Saturday, December 09, 2006

The Ibunyaima Trilogy

Mengikuti jejak karya2 besar seperti The Godfather, Lord of the Rings, Star Wars, Cairo Trilogy, Divina Comedia.. gw juga mau bikin trilogi ah! Nggak mau kalah sama Jeffrey Archer yang sudah siap2 meluncurkan buku ketiga dari his Prison Diary ;-). Kalau tulisan pertama mengambil angle ratapan simpatisan yang merasa dikhianati, tulisan kedua ber-angle soal keadilan yang dijadikan argumen untuk menyayangkan (bahkan menuntut undang2 untuk melarang) tindakan poligami, maka tulisan terakhir tentang mereka yang memang anti poligami.

Bedanya apa dengan kelompok yang disoroti di tulisan pertama? Bedanya, kelompok pertama lebih terpukul karena Aa berpoligami daripada karena poligaminya itu sendiri ;-) Sementara di kelompok kedua ini adalah [pinjem istilahnya Nirwana]: the intelligent ones. Mereka2 yang mempertanyakan apakah poligami itu sebaiknya dikategorikan tidak dianjurkan atau sekalian saja dilarang.

Mencermati komentar2 yang mencapai 50 sekian di tulisan pertama (well.. gak semua ngomentarin sih, ada juga yg cuma numpang lewat, atau malah numpang berkomunikasi sama yayang-nya ;-) Hooi.. stop nge-junk di blog gw ;-)), serta blog2 lain yang ngebahas, belum lagi fwd-an email2 yang terus masuk ke inbox gw, secara kasar gw bisa mengelompokkan kaum anti poligami ini menjadi 2 kelompok besar:

1. Mereka yang anti karena poligami hanya diidentikkan dgn poligyni (= beristri banyak). Isyu di sini adalah ketidaksetaraan gender. Dengan demikian mereka bisa saja setuju pada poligyni, dengan syarat poliandri (= bersuami ganda) juga diperbolehkan.

2. Mereka yang anti poligami (sebagai sinonim dari poligyni) karena dianggap tidak adil terhadap istri. Isyu di sini adalah tenggang rasa pada istri para pelaku poligami (aka poligyni). Dengan demikian segala bentuk penggandaan istri dianggap satu kelompok besar karena sama2 menyakiti hati istri. Dalam kelompok ini cenderung tidak dibedakan antara poligami yang dilakukan Aa Gym, Rhoma Irama, Puspowardoyo.. malah ada yang menjadikannya satu dengan the man of the month: YZ ;-)

Salah satu contoh kelompok pertama gw cuplik dari blognya ibu ini: I would agree of poligami, .. but only if poliandry would be allowed, equally

Hehehe.. mengacu pada dua versi keadilan edisi kemarin, berarti ini menggunakan versi keadilan sama rata sama rasa ya ;-)? Semua harus dapat kesempatan yang sama, tanpa memperhatikan perbedaan fisiologis maupun peran sosialnya ;-) Terus.. gw masih belum jelas juga sih, apakah dalam pelaksanaannya menggunakan azas keadilan sama rata sama rasa juga?

Atau pelaksanaannya pakai prinsip keadilan kapitalis seperti kata temannya Neng Yanti: biar adil, istri/suami muda yang masih menggebu2 harus dikasih jatah lebih banyak daripada istri/suami tua yang udah nyaris frigid? HAHAHAHA.. Satu masalah kecil sih: kalau perempuan, secara fisiologis, semakin tua mungkin semakin nggak minat. Apalagi kalau sudah dekat menopause *eh, teorinya sih gitu. Gw belum menopause sih, jadi belum bisa membuktikan.. HAHAHA.. * Tapi.. laki2 kan nggak gitu ya? Lha, ntar kalau suami tua dapat jatah lebih sedikit daripada suami muda, apa jadinya adil ;-)? Hehehe..

Itu PR yang masih harus diselesaikan oleh kelompok satu.

*Jawabannya jangan tanya ke gw ya! Gw tuh bingungan kalau soal prinsip keadilan. Makanya cuma punya suami satu dan anak satu.. ;-)*

Soal kelompok kedua, yang ingin gw soroti adalah generalisasi mereka terhadap para pelaku penggandaan istri. Dari yang bilang Aa Gym sama aja sama YZ, sampai Oom Tulus yang bilang bahwa penyelesaian YZ lebih baik (karena toh YZ putus hubungan sama ME dan istrinya kembali menjadi pemilik tunggal the big dumbo, sementara Teh Nini seumur hidup harus berdampingan sama Teh Rini).

