Tuesday, November 24, 2009

Taman-taman Air [Mata]

Beberapa minggu lalu, pada sebuah kios buku kecil tak berpapan nama di sudut Pasar Festival, gw menemukan sebuah novel yang seakan melambai minta dibeli. Novelnya cukup tebal, seharga hampir Rp 80.000

Mulanya gw merasa sayang mengeluarkan uang sebesar itu untuk membeli buku terjemahan. Seperti biasa, gw khawatir terjemahannya nggak enak dibaca dan akhirnya buku itu menjadi mubazir. Maka gw pun pulang tanpa membawa serta buku itu; berencana untuk mencarinya saja di toko buku online.

Tetapi ternyata tidak satu pun toko buku online yang menjual buku itu. Baik toko buku online kecil maupun yang bernama besar seperti Gramedia Online. Bahkan, gw cari di Lentera Hati yang menerbitkannya pun tidak ketemu. Akhirnya gw pun nekad kembali ke Pasar Festival untuk membelinya. Suatu tindakan yang sama sekali tidak gw sesali, karena Gardens of Water memang sangat layak untuk dibeli.

Awal cerita, gw sebenarnya khawatir bahwa buku ini akan menjadi another Middle Eastern story of oppressed women. Bagaimana enggak, ceritanya dibuka dengan kisah sungsang sumbel (=susah payah) seorang ayah yang miskin untuk membuatkan pesta khitanan meriah bagi putranya. Seorang ayah miskin dan cacat yang membelikan baju pasha (mungkin kalau di sini baju koko ya?) seharga seminggu gajinya, dan membawa si "pengantin sunat" keliling Istanbul karena itu adalah keinginan si anak. Meskipun si ayah hanya bisa membawanya berjalan kaki saja, dan membelikannya baclava sebagai jajanannya. Dua buah baclava, bukan hanya satu, untuk menandai bahwa hari itu istimewa.

Belum lagi, begitu setting beralih ke rumah, cerita bergulir pada keirian kakak si "pengantin sunat". Irem, kakak perempuan Ismail yang berusia 15 tahun, sungguh merasa diperlakukan tidak adil: pada hari Ismail memasuki akil balik, ia menjadi raja sehari. Sebaliknya, pada hari Irem menjadi wanita dewasa, ia menjelma menjadi sesuatu yang [dianggap] membahayakan dan harus senantiasa diawasi:

Untuk Irem tidak pernah diadakan pesta meriah, tidak ada uang atau pakaian mewah. Dia bangun di suatu pagi, dua tahun lalu dengan darah di kakinya dan noda di seprai. Ketika ia memberitahu ibunya tentang hal itu, tanpa suara ibunya melucuti seprai itu...

Irem tidur sebagai anak-anak dan bangun menjadi seorang wanita, dan dia harus tahan berdiri di kamar mandi yang terkunci - cahaya putih menyilaukan menyinarinya, ada bantalan tak nyaman di antara kakinya - dan mendengarkan celoteh ibunya tentang aturan-aturan baru dalam suara bisik-bisik yang membuatnya malu.

(hal. 49)


Gw juga sempat menduga bahwa kisah ini akan menjadi kisah menye2 antar sepasang kekasih, ketika Irem yang kecewa itu mulai main api dengan Dylan Taylor - tetangga Amerikanya. Sempat mendengus kesal membaca adegan Dylan dan Irem berbagi rokok secara sembunyi2 di balkon. WTF? Apa2an sih? Cerita tentang "cinta dalam sebatang rokok"? HAHAHAHA..

Tapi kekhawatiran gw tidak berlanjut lama. Semua itu cuma latar belakang cerita aja ;-) Cerita sesungguhnya baru dimulai ketika gempa melanda Golcuk usai khitanan Ismail. Gempa yang meluluhlantakkan segalanya, membuat segalanya berubah. Gempa yang membuat masing2 tokoh melihat ke dalam dirinya dan mengkaji ulang apa yang paling penting bagi mereka.

