Friday, December 25, 2009

Xenophilius

Pertama2, sebelum dituduh Aramichi membesar2kan masalah, gw mau bilang dulu: gw nggak peduli sama Luna Maya! Swear! Tapi gw concern pada jurnalistik, dan pada logika, sehingga maaf2 aja kalau gw mendapat emotional push yang besar dari kasus ini ;-) Dan satu emotional push (sekaligus cerita yang lebih lengkap tentang kronologi kejadian) gw dapatkan dari perbincangan maya dengan Mas ini, seorang editor-in-chief.

*Ya, ya, gw emang suka mancing... mancing keributan ;-) Hobby banget ngomentarin komentar orang dan jadi berbalas komentar :-)*

Anyway, atas perkenan yang bersangkutan, gw boleh menuliskan perbincangan kami di blog ;-) Selama gw mencantumkan jawaban beliau secara verbatim ;-) Berikut persetujuannya (secara verbatim):

=====================================================
SILAHKAN MASUKKAN TANGGAPAN ANDA TERHADAP TULISAN SAYA PADA BLOG ANDA, TAPI ANDA PUN HARU SMEMASUKKAN JAWABAN TERBARU SAYA ATAS TANGGAPAN ANDA.JIKA TIDAK, SAYA KEBERATAN JIKA ANDA MEMASUKKANNNYA KE DALAM BLOGS ANDA, TANPA MEMASUKKAN KETIGA JAWABAN TERBARU SAYA.CLEAR?
===========================================

Bermula dari membaca tanggapan beliau di tulisan menariknya Mas Ludi Hasibuan. Komentar persisnya monggo dibaca aja di sana, tapi dari komentar panjang yang [setidaknya menurut gw] pro-infotainment anti-Luna ada 3 hal yang gw komentari: bahwa saat itu LM sebenarnya "membutuhkan" infotainment, bahwa kepala si anak terkena kamera adalah karena "kesalahan" Luna sendiri yang mengayun2kan si anak, dan anak terpentok kamera itu masalah sepele yang nggak perlu sampai tega mengeluarkan kalimat "sampah". Toh si anak tidak bangun dan menangis. Nggak fatal :)

Untuk hal yang pertama, jelas gw pertanyakan dasar berpikirnya :-) Apa buktinya Luna "butuh" infotainment saat itu ;-)? Untuk yang kedua dan ketiga, gw berikan contoh nyata berupa pengalaman gw sendiri.

Sebagai tanggapan untuk poin kedua, gw sengaja bikin percobaan kecil mengayun2kan Nara (20bulan, 11kg, 84cm). Ternyata, jarak aman bagi Nara adalah 30cm di kiri-kanan gw. Itu berarti, kalau anak yang digendong Luna terantuk kamera karena digoyang2, kamera itu sudah terlalu dekat. Less than 30cm, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa itu salah si Luna sendiri. Coba kalau kameranya nggak terlalu dekat, Luna nari ballet sambil koprol juga nggak bakalan kepentok ;-)

Sedangkan untuk yang ketiga, gw kasih contoh bagaimana gw pernah ngamuk ke sekolahnya Ima yang lupa menutup pagar sekolah. Emang sih, Ima nggak sampai ketabrak mobil walaupun udah keluar pagar, tapi... kan nggak perlu nunggu anak gw kecelakaan FATAL baru gw boleh marah, ya ;-)? Same thing could happen to Luna, sehingga nggak bisa dibilang bahwa ini masalah sepele.

Naah... tanggapan beliau terhadap tanggapan gw adalah sebagai berikut. Gw tulis VERBATIM tanpa mengurangi satu kata pun ;-) Untuk membedakannya dari akar pertanyaan gw dan tanggapan gw selanjutnya, tanggapan beliau yang sudah gw mintakan ijin tayang itu gw tulis dalam format kutipan.

