Saturday, May 19, 2007

Generasi Ketiga

Beberapa minggu lalu, gw mendapatkan email ini dari salah satu milis (dan setahu gw, email ini juga di-fwd ke milis2 lain ;-)):

--- In psiindonesia@yahoogroups.com, xxxx [xxxx@... ] wrote:

Dear kawan2...berikut berita yang cukup memprihatinkan, rasa depresi ini terjadi pada hampir semua lulusan S1 yang sekrang menganggur, termsuk kawan2 saya dari F.Psi univ terkenal di kawasan JaBoDeTaBek.

Apa yang bisa dilakukan oleh kita? Lembaga Himpsi Jaya bisa kontribusi apa ya supaya lulusan S1 F.Psi Indo gak ada yang gantung diri atau banting setir ke jurusan lain.(Denger2 malah katanya ada asosiasi tandingan baru...Gossip nih..)

Kesejahteraan para sarjana Psikologi dan Psikolog plus ilmuwan psikologi apa kabar ya?

..

(catatan: email aslinya nggak ada tautan, tapi berita dari tautan itu dijembreng sebagai bagian dari email)

Belum sempat dikomentari, tadi siang nonton siaran ulangan acara Padamu Negeri (Metro TV) yang temanya tentang “Indonesia, Bangsa dengan Minat Baca yang Rendah”. Peserta yang diundang adalah dari Komunitas Pembaca Buku, Komunitas Penerbit, dan Mahasiswa (yang diwakili oleh fakultas ilmu komunikasi di sebuah universitas swasta). Salah satu hasil pembicaraannya cukup bikin takjub, walaupun sudah bisa diduga sebelumnya: kelompok mahasiswa mengatakan bahwa mereka kurang berminat membaca, membaca hanya kurang dari 1 judul buku per bulan, karena lebih tertarik menonton televisi.

Oh, well, satu ditambah satu sama dengan dua, .. gw jadi pingin ngebahas keduanya secara simultan dan berkesinambungan, karena keduanya relevan dan signifikan ;-)

Dua kasus itu membuat gw teringat bahwa kalimat satir yang dikeluarkan oleh seorang teman:

“Pemeo ‘Kaya Tujuh Turunan’ itu sudah nggak jaman. Sekarang yang namanya kaya itu mentok di turunan ke-3. Habis itu melarat. Soalnya, by the third generation, yang mereka bisa hanya menunggu ditolong oleh angkatan sebelumnya”

Satir, getir, tapi banyak benernya ;-). Generasi pertama adalah generasi pejuang. Kalau mereka bisa kaya, itu karena usaha keras mereka membalikkan keadaan. Modal yang minim diolah dengan sebaik mungkin sehingga memberikan hasil maksimum. Generasi kedua pada prinsipnya adalah generasi penerus. Banyak dari mereka masih melihat dan mengalami periode perjuangan orang tuanya. Hal ini menginspirasi mereka untuk bekerja sekeras orang tuanya, menjalankan nilai2 yg dianut orang tuanya, tapi dengan sebuah kelebihan: karena ortunya sudah kaya, mereka mendapat lebih banyak modal baik berupa materi maupun imaterial (seperti pendidikan). Maka dari itu, nggak heran jika biasanya kejayaan suatu dinasti bisnis ada di generasi kedua.

Generasi ketiga.. nah.. this is the culprit. Kalau ayah/ibunya masih sempat ngalamin “masa susah” kakek/neneknya, generasi ketiga ini lahir dengan sendok perak di mulutnya. Seperti generasi kedua di paruh kesekian hidupnya, mereka mendapatkan semua kemudahan dan keuntungan. Tapi.. karena mereka mendapatkannya sejak lahir, mereka cenderung take it for granted, menganggap semua harus mudah. Menganggap bahwa mereka harus dilayani, harus diputarkan modalnya, setidaknya harus ada katebelece yang memudahkan jalan mereka, dan mereka cukup ongkang2 kaki.

Tanpa didikan yang keras sejak lahir, nggak heran kalau generasi ini malah menghabiskan sedikit demi sedikit apa yang sudah dikumpulkan keluarganya.

So.. apa hubungannya ada email, acara TV, dan kalimat satir di atas?

Hubungannya: gw kok merasa mahasiswa penulis email itu dan mahasiswa peserta acara TV di atas sama2 mencerminkan generasi ketiga pada cerita satir gw ;-)

Gw selalu mempertanyakan balik kalau ada orang yang teriak2 minta dibukakan lapangan kerja. Ohya, gw tahu, jumlah angkatan kerja dengan lowongan kerja di negeri ini tidak sebanding. Tapi gw juga mempertanyakan bila ada yang bilang kesempatan kerja di Indonesia itu kurang. Setelah jadi bagian dari “pemilik lowongan kerja”, gw makin yakin pada teori gw: lowongan kerja selalu ada, tapi yang siap duduk di lowongan itu terbatas sekali. Kita punya banyak penganggur, punya banyak orang yang siap melamar kerja, tapi.. yang siap kerja sedikit sekali.

Mungkin sebagian orang akan bilang: berarti, itu salah pendidikan di Indonesia dong? Mencetak orang2 yang tidak siap kerja? Tidak sesuai dengan yang dibutuhkan industri?

