Sunday, December 24, 2006

Yang Tersisa dari Nayla

Tadinya gw pingin nulis ini setelah Nayla meninggal, tapi karena kayaknya dia mirip kucing yang punya 9 nyawa, nggak meninggal2 walaupun kena serangan parah berkali2, jadi gw tulis sekarang aja deh ;-) Keburu lupa kalau nunggu lama2 ;-) Gw nggak mau mencela fakta bahwa sinetron ini karya plagiat lho ya.. udah banyak ya bahas. Mulai dari pencinta dorama sampai seleb blog. Klik aja link-nya untuk baca bahasan mereka. Gw mau mencela hal yang lain aja ;-).

Motivasi awal gw nonton Buku Harian Nayla cuma karena tertarik sama doa Bapa Kami yang dibacakan utuh2 di salah satu episodenya. Sungguh, waktu itu gw nggak tahu sinetron ini adalah jiplakan dari Ichi Rittoru no Namida, jadi nggak ada niatan nonton buat mencela [seperti biasanya.. oops ;-)] ;-). Gw cuma tertarik aja dengan fenomena sinetron seri menjelang Natal.. hehehe.. jadi pingin tahu isinya kayak apa: penuh miracle seperti trademark-nya drama2 Natal Hollywood, atau penuh intrik ala Bollywood seperti sinetron2 Ramadhan? Maklum, rata2 sinetron Ramadhan kita kan diproduksi Tak Ada Rotan, Raam Pun Jabi ;-).

Gw tambah tertarik karena mendengar disebut2nya penyakit ataxia. Gw pikir: canggih juga nih sinetron, ngomongin penyakit yang tidak biasa. Sayangnya, baru 2-3x nonton, gw langsung berubah haluan pingin nyela.. hehehe.. karena walaupun [sekali lagi] gw belum tahu bahwa ini adalah sinetron bajakan, tapi udah mulai kelihatan deh keanehan2 yang bikin gw pingin bilang: yaaah.. cuma gitu doang!

Yang pertama kali bikin gw pingin nyela pasangan Yadi Timo & Moudy Wilhelmina. Yadi Timo memang cukup ada tampang untuk jadi pemilik warung nasi, tapi.. Moudy kelewat cantik dan rapi untuk ukuran istri pemilik warung. Udah gitu, kayaknya antara tokoh yang mereka perankan nggak ada chemistry-nya deh ;-) Bolak-balik Yadi Timo menyapa “istrinya” dengan nama kecil Martha, tapi Ibu Martha ini dengan kekeuh-nya tetap membahasakan diri sebagai “Ibu” kepada “suaminya”.. hehehe.. Kompakan dulu, atuh! Belum lagi rumah mereka yang kelewat mewah untuk ukuran kelas ekonomi tersebut. Gw sempat mikir2 alih profesi jadi pedagang warung nasi (kayak bapaknya Nayla) atau guru TK aja (kayak ibunya Nayla) kalau ternyata pekerjaan ini menghasilkan materi seperti yg mereka miliki.. hehehe..

Lama-kelamaan gw juga gemes melihat interaksi Nayla-sekolah-teman2nya. Gw gemes lihat Nayla yang sudah naik kursi roda dan nggak bisa ke kamar mandi sendiri masih diijinkan datang ke sekolah dan tetap harus naik ke kelasnya di lantai 2 atau 3. Dan yang bikin gw lebih gemes lagi: teman2nya yang harus menolong Nayla! Gw nggak habis pikir: sekolah mana di Indonesia ini yang nggak mengambil langkah apa2 dalam kasus seperti ini? Yang paling masuk akal buat sekolah umum sih murid itu dikeluarkan atau dianjurkan belajar sendiri di rumah. Kalau di sekolah2 swasta besar biasanya akan dianjurkan bawa perawat sendiri ATAU kegiatan belajar mengajarnya dipindah ke tempat lain (misalnya di lantai 1). Waktu SMA, gw juga punya teman yang sejak naik kelas III kena epilepsi, sering pingsan di kelas. Setelah kejadian 3-4x, kepala sekolah gw memutuskan bahwa teman gw itu boleh tetap ikut belajar tapi harus ada perawat yang menunggui sepanjang jam sekolah supaya nggak terlalu mengganggu murid2 lain. Jadi.. gw simply cannot understand bahwa ada sekolah yang ngebiarin Nayla tetap sekolah dan teman2nya harus bertindak sebagai perawat ;-).!