Jadi, format untuk ketiga tanya-jawab berikut adalah: kutipan komentar yang gw pertanyakan, disambung dengan penjelasan/jawaban beliau (dalam format kutipan), diakhiri dengan tanggapan mutakhir gw. Masing2 panjang lebar, jadi jangan memaksa diri membaca semua sekaligus ;)

***
"Menurut reporter yang bersangkutan, sepertinya LM tahu kalau ada camera yang menyorotnya dan momen memeluk anak menjadi "penting" baginya. Asumsi reporter itu bisa dipahami, karena sebelumnya santer kabar bahwa sebelum menikahi Ariel, LM perlu waktu untuk mendekati anak Ariel. Dan sejumlah infotainment pernah memberitakannya. Artinya, saat itu LM sebetulnya "membutuhkan" kehadiran infotainment (?)"

Mungkin anda tidak pernah menjadi wartawan di lapangan dan tidak memahami bahasa tubuh pesohor. Luna Maya jadi target pemberitaan sejak ia dekat dengan Ariel disaat Peterpan booming pertama kali. Teman-teman wartawan merasakan betul bagaimana sikapnya terhadap watawan disaat ia belum populer, kemudian disaat ia menjadi target pemberitaan, sampai akhirnya ia pada poisisi popularitas seperti saat terjadi insiden.

(Pada acara Debat di TVONE, Selasa, 23 Desember pkl 20:00 - 21:00 WIB) hal berikut ini sudah saya sampaikan. Jadi anda pun silahkan mengutipnya untuk blog anda)

Pada insiden tersebut, sesaat sebelum menggendong sang anak, Luna sedang berdiri santai sendiri. Disampingnya ibu Ariel yg sedang menggendong anak Ariel. Tiba-tiba Luna melirik ke rombongan wartawan yang menuju ke arahnya, dalam pandangan wartawan, Luna menyadari kehadiran wartawan. Kemudian ia buru-buru menggendong anak Ariel.

Logika rasional kita juga mafhum, dan tak perlu kecerdasan untuk memahami, bahwa sebetulnya dan Luna sadar imej.
Lewat bahasa gambar, ia ingin membuktikan pada camera wartawan, bawah gossip yang mengatakan bahwa ia tidak dekat dengan anak Ariel itu salah. Ia membuktikan dengan betapa anak Ariel tertidur pulas dalam gendongannya.

Jadi komentar anda sesungguhnya tidak dilandasi oleh proses panjang pemberitaan soal Luna Maya.

Luna "butuh" infotainment dalam pengertian; Luna ingin memanfaatkan camera infotainment dengan bahasa gambar; bahwa ia begitu akrab dengan anak Ariel.

Anda pasti tidak tahu, setelah kejadian kepala anak Ariel kepentok camera, sang wartawan langsung minta maaf pada Luna dengan berkata "sorry Lun, nggak sengaja,". Dan Luna menanggapi biasa saja.

Buktinya wawancara pada saat itu pun berlangsung. Jadi logika kita yang rasonal mengatakan tak ada masalah dong dengan peristiwa kepentok itu. Kalau bermasalah kenapa Luna menerima tawan wawancara? kenapa dia tidak sumpah serapah aja saat itu?

Jelas dia tidak melakukan itu karena dia berpikir infotainment akan mewawancarainya seputar hubungannya dengan anak Ariel.

Ternyata dia keliru; infotainment justru meminta komentar dia soal akting Ariel dalam film Sang Pemimpin
. Dan dia menjawabnya dengan lahap.

Anaknya nggak terbangun, apalagi menangis?
Dan dia pun melayani menjawab komentar seputar Ariel.
Dan yang lebih penting wartawan sudah minta maaf.

Lalu alasan rasional apa yang dia gunakan untuk menyampaikan kalimat sampah pada wartawan setelah semua berjalan biasa saja?

Dan satu hal yang anda harus catat, mungkin anda nggak mengikutinya, bahwa sepanjang tahun 2009, infotainment tak pernah memberitakan "miring" soal LUna Maya, kecuali berita soal bisnis barunya di Bandung, soal kontrak iklannya, soal film terbau, soal ia nyambi sebagia penyanyi.

