Tuesday, October 10, 2006

Finding Muse

Gw lama nggak ng-update blog. Ide sih ada, tapi emotional push-nya gak ada ;-)

***

Jumat lalu gw main ke blognya seorang teman lama, baca tulisannya (yang sebenarnya di-ripped dari tulisan teman lama yang lain) berjudul About Depressed Mode. Dia membahas tentang hypergraphia, dorongan tak tertahankan untuk menulis terus dan terus yang dialami oleh Alice Flaherty, seorang neurolog di Harvard Medical School.

Menganalisa pengalamannya sendiri, Jeng Alice membahas penyebab munculnya kondisi ini dalam bukunya yang berjudul The Midnight Disease. Bahasannya menarik, jadi langsung buku ini masuk daftar must-read gw ;-) Walaupun bahasan awalnya adalah untuk menjelaskan tentang perilaku menulis yang kompulsif, penjelasannya bisa juga diterapkan dalam kasus normal.

Menurut Flaherty, sebenarnya dorongan untuk menulis, maupun kemunculan ide untuk menulis, adalah suatu mekanisme wajar dari aktivitas sistem syaraf otak kita. Saat mengalami emosi tertentu, sistem limbik (sekumpulan sel di tengah otak yang berfungsi sebagai pusat emosi) akan mengaktifkan lobus temporalis, yaitu bagian otak samping yang berhubungan dengan pemahaman kata2 dan pemunculan ide2 (baca: bagian otak yang ngurusin masalah kreativitas).

Dengan kata lain, sebenernya ide2 dan segala kreativitas itu sudah ngendon di kepala kita sejak God knows when. Tapi.. ide2 itu baru bisa muncul menjadi sebuah kreativitas, kalau ada emotional push dari sistem limbik.

Buat gw, hal ini menjelaskan beberapa hal yang selama ini gw gak ngeh. Misalnya aja, kenapa kalau workload gw di kantor lagi banyak, gw malah kalap ng-update blog melulu; sementara kalau workload mulai ringan seperti menjelang lebaran ini, malah gw nggak terlalu berapi2 nulis. Dulu, gw kira, menulis itu sekedar coping mechanism, atau malah pola menghindar, terhadap stres pekerjaan. Ternyata.. bukan ;-). Menulis itu adalah hasil dari tekanan pekerjaan, hehehe..

Ini menjelaskan juga kenapa kadang2 report gw baru bisa rapi 3 hari menjelang presentasi, padahal gw memulainya sejak 2 minggu sebelumnya ;-). Gak berniat prokrastinasi, tapi ternyata memang emotional push-nya belum ada.

Penjelasan ini juga bikin makin jelas kenapa karya2nya Glenn Fredly waktu putus cinta bagus2.. hehehe.. atau kenapa ada orang2 yang mendadak bisa jadi pujangga kalau lagi jatuh cinta ;-).

Nah.. itu tadi sisi menyenangkan dari temuan Jeng Alice. Sisi kurang menyenangkannya: lonjakan emosi yang terlalu ekstrim bisa menimbulkan hasil yang ekstrim juga, yaitu dorongan tak tertahankan untuk menulis secara kompulsif. Yup! Kata Jeng Alice, hypergraphia disebabkan oleh epilepsi lobus temporalis, keadaan mania, dan mood disorders lainnya. Dan Jeng Alice punya contoh2 penulis besar yang mengalami hal ini: Fyodor Dostoyevsky menghasilkan karya2nya setelah serangan epilepsi yang membawa ecstatic religious aura, Sylvia Plath menuliskan puisi2 indah justru saat mengalami pre-menstrual syndrome yang parah, atau Vincent Van Gogh yang karya2 indahnya justru tercipta lantaran dia mengalami gangguan jiwa.

Ohya, hypergraphia tidak melulu menghasilkan sebentuk tulisan. Bisa jadi sebuah gambar. Intinya, menghasilkan sebuah bentuk komunikasi tertulis, karena prosesnya adalah seperti berikut ini:
And the likely reason that the temporal lobe can trigger hypergraphia is that the limbic system, which has a big role in our affiliative instincts [our desire to be in contact with family and friends] produces a drive to communicate that in turn drives the speech area of the temporal lobe
Nah lho! Jadi, produktif menulis bisa berarti gejala brain defect dong, walaupun kategorinya the valuable result from a brain defect? Hehehe.. Jadi ngeri kalau keseringan ng-update. Dan jadi bersyukur kalau masih bisa kena blokiran penulis ;-)

Anyway.. pernah dengar ungkapan Wait for the Muse? Ungkapan itu artinya adalah mencari inspirasi. Dalam legenda Yunani, Muse adalah sembilan orang dewi, putri Zeus, yang tugasnya memberi inspirasi bagi manusia dalam menghasilkan karya2 seni. Gara2 baca tentang temuannya Alice Flaherty, gw jadi tahu bahwa Muse itu ternyata telah bersemayam di lobus temporalis kita; yaitu bagian dari otak samping yg kira2 ada di belakang telinga manusia.

Gw jadi mikir.. jangan2 dulu Van Gogh memotong telinganya karena pingin mengeluarkan si Muse dari lobus temporalis-nya; supaya dia tidak kelebihan inspirasi dan tidak kena gangguan jiwa lagi.. HAHAHAHA..

*maafkan ide2 bizarre saya ini, kayaknya saya mulai ketularan Van Gogh ;-)*

UPDATE 11 Oktober:

Waktu baca tulisan ini lagi, kok gw jadi berasa baca diktat kuliah Faal ya? HAHAHAHA.. Biar tambah menjiwai nostalgia, niih gw kasih ilustrasi gambar sekalian ;-) Gambarnya minjem dari Wiki.