Tribhuana Tunggadewi dari daftar pewaris tahta, serta menggantikannya dengan Kala Gemet, putranya sendiri.

Well.. ini memang cuma fiksi imajinasi Oom Arswendo, bukan legenda apalagi fakta. Namun pemikiran ini cocok sekali dengan konteksnya; menurut sejarah ada ramalan bahwa Gayatri dan Raden Wijaya harus menikah karena mereka yang akan menurunkan raja2 Jawa. Jelas2 Tribhuana Tunggadewi ini adalah putri dari Gayatri & Raden Wijaya, tapi kok ya tiba2 Kala Gemet nyempil di tengah jadi raja ;-)

Memang, Kala Gemet adalah satu2nya anak laki2 Baginda Kertarajasa (d/h Raden Wijaya). Tapi.. kalau gw nggak yakin bahwa Sang Baginda mengangkat Kala Gemet jadi putra mahkota hanya karena alasan jenis kelamin setelah adanya ramalan bahwa raja Jawa justru akan diturunkan dari Gayatri. Kalaupun anak Gayatri perempuan semua, bukankah suami dari putri mahkota itu yang jadi raja? Baginda Kertarajasa sendiri kan jadi raja karena menikahi putri2 Baginda Kertanegara, bukan karena dia adalah putra mahkota?

So.. bukan mustahil bahwa di balik pengangkatan Kala Gemet ada unsur ”kekuasaan” sang ibu, Dara Petak ;-) And it fits the context, logically, mengingat Dara Petak berasal dari Kerajaan Melayu Jambi yang letaknya di Sawahlunto. Tradisi Sumatra Barat adalah matriakat, kan? Bukan mustahil hal ini menjadi bagian dari negosiasi sang Sthri Tinuheng Pura (= permaisuri)

Hmm.. dipikir2, cerita akan kekuasaan perempuan ini bahkan sudah ada sejak manusia baru diciptakan. Iya, pernah kepikir nggak betapa beruntungnya Hawa? Hehehe.. Bukan saja dia tidak punya ibu mertua (biasanya kan istri berkonflik sama ibu mertua ;-)), tapi juga karena Hawa punya suami yang nurut, mau aja disuruh2, termasuk disuruh nyolong sekalipun. Dan.. setelah suruhan Hawa terbukti bikin hidup mereka sengsara, si suami tetap saja cinta mati. Nggak ninggalin dia, nggak selingkuh, nggak poligami ;-) Ini faktor keberuntungan belaka, atau ada unsur girl power ya ;-)?

So.. female is not The Second Sex after all, we just pretend we are ;-). Untung Simone de Beauvoir sudah meninggal. Kalau belum, bisa2 dia mesti bikin revisi atas bukunya ;-) Lebih lucu lagi kalau buku revisinya malah dijudulin Das Uebergeschlecht (jenis kelamin unggulan), seperti konsep Uebermensch-nya Nietzsche ;-)

*hehehe.. buat filsuf2-wanna-be yang suka kelayapan di sini, paragraf di atas sekedar parodi atas istilah dari kedua orang itu ya. Tidak mengacu pada keseluruhan konsepnya ;-)*

Anyway.. ngapain sih nulis panjang lebar tentang ini?

Yaah.. nggak ada tujuan khusus sebenernya. Cuma terinspirasi komentar lucunya Susilo aja. Sekali2 nulis suatu topik yang gak ada wrap up-nya boleh kan?

BTW, gw kasih bonus gambar aja deh.. hehehe.. Komik lucu ini gw dapat dari email beberapa bulan lalu. Lucu aja melihat Disney's Desperate Housewives ini, terutama baca kata2 Sleeping Beauty .. "I just pretend I'm asleep".. Hehehe.. apakah Sleeping Beauty sedang memberikan kiat pada putri yang lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan dari suami2 mereka? Who knows ;-)

UPDATE: 10 Mei 2007

Setelah memperhatikan beberapa komentar yang masuk, gw baru ngeh betapa entry ini berkesan punya nada female ueber alles, hehehe.. Klarifikasi aja, ini bukan propaganda untuk menguasai laki2, sekedar sebuah entry "nakal" tentang betapa dari sudut yg berbeda, dgn argumen berbeda, contoh kasus berbeda, sesuatu bisa dilihat sebagai berbeda pula :-) Dalam hal ini adalah anggapan tentang "perempuan", bisa dilihat sebagai "lemah", bisa dilihat sebagai "penjajah".. hehehe.. tergantung dari sisi mana. It doesn't mean that female has to take one of these position, kan dunia tidak hitam-putih ;-).

BTW, gw juga notice perbedaan nada komentar antara pria2 di comment box, yang berbanding lurus dgn perbedaan usia & pengalaman. Pria2 yg lebih tua dan "pengalaman hidup" yang lebih, komentarnya cenderung pro terhadap konsep "perempuan seringkali malah menjajah pria". Sementara komentar para brondong lebih ke arah persamaan gender. Hmm.. ada cowok2 lain yg mau komentar? Hehehe.. biar gw bisa lebih menguji hipotesa di atas ;-)