Di lain episode, gw gemes melihat Nayla tiba2 sudah naik kursi roda elektrik. Gilaaa! Harganya berapa juta tuh? Dapat dari mana uangnya, sementara bapaknya hanya pedagang warung nasi (yang jelas bukan kategori retail Waroeng Podjok ;-)) dan ibunya hanya guru TK? Mana adiknya ada 3 lagi! Sementara di episode lain ibunya Nayla yang impulsif mau berhenti kerja untuk menemani Nayla ditentang sang bapak dengan alasan si ibu adalah pencari nafkah utama?

Belum lagi di episode2 terakhir ini diceritakan Nayla “minta” tinggal di rumah sakit. Weleh2.. rumah sakit kan mahal banget, to? Beberapa bulan lalu guru SMA gw dirawat di rumah sakit karena penyakit yang nggak kalah beratnya dengan Nayla. Waktu itu dalam sehari biaya pengobatannya menghabiskan 3jt. Padahal, itu pun kamar dan dokter gratis karena dirawat oleh alumni yang jadi dokter di sana. Nah.. untuk Nayla, sehari habis berapa juta tuh orang tuanya ya? Hehehe.. Kalau orang tuanya kaya raya seperti Lorenzo Odone di Lorenzo’s Oil (yang secara kebetulan ditayangulangkan oleh HBO tadi pagi) sih masuk akal aja punya duit banyak untuk mengusahakan macam2.. ;-)

Konsep sekolah khusus yang diikuti Nayla juga terlihat sangat tidak nyata. Dari pengalaman gw praktek di bagian Perkembangan Anak dulu, SLB dan sekolah khusus tuh jumlahnya masih kurang, dan rata2 hanya berfungsi membekali siswa dengan ketrampilan2 yang disesuaikan dengan kondisi cacatnya. Lha, kok tiba2 ada sekolah khusus yang membekali siswanya dengan pelajaran umum segala?

..nyontek aja jelek, apalagi kalau harus bikin cerita sendiri..

Bahkan nama Nayla sendiri membuat gw bertanya2 karena gak nyambung dengan nama adik2nya: Joanna, Gio[vanni?], dan Lulu. Pada saat nama adik2nya terdengar kristiani, nama Nayla kok malah rada kearab2an sendiri.. hehehe.. Naila dalam bahasa Arab kalo nggak salah artinya "suka memberi" atau "keberuntungan". Gw takjub aja kalau ada orang tua yang memberi nama anak2nya dengan pakem yg berbeda, apalagi kalau pakemnya bertolak belakang ;-).

*dan ngomong2.. menurut gw peran adik2nya Nayla di sini redundant lho! Gw lihat si Gio dan Lulu tuh nggak pernah ada fungsinya di sinetron ini, kecuali rantang-runtung kesana-kemari menggenapi jumlah anggota keluarga ;-)*

Well.. gw sendiri belum nonton dorama aslinya. Gw cuma pernah baca salah satu curhatnya pencinta dorama bahwa versi aslinya hanya terdiri dari 11 episode dan jauh lebih pendek dari jiplakan Indonesia-nya ini. Jadi, to be fair, gw juga gak bisa nuduh bahwa ketercelaan Buku Harian Nayla mutlak dari penulis skenarionya. Tapi kalau gw bandingkan dengan Lorenzo’s Oil yang tadi pagi diputar.. waduh.. memang kelihatan beda banget kelasnya! Dalam Lorenzo’s Oil, tidak banyak yang gw pertanyakan.

Mungkin karena Lorenzo’s Oil ini didasarkan pada kisah nyata, sementara Buku Harian Nayla adalah [seperti tertulis di credit title] “kisah fiktif belaka, persamaan cerita/karakter adalah kebetulan belaka”. Walaupun terbukti mirip banget dengan sebuah dorama Jepang yang berdasarkan kisah nyata, kan harus tetap terlihat fiktif-nya ya ;-)? Dengan demikian, supaya tetap jadi “kisah fiktif”, Buku Harian Nayla tidak boleh persis sama dengan Ichi Rittoru no Namida. Harus ada bumbu2nya yang membuat orang percaya bahwa ini sekedar kisah fiktif.. hehehe..

Yaaah.. gw harap saja memang kejadiannya begitu. Bahwa bumbu2 nggak penting dan aneh ini sengaja ditambahkan biar orang percaya bahwa ini kisah fiktif belaka. Sebab, kalau tidak, maka alternatif hipotesanya lebih buruk lagi: udah nyontek aja jelek, apalagi kalau harus bikin cerita sendiri ;-) Jadi plagiator aja gagal bikin yang bagus, apalagi kalo harus mikir sendiri ;-)

Atau mungkin gw bisa usulin aja *sarkastik mode: ON*: kalau mau jadi plagiator, jangan tanggung2. Contek aja semuanya. Kalau nyonteknya separuh2, jadinya aneh gini.. hehehe..