Thursday, March 29, 2007

Gemar Membaca

Hari ini pingin cerita tentang Ima aja ah! Tentang Ima dan buku2nya :-) Gara2 baca postingnya si Bunda dan si Daddy tentang kemajuan Naila dan Nico dalam hal membaca nih ;-)

Dulu, sebelum punya anak, gw sudah berjanji ama diri gw sendiri bahwa gw nggak akan kebanyakan ngatur anak gw. Terserah dia mau jadi apa, selama arahnya baik, akan gw dukung. Cuma satu hal yang ingin gw pastikan terjadi pada Ima: gemar membaca. Bukan apa2, gw termasuk yang percaya bahwa buku itu jendela dunia. Bacalah! That’s the key to everything in this world ;-)

Jadi, sebelum Ima lahir pun gw udah sibuk ngumpul2in buku bacaan. Dari mulai Buncil, sisipan di majalah Ayahbunda, sampai buku cerita rakyat anak2 dan buku2nya Hans Christian Andersen, semua sudah gw kumpulkan rapi sebelum Ima lahir. Eh, malah ada kejadian yang lebih parah lagi, ding! Gw masih menyimpan seluruh koleksi Lima Sekawan karena mau gw wariskan kepada anak gw.. hehehe.. Padahal, asli, pas gw memutuskan menyimpan seluruh koleksi itu, pacaran aja gw belum pernah ;-) Hehehe.. ide ini muncul lantaran gw juga dapat warisan Karl May dan Seri Petualangan dari almarhum Bapak, bukan lantaran gw berpikir sepanjang itu ;-)

Sejak Ima berumur 2 minggu, gw udah rajin membacakan cerita buat buat dia. Pokoknya, kalau dia rewel, gw bacain buku cerita aja. Bikin almarhum Bapak geleng2 kepala.. opo wis ngerti to, Nduk, bayi isih abang ngono. Tapi gw cuek aja. Gw yakin kalau kita mau membentuk sesuatu, harus dikondisikan sedini mungkin. Kalau minat sudah terbentuk secara alamiah ke arah lain, akan susah membelokkannya. Tapi mengkondisikan sejak dini ini juga tricky. Harus se-enjoyable mungkin, supaya anak nggak merasa terpaksa dan malah nggak tertarik sama sekali.

Jadi.. sejak bayi merah, Ima sudah gw kondisikan untuk menempatkan buku sebagai sesuatu yang precious. Kalau Ima bertanya sesuatu, gw carikan jawabannya lewat buku. Gw tunjukkan di buku mana ada jawaban atas pertanyaannya itu. Setiap kali Ima punya ketertarikan baru, gw carikan buku yang membahas tentang itu. Waktu Ima umur 2 tahunan, gw mulai berlangganan majalah anak2. Mbak Pengasuhnya gw indoktrinasi untuk membacakan cerita. Gw tatar dulu supaya membacakannya bagus, dengan intonasi menarik. Jangan sampai udah susah2 gw bentuk minat bacanya, kemudian rusak gara2 pengalaman buruk.. hehehe...

Jerih payah gw rupanya terbayar. Waktu umurnya 3.5 tahun, Ima sudah mengenal huruf dengan baik. Ketika sedang asyik bermain2 dengan huruf plastik, tiba2 Ima menunjukkan bahwa dia mulai mengenal konsep membaca. Bermula dari huruf K-A-M-I yang gw susun. Gw bilang bahwa K-A-M-I itu dibaca ”Kami”. Ima manggut2 dan memungut huruf S, meletakkan huruf itu di belakang susunan yang gw buat:

”Kalau sekarang bacanya KAMIS ya, Bu?”

Gw takjub luar biasa! Kok bisa tahu? Siapa yang ngajarin?

Lebih takjub lagi mendengar jawabannya:

”Kami... kamiiiiisssss.. Ssssss... berarti belakangnya ditambah huruf S lagi”

Ternyata, kebiasaaan gw melafalkan kata dengan jelas masuk juga ke dalam ”prosesor” di kepalanya.. hehehe.. Dia jadi tahu membedakan huruf akhir kata.

