Thursday, October 05, 2006

Batas yang Terlampaui

Tadi pagi ceramahnya Pak Quraish di MetroTV adalah tentang qishash. Tentang hak korban untuk membalas, menuntut ganti an eye for an eye. Terutama dalam kasus pembunuhan.

Ada bagian yang menurut gw menarik. Kalimat verbatimnya gw lupa, tapi kebetulan di artikel ini ada bahasan yang kurang lebih sama dan bisa gw kutip:

Al-Qur'an menetapkan adanya qishash bagi pembunuh. Tetapi, saat menetapkannya --seperti terbaca di atas-- Dia tidak mewajibkannya, melainkan diserahkan kepada keluarga si terbunuh untuk menetapkan pilihan mereka terhadap si pembunuh, baik "menuntut dari penguasa untuk membunuhnya" maupun memaafkannya dengan imbalan materi dari keluarga pembunuh.

Dan kalau ia memilih yang terakhir [menuntut qishash], maka lanjutan pesan ayat di atas adalah: Janganlah ia (ahli waris) melampaui batas dalam membunuh

Mendengar ceramah beliau, gw jadi ingat almarhum Tibo, Riwu, dan da Silva. Sayang sekali yang berwenang tidak sempat mendengarkan ceramah Pak Quraish ini sebelum mengeksekusi ketiga terdakwa.

Gw termasuk orang yang nggak anti hukuman mati. Gw setuju dengan bahasan Pak Quraish di artikel tadi; hukuman mati bisa jadi pembelajaran bagi orang lain supaya tidak melakukan pelanggaran yang sama. Tapi.. seperti di artikel itu, gw juga hanya setuju jika hukuman mati tidak dilakukan sewenang2. Dan tidak melampaui batas dalam melaksanakan hukuman mati tersebut.

Hukuman mati tidak boleh sewenang2, dalam arti: semua bukti harus jelas dan tidak terbantah lagi. Jangan sampai kita menghukum mati orang yang tidak bersalah, atau tidak sepenuhnya bersalah. Itulah kewajiban penguasa (dalam hal ini lembaga peradilan): untuk memastikan bahwa keputusannya adil dan tepat.

Hukuman mati juga tidak boleh melampaui batas. Jangan sampai menyiksa si terhukum. Jangan sampai membuatnya meregang nyawa dan merasa kesakitan yang lama. Hukuman mati, walaupun menghilangkan nyawa orang lain yang diyakini pernah melakukan kekejaman pada manusia lainnya juga, tetap harus dilakukan dengan peri kemanusiaan.

Membaca eksekusi Tibo dkk beberapa hari lalu, gw khawatir hukuman mati ini telah melanggar dua hal penting di atas; kematian tanpa kesewenang2an dan tanpa melampaui batas. Eksekusi ini tak hanya dilakukan saat bukti masih simpang siur, tapi tatacara pelaksanaannya pun menimbulkan pertanyaan tersendiri. Lima luka peluru di dada.. bukankah itu sebuah penyiksaan? Semasa masih aktif menjadi pengacara pidana dahulu, Bapak pernah bercerita bahwa seyogyanya tidak satu pun anggota regu tembak yang tahu satu senapan mana yang benar2 berisi peluru. Dengan demikian semua anggota regu tembak akan dengan sungguh2 mengarahkan senapannya pada jantung si terhukum. Tidak satu pun anggota regu yang tahu siapa di antara mereka yang telah menjadi algojo sesungguhnya.

Lima peluru di dada menunjukkan bahwa terhukum tak lebih dari sekedar sasaran latihan tembak. Semua boleh nembak kemana saja, cap cip cup yang beruntung bisa kena jantung. Menyiksa si terhukum dengan kematian yang tak seketika.

Dan melarang jenazah terhukum untuk mengikuti misa terakhir, memakamkan si terhukum tanpa upacara keagamaan yang layak. Hmm.. seandainya pun si terhukum memang terbukti melakukan kesalahan, apakah dia tidak berhak atas pengampunan terakhir? Apakah tidak cukup kita [manusia] menuntut balas dengan mengambil nyawanya saja? Apakah kita [manusia] berhak juga merampok ampunan-Nya, memastikan dia tidak akan bisa merayap naik dari dasar neraka?

Oh well, Maha Pengampun tentu akan mempertimbangkan bahwa mereka tidak bisa mengikuti ritual kematian yang digariskan bukan karena kesalahan mereka, so.. gw masih gak berani bilang juga bahwa Tuhan tidak akan mengampuni mereka. Tapi.. bukankah keluarga yang ditinggalkan akan terus hidup dengan ingatan bahwa anak/suami/ayah/kakek/kerabat yang mereka cintai meninggal dan dimakamkan tanpa ritual yang layak? It will hurt them badly. Dalam pandangan gw, kita [manusia] bukan saja mengeksekusi si terhukum, melainkan juga menghukum kerabatnya.

Anyway.. nasi telah jadi bubur. Mereka bertiga telah dieksekusi. Tinggal sebuah pertanyaan yang tersisa: tidakkah kita telah melakukannya dengan sewenang2 dan melampaui batas?

UPDATE 6 Okt 2006

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan berjudul Ponsius Pilatus Agustus 2006. Thanks to Dinda Lagi Nunggu yang sudah mengingatkan ;-)