Well.. kalau menurut pendapat gw dari sisi “pemilik lowongan kerja”, pendapat ini tidak sepenuhnya benar.

Kami2 pelaku industri cukup sadar kok, untuk tidak menuntut terlalu tinggi terhadap fresh graduates. Kami sadar bahwa bagaimana pun, dunia akademis itu tidak sama dan sebangun dengan dunia bisnis. Kalau dengan analogi “kaya tiga generasi” di atas, dunia akademis itu ibaratnya cuma pemberi modal. Semua orang bisa diberi modal oleh dunia akademis, dan modalnya bisa sama semua jumlahnya. Tapi... yang namanya berhasil di bisnis itu bukan cuma masalah punya modal doang! Harus punya insting bisnis dan mampu mengembangkan modal juga. Dan.. insting bisnis serta kemampuan mengembangkan modal ini sifatnya personal sekali. Harus dikembangkan oleh diri masing2, tidak bisa diberi oleh dunia akademis.

Nah.. yang sering gw lihat dari lulusan2 baru adalah: mereka punya modal, tapi kemampuan mengolah modalnya itu kecil sekali. Mereka nggak membekali dirinya apa2 selain “modal standard” berupa pengetahuan yang diberikan oleh fakultas tempat mereka belajar. Wawasannya tidak dikembangkan, keingintahuannya terhadap hal lain kurang, dan.. [maaf] kadang2 logikanya pun tidak dikembangkan. Jadi.. sering terjadi bahwa seorang lulusan Psikologi hanya bisa nge-tes, nggak ngerti bagaimana membuat surat perjanjian atau surat kontrak sederhana, dengan alasan karena dia bukan anak Hukum. OK, memang technically right. Legal itu urusan anak Hukum. Tapi.. seingat gw, jaman gw di Senat Mahasiswa Fakultas Psikologi, gw juga udah biasa berhubungan dengan surat kontrak sederhana. And it comes handy ketika di bidang gw yang sekarang, Marketing Research, kadang gw harus bikin perjanjian sederhana dengan narasumber atau supplier (seperti transcriber, simultaneous translator, atau recruiter). Bagian legal di perusahaan gw emang ngurusin kontrak dengan klien dan supplier2 utama, tapi... kalau gw harus kerja dengan 350-an orang recruiter, 15-an transcriber, dan beberapa simultaneous translator, kan ya nggak bisa saban2 gw teriak minta legal department turun tangan ;-)

Lagipula, it’s not that difficult to draft. Asal nggak buta2 amat dengan yang namanya surat kontrak (kelas Senat Mahasiswa pun OK!), punya kemampuan bahasa, terbiasa berpikir, dan terbiasa menuangkan ide secara tertulis. Nggak sulit, asal waktu kuliah kita buka mata buka telinga, mau belajar dan mencoba yang gak ada dalam kurikulum, nggak sekedar catat buku dan ngapalin sampai habis ;-).

Dan selain pengalaman langsung, membaca adalah jalan yang terbaik untuk mempelajari hal baru.

Nah.. kalau sekarang mahasiswanya males baca, males ikutan kegiatan kemahasiswaan karena takut IP jeblok, sukanya senang2 aja, belajar yang dikasih sama dosen aja, .. ya mereka akan sulit memasuki lowongan kerja apa pun. Nggak perduli berapa pun lowongan kerja yang disediakan, kalau nggak bisa memberi nilai lebih buat diri loe sendiri, dan menjadi “berbeda” (dalam konotasi positif) dari yang lain, ya loe akan selalu terpinggirkan.

Lagian.. kalau masalahnya kayak gini, kalau inti masalahnya di kemampuan para lulusan yang dibangun sejak masa kuliah, mosok solusinya harus memberikan lapangan kerja baru sih? Apa iya yang kemudian dipertanyakan adalah apa yang bisa dilakukan oleh lembaga pendidikan sih? Apa iya kesejahteraan lulusannya (dalam bentuk kepastian mendapat kerja) ada di pundak lembaga pendidikan dan asosiasi profesi? Bener2 jadi generasi ketiga dong.. hehehe.. yang supaya sukses dan tetap kaya harus dikasih katebelece sana-sini, instead of usaha sendiri ;-)

Gw tetap yakin yang namanya lowongan kerja itu selalu ada. Tidak sebanding dengan jumlah penganggur, tapi selalu ada. Sekarang.. tinggal bagaimana kita membuat diri kita lebih baik dari penganggur yang lain, supaya kesempatan kerja yang sedikit itu bisa direbut. Bikin diri kita punya nilai jual yang lebih, jangan bertumpu pada katebelece ;-) Yang namanya kebijakan dan usaha dari lembaga pendidikan atau asosiasi profesi untuk meningkatkan kesejahteraan lulusan itu adalah sekedar bantuan mereka.. tanggung jawab utamanya tetap dalam diri kita masing2. Wong kita yang mau kerja kok ;-)

Life is not a matter of holding good cards, you know, but it’s a matter of playing any card well.. ;-) Jangan jadi generasi ketiga yang manja ;-)