Wednesday, August 26, 2009

Tetangga

Rumah yang gw tinggali sekarang dulunya merupakan rumah almarhum Bapak. Gw sudah tinggal di rumah itu sejak tahun 1976. Kami merupakan salah satu orang pertama yang mendiami kompleks itu. Ketika pertama kali pindah ke sana, daerah itu belum terjamah listrik. Jalan raya yang sekarang dilalulalangi berbagai bis kota pun dulu masih terdiri dari 1 jalur tak beraspal. Boro2 menjadi total 4 lajur seperti sekarang.

Tetangga sekitar rumah kami pun hingga sekarang masih banyak terdiri dari "fosil2" angkatan 70an akhir atau 80an awal. Beberapa di antaranya malah generasi kedua dari penduduk awal; yang membeli rumah di dekat rumah orang tuanya. Yaaah... semacam gw lah, yang tinggal bersebelahan dengan adik dan Ibu gw ;-) Jadi, jangan ditanya mengenai keguyuban antar tetangga ;-) Hubungan kami umumnya sangat harmonis, penuh dengan tepa selira. Karena rata2 dari kami sudah kenal sebanyak 2 - 3 generasi, maka dapat dikatakan kami tumbuh besar dalam sistem nilai yang sama.

Comfort zone ini mulai berubah ketika rumah di seberang rumah kami dibeli oleh "pendatang" baru. Sejak awal ia membangun rumahnya, kami sudah bertanya2 seperti apa orangnya ;-) Rumah yang dibangunnya persis rumah2an Barbie, dengan warna krem mencolok ;-) Dan ketika akhirnya keluarga baru itu muncul, tak ayal kami sering membatin, "Ooooh... pantesan".

Ya, tetangga baru gw itu memang tajir mampus. Seorang pedagang kain di sentra perdagangan kain Jakarta yang omzetnya berkisar pada angka yang cukup fantastis. Secara finansial, jelas kelas sosialnya di atas sebagian besar dari kami - yang umumnya bekerja sebagai PNS atau pegawai swasta.

... tetapi milieu-nya jelas berbeda ;-)

Satu hal yang mencolok dan bikin banyak tetangga geleng2 kepala, misalnya, adalah kebiasaannya membunyikan klakson pukul 23:30 malam! Ya, tetangga gw ini memang sering pulang malam. Pada saat itu, biasanya para pembantu rumah tangga mereka sudah terlelap di lantai 3. Padahal rumahnya yang berwarna pastel mencolok itu - tidak seperti rata2 rumah di lingkungan kami - selalu tergembok di balik pagar tingginya. Dan..... yang gw nggak ngerti sampai sekarang, mereka tidak punya bel!!!

Nah, bayangkan saja berapa banyak beauty sleep gw yang terbuang lantaran gw tiba2 terbangun mendengar klakson bertalu2 menjelang tengah malam ;-) Soalnya kamar gw menghadap ke jalan raya. Jelaaas, kalau klakson berbunyi, gw lebih dulu dengar daripada pembantu rumah tangga mereka... hehehe...

Awal2nya gw suka nyolot kalau mereka mulai konser jelang tengah malam gitu ;-) Gw suka keluar ke balkon dan memandang mereka dengan judes. Sambil sekali2 mengasah ketajaman lidah gw sambil pura2 bertanya, "Mau saya tolong telfonkan biar pembantunya dengar?" ;-)

Tetapi, lama2 gw males juga menjudesi mereka. Pernah gw bener2 nyolot dan ngelabrak mereka, eeeeh... bukannya berubah malah mereka gantian marah2 ;-) Mereka yang nggak bisa ngerti kenapa mereka nggak boleh mengklakson di depan rumah mereka sendiri ;-)

Yaah... akhirnya gw mengamini kata bapaknyaimanara: nggak semua bisa diubah... hehehe... Ini masalah milieu. Kalau dari kecil mereka sudah tidak dididik seperti kami, yaaa... mereka nggak ngerti kenapa harus berlaku seperti kami. Dan sebagai social climber, besar kemungkinan mereka memang tidak mendapatkan didikan yang sama dengan kami ;-) Justru itu sebabnya mereka pindah ke lingkungan kami, toh ;-)? Untuk berusaha "menjadi" kami ;-)

