Monday, December 12, 2005

Dibuang Sayang: (masih) Revolusi

Sebenernya gw mau nulis topik lain, tapi ternyata ada komentar yang sayang kalo gak dibagi ke orang2 lain. Jadi gw tulis dulu yg ini, baru ntar gw susul dgn topik lain.

Intan:

Hai Mbak Maya. Sebenernya, kalau aku pikir, persoalan revolusi vs. evolusi adalah sesuatu yg ruwet. Ada satu hal yg worth noting, though: evolusi tidak dilakukan, tapi terjadi dengan sendiri. Orang pun lantas berpikir, mana yg lebih baik terjadi dulu: apakah evolusi akan terjadi dengan sendirinya setelah sebuah tatanan dirombak dalam revolusi? Kalau dilihat dari hukumnya sih, evolution is inevitable. Revolusi cuma bagian dari sejarah, reaksi atas suatu ketimpangan yang diharapkan bisa membawa suatu masyarakat ke jenjang yg lebih tinggi. Aku sih nggak bisa bilang pro revolusi atau evolusi. Pertama, evolusi kan nggak bisa dihindari. Mau nggak mau pasti terjadi. Cuma ya lama lama sekali -- ribuan tahun baru terlihat hasilnya. Dan evolusi kan soal human beings in general, susah kalau dilihat dalam konteks sebuah bangsa. Kedua, revolusi tidak selalu harus militan. Aku rasa Indonesia butuh revolusi budaya. (Mau revolusi militan susah, wong nggak ada aktivis yg profesional; bikin organisasi terus pecah, bikin baru terus bubar, begitu terus... Ngakunya sih radikal, tapi kompromi terus karena mau punya kedudukan.) Apa yg harus dilakukan dalam revolusi budaya? Berani mengkritik diri sendiri, berani mendenkonstruksi dan membuka diri terhadap ide2 lain, belajar dari orang lain.. Hasilnya? Mungkin berantakan. Beberapa orang nggak siap, but the process will go on. Tapi akan ada dialektika yg menghasilkan sintesis2 baru. Revolusi seperti ini nggak berarti dilakukan sehari semalam atau sebulan. Tapi puluhan tahun. Nggak perlu senjata, nggak perlu coup de etat, cuma berbekal keberanian melawan diri sendiri. Hehe.. sorry panjang ya Mbak

 

 

Hahaha, I must admit that this is the BEST comment I’ve ever had in this blog so far!

Yup! Rasanya gw mesti mengakui bahwa penggunaan kata evolusi sebagai lawan kata revolusi di tulisan gw yg lalu itu salah. Harusnya term yang tepat adalah Revolusi Militan vs. Revolusi Budaya seperti komentar Intan di atas.

Posting Gw & Revolusi sebenernya suatu curhat hasil obrolan gw dgn seorang teman yg ternyata sangat pro-revolusi militan. Sementara gw sendiri gak percaya bahwa kita siap dengan revolusi militan. Ya seperti dibilang Intan di atas: gak ada (atau paling tidak: sedikit sekali) aktivis yg professional! Kalau kita paksakan revolusi militan, maka yg terjadi adalah kekacauan yg lebih besar. Hanya pergantian rezim, karena yg tadinya ngaku radikal, begitu di atas ya kompromi juga. Itu yg gak gw setujui dari temen gw: emangnya kalo kita ganti pemerintah sekarang, putuskan bantuan dari negara lain, lantas akan beres? Lha, siapa yg jamin pemerintah baru itu cukup professional, gak kompromi begitu sudah sampai di atas?

Uhm.. kalau Intan mendefinisikan revolusi budaya sebagai: mengkritik diri sendiri, berani mendekonstruksi dan membuka diri terhadap ide2 lain, dan belajar dari orang lain, maka I can’t be more agree with her. Ini yg sebenernya gw maksud dgn lebih setuju pada evolusi. Gw lebih senang membiarkan alam menjalankan jadwal evolusinya sendiri, namun kita membantu memastikan keberhasilannya dgn meningkatkan kualitas diri masing2 dari kita. Dan apa sih kualitas diri yg baik itu? Gw sih menganggap bahwa seseorang itu memiliki kualitas diri yg baik jika berani bertanggung jawab atas segala tindakan dan perbuatannya. Locus of control-nya internal, bukan eksternal. Dan itu baru bisa didapat jika orang sudah berani mengkritik diri sendiri. Dan bisa mengkritik diri sendiri baru terjadi kalo kita mau senantiasa belajar dan membuka diri terhadap ide2 lain.

Mungkin, beda antara gw & Intan hanya satu (CMIIW[1], ya Ntan!) : Intan percaya ada cara untuk merealisasikan hal ini secara menyeluruh dalam waktu yg relatif cepat. Sementara gw sejauh ini masih belum benar2 yakin bahwa ada cara seperti itu. Gw masih meyakini bahwa ini adalah personal project: sesuatu yg harus ditularkan dari orang ke orang lain secara personal sepanjang evolusi yg panjang ini.. ;)

Sejauh ini gw belum nemu cara membuat sejumlah besar orang mau menerima bahwa dirinya sendirilah yg harus dikritik. Boro2 sejumlah besar orang, lha wong project pribadi gw aja gak semuanya berhasil.. hehehe.. Beberapa teman diskusi yg tadinya gw pikir bakal sampai pada tahap seperti ini, akhirnya terpaksa diaborsi dari daftar calon ;)

But of course, it would be interesting to listen and learn more from Intan about the method in her mind. Bisa jadi keyakinan gw yg salah, bahwa ternyata cara seperti itu memang ada (dan kita tidak harus bergerak bersama evolusi). After all, kalau gw gagal terus, mungkin memang karena gw yg kurang convincing atau kurang persuasif.. ;)

Anyway, thanks for the precious comment, Ntan!





[1] CMIIW: Correct Me If I’m Wrong – thx to Nirwana for explaining the abbreviation ;)