Thursday, July 21, 2005

TRIUMPH: Kemegahan vs. Sebuah Merek

Gara-gara baca posting terbaru temen gw Hans tentang Winning is Not the Result, gw jadi inget posting lama gw di PetirMania. Well, so gw posting lagi deh di blog ini - dedicated to Hans
--------------------------------------------------------------------

Date: Mon, 9 May 2005 03:03:05 -0700 (PDT)
To: petir_mania@yahoogroups.com

Kata triumph, menurut sejarahnya, adalah tradisi ceremonial Roma kuno untuk menghormati jendral yang menang perang. Dilakukan di depan publik, dengan segala kemegahannya, untuk merayakan keberanian dan ketangguhan seorang pemenang sejati. Semakin kuat lawan yg berhasil dikalahkannya, semakin megah pula penghargaan yang diterimanya.

Kata triumph, bagi wanita, juga dikenal sebagai merek pakaian dalam. Rasanya masih termasuk salah satu top branded underwear, untuk kelas menengah, walaupun masih di bawah Victorias Secret atau St Michaels. Tersedia dalam berbagai model dan motif; ada yg polka-dot, bunga2, warna hitam eksotis, warna coklat netral, atau warna2 centil ala remaja sekarang yg suka membiarkan talinya menyembul dari balik kaos ketat berleher rendah mereka atau mengintip dari sela2 hipster. Tapi, apa pun motifnya, betapa pun indahnya, ini tetap sebuah pakaian dalam: nggak ditunjukkan di sembarang tempat, kadang malah harus ditutupi dengan t-shirt atau daster yg harganya mungkin hanya separuh harga mereka.

Triumph dalam kosakata bahasa Inggris, dikenal sebagai kata ganti untuk kemenangan. Dan oleh karena itu, sang Penghuni Terakhir, sudah selayaknya dikatakan mendapatkan triumph karena berhasil mengalahkan 14 pesaingnya.

Dan sang pemenang sudah hampir dipastikan sebagai EDHU MARIO PURWADIADJI. Perhitungan di atas kertas sudah membuktikan, bahwa Edhu bahkan nggak perlu ngoyo di game Beranda minggu ini, dan di game Beranda minggu depan. Cukup dapat angka 1 di game GF, dan Edhu akan jadi PP lagi. Dan setelah Edhu jadi PP, nggak perduli siapa pun saingannya, dia akan menjadi Penghuni Terakhir. Hanya keajaiban yg dapat membuat keadaan berbalik dari perhitungan ini:

Game Beranda

SMS

SMS GF

Total

Ade

3

1

1

5

Edhu

2

3

3

8

Wulan

1

2

2

5

So, sekarang gw pingin kasih SELAMAT ke EDHU. Selamat, krn tinggal menunggu diwisuda menjadi penghuni terakhir ya, Dhu! Selamat juga untuk para pendukungnya yg sudah dengan setia mendukung Edhu hingga ke titik ini.

Seperti minggu lalu, gw nggak menyalahkan Edhu dan keputusannya. Itu sepenuhnya hak Edhu untuk memilih. Tapi, dengan segala hormat kepada Edhu dan pendukungnya, gw pribadi rasanya juga sulit memberikan Full Regalia bagi Edhu atas kemenangannya, seperti penghormatan yg dulu gw sampaikan ke Yohan.

Gw selalu menghargai kemenangan yg diraih dengan susah payah, atas lawan yg seimbang. Itu yang membuat gw takjub pada Mahdi & Yohan, yg saling menyelamatkan dan memilih lawan duel terkuat. Waktu Yohan meng-X Indri, gw sudah gembira: Yohan menutup kesempatan Indri untuk mencuri gelar PP terakhir dan meng-X Mahdi. Hal ini membuat gw semakin yakin Yohan memang menginginkan lawan tertangguh. Waktu Yohan meng-X Juli, gw tambah gembira: gw nggak perduli siapa yg menang, karena yang penting itu menjadi final sengit, pertempuran hidup dan mati ala para Jendral Romawi. Pertempuran yg kemenangannya membuahkan sebuah triumph dalam arti sesungguhnya. (Note: Persahabatan mereka hanya menambah keindahan pertempuran itu, membuatnya menjadi dramatis. Tapi inti utamanya tetap duel antara dua orang yang benar2 seimbang dalam segala hal. Jendral Romawi juga tidak bersahabat dengan musuh2nya, tapi mereka bertempur hingga titik darah penghabisan untuk mendapatkan apa yg disebut triumph regalia)

Pertempuran Edhu-Ade-Wulan sudah lebih mudah terduga hasilnya. Dan, kalau pertempuran ini sudah dimenangkan di atas kertas, dan terduga seminggu sebelumnya, gw merasa nggak bisa kasih full regalia yg sama dengan Yohan (dan Mahdi), yg masih bertarung ketat hingga akhir. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, gw terpaksa memilih memaknai kemenangan Edhu sebagai triumph si merek terkenal: menyadari mahalnya harga yg harus dibayar Edhu untuk mendapatkan kemenangan tersebut, mengagumi Edhu yang berhasil mendapatkannya, tapi kemudian tidak banyak berkomentar karena merasa lebih bijak untuk menyembunyikannya baik2.