Tuesday, February 20, 2007

Menulis itu Gampang

Saya hanya ingin bilang bahwa setiap orang berhak menulis! Tak ada yang melarang itu. Kadangkala, menulis diasosiasikan ke dalam kredo, “Saya Menulis maka itu saya ada.” Maksudnya, menulis adalah sebuah eksistensi.

Persoalannya adalah apakah tulisan kita bermanfaat bagi pembaca? Apakah, dengan membaca tulisan kita, pembaca mendapat sebuah pengalaman baru, pengetahuan baru?

Menulis memang gampang tapi menulis sesuatu yang bermanfaat bagi pembaca, ini yang sangat sulit. Artinya, seorang penulis harus berpengetahuan dan berwawasan yang luas. Menulis itu gampang jika tulisan kita hanya berisi: unek-unek, pengakuan ke-diri-an atau egosentris, dan hanya sekadar sebagai pelarian.

(dikutip dari sebuah komentar yang saya temukan di search engine)
Waktu menemukan komentar itu beberapa bulan lalu, gw spontan aja menyimpannya. Nggak tahu mau gw apain simpenan ini, tapi gw seneng aja bacanya. Pada intinya mewakili perasaan gw tentang menulis. Menulis itu gampang,.. or is it really?

Gw pernah baca di suatu tempat bahwa sekarang rumus 5W+1H itu sudah ketinggalan jaman. Rumus yang baru adalah 5W+1H=1SW. Artinya: setelah menjabarkan what, when, where, who, why, dan how, kita mesti sampai pada kesimpulan so what? Semua orang bisa memasukkan 5W+1H dalam tulisan mereka; tapi 1SW lah yang benar2 membedakan tulisan yang satu dengan tulisan yang lain. So what merupakan hasil pemikiran yang disumbangkan si penulis pada tulisannya.

Gw setuju banget dengan rumus baru tersebut. Dan gw menganggap bahwa sebuah tulisan tidak lengkap tanpa 1SW. Apa pun bentuk tulisannya – mau buku yang diterbitkan resmi sampai sekedar blog – baru komplit ketika dilengkapi dengan 1SW. Until then, it is not so much different from paraphrasing the news. Nggak banyak manfaatnya bagi pembaca, karena topik yang sama bisa mereka dapatkan di tempat lain. After all, mengutip kata seorang teman:

You search for a string on Google -- yeah, right, like... Dude, where else! -- and you'll likely end up with thousands of blogs having discussed that topic left, right, center, then back to left (and right and center) again. You read two different blogs by two different authors and you'll probably find at least one common topic that both have written about.

(dikutip dari sini, tanpa ijin, tapi gw yakin penulisnya nggak keberatan. Bukan begitu, Itsy Bitsy Spider?)

Kalau tulisan loe nggak punya 1SW, maka loe cuma nggocek bola kiri, kanan, tengah, balik ke kiper, tendang lagi ke pemain belakang.. kapan gol-nya?

Nah.. lantaran gw setuju bahwa 1SW adalah bagian paling sulit dalam menulis, gw jadi setuju juga bahwa menulis yang bermanfaat bagi pembaca itu sangat sulit. After all, 5W+1H itu tersedia dalam bentuk data, atau setidaknya bisa dicari datanya melalui investigasi. Sedangkan 1SW? Hmm.. ini murni hasil dari analytical thinking ability atau intuitive assessment ability; nggak bisa dicari dimana2, hanya bisa dibuat sendiri dalam kepala (atau hati – whichever you use more ;-)).

Yang jadi masalah, sekarang gw jadi ragu2: benarkah 1SW itu datangnya dari si penulis? Atau sebenarnya 5W+1H saja sebenarnya sudah cukup, karena 1SW itu adalah bagiannya pembaca?

Ada 2 hal yang bikin gw tiba2 meragukan bahwa seorang penulis harus memberikan 1SW dalam tulisannya. Yang pertama cukup self-confidence boosting: seorang teman tiba2 bilang bahwa omongan gw bikin dia tersedak dan terlempar ke dalam deep thought. Bikin dia berkata dalam hati, “Iya juga ya?”. Padahal, swear, omongan gw itu hanya omongan sambil lalu. Nggak pakai landasan teori ataupun referensi seperti yang sering gw lakukan di posting.

Pengalaman yang kedua adalah cerita seorang teman tentang sebuah blog yang dikaguminya. Dia merasa belajar banyak dari blog itu. Masalahnya.. I happen to know that particular blog, and it is a typical “documenting my daily lives” one. (lagi, sebuah istilah yang gw pinjam tanpa ijin dari si Itsy Bitsy Spider dari tautan di atas ;-)). Deskriptif murni 5W+1H, tapi tetap ada yang merasa mendapatkan 1SW dari situ.

Nah.. jadinya gw bingung deh! Dua pengalaman di atas menunjukkan pola bahwa 1SW itu datangnya bukan dari pengucap (=penulis), tapi dari penerima (=pembaca). Jadi.. rumus jurnalistik mana yang harus gw pakai nih? Yang pakai atau yang tidak pakai 1SW?

Anyway.. mungkin balik ke motif menulis aja kali ya? Kalau menurut George Orwell dalam essay-nya, ada 4 motif besar dalam menulis. Keempat motif ini ada dalam setiap diri orang yang menulis, dengan derajat yang berbeda2:
  1. Sheer egoism (= desire to seem clever, to be talked about)
  2. Aesthetic enthusiasm (= perception of beauty in words and their right arrangement)
  3. Historical impulse (= desire to find out true facts and store them up for the use of posterity)
  4. Political purpose (= desire to push the world in a certain direction).
Nah.. perlu tidaknya 1SW lebih berkaitan dengan motif apa yang dominan dalam diri si penulis.

Rasanya aesthetic enthusiasm dan historical impulse adalah motif yang tidak dominan dalam diri gw.. hehehe.. soalnya kalo dominan mungkin sekarang gw udah nulis puisi, atau udah jadi pengikutnya Pramoedya Ananta Toer yang detil banget menceritakan true facts dalam setiap karyanya.

Kayaknya motif yang dominan buat gw adalah political purpose; karena – seperti tertulis di awal tulisan – gw merasa tulisan yang baik itu harus memberikan kesimpulan a.k.a direction bagi pembacanya. Terserah direction itu diikuti, atau dijadikan bahasan lebih lanjut, yang penting direction-nya harus ada. Dan direction itu baru muncul kalau ada 1SW dari si penulis, bukan dilepas begitu saja bagi benak pembaca. Jadi motif dominannya adalah political purpose, mutlak 1SW harus datang dari penulis.

Atau ada yang menganggap motif utama gw sheer egoism? Well.. that’s for you to judge, and for me to deny.. HAHAHA..