Thursday, December 21, 2006

The Profiler

Dari dulu, kegiatan profiling selalu merupakan keasyikan tersendiri buat gw. Asyik aja rasanya memperhatikan dan mengumpulkan detil2 kecil, lantas menjajarkannya untuk mendapatkan pola, untuk kemudian mengambil kesimpulan tentang sesuatu. Selalu ada kepuasan tersendiri jika gw bisa memprediksi dengan tepat suatu kejadian berdasarkan kesimpulan gw itu. Sebaliknya, selalu menjadi tantangan baru yang membuat penasaran jika kesimpulan gw salah, atau kesimpulannya benar tapi gagal dipakai untuk memprediksi dengan tepat.

Segala perilaku yang dihasilkan manusia menurut gw bisa dijadikan sumber untuk memprofile. Kalau ketemu langsung ya segala gerak-geriknya yang jadi data. Kalau ketemunya via tulisan saja, ya tulisannya yang dijadikan data. Toh.. tulisan itu sendiri sebenarnya merupakan cerminan pikiran, perasaan, dan aspek2 kepribadian lainnya. Ada memang beberapa orang yang bilang bahwa tulisan dan aslinya belum tentu sama. Tapi menurut gw ini masalah self mana yang ditampilkan dalam tulisan saja; apakah real self-nya, apakah ideal self-nya, atau perceived self-nya. Kalau diamat2i, lama2 terlihat kok tulisan itu menggambarkan self yang mana. Kalau kita sudah ketemu self mana yang digambarkan tulisannya, maka tinggal kita tarik garis untuk mengetahui real self-nya ;-)


Anyway.. soal self2an ini lihat sendiri deh di sini ;-). Hari ini gw pingin cerita aja tentang pola tulisan yang gw temukan di beberapa novelis. Menemukan pola tuh merupakan dasar dari memprofile. Baru, setelah kita temukan polanya, bisa kita analisa alias bikin profilenya.

Seingat gw, pertama kali gw menyadari pola tulisan ini adalah di novel2nya Sidney Sheldon. Tulisan2nya selalu tentang perempuan2 biasa, yang survive dari keterpurukan karena kegigihan luar biasa dan malah bounce back meraih ultimate success, untuk kemudian jatuh karena suatu perkara, dan kembali menjadi perempuan biasa2 saja. Dua yang paling gw ingat adalah Noelle dalam The Other Side of Midnight dan Tracy Whitney dalam If Tomorrow Comes, namun pola yang sama juga muncul dalam The Rage of Angel, Master of the Game, Sands of Times, dan banyak lagi judul lainnya. Hehehe.. gw gak tahu juga sih apakah Sidney Sheldon ini memang-pencinta-wanita-tapi-dia-bukan-buaya.. ;-) Yang jelas dalam novel2nya Sidney selalu bercerita tentang wanita dan kegigihannya.

Pola yang juga jelas terlihat adalah dalam buku2 Dan Brown. Perhatikan deh, tokoh antagonisnya selalu orang yang bermaksud baik dan percaya bahwa apa yang dilakukannya itu adalah for the greater good. Selalu tentang orang2 yang playing God; bukan karena mereka merasa hebat, tapi justru mereka concern terhadap kelangsungan dunia. Ada ironi yang muncul dalam keempat buku Dan Brown; seseorang mencoba menyelamatkan dunia dengan melakukan sesuatu yang buruk, namun akhirnya terjebak untuk menutup keburukan itu dengan keburukan lainnya. Da Vinci Code gak usah gw bahas.. gw asumsikan semua sudah nonton, kalau belum silakan nonton atau baca bukunya ;-). Tapi perhatikan Ensei Tankado dan sang komandan dalam Digital Fortress, sang Camerlengo dan big boss dalam Angels & Demons, serta sang NASA administrator dalam Deception Point. All shows the same irony. Entah profilnya Dan Brown seperti apa.. yang jelas dia kelihatan sekali sebagai orang pintar yang suka memberikan antitesis pada tesis2 yang dianggap baku ;-). Memutarbalikkan apa yang dianggap benar, dan bermain di wilayah abu2. So.. biarpun pola tulisannya Dan Brown udah ketebak, gw tetap menunggu2 munculnya buku terbaru dia: The Solomon Key.