Tapi... tentu saja, sebuah "tiruan" akan selalu akan mengalami lack of philosophical depth. Mereka tidak akan pernah "menjadi" kami karena tidak memiliki dasar2 yang kami miliki. Mereka hanya akan menjadi "tiruan" kami. Alamat mereka memang sama dengan kami, rumah mereka bahkan lebih megah daripada kami, tapi.... in their soul, mereka tetap individu yang tidak seperti kami ;-)

Sekarang, kalau mereka bikin konser jelang tengah malam, paling2 gw membatin, "Dasar! Kam*****n!", sambil membenahi bantal dan guling gw untuk pindah ke kamar lain.

***

Dalam skala yang berbeda, gw rasa negara tercinta Indonesia ini juga mengalami hal yang sama: punya tetangga yang milieu-nya enggak banget. Tetangga yang nggak ngerti bagaimana menjaga silaturahmi serta tepa selira. Tetangga yang "bukan kita", tapi berusaha keras untuk "menjadi kita" dengan meniru identitas2 kita. Semacam tetangga gw yang social climber itu ;-)

Dan mungkin, in a way, tetangganya Indonesia ini memang social climber ;-) Setidaknya kalau menurut logika almarhum Bapak ;-)

Bapak selalu mengatakan bahwa menjadi koloni dari penjajah amatir seperti Belanda membuat kita lebih beruntung dari bekas koloni penjajah profesional seperti Inggris. Penjajah amatir belum ngerti benar bagaimana menghancurkan jatidiri bangsa jajahannya... hehehe... Mottonya saja devide et impera; pecah belah dan kuasai ;-) Artinya, mereka membuat jatidiri masing2 suku menjadi signifikan supaya terjadi perpecahan dan mudah dikuasai. Ditinjau dari sisi baiknya, hal ini membuat budaya masing2 kelompok etnis tetap bertahan.

Beda dengan penjajah profesional seperti Inggris, yang lurking their colony into believing that they are part of "them" ;-) Koloni dirangkul dan dibuat lumayan bahagia, sampai saatnya mereka tidak dibutuhkan lagi dan "dihadiahi" kemerdekaan. By that time, koloni sudah terlalu jauh dari jatidiri mereka sendiri. Mangga yang habis manis sepah dibuang, tidak akan menjadi mangga lagi kan ;-)? Bahkan mungkin sudah lupa kalau dia mangga ;-) Beda dengan pohon mangga yang tumbuh liar meskipun sudah dilarang2 - sampai kapan pun mereka akan tetap jadi mangga ;-) Apalagi mangga yang memang dipupuk biar beda dengan pisang, jambu, dan jeruk ;-)

Dan itulah yang terjadi ketika mangga yang sudah sepah itu berusaha bangkit menjadi perkebunan baru. Lupa bahwa dirinya mangga, mulailah mereka mengadopsi sifat2 buah di kebun sebelah ;-) Padahal kebon sebelah isinya duren dan pepaya... hehehe... tapi di-klaim sebagai "mangga". Jadi deh, ada mangga berkulit duri dan berbiji banyak ;-)

Enak? Yaaaaah... gw sih belum pernah ngerasain. Tapi kalo menurut gw sih mangga asli lebih enak. Biar aja mereka mau klaim diri sebagai "truly tropical fruit", dan mengadopsi sifat2 berbagai buah2an tropis, tapi..... mereka akan jadi fruit punch, bukan mangga, seperti yang mereka idam2kan ;-)

So, itu yang membuat gw nggak terlalu ribut dengan ulah tetangga sebelah yang mengklaim beberapa budaya. Mulai dari batik, lagu Rasa Sayange, Reog Ponorogo, dan sekarang Tari Pendet ;-) Gw sangat percaya bahwa mereka hanya akan mampu mencontek tampilan fisiknya, tidak soul-nya ;-)

