Thursday, January 04, 2007

UtakAtiKata

Ternyata bukan hanya kata “secara” yang mengalami penyimpangan penggunaan. Dan bukan cuma ”anak2 gaul” yang menyimpangkan arti kata.. hehehe.. para pengguna bahasa secara keseluruhan ikut menyumbang penyimpangan ini ;-)

Kata ”daripada” misalnya. Kata ini sebenarnya menunjukkan perbandingan. Yang namanya perbandingan tentu saja antara dua hal yang setara, ya kan? Antara yang baik dan yang baik, mana yang lebih baik, itu ditunjukkan dengan kata ”daripada”. Demikian juga untuk membandingkan yang buruk dan yang buruk, digunakan kata ”daripada”.

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, itu salah satu contoh perbandingan buruk dan buruk. Terlambat itu kan buruk, tidak sama sekali itu juga buruk, tapi mana yang lebih buruk. Lebih baik mencegah daripada mengobati, itu contoh perbandingan baik dan baik. Mengobati itu kan baik, karena tidak membiarkan penyakit berlarut2 atau malah membuat penyakit lebih buruk. Namun dalam konteks penyakit, mencegah adalah hal yang lebih baik.

Tapi dalam perkembangannya ternyata kata ”daripada” ini digunakan untuk membandingkan dua hal yg tidak setara. Bukan membandingkan sesuatu dalam konteks, tapi membandingkan antar konteks yang totally different. Contohnya adalah kalimat yang gw temukan dalam sebuah blog war baru2 ini:

Urusi wae perut kalian ojo urusan orang lain daripada duitnya buat ngenet cuma kasih kritik melulu

*note: gw cuplik tanpa ijin. Gimana mau minta ijin.. wong lagi pada perang.. hehehe.. *

Hmm.. ada dua konteks yg berbeda kan? Yang pertama adalah konteks tentang campur tangan. Yang kedua konteksnya adalah tentang penggunaan duit (baca: nge-net). Kalimat itu bisa dibagi menjadi dua kalimat yang menggunakan kata daripada:

1. Urusi wae perut kalian daripada ngurusin urusan orang lain

2. Daripada duitnya buat ngenet cuma kasih kritik melulu, mendingan nulis blog sendiri aja/browsing situs2 berguna/dll

Tapi kalau kedua konteks itu digabungkan secuplik2 jadi ”urusi wae perut kalian daripada duitnya buat nge-net kasih kritik”.. gw jadi bingung. Maksudnya apa sih? Emang kalau ngasih kritik itu artinya nggak ngurusin perut sendiri? Apa kalau ngurusin perut sendiri itu artinya nggak pernah kasih kritik sama orang lain? Jadi.. ngurusin perut sendiri = gak kasih kritik, gitu? Kalau gitu ngurusin perut sendiri = nggak perduli sama orang lain dong? Bisa disimpulkan bahwa ngurusin perut sendiri = asosial? Terus.. kalau mengacu ke kalimat pertama, berarti bisa disimpulkan bahwa perilaku asosial itu baik dong? Hehehe.. bingung saya.

Ngomong2, penyimpangan penggunaan ”daripada” ini sudah ada sejak orde sebelumnya, bukan ;-)? Seperti pada: saya suka daripada menulisken blog ;-).

***

Kata lain yang juga mengalami penyimpangan adalah ”arogan”. Bedanya, kalau kata ”daripada” tuh naik kelas untuk membandingkan sesuatu yg tidak bisa dibandingkan, kata ”arogan” justru dikebiri menjadi suatu definisi yg sempit dan sangat perseptual.

Selama ini kata arogan diartikan sebagai sombong, merendahkan orang lain, atau merasa dirinya paling hebat. Dalam Oxford Dictionary, kata arrogant juga diartikan sebagai: behaving in a proud, superior manner; showing too much pride in oneself and too little consideration for others.

Jujur aja, sampai sekitar 2 minggu lalu gw juga masih ikut alur mainstream itu; sampai gw ketemu penjelasan etimologi yang menakjubkan pada dialog ini:

“You gonna teach the doctors? Where we come from, that's arrogance.”

“Arrogance! Yes. It is.. arrogance. It comes from the Latin word.. arrogare. You know it? You know the root? What it means? It means to claim for oneself. That's the root. It means to claim for oneself. And I claim the right to fight for my kid's life. And no doctor, no researcher, no bloody foundation, has the right to stop me”

(Nick Nolte dalam film Lorenzo’s Oil)

Gara2 film ini, gw jadi tertarik memperhatikan definisi arrogant tadi. Menarik, betapa selama ini kita tidak memperhatikan keanehan pada definisi itu. Kita bak kerbau yang dicocok hidungnya mengaplikasikan arogan sebagai sinonim kata sombong. Padahal, kalau diperhatikan, definisi ini tidak mengacu pada kesombongan. Perhatikan deh, too much pride in oneself dan too little consideration for others kan sebenarnya tidak ada parameter bakunya! Parameternya selalu dari orang yang mempersepsikan perilaku orang lain. Buat si pengamat mungkin sikap seseorang sudah too much pride atau too little consideration, tapi apa iya orang yang diamati juga merasa begitu? Jangan2 dia sendiri masih merasa kayak lagunya Vety Vera: yang sedang2 saja ;-)

Ohya, gw nggak menyangkal bahwa memang ada batas2 yang relatif baku dalam hubungan antar manusia. Batas2 relatif baku ini yang dinamakan norma sosial. Tapi.. tetap yang namanya norma sosial ini lebih merupakan panduan global dalam konsep bermasyarakat, bukan juklak yang mendetil. Dengan demikian sulit dipakai untuk menentukan seseorang arogan atau tidak, karena arogansi cenderung dilabelkan pada perilaku2 mendetil yang ditunjukkan seseorang.