Well.. pertanyaan gw.. apa iya sih sama? Memang ke-4 orang tersebut melakukan penggandaan istri. Tapi sama dan sebangun? Hmm.. gw termasuk orang yang suka ngebahas kasus per kasus sih.. jadi keisengan untuk bikin tabel berikut ini (berdasarkan berita di berbagai media yang diasumsikan sebagai benar):

Aa Gym

Rhoma Irama

Puspowardoyo

YZ

Alasan utama

Menguji umat

Takdir, jodoh

Demi perempuan

-nggak tahu-

Alasan lain

Daripada TTM

Memuliakan istri

Daripada zinah

Takut melanggar takdir Tuhan

Memuliakan istri

Bagian dari remunerasi pegawai

-nggak tahu-

Dengan siapa

Janda anak 3, umur 37 thn

Perawan 20-an

Pegawai berprestasi, bisa perawan/janda

Penyanyi dangdut tanpa anak, dan malah kemudian aborsi

Sosialisasi pada istri tua

Selama 5 thn

Tanpa sosialisasi

Proses sosialisasi beberapa tahun

Diam2 saja

Background istri

Anak kyai (yang mungkin sudah sejak dulu menerima secara teoritis bahwa poligami itu tidak haram)

Bekas bintang film (yang kecil kemungkinan saat menikah menerima poligami secara teoritis)

Dosen (setidaknya cukup cerdas untuk menerima alasan suami ingin berpoligami)

Nggak tahu istrinya yg mana, tapi selingkuh itu bukan wilayah abu2 seperti poligami, jadi sudah pasti tidak bisa diterima

Status pernikahan kedua dst

Resmi

Siri

Resmi

Tanpa pernikahan

Sikap saat terungkap

Mengakui

Berkilah dan menyangkal hingga terdesak

Mengakui dengan bangga

Hingga saat ini belum ada komentar kan?

Well.. kalau dilihat dari tabel di atas sih menurut gw nuansanya beda. Alasannya Puspowardoyo tuh rada pseudo-logis ;-). Alasannya Bang Haji mencatut nama Tuhan: mengatakan itu adalah takdir berupa jodoh dari Tuhan. YZ.. no comment lah gw ;-), sementara si Aa menurut gw sih masih lebih jantan mengakui keputusannya adalah tanggung jawab dia [sebagai manusia] pribadi. Walaupun alasannya bikin kuping merah sih, karena.. siapa sih manusia yang berhak menguji keimanan manusia lain? Apa haknya si Aa menguji umat? Hehehe..

Itu baru dari masalah alasan. Silakan dinilai sendiri perbedaan nuansa dalam aspek yang lainnya. Do not cloud your judgment with prejudice bahwa segala jenis penggandaan istri adalah buruk, maka mungkin akan terlihat bahwa kasus2 ini tidak bisa digeneralisasikan.

Jadi.. kalau ada orang2 yang sekarang ribut minta UU anti poligami disahkan, sampai nge-SMS Pak SBY segala.. think again! Ngapain sih SBY disuruh ngurusin yang beginian? Presiden tuh udah nggak kelasnya ngurusin rumah tangga orang.. mendingan beliau ngurusin hal2 yang lebih penting seperti: bagaimana menumbuhkan hati nurani wakil rakyat biar mau datang ke rapat paripurna untuk membahas nasib negara. Jangan maunya datang untuk ambil honor dan nyewa kamar hotel bareng ME doang *oops, tendensius banget yaks ;-)* Atau untuk ngurusin bagaimana supaya sekian kepala keluarga tidak harus hidup dengan hanya Rp 19,000 per hari.

Masih banyak yang harus diurus, dan lebih tepat untuk diurus, oleh presiden dan kita sendiri ;-). Kalau kita menuduh para laki2 itu terlalu terobsesi soal syahwat, apa dengan ngeributin dan mendesak minta UU seperti ini, apa kita sendiri juga nggak terlalu terobsesi sama urusan syahwat?

*eh.. kalau gw nulis sampai trilogi gini, gw sendiri terobsesi gak ya? Nggak lah ya.. gw kan orangnya emang suka bersambung2 gitu kalo nulis. Tiga sih masih wajar. Kalau jumlahnya udah kayak simfoni Beethoven, 9, baru gw bisa dituduh terobsesi.. HAHAHAHA.. *