Itu sudah terbukti saat kunjungan gw ke rumah tetangga itu ;-) Pemandu wisatanya sempat membawa kami ke sentra batik. Dan.... sebagai orang yang pernah belajar membatik dan cukup akrab dengan filosofi corak2 batik, gw segera melihat bahwa batik tetangga itu lack of philosophical depth. Coraknya memang bagus, tetapi hanya bagus di corak saja. Tidak seperti batik Mataraman (Solo/Yogya) yang setiap coraknya mengandung filosofi tertentu seperti Wahyu Tumurun, Truntum, Sidomukti, dll. Dalam budaya turunan Mataraman Jawa, penggunaan corak kain untuk setiap acara pun tidak dapat sembarangan. Harus cocok filosofinya. Naah, apakah negara tetangga kita memiliki itu? Kelihatannya tidak ;-)

[OOT mode: ON]

Uhmmm... ajang ini juga ingin gw pergunakan untuk mengomentari sebuah komentar di sini, yang menggunakan kalimat " Sekarang tolong deh jawab batik itu yang bener dari Solo, Yogya, atau Pekalongan atau mana? Itu yang internal... " sebagai argumen bahwa Malaysia juga berhak mengklaim batik karena memiliki corak berbeda ;-) Hehehe... menurut gw ini argumen yang lemah, karena sebenarnya Solo, Yogya, dan Pekalongan dulunya memang merupakan bagian dari Kesultanan Mataram.

So, hypothetically, kalau batik berasal dari Kesultanan Mataram, itu menjelaskan mengapa Solo, Yogya, dan Pekalongan memiliki tradisi batik yang kuat. Bahkan menjelaskan mengapa Madura memiliki tradisi batik yang unik, meskipun sudah terpisah pulau, karena Pangeran Prasena - yang kemudian bergelar Tjakraningrat I ketika menjadi raja Madura - adalah putra angkat Sultan Agung dari Mataram.

Ini sekaligus menjelaskan mengapa Jawa Timur, yang sebenarnya lebih dekat dari Jawa Tengah daripada Madura, tidak memiliki tradisi batik yang kuat. Karena mereka bukan bagian dari Mataram ;-)

Dan kalau dicermati, hanya daerah2 yang menjadi bagian dari Kesultanan Mataram yang memiliki tradisi batik kuat. Sumatera tradisinya songket, sementara di Nusa Tenggara Timur corak kainnya beda.

[OOT mode: OFF]

Back to topic... ;-)

So, gw tidak terlalu khawatir pula dengan pengklaiman Tari Pendet sekarang. Mereka mungkin bisa mengklaim Tari Pendet, tapi.... satu kunjungan ke Bali, atau exposure terhadap satu tarian Bali lainnya, akan membuat siapa pun sadar bahwa Tari Pendet itu dari Bali ;-) Sebab benang merah antara Tari Pendet dengan tarian2 Bali lainnya lebih jelas dan lebih kuat daripada benang merah antara tari tersebut dengan budaya Malaysia lainnya ;-)

***

Jadi... inilah usul gw untuk seluruh bangsa Indonesia: biarkan saja Malaysia mengklaim budaya kita ;-) Biarkan mereka menikmati lagu Rasa Sayange, Tari Pendet, batik, bahkan Reog Ponorogo di Malaysia.

Jika turis mancanegara itu sudah tertarik dan mengagumi, baru kita beri selebaran:

Do you enjoy the dance/song/printing? That's just the preview.
Get the complete version in Indonesia

Sama tetangga harus simbiosis mutualisme dong.... ;-) Kita "pinjamkan" budaya kita pada mereka, tapi kemudian kita manfaatkan promo pariwisata mereka for our own advantage ;-)

*Sst... itu juga yang gw lakukan terhadap tetangga gw ;-) Gw biarkan aja dia yang mengaspal seluruh jalanan depan rumah gw... hehehe... Jalanan mulus, itung2 ganti ruginya terhadap beauty sleep gw yang hilang ;-)*