Akibat gempa tersebut, hidup mereka tak sama lagi. Sinan harus menerima kenyataan bahwa ia "berhutang budi" pada "musuh besarnya"; orang2 Amerika. Figur yang selama ini diasosiasikan sebagai pembunuh ayahnya, sang pendukung gerilyawan Kurdi, sekarang adalah figur penyelamat keturunannya. Ya, Ismail sang putra tersayang mungkin sudah tewas di bawah reruntuhan jika Sarah hanim, ibu Dylan, tidak pasang badan melindunginya. Ibu Dylan seolah menjadi "tumbal" bagi keselamatan Ismail.

Sinan juga harus menghadapi the demon inside him; ketika kebanggaannya sebagai laki2 dalam kelompok patriarki jatuh hingga titik nadir terbawah. Gempa menghancurkan mata pencahariannya, sehingga ia - sebagai kepala keluarga - tak lagi dapat menafkahi anak istrinya. Dan dalam keadaan seperti itu, ia harus menerima kenyataan yang lebih parah lagi: pemerintah tak sanggup memberi makan keluarganya. Wakil2 rakyat yang dipilihnya, yang membuat begitu banyak janji saat kampanye, tidak satu pun menunjukkan batang hidungnya. Mereka hanya datang untuk mendapatkan publisitas ketika menguburkan korban2 gempa:

Walikota menghadiri acara penguburan, berdiri di pinggir sebuah lubang galian yang besar, berusaha menghibur keluarga korban yang berdoa di depan kantong-kantong mayat kain goni dan dengan lantang mengkritik pemerintah.

"Maaf, " kata sang walikota, menekan saputangan menutupi hidungnya." Maaf, tapi kita harus mengubur mereka sekarang." Dia meneteskan kolonye aroma lemon ke saputangan yang sudah basah dan menekannya kembali ke hidungnya"

(hal. 129 - 130)


Sounds familiar ya ;-)? Dan bagaimana mereka membiarkan survival of the fittest, terdengar akrab di telinga juga:

Saat kawanan itu melewati tenda Sinan, dia mencium bau menyengat wol yang lapuk, dan perutnya mengerang kelaparan. Sinang memandang mata kawanan hewan itu - mata yang besar, hitam, dan bodoh - tetapi hanya bisa memikirkan daging yang melekat pada tulang-tulang mereka.

"Mereka tidak gemuk," si penggembala berkata kepada para lelaki. "Tapi kalian boleh mengambilnya."

"Terima kasih, Saudaraku," kata Sinan.

Dia merasa malu memanfaatkan tawaran lelaki itu, tapi dia terdesak. Sinan mencoba mencari hewan terlemah - tawaran dermawan harus dibalas dengan kedermawanan pula. Dekat dengan pinggir rumah penanaman tomat di mana rumput-rumput meninggi, Sinan menemukan seekor domba betina tua, dengan gerakan lamban dan lemah, seolah-olah tulang-tulang sendinya kaku karena radang tulang.

Sinan mengelurkan pisaunya dan menarik dagu domba itu.

(hal. 110 - 112)


Kejatuhan Sinan pada titik nadir muncul ketika sukarelawan Amerika datang membawa banyak makanan, tenda, serta cukup obat. The last straw untuk cobaan yang sudah dihadapinya; antara dia harus menerima uluran tangan "musuh" demi keluarganya, atau membiarkan keluarga yang dicintainya mati demi kehormatan?

Ketika akhirnya Sinan menyerah, dan masuk ke tenda2 para sukarelawan Amerika itu, gw kira hal itu adalah anti-klimaksnya. Gw kira selanjutnya kisah akan berpusat menjadi betapa hebatnya Amerika dan betapa terbelakangnya orang2 ini. Atau akan berubah Romeo-Juliet picisan. Tetapi ternyata sekali lagi gw salah ;-)

Kisah cinta antara Irem dan Dylan memang mungkin seolah2 mendominasi cerita ini. Bagaimana kedua anak yang merasa kehilangan keluarga ini - Irem karena memang selalu menjadi nomor dua setelah Ismail, sementara Dylan kehilangan perhatian ayahnya yang terobsesi dengan kerja sukarelanya - menemukan perhatian dalam diri masing2. Sama2 merasa menemukan tempat curhat, sama2 merasa dimengerti.

Hubungan mereka sebenarnya cukup santun, jika kita pakai standar kota besar. Bahkan agak konservatif, jika kita pakai ukuran Dylan. Tapi toh, kampung itu terlalu kecil untuk "dosa" sebesar itu. Dan... tak lama kemudian, Irem pun ditimpuki batu hingga pingsan oleh ibu2 tetangga. Keluarganya menjadi omongan di sana-sini.

Bagian cerita ini menjadi menarik. Adalah hal yang menarik ketika Nilufer - ibu Irem - menjadi bersikap sangat keras pada putri yang dianggap mempermalukan keluarga ini. Betulkah Nilufer menjadi keras karena nama baiknya dipertaruhkan, atau.... karena jauh di dasar hatinya ia iri akan keberanian Irem untuk melepaskan diri dari tuntutan tradisi konservatif? Suatu bentuk displacement, atas suatu resiko yang ia dambakan namun tidak berani ambil? Seperti tergambar dalam bagian berikut:

"Mereka tidak peduli. Kau mengolok-olok semua wanita ini. Kau mengolok-olokku!"

"Bukan begitu," kata Irem, "Aku hanya ingin bahagia"

"Bahagia, bahagia!" Nilufer mencengkeram lengan Irem. "Kau pikir kau tidak bisa bahagia sepertiku? Kau pikir karena aku memakai kerudung dan mengurus rumah aku tidak bahagia."

(hal 364)


Dan begitulah. Seperti kenyataan di dunia ini, suatu tindakan represi seperti ini justru membuat si korban melakukan hal yang sebaliknya. Seperti Irem dan Dylan yang kemudian memutuskan untuk lari. Pergi ke Istanbul melakukan apa yang mereka inginkan.

Dan seperti segala kenyataan di dunia ini, mendapatkan apa yang diinginkan adalah kebahagiaan sesaat. Yang segera akan disesali begitu euforia berakhir. Seperti Dylan dan Irem. Dylan dan Irem, yang akhirnya menemukan bahwa sometimes there is no love emerges from a love-making. Sometimes the fruit of love-making is hatred.

Kemeja Dylan terbuka dan dadanya tampak pucat, nyaris seperti kulit transparan salamander bersanding dengan parut-parut jelek tatonya. Rambut Dylan tersangkut di mulutnya, celana yang membungkus pinggul kurusnya terbalik, dan Irem tidak dapat menemukan keindahan apa pun dalam diri Dylan kini.

(hal. 518)


Setelah malam itu, Irem tidak sanggup lagi bertemu Dylan. Dan ketika orang tuanya tak dapat menerima kenyataan itu, ia pun melemparkan diri ke Selat Bosphorus.

Kisah selesai? Belum ;-)

Dan kisah ini ditutup dengan suatu akhir yang tidak dipaksakan menjadi happy. It's just a realistic ending, not a happy one :-)

Jika di atas langit masih ada langit, maka dalam kisah ini di bawah titik nadir masih ada titik2 lagi. Sinan sudah hancur dengan kehilangan segala di tangan musuh, bahkan hingga anak perempuannya pun harus direlakannya. Tapi hidup masih menyiksakan sebuah cobaan untuknya: dia mungkin akan kehilangan anak lelakinya. Bukan kehilangan dalam kehidupan fana, melainkan harus merelakan anaknya kehilangan kehidupan setelah mati.

"Mereka mencoba mengkristenkan orang-orang?"

"Sinan," kata Marcus, suaranya bertambah jelas dan letih secara bersamaan, "Dengar, tanpa orang-orang ini, kau masih akan duduk di atas padang rumput di dekat jalan tol menunggu pemerintah memikirkan cara yang terbaik," Marcus menunjuk ke arah jalan raya dengan telunjuknya, "Anak-anakmu akan kelaparan. Kalau beberapa di antara mereka ingin bicara tentang Yesus, bukankah itu wajar-wajar saja?"

"Kalau begitu, kau tidak benar-benar ingin membantu," kata Sinan. "kau di sini mengambil keuntungan dari kelemahan kami."

"Aku menemukan orang-orang yang bisa membantu, hanya itu yang kulakukan. Beberapa dari mereka adalah pembaptis dan beberapa dari mereka tidak memiliki kepercayaan yang sama denganku. Mereka sudah siap dengan suplai makanan dan sukarelawan," Marcus menengadah memandang puncak tenda. "Tuhan! Ayolah Sinan, selamatkan dulu tubuhmu, baru khawatirkan jiwamu belakangan."

(hal. 434 - 435)


*Hehehe... sampai di sini gw menemukan sesuatu yang ironis: gw baru bisa memahami mengapa orang2 menolak Miyabi mengunjungi korban gempa Padang. Ya, ya, memang belum pasti bahwa ada udang di balik batu. Tapi... buat beberapa orang, mati lebih baik daripada "menjual jiwa", bukan?*

Bagian akhir cerita ini benar2 penuh dengan metafora yang mengaduk hati. Dimulai ketika Ismail mulai senang menggambar anak2 bersayap, kemudian menggambar manusia yang disebutnya Nabi Isa. Suatu proses sinkretisme sedang terjadi, dan digambarkan melalui metafora sederhana yang menyentuh.

Sama menyentuhnya dengan adegan2 terakhir, dimana Sinan membawa Ismail shalat di mesjid. Menyuruhnya mengikuti bacaan shalat yang dikatakannya sendiri sebagai "terlalu keras"... seolah sebuah cara untuk menenangkan hati. Hingga akhirnya pun Sinan mengambil satu2nya keputusan tersisa bagi mereka yang terjepit: lari. Pulang ke kampung halaman mereka yang miskin, demi apa yang masih tersisa.

Sinan membangunkan Ismail dan mendudukkannya di pangkuannya. Mereka berdua menempelkan hidung mereka pada kaca jendela kereta.

"Lihat itu, Ismail," kata Sinan, "kau tidak ingat tanah ini, tapi ini adalah milik kita. Inilah surga dunia"

Yang Sinan miliki kini hanya anak dan istrinya, dan jika ada orang yang berusaha merampas mereka dari tangannya - siapa pun itu - Sinan akan membunuhnya. Dia merasakan kekuatan tumbuh dalam dirinya, seperti sebuah tinju yang mencekik sisa-sisa kelemahannya. Dia tak akan membiarkan apa pun mengancam kekuatannya lagi.

(hal. 630 - 631)


Ketika pertama kali membaca sinopsisnya, gw ragu bahwa kisah ini akan benar2 menjadi "... sebuah cerita yang mengaduk-aduk emosi". Kayaknya lebay deh ya... hehehe... Tapi di akhir cerita, gw menyadari kata2 itu benar.

Gardens of Water adalah kisah tentang berbagai sifat manusia. Tentang berbagai reaksi manusia. Ada homo homini lupus di sana, namun juga ada sebuah janji bahwa tak ada cobaan yang tidak dapat ditanggung manusia. Selama manusia itu percaya dan berusaha.

Mungkin itu sebabnya mengapa cerita ini dijuduli Gardens of Water, bukan Gardens of Tears. Meskipun ceritanya mengaduk2 emosi, namun menyimpan kekuatan. Seperti air, bukan air mata.

***
Credit Title: Gambar dipinjam dari sini, karena malas motret dan mengunggah sendiri ;-)