Selanjutnya yang terjadi adalah melancarkan membaca kata. Kata IMA bisa dikombinasikan dengan N menjadi IMAN, dengan L menjadi LIMA, dan sebagainya.

Ketika Ima sudah mulai lancar membaca kata, gw kelayapan lagi ke toko buku mencari buku untuk belajar membaca. Buku2 cerita anak rata2 terlampau rumit, terlalu panjang. Untung akhirnya gw menemukan boardbook Seri Aldo. Seri Aldo ini benar2 sesuai dengan kriteria gw untuk very early reading: lembarannya tebal, satu buku hanya terdiri dari 8 halaman, penuh bergambar, tokohnya hewan yang dipersonifikasikan, dan... yang paling penting.. satu halaman hanya terdiri dari 1-2 baris kalimat saja. Sangat ideal untuk belajar membaca.

Kenapa gw anggap ideal? Secara kuantitas memang yang dibaca hanya 8 – 16 baris kalimat. Tapi.. buat seorang anak yang sedang belajar membaca, ”menyelesaikan 1 buku” lebih membanggakan dan boost their confidence daripada sekedar ”membaca 16 baris kalimat”. Gambar, warna, dan tokoh hewan yang dipersonifikasikan, membantu menjaga semangat anak untuk menyelesaikan buku itu, walaupun terjadi kesulitan2 mengeja di tengah perjalanannya. Lembaran yang tebal membantu anak supaya lebih mudah membolak-balik.

Ada 8 buku dalam Seri Aldo yang langsung gw borong. Dan hasilnya.. dalam 1 minggu Ima lancar membaca.

Setelah khatam dengan Seri Aldo, Ima tak terbendung lagi. Setiap kali ada waktu luang, dia selalu minta beli buku baru. Mulai dari Seri Mio, Cerita Kancil, Disney Princess, Hans Christian Andersen, Cerita Rakyat, semua berjejal di rak buku Ima. Tanpa terasa, gw punya pesaing baru dalam memenuhi rumah dengan buku, dan dalam mengucurkan uang ke toko buku.. hehehe..

Waktu Ima umur 5 tahun, sudah mau masuk SD, gw mulai menunjukkan koleksi Lima Sekawan yang gw simpan untuk dia. Buku pertama yang dibacanya Karang Setan, dan Ima langsung jatuh cinta pada serial ini. Saat ini, dua tahun kemudian, seluruh seri dalam Lima Sekawan sudah dibacanya. Sebagian besar sudah dibaca berulang2, dan sudah beli cetakan terbarunya yang ”kertasnya nggak kuning2 kayak buku Lima Sekawannya ibu” ;-). Sayang, buku2 Enid Blyton lainnya tidak dicetak ulang, jadi Ima nggak bisa mengenal Sapta Siaga dan Pasukan Mau Tahu.

Beberapa minggu lalu gw mulai bingung mencarikan bacaan apa lagi untuk Ima. Eeeh.. lha kok, tiba2 gw menemukan ada bukunya Agatha Christie, Membunuh Itu Gampang, ada di meja belajar Ima. Kata Mbak Pengasuhnya, Ima menemukan buku itu di rak buku gw.

Naaah.. kalau sekarang gw baru benar2 ngeri.. hehehe.. Jangan2 gw kebablasan nih membentuk minat baca Ima ;-). Gw tuh baru baca buku2nya Agatha Christie di kelas 4 SD, berarti Ima lebih cepat 2 tahun untuk sampai ke tahap Agatha Christie.

Yang bikin gw ngeri... kalau baca Agatha Christie-nya lebih cepat 2 tahun, jangan2 keinginan untuk baca ”Nick Carter” (refer to buku2 penulis yang mendompleng nama besar Nick Carter ya, gw belum pernah baca tulisan Nick Carter yang asli ;-)) juga lebih cepat. Halah! Gw sekarang pusing deh mengingat2 kapan gw baca ”Nick Carter” ;-) Seingat gw, waktu kelas III SMP buku ini mulai "digilir" di kelas gw yang isinya betina semua itu ;-). Berarti.. kalau dipercepat 2 tahun... gw harus siap2 lihat Ima baca buku yang sama di kelas I SMP dong ;-)?