Contoh paling gampang untuk label arogansi adalah Ahmad Dhani. Baca deh tulisan teman gw tentang [menurut dia] ketengilan kuadrat pentolan Dewa ini. Atau.. boleh buka2 tabloid beberapa minggu silam tentang Dhani yg mengultimatum istrinya ;-). Rata2 saat itu orang mengatakan Dhani arogan. Hmm.. mungkin emang arogan, tapi apa iya sombong, merendahkan orang lain? Gw kok lihatnya lebih sesuai dengan definisi arrogare: he simply claims for himself.. hehehe.. hanya karena orang2 lain punya persepsi sendiri, punya parameter sendiri, lantas orang mengatakan bahwa sikap itu sombong. Sebabnya, jika si pengamat melakukan hal seperti itu, maka itu artinya sombong. Padahal buat Dhani yang emang eksentrik itu belum tentu itu masuk kategori sombong ;).

Gw ingat di salah satu infotainment Dhani bilang: ”Memang saya terlalu ngatur Maia. Mau apa kamu? Lha wong saya suaminya”. Hehehe.. buat sebagian [besar] orang terdengar tengil ya? Tapi secara logis sebenernya sah2 aja dia bilang begitu. Memang benar dia suaminya Maia, dan memang benar dia claim his right to determine the rule for his wife. Perkara aturan yg dia gariskan itu terlalu ngatur atau enggak, itu kan tergantung kesepakatannya dengan Maia.

Kalau menurut gw sih, si Maia kelihatan sama gilanya.. hehehe.. Sempat ada yang mendengarkan pidato Maia di AMI Award beberapa waktu lalu? Dia malah menjadikan lelucon [apa yang dipersepsikan publik] sebagai kesombongan Dhani. Menurut gw sih ini hanya bisa dilakukan oleh istri yang OK-OK aja sama tingkah polah si suami [yang dijadikannya lelucon] itu, bukan perilaku istri yang tertekan dan takut akan superioritas suaminya ;-).

***

Udah kepanjangan belum? Hehehe.. Kalau belum, gw mau nambahin satu kata lagi: ego. Ego ini nasibnya mirip2 arogan.. hehehe.. alias mengalami pengebirian arti. Secara etimologis, ego itu ”hanya” kata ganti orang pertama tunggal. Yup! Artinya: SAYA. Waktu ilmu psikologi berkembang, Bapak Freud dan Bapak Jung juga menggunakan ego dalam konteks yang baik. Untuk Freud, ego adalah sesuatu yang harus ada untuk menyeimbangkan id (=dorongan kebinatangan) dan superego (= norma sosial yang terinternalisasi).

Dari kata ego ini kemudian muncul kata2 turunan seperti egoisme dan egosentris. Egosentris itu artinya menjadikan diri sendiri sebagai pusat dari hal2 di sekelilingnya. Kalau untuk remaja dan dewasa, hal ini memang buruk dan tidak sehat, tapi sangat alamiah bagi anak usia 2-3 tahun. Yang jelek adalah egoisme, karena seperti isme-isme lainnya, hal ini membawa kita pada perasaan bahwa diri sendiri (ego) yang paling benar, paling baik, paling hebat, dan paling2 lainnya ;-).

Nah.. sekarang ini ego-egosentris-egoisme dijadikan satu artinya dan dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Akibatnya, sering gw dengar orang menyerukan untuk menekan ego, malah ada yg nulis buku tentang atau bikin sesi pelatihan untuk menekan ego segala. Lah.. gw bingung.. hehehe.. kalau ego ditekan, kan malah fungsinya sebagai penyeimbang berkurang. Akibatnya malah orang jadi tidak sehat mental, bukan? Hehehe.

Well.. kalau yang nulis menekan ego ini hanya untuk kepentingan sendiri sih gw nggak masalah. Mungkin memang tidak familiar dengan terminologinya saja *buat Mbak cantik yg nulis tentang nurani vs ego, swear, tulisannya bagus kok, apalagi ngajak2 Oom Kant & Mas Machiavelli segala.. ;-)*. Tapi.. kalau yang ngajak2 menekan ego tuh institusi bisnis, gw rada tempra juga.. ;-) Kalau udah berani jualan ke publik, mereka kan punya tanggung jawab moral untuk memberikan konsep yg benar.. hehehe.. Jangan ngacak2 konsep dan mengubah2 arti dong ;-)

***

Kepanjangan beneran ya? HAHAHA.. As always, kan ;-)?

Buat penutup aja, jangan heran kalau nanti2 nama blog gw berubah jadi Arrogare Ergo Sum ya.. HAHAHAHA.. alias aku arogan, maka aku ada.. ;) “Secara” blog gw isinya memang “daripada” claiming my right to speak and express my opinion semua ;-) Mudah2an isinya penuh dengan konsep2 ego ya, bukan konsep2 id ataupun konsep2 superego ;-) Karena kalau kita menggunakan ego, artinya kita punya ramuan yg tepat antar keduanya; ya punya conscience, tapi juga tidak menafikan basic instinct kita ;-).

UPDATE malemnya:

Kata Oom Dodol, bentuk yg tepat adalah Arrogo, Ergo Sum. Well.. he's the expert, jadi gw sih percaya aja. Masalahnya, menurut gw bunyinya kurang enak.. hehehe.. lebih sexy arrogare dengan e taling.. ;-). Jadi sementara ini gw mengacak2 tatabahasa Latin bentar deh ya ;-)