Tuesday, December 27, 2005

Milik Publik... artinya?

Kemarin gw antri ATM BCA sekitar jam 12:30. Dalam booth yang kebetulan cukup besar itu ada 3 mesin ATM: satu non-tunai, satu sedang bermasalah sehingga gak bisa dipakai tarik tunai, dan satu mesin tarik tunai lagi berfungsi sempurna. Gw udah antri sekitar 5 menit, dan yg lagi pakai satu2nya mesin tunai itu masih dgn cueknya gonta-ganti kartu narik duit (kalo gw gak salah hitung, dia punya 7 Paspor BCA, ada yg warna kuning, silver, dan kecoklatan). Antrian di belakang gw makin panjang, dan hitungan terakhir gw mencakup 12 menit zonder 8 pengantri (secara ini jam makan siang, gitu bro!), tapi orang yg lagi pakai satu2nya mesin tunai yg berfungsi itu cuek aja.

Nah, tahu aja kan, gw itu suka lupa kalo gw bukan Powerpuff Girl yang tugasnya membereskan kekacauan di mana2? Makanya, dengan proaktifnya gw masuk ke booth, dan negur si bapak2 itu:

“Pak, kalau masih banyak, tolong dong gantian. Bapak antri lagi. Yang nunggu sudah banyak, bapak udah lebih dari 10 menit di ATM”

Pikir gw  tampang dandy begitu (plus Nokia Communicator 9500 mengintip di gesper, kaos Tommy Hilfiger yang gw yakin bukan produksi abal2, dan aroma Truth-nya Calvin Klein) si bapak ini cukup terpelajar untuk menerima kritik dan himbauan orang lain. Eh.. ternyata gw salah.

“Nggak sabar amat sih? Ya terserah saya dong mau berapa lama! Ini kan uang saya, terserah saya mau ngambil berapa banyak!”

Masih dengan “bijak mode ON”, gw mencoba menjelaskan sekali lagi:

“Bukan masalah uangnya, Pak. Masalah antriannya. Bapak sudah lebih dari 10 menit di sini, dari tadi saya lihat bapak bolak-balik ganti kartu. Kasihan orang lain yang nunggu, orang lain kan juga perlu pakai ATM ini”

“Terserah saya dong! Saya punya banyak kartu, mau saya pakai semua, terserah saya! Urusan saya belum selesai kok! Ibu tunggu dong sampai urusan saya selesai. Ini kan ATM umum, semua orang punya hak pakai ATM ini semaunya

Nah! Sampai sini si bapak itu harusnya bersyukur bahwa gw bukan Powerpuff Girl. Soalnya, kalau gw Blossom atau Buttercup (sorry, Bubble kayaknya enggak gw banget deh.. ;-p), gw jamin si bapak itu udah gw bawa terbang dan gw jatuhkan di Samudera Hindia. Berhubung gw hanya manusia biasa, gw masih mencoba menjelaskan sekali lagi:

“Justru karena milik umum, Pak. Makanya pemakaian juga seharusnya memperhatikan kepentingan orang2 lain juga. Jangan dimonopoli sendiri, karena orang lain juga  berhak pakai”

Tapi si bapak itu makin mencak2, sampai akhirnya ditarik Satpam untuk keluar (dadah bapak! Jangan marah2 di luar ya.. ! Ntar kalo marah2 mobilnya nabrak lho!)

Hehehe…  pas kejadian itu gw memang mangkel luar biasa. Kok ada ya, orang yang segitu nggak peduli sama orang lain. Kok bisa ya, membiarkan orang lain menunggu sementara dia menikmati sendirian sesuatu yang hak-nya juga dipegang oleh orang2 lain yg sedang menunggu itu. Padahal, kalau kita menghargai hak orang lain, kan ada win-win solution-nya.  Dalam kasus si bapak itu (ngambil duit banyak dari beberapa rekening), ada beberapa solusi yang bisa dia ambil tanpa harus menginjak2 hak orang lain:

1.       Ke ATM pada saat jam2 sepi, sehingga gak bikin orang lain nunggu lama. Jaman gw belum punya Key BCA, gw kalo bayar2 via ATM tuh selalu jam 6:00 pagi atau jam 21:00. Gw bisa nongkrongin ATM sepuasnya tanpa harus bikin orang lain nunggu lama2.

2.      Mengambil uang via teller. Toh, ngambil uang gak harus lewat ATM. Kalo ngambil dari banyak rekening dan sempatnya hanya jam makan siang, ya sekalian aja pakai formulir tarik tunai di teller. Nggak susah, antrinya juga reasonable, dan yg pasti: nggak ngerepotin orang lain.

Tapi balik lagi, mungkin kesalahan utamanya memang di persepsi, kali ya? Kesalahkaprahan memandang bahwa “milik publik berarti tidak ada yang lebih berhak atas benda itu, sehingga masing2 boleh pakai sesuka2nya”. Padahal, kalau menurut gw, yang namanya milik publik itu harus diartikan sebagai “tidak ada yang lebih berhak atas benda itu, sehingga tidak pada tempatnya kita menggunakannya hingga merugikan orang lain (yg juga berhak)”.  

See? Publik (menurut gw) harusnya diartikan sebagai social control yang membatasi hak2 kita. Tapi bagi sekelompok orang lain (contohnya ya si bapak itu) , publik diartikan sebagai source of anomie, suatu justifikasi untuk menafikan aturan2 yg tidak tertulis.

Asli, gw tadinya udah pingin nyolot sama si bapak itu. Lha wong ditegur baik2, diingetin salahnya, kok malah marah2 dan nyalahin orang lain. Tapi something’s telling me not to, karena sebenernya peristiwa ini merupakan insight buat gw. Si bapak ini tidak sendirian. Orang serupa bapak ini bisa kita temui dimana2: orang yg dgn cueknya merokok di mikrolet penuh penumpang, orang2 yg nyebrang jalan padahal ada zebra cross atau jembatan penyeberangan di dekatnya, pengendara motor yg dgn seenaknya melaju ke arah berlawanan dari arah jalan, metromini yg seenaknya ngetem di jalan sempit, dll. Semua merasa karena mereka berhak menggunakan sesuatu, maka orang lain harus maklum dan tidak boleh protes.

Ya, kita memang masih tinggal di masyarakat yang masih harus diatur. Masyarakat yang belum bisa mengatur dirinya sendiri. Dengan kata lain: masyarakat yang gamang terhadap kebebasan mutlak, ketidakadaan tokoh otoriter, atau hilangnya aturan. Terus.. apa jadinya kalau kita berikan mereka kebebasan sekarang? Chaos. Mungkin beberapa orang akan survive dan membuat dunia lebih baik, tapi success rate-nya berapa? So, jangan menuntut kebebasan mutlak dulu deh! Kebebasan bertahap aja dulu, sambil pelan2 menunjukkan bahwa kita bisa bertanggung jawab atas sedikit-demi-sedikit kebebasan yg kita dapatkan itu.

Aih.. what a precious learning that guy gave me! Makanya, sekarang gw lumayan nyesel juga bahwa di akhir kejadian kemarin, gw sempet “sarkastik mode ON”. Sambil si satpam membawa bapak itu keluar booth, gw tersenyum manis (atau sinis? Hehehe… feel free to interpret ;-p) seraya berucap:

“Langsung mengajukan permohonan pemasangan ATM di rumah bapak sekalian ya, Pak! Jadi bapak bisa ngambil duit sepuasnya tanpa bikin orang lain nunggu lama2”

*ya maap deh.. Maya juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati.. ;-p*