Gossip panas dan miring soal Luna Maya itu terjadi tahun saat Peterpan masih populer dan terakhir di tahun 2008 saat Ariel dalam posisi sedang bercerai.

Lalu apa yang memicu dia marah pada wartawan infotainment?

Kalau kemarahan itu akibat pemberitaan infotainment yaa kita memakluminya...Ini hanya karena kepentok kepala sang anak, yg tidak berakibat fatal kok...Bahwa itu mengganggu yaaa... dan wartawan sudah introspeksi dengan meminta maaf... tapi dianggap sepi oleh Luna, terbukti ia ngomong di twitter dengan kalimat sampah.


Hehehe.... is it just me, atau ada yang aneh dengan kata2 yang gw bold sih? OK, berdasarkan kesaksian ini, Luna ujug2 menggendong si anak setelah lihat ada infotainment. Dengan menganggap kesaksian ini akurat, maka tindakan Luna ini dapat kita katakan sebagai FAKTA. Tetapi.... kalimat selanjutnya bahwa "Luna ingin memanfaatkan bahasa gambar untuk menunjukkan pada publik kedekatannya dengan anak Ariel" adalah ASUMSI :-) Bisa benar, bisa tidak.

Demikian juga dengan kata2 berikutnya bahwa Luna tidak segera marah2 saat itu juga setelah si anak kepentok, karena dia berharap diwawancarai seputar hubungannya dengan si anak. Bahwa dia baru marah2 setelah sepanjang wawancara ternyata nggak ditanya soal itu. Itu lagi2 adalah sebuah ASUMSI ;-) Bukan sebuah fakta ;-)

Gw sendiri melihat banyak kemungkinan kenapa Luna tiba2 menggendong si anak. Mungkin dia sendiri ingin menghindar dari wawancara, sehingga berharap akan lebih leluasa kabur kalau bawa anak kecil. Atau justru dia ingin melindungi si anak; sebagai pesohor yang sudah lebih mafhum gerak-gerik infotainment, dia bisa saja berpikir dapat lebih sigap menyelamatkan si anak if anything goes wrong daripada ibunda Ariel yang bukan pesohor itu ;-)

Kalaupun Luna memang benar ingin memanfaatkan bahasa gambar untuk menunjukkan kedekatannya dengan anak Ariel (siapa sih anak itu namanya? Gw gagap gosip nih... hehehe...), bukan lantas berarti dia marah2 belakangan karena nggak ditanya hubungannya dengan si anak. Buat apa? Kepentok atau enggak, bahasa gambar udah dapat, kan? Nggak ada alasan untuk marah2 juga. Jadi... logika rasional mana yang membuktikan bahwa marah2nya Luna adalah second thought, setelah sadar ternyata dia nggak ditanya2 soal anaknya Ariel ;-)?

Soal marah belakangan ini gw juga punya banyak kemungkinan. Satu kemungkinan: Luna sebenarnya sudah mau marah saat itu, tapi mengontrol dirinya sendiri. Baru, setelah dia sendirian, punya waktu untuk memikirkan hal itu, kemarahannya memuncak dan kemudian impulsif nulis di Twitter.

Dalam psikologi dasar, ada teori S-O-R. Suatu stimulus (=anak terpentok) tidak langsung menimbulkan reaksi (=marah2), tetapi harus diproses oleh organismenya (= manusia) dulu. Nah, seringkali proses ini terjadi belakangan, setelah stimulusnya lewat jauuuh ;-) Karena organismenya baru sempat menelaah. Bisa jadi Luna baru sadar betapa membahayakannya hal itu setelah lama berlalu :-)

So, talking about logika rasional, that's the one I can contribute ;-)

***

"5. Kata reporter itu, "ayunan" yang dibuat Luna Maya lah yang menyebabkan kepala sang anak ke pentok camera. Cerita tni bisa dibenarkan, karena setahu saya jarang sekali cameraman mengayunkan cameranya, apalagi saat mengambil gambar manusia yang tengah "statis".

Dalam suasana ramai, mungkin anda belum pernah merasakan jadi pesohor dan belum merasakan jadi wartawan, bagaimana disaat kerumunan dan keramaian sesuatu bisa saja terjadi tanpa kontrol.

