Friday, March 23, 2007

Mencari Sebutir Intan

You are the bows from which your children
as living arrows are sent forth.
The archer sees the mark upon the path of the infinite

(Kahlil Gibran,  On Children)

-----------

Masa2 gw tergila2 pada Kahlil Gibran sudah lewat bersama dengan berubahnya positioning Gibran dari seorang filsuf menjadi pop icon (mirip dengan nasib Che Guevara, ya nggak Jeng Okke ;-)?). Udah bertahun2 gw males banget kalo baca petikan tulisan Gibran disana-sini. Apalagi petikan dari The Prophet (Sang Nabi) seperti On Children ini. Tapi toh, tadi malam, tiba2 petikan ini terlintas dalam ingatan gw dan membuat mata gw berkaca2.

Bukan, bukan terjadi sesuatu pada my beloved nearly-8-year-old daughter. Ima baik2 saja dan masih menjadi putri kecil gw yang manis. Tapi.. untuk ke sekian kalinya, gw harus merentangkan busur dan melepaskan satu lagi ”anak [panah] gw” terbang mencari jalannya. 

Sudah hampir 6 tahun gw bekerja di kantor yang sekarang. Selama itu, sudah 6 anak [panah] yang gw lepaskan. Anak panah yang pertama hanya bekerja di kantor kami selama 7 bulan, sebelum mendapatkan beasiswa S2 di Muenchen, Jerman. Anak panah yang kedua memang gw sarankan untuk mencari karir lain pada evaluasi akhir masa percobaannya. She has the potency to become a good researcher, however, she is much more potential to work in HR division.  Empat bulan kemudian dia memang pindah ke sebuah kantor pemasaran kecil, menangani selection & recruitment, dan tahun ini sudah menjadi HRD Manager di kantor yang sama; suatu perkembangan karir yang mungkin tidak akan secepat ini dicapainya jika tetap membaktikan diri di bidang riset.

Anak panah ketiga, keempat, dan kelima yang gw lepaskan juga membuat gw ikut bangga. Satu dari mereka direkrut oleh klien kami, sebuah multi-national company. Baru setahun menangani merek klien, dia kini ditempatkan di kantor pusat klien tersebut, di sebuah negara Eropa. Yang keempat dan kelima direkrut oleh  pesaing kantor kami, dua buah international research agency yang berbeda. Satu dari mereka kini makin mantap menapaki karirnya, sementara yang satu lagi sedang siap2 resign dari kantornya karena sudah mendapatkan beasiswa juga.

Anak panah keenam yang lepas adalah yang paling lama bekerja bersama gw. Sempat 3 tahun bekerja, ketika akhirnya diboyong sang suami ke Washington, USA. Kini memang dia sudah kembali ke Indonesia, tapi dia memilih menjadi freelancer sambil mengasuh putri mungilnya yang diproduksi di Amerika ;-)

Well.. memang perkembangan diri mereka adalah hasil dari usaha keras mereka sendiri. Bukan karena faktor pernah kerja bareng sama gw ;-) Tapi.. tak dapat dipungkiri, somehow it makes me proud.

Gimana nggak? Mereka terdampar ke tangan gw sebagai fresh graduates yang masih belum ngerti apa2 tentang dunia kerja, apalagi tentang dunia riset. Gw mengasuh mereka (eh, mungkin mengasuh bukan kata yang tepat. Lebih tepat meng-abuse, mencambuki, menyiksa.. ;-)) sampai bisa dilepas melakukan riset sendiri dengan pengawasan minimal. Bener2 gw mulai