Akhir2 ini gw lagi suka banget pada Michael Connelly. Gw lupa apa yang pertama bikin gw suka sama dia, tapi yang jelas setelah baca The Concrete Blonde komentar gw cuma: Whoa! This guy is good. Really good! Baru setelah bolak-balik ketemu kata yang sama di dalam novel2nya, Behavioral Science Unit, gw baru nyadar kenapa gw cocok sama tulisan2nya. Connelly senang menulis tentang profiler dan kegiatan memprofile itu sendiri. Gw senang tulisan2nya karena sesuai banget sama hobby dan latar belakang gw: kegiatan sehari2 para agen dalam Behavioral Science Unit itu persiiiis seperti yang gw lakukan: menggunakan ilmu2 tentang perilaku manusia untuk membuat profile. Bedanya, gw dibayar buat memprofile konsumen, sementara Rachel Walling dan Terry McCaleb untuk memprofile pelaku kriminalitas ;-). So far, Terry masih tokoh favorit gw. Gw malah gak suka2 amat pada Harry Bosch, tokoh utama Michael Connelly.

Ngomong2 soal profiling, ada hal menarik yang gw temukan di salah satu novel Michael Connelly: A Darkness More Than Night. Di buku ini diceritakan bagaimana Terry sedang memprofile seorang pembunuh berantai. Korban2nya adalah pelaku kejahatan yang lolos dari jerat hukum. Si pembunuh berantai selalu meninggalkan petunjuk yang mengarah pada Hieronymus Bosch, pelukis Belanda yang lukisannya selalu bertema dosa dan kejatuhan moral manusia. Mulai dari meninggalkan patung burung hantu di tempat pembunuhan (dalam abad pertengahan, burung hantu adalah lambang setan), meninggalkan korban dalam posisi mirip penghuni neraka dalam lukisan2nya (salah satunya The Garden of Earthly Delight. Klik deh! It’s awesome!), sampai penggunaan nama samaran Jeroen van Aiken (nama asli Bosch) maupun Lubbert Das (julukan bagi orang2 yang dianggap menderita “penyakit” kejahatan di abad pertengahan).

Lantaran Detective Harry Bosch bernama asli Hieronymus, maka hipotesa yang masuk akal adalah either Detective Bosch dijebak oleh orang yang dendam padanya, atau Detective Bosch pelakunya. Belakangan Terry mulai lebih yakin bahwa hipotesa pertama bisa ditolak karena beberapa aspek yang fit the serial killer profile, seperti pada halaman 236:

“He also spoke of something he called ‘the big wheel’. It’s part of his belief system. He doesn’t see the hand of God in things. He sees the big wheel. What goes around comes around. He said guys like Gunn don’t really get away. Something always catches up to them. The wheel.. He said he could deal with the plague as long as he got shots at the carrier. It’s all very subtle, Jaye, but it’s all there. He’s [even] a Bosch print on the wall in the hallway. The Garden of Earthly Delight”

“So? He’s named after the guy. If my name was Picasso, I’d have a Picasso print on the wall”

“I acted like I’ve never seen it before and asked him what it meant. All he said that it was the big wheel turning. That’s what it meant for him”

It turns out, tentunya, bahwa bukan Detective Harry Bosch-lah si pelaku pembunuhan itu. Nah.. point gw.. ternyata memang perilaku manusia itu rumit sekali. Kita nggak pernah tahu apakah observasi yang kita lakukan sudah cukup, data untuk menganalisa sudah cukup, dan apakah kesimpulan kita sudah tepat. Kita hanya bisa menduga, melontarkan kesimpulan kita, namun tetap terbuka pada kemungkinan salah. Makanya, kita tetap harus hati2 sekali mengemukakan kesimpulan tentang seseorang.. apalagi bila kesimpulan itu adalah kesimpulan buruk. Salah2 jadinya malah labeling ;-)

Still.. menurut gw, kegiatan profiling ini bagus lho! Kapan ya di Indonesia ada Behavior Science Unit? Hehehe.. Siapa tahu penyelidikan kasus Alda jadi lebih fokus dan ilmiah; nggak melebar meluas kemana2 kayak sekarang. Pusing juga gw lihat tadi pagi berita di koran: Alda Korban Ritual Pengusiran Setan. Mana di TV ada paranormal bilang arwah Alda gentayangan di hotel lah! Halah! Klenik banget.. hehehe.. Dan kasihan kan keluarganya kalau ternyata kesimpulan kita salah? Kasihan juga almarhumah yang jadi omongan.. lha wong udah meninggal kok masih diomongin yang enggak2.

Ah.. rupanya gw melantur lagi. Ya sudahlah, berhenti sampai sini aja.. daripada melantur lebih jauh lagi ;-) Titip aja mengucapkan: HAVE A WONDERFUL CHRISTMAS buat yang merayakan ;-).