Saya setuju bahwa wartawan harus introspeksi dengan mengkontrol cameranya. Setuju banget. Dan dalam sejarah peliputan tak ada camera yang bergerak dinamis dengan cepat. Soal jarak, kita tidak bisa memprediksi.

"Lepas kontrol" camera wartawan tak hanya terjadi pada peliputan infotainment terhadap pesohor.

Saat microphone wartawan membentur bibir Antasari Azhar, apakah anda melihatnya?

Apakah Antasari yang saat itu tengah dalam kondisi stress tertekan akibat posisinya sebagai tersangka pembunuh, kemudian marah dan mengumpat kasar pada cameraman wartawan politik sebuah tv swasta itu?

Sama sekali tidak.
Kenapa?
Karena Antasari pasti menyadari bahwa suasana ramai seperti saat itu semua orang bisa "lepas kontrol".
Dan saat yang bersamaan wartawan pun minta maaf. Clear.

Jadi kepentok dalam keramaian itu hal yang "lumrah", dalam pengertian bisa dimaklumi. Karena tak seorang pun dari wartawan mau melakukan itu pada anak Ariel dengan sengaja karena misalnya benci pada Luna. alangkah naifnya kalo logika itu yg digunakan.

Sekarang pertanyaannya, sebagai public figure yg jadi target berita, kenapa Luna Maya tidak berupaya "mengkontrol diri"nya pula?

Sudah tahu ada wartawan, ngapain buru2 gendong anak Ariel?
Okelah karena sudah terlanjur menggendong, kenapa tidak turunakan dulu sang anak saat wartawan datang mengerubuni? Bukankah dia artis lama yang udah mafhum pada kondisi dilapangan saat ada wartawan datang dengan camera?

Jelas infotainment bukan tembok dan saya yakin Luna pun bukan.Tapi alangkah bijaknya, jika dia bersikap arif seperti Antasari Azhar yg saat itu memang sedang dalam tekanan yang tinggi.

Tapi Luna? dia sedang santai dan sedang tidak bermasalah dengan infotainment?


Ada dua yang mau gw tanggapi di sini: tentang "kepentok = wajar" dan "kontrol diri"

Soal kepentok, gw agak setuju bahwa mungkin ada baiknya Luna justru tidak membawa2 anak dalam wawancara. Apa pun alasannya, itu membahayakan keselamatan si anak. Gw setuju bahasan beliau di poin selanjutnya tentang seleb yang tidak membawa2 anak dan menolak wawancara sebelum si anak dalam jarak aman

Tetapi... gw tetap tidak merasa bahwa kepentok adalah sesuatu yang lumrah dalam peliputan seperti ini. Gw masih nggak ngerti kenapa peliput tidak bisa menjaga jarak minimal setengah meter saja dari orang yang diwawancara. Gw yakin PH punya kamera dan mikrofon yang powerful, sehingga tidak perlu disodorkan sedekat mungkin. Dan... sebagai praktisi riset konsumen yang sering juga melakukan perekaman observasi, gw sudah membuktikan kok bahwa dari jarak 3m pun rekaman bagus. Padahal kamera gw pastinya nggak secanggih kamera PH, wong cuma handycam biasa :-)

Jadi, gw mempertanyakan frasa bahwa "kepentok adalah sesuatu yang lumrah". Apalagi saat merekam wawancara seseorang yang berdiri "statis". Bahwa seorang kameramen tidak dapat memegang kamera dengan steady sepanjang wawancara, bahwa ada kemungkinan dia terdorong2 sehingga kamera menabrak kiri kanan, itu sangat gw mengerti. Tetapi, jika suatu kamera sampai terkena seseorang - entah bibir Pak Antasari, entah anak yang digendong Luna - menurut gw pasti karena jaraknya tidak aman. Kalau jaraknya aman, kameramennya ngerekam sambil nari ballet juga nggak bakal kena orang... hehehe...

*tapi gw jadi iseng mikir: kalau kepentok adalah hal yang wajar, berarti bintangnya MTV pada biru2 semua ya ;-)? Kameranya goyang2 gitu... hehehe....*

Soal kontrol diri, hmmmm.... this one is trickier ;-) Setahu gw, yang namanya kontrol diri itu dibentuk oleh banyak hal. Ada hal2 herediter seperti personality type/trait/temperament (seorang ENFP seperti suami gw, misalnya, ambang toleransinya lebih besar daripada INTJ seperti gw), kematangan emosi, sistem nilai, serta locus of control. Selain itu faktor eksternal juga berperan. Termasuk tingkat pendidikan, pola asuh keluarga, dll.

Bahwa Pak Antasari bisa lebih mengontrol diri, itu tidak perlu dipertanyakan. Beliau terlihat memiliki kematangan dan kedewasaan yang lebih. Jika beliau tidak memiliki hal2 seperti ini, mosok beliau bisa mencapai karir setinggi itu? Mungkin memang kemampuan kontrol diri Luna belum setinggi beliau. Tapi kita nggak bisa mengatakan bahwa Luna nggak mencoba mengkontrol dirinya sendiri; hanya karena Pak Antasari tidak marah2 ketika bibirnya terkena kamera ;-)

Lagipula, walaupun kasusnya sama2 terpentok kamera, ada hal yang membedakannya: saat terjadi, Pak Antasari punya masalah yang lebih besar. Kalau seseorang terancam hukuman seberat itu, he has enough things in his mind to prevent him from making a fuss about the camera incident. Luna Maya, seperti dikatakan di atas, sedang santai. Bukan tidak mungkin masalah kepentok menjadi suatu "disaster of the day" buat dia ;-)

Sekali lagi, kalau ditinjau dari sisi psikologi, logika rasional menyatakan bahwa kita tidak dapat menyamaratakan semua kasus. Setiap perilaku, selalu dimunculkan oleh integrasi faktor2 yang berbeda. Oleh karena itu walaupun kasusnya sama, reaksi orang bisa beda. Sebaliknya, perilaku sama belum berarti disebabkan faktor yang sama.

***
"Mendengar cerita ini, jika kisahnya memang benar, coba bayangkan masa sih gara-gara persitiwa itu Luna Maya tega mengumpat media infotainment dengan kalimat sampah?"

Anda tak perlu mengajari ikan berenang. Dalam konteks ini tak perlu mengajari bagaimana orang tua harus menjaga dan melindungi anaknya pada saya. Sebaiknya itu anda ajarkan pada Luna Maya, bagaimana seharusnya menjadi selebriti dengan anak-anak disekitarnya.

Banyak contoh pesohor yg punya anak, menitipkan anaknya pada suster atau pada asisten sesaat sebelum wartawan mewawancarainya. Bahkan seorang nara sumber berhak menolak wawancara sampai anaknya aman dari kerumunan.

Anda mungkin tidak tahu dan mungkin tak pernah mengalami bagaimana repotnya menjadi pesohor. Saya cukup mengalami dan merasakannya saat menjadi PR Desy Ratnasari dan kini saat saya bekerja sebagai Pemimpin Redaksi KORAN SLANK. Desy dan Slank adalah super star didunianya. Tahukah anda, bahwa mereka tidak pernah melibatkan anak-anaknya di luar rumah saat bertemu dengan media massa.

Kecuali kalau konteks pertanyaannya seputar anak atau saat wartawan meminta melibatkan sang anak dalam wawancara.

Dalam kasus Luna, dia tak melakukan hak nya. Bahkan dari sudut pandang wartawan dia sengaja mengendong sang anak untuk membatah tudingan bahwa dia tidak dekat dengan anak Ariel. Terbukti dia menggendongnya. Itu kan logika yang ingin dibangunnya?

Siapa yang subyektif?
Saya apa anda??

Saya sampai hari ini masih wartawan dan masih memburu pesohor, tapi saya tidak pernah "melukai" mereka, dan saya memahami betul prespektif wartawan terhadap pesohor.

