Wednesday, February 08, 2006

Esprit de Corps

Hari Jumat, 3 Februari 2006, akhirnya ikut nonton Pagelaran 150 tahun Ursulin Berkarya di Indonesia. Pagelaran ini atas kerjasama lima sekolah di Jakarta dan sekitarnya yang berada di bawah naungan Ordo Santa Ursula (OSU, atau dikenal juga sebagai kelompok biarawati Ursulin): Santa Ursula, Santa Maria, Santa Theresia, Santo Vincentius, dan Santa Ursula BSD. Keputusan nontonnya bener2 impulsif! Pas jam 13:00 ditelpon Jeng Indri bahkan belum bisa kasih keputusan. Maklum, kalau selesai meeting jam 15:00 di Daan Mogot, gak jelas kapan sampai ke peradaban lagi. Padahal pagelaran mulainya jam 18:00. Tapi ternyata alam sedang bersahabat saat itu, sehingga bisa juga nonton walaupun agak telat.

Gw berangkat nonton dengan perkiraan menemukan reminiscence of the good old days. Pingin cari rasa Sanur setelah sekian tahun meninggalkannya. Tapi ternyata gw kurang connected dengan pagelarannya itu sendiri. Entahlah, mungkin karena jaman udah berubah; pagelaran ini jadi gak banyak beda dengan pensi2 di sekolah lain, isinya didominasi kuis dan nge-band. Gak ada rasa Sanur yang gw kenal; all female performance yang bener2 girl power. Atau mungkin karena terlalu banyak tangan di pagelaran ini; biarpun sama2 asuhan Ordo Ursulin, masing2 sekolah punya culture sendiri2 yang beda satu sama lain. Kemungkinan lain adalah gw termasuk lost generation di pagelaran ini; sebagian besar penonton datang untuk nonton anaknya, sebagian lagi untuk nonton teman2nya, sebagian lagi karena ini memang acara sekolahnya, dan beberapa anak CC muncul gw yakin banget nonton gara2 mau ngecengin cewek2 Sanur atau emang punya cewek di Sanur ;-). Sementara gw datang sebagai alumni yang gak jelas mau nonton siapa ;-)

Akhirnya, sejam acara berlangsung, gw malah sibuk baca buku panduan dan sempat ngobrol sama Pak Hari. Pak Hari ini guru yang konon bergelar kecengan sepanjang masa (gilaa.. pas jadi kecengannya angkatan gw, beliau masih bujangan pertengahan 20-an. Eeeh.. sampai udah jadi bapak2 beranak dua above 40, ternyata masih dikecengin juga sama junior2 gw ;-)!). Takjub juga Pak Hari masih mengenali gw, biarpun gw pakai embel2 beberapa (belas) kilogram lebih berat dibandingkan SMA dulu.

Tapi di sela2 acara yg terasa asing itu, ada dua moment yang bikin gw merinding. Pertama, ketika video pidato Sr. Francesco Marianti OSU, mantan Suster Kepala SMA Santa Ursula, diputar. Mendengar suaranya, mendengar omongannya, membuat gw terlempar ke belasan tahun lalu. Suara yang bikin kita semua ngeri kalau sudah mulai berteriak, tapi sekaligus kagum dan hormat karena tahu bahwa di balik disiplin spartannya Suster benar2 sayang sama kami. Semua yang dia lakukan, dia ucapkan, sebenarnya hanya cerminan keinginannya yang terbesar buat kami: membuat kami mampu berpikir, karena FIKIR (begitu Suster selalu menyebutnya, dengan F, bukan dengan P) itu pelita hati. Hmm.. bener juga kata Bu Lurah Panekuksanur: No matter what, no matter how she becomes, we still love her very much.

Hal kedua yang bikin gw merinding adalah ketika konfigurasi di belakang panggung membentuk gambar SERVIAM besar. Dulu-dulu rasanya gak ada yg istimewa dengan Serviam ini. We accepted it as our logo, sebagai logo yang membedakan kami dari sekolah2 lainnya, sebagai emblem yang harus dipasang di kerah baju seragam sebelah kiri. Kami tahu artinya: saya mengabdi. Kami hafal simbol2 yang tertera di logonya: gugusan bintang Ursa Minor yang diambil sebagai simbol karena namanya sesuai dengan semangat ordo (Ursa = menyayangi), warna hijau yang melambangkan cita2 luhur, serta salib yang melambangkan pengorbanan-kemenangan-berkat (sesuai ajaran Katholik yang menjadi dasar sekolah ini). Tapi ya itu, lebih ke arah hafal, tanpa sepenuhnya memahami semangatnya. Pendeknya, lencana Serviam dulu adalah sekedar discriminator bagi kami dibandingkan murid2 sekolah lain. Kebanggaan kami adalah karena menjadi anak Sanur, bukan karena pakai lencana Serviam.

Melihat logo SERVIAM setelah gak jadi anak Sanur lagi ternyata rasanya beda. Lebih dari sekedar reminiscent of the good old days, lebih dari sekedar mengingatkan gw pada seragam kotak2 hijau yang gw pakai bertahun2, pada gedung tua peninggalan jaman Belanda dengan koridor panjang dan French windows-nya, pada kebadungan2 masa remaja. Lebih dari semua itu, gw ngerasa belong to something. Something big that has a purpose; segala hal yang tersimbolkan dalam lencana. Perasaan bermakna yang melebur semua kebosanan gw selama menonton acara yang asing itu. Untuk beberapa saat, gw merasa paham perasaannya ET ketika menunjukkan jari ke angkasa dan berkata: Home. Mungkin ini juga rasanya kalau astronot2 itu melihat bumi dari luar angkasa, ya?

Sentimentil? Mungkin ;-). Tapi mungkin juga bahwa at the end SERVIAM bukan sekedar logo lagi, tapi sudah menimbulkan esprit the corps buat gw dan fellow Sanurians lainnya. Semoga!

Kami adalah kusuma bangsa
Segar bugar pun muda belia
Bersatu padu serentak maju
Ke arah luhur kami menuju
Kami sadari panggilan Tuhan
Hidup suci menjadi teladan


..
..

Majulah!
Peganglah semboyan:
Serviam! Serviam!
Tetap teguh Serviam!

(Mars SERVIAM)

-------------

Esprit the Corps: spirit of loyalty and devotion which unites the members of a group or society
(Oxford Advanced Dictionary of Current English)