Anda mungkin belum bisa membedakan secara sikap dan attitude, bagaiman wartawan harian, tabloid, tv, infotainment dan radio dalam kesehariannya. Mereka memiliki karakternya masing2, baik sebagai pribadi maupun sebagai wartawan dari media yang berbeda secara teknis itu.

Jadi soal wartawan justru anda yang subyektif.

Saya sampai hari ini masih bekerja untuk Koran Slank. Setiap saat saya bertemu dengan band paling besar di Indonesia itu. Hari ini saya masih teman baik dengan Desy Ratnasari, dengan Maia Estianty, dengan Tere, Dhea Ananda, Helmalia Putri, Yuni Shara, Titi Kamal, Agnes Monica, Dian Sastro dan Bunga Citra Lestari.

Nama-nama tersebut pernha protes terhadap media massa, dan mereka pun pernah marah besar atas pemberitaan, tapi mereka tidak meluapkan amarahnya ke orang yang mereka tidak kenal, seperti apa yang dilakukan Luna Maya.

Mereka hanya bercerit apda teman dekat, wartawan yang dekat pada mereka, sebagai bahan diskusi untuk sharing...Dan tidak ada masalah sampai sejauh ini...

Desy Ratnasari pernah sangat marah pada wartawan, tapi selama itu pula tak seklaipun ia mengeluarkan kata-kata sampah saat menilai kinerja wartawan infotainment.

Kalau mereka [Catatan MN: ini memang kalimatnya tidak selesai]

Saya mafhum betul bagaimana prespektif mereka sebagai public figure terhadap media massa. Dan kerap saya mendiskusikan dengan mereka soal karir mereka dan peran media massa. Akhirnya selalu ada titik temu kok...Dan sampai detik ini, mereka masih populer dengan prestasi, bukan dengan gossip, seperti Luna Maya.

Dari sisi mana anda mengatakan saya subyektif?

Hehehheh anda yang sangat subyektif, karena tak hanya menilai tulisan saya, tapi juga ingin mengoreksi saya senagai orang tua dari anak-anak saya.

Jadi keliru besar jika anda ingin membela Luna Maya, sementara anta tidak dalam prespektif yang obyektif untuk memahami kedua profesi itu; pesohor dan wartawan.


Hehehe... siapa yang subyektif? Gw no comment lah ;-) Gw serahkan saja pada pembaca untuk menilai ;-) Yang jelas, tanggapan gw yang memicu tanggapan ini berbunyi (verbatim ya, tidak mengurangi satu kata pun):

Sebagai seorang ibu, saya pernah protes ketika sekolah anak saya alpa menutup pintu gerbangnya sehingga anak saya (saat itu TK kecil) BISA keluar ke warung pinggir jalan. Apakah saya harus menunggu hingga anak saya tertabrak mobil baru protes ;)? Anda sendiri punya anak. Apakah jika Anda jadi saya, apakah Anda akan menganggap hal ini sepele karena "toh anakku nggak ketabrak mobil" ;)? Kalau saya sih, dasar protes saya adalah KEALPAAN, regardless hasilnya :) Dari sudut pandang ini saya bisa mengerti kenapa LM mengumpat: karena infotainment ALPA menjaga jarak personal hingga membuka peluang "kecelakaan" yang (untungnya) tidak parah. Kenapa harus tidak tega, ketika infotainment sudah tega menimbulkan peluang kecelakaan ;)?

Hehehe... Anda mungkin memang bukan wartawan infotainment, dan bukan PR LM. Tapi Anda tampaknya agak subyektif menerima segala penjelasan si wartawan infotainment tanpa saringan :) Buktinya, dari data yang Anda berikan sendiri, saya bisa melihat kealpaan si wartawan yang luput Anda lihat :)


Seperti yang bisa dibaca sendiri oleh teman2, gw hanya menceritakan apa yang pernah gw lakukan, dan menanyakan sebuah pengandaian: jika Anda menjadi saya ;-) Gw sih nggak merasa bahwa pengandaian itu suatu bentuk koreksi ya ;-) Gimana menurut yang lain?

Dan bagian mana ya, yang menunjukkan gw subyektif terhadap wartawan ;-)? Bukankah gw secara jelas menyebutkan "wartawan infotainment" ;-)? Dalam kalimat selanjutnya sih memang gw sebut wartawan saja, tetapi itu sebuah penyingkatan yang wajar karena dalam satu paragraf dan sudah ada konteksnya: wartawan infotainment ;-) Rasanya sudah cukup jelas deh, bahwa gw tidak sekalipun ngomongin wartawan non-infotainment ;-) Tetapi kalau mau lebih jelas lagi, boleh deh lihat posting kemarin ;-) Gw bahkan jelas2 mengatakan bahwa wartawan adalah himpunan yang berbeda dari infotainment ;-)

Apakah tulisan gw segitu nggak jelasnya ya ;-)?

Tapi paling seru memang kata penutupnya:

Jadi keliru besar jika anda ingin membela Luna Maya, sementara anta tidak dalam prespektif yang obyektif untuk memahami kedua profesi itu; pesohor dan wartawan


First of all, I don't care about Luna ;-) Gw nggak tertarik membela dia ;-) Gw lebih tertarik menyelamatkan citra wartawan [secara keseluruhan] dari kesalahan2 yang dilakukan oleh BAGIAN dari himpunan wartawan itu sendiri ;-) Itu alasannya kenapa gw meluangkan waktu menulis tanggapan untuk seorang wartawan ;-)

Kedua, hmmm... masalah dalam perspektif obyektif untuk memahami kedua profesi itu.... hmmm... it's for you to judge ;-) Yang jelas gw sangat tertarik dengan jurnalisme, pernah ngambil ekstra-kurikuler jurnalisme di SMA, jadi wartawan amatir untuk majalah sekolah dan majalah kampus walaupun cuma sebentar ;-) Kalau jadi pesohor sih gw emang belum pernah. Tapi kan gw bergaul sama seleb blog dan asistennya pesohor ;-) Dan masih bergaul dengan dua anak ini... mereka masuknya pesohor bukan ya? Hahahaha...

***
Menutup tulisan kali ini, gw ingin menggarisbawahi bagian dari tanggapan beliau:


Anda mungkin belum bisa membedakan secara sikap dan attitude, bagaiman wartawan harian, tabloid, tv, infotainment dan radio dalam kesehariannya. Mereka memiliki karakternya masing2, baik sebagai pribadi maupun sebagai wartawan dari media yang berbeda secara teknis itu


Roger, Mas ;-) Mereka memang berbeda2. Oleh karena itu, saya sungguh berharap bahwa hal ini juga tercamkan dalam benak setiap wartawan. Dengan demikian, ketika ada kasus ribut2 seperti ini, wartawan yang lain (apalagi PWI) juga mau menilik kembali bagaimana sikap dan attitude si wartawan yang terlibat; dan seberapa besar kontribusi sikap/attitude wartawan yang terlibat tersebut dalam menimbulkan masalah ini.

Saya sungguh berharap bahwa setiap wartawan (dan persatuannya) tidak serta merta membenarkan dan mendukung wartawan yang terlibat. Baik secara langsung, ataupun dengan mengabaikan segala kemungkinan lain dinamika emosional yang dialami si pesohor. Apalagi jika pengabaian itu didasari hanya pada asumsi si wartawan yang terlibat saja ;-)

Thanks for the nice discussion, dan.... seperti sudah disepakati, Anda tidak akan memperkarakan tulisan ini secara hukum kan ;-)? Saya sudah mengikuti persyaratan yang Anda buat lho, dan bahkan sudah dry run mengenai tanggapan saya yang terakhir ;-) I keep your promise lho ;-)

NB: buat yang penasaran kenapa judul postingnya Xenophilius... well...ini diambil dari nama Xenophilius Lovegood, bapaknya Luna Lovejokegood yang editor-in-chief The Quibbler itu lho ;-) Biar ketahuan aja bahwa ini sequel-nya posting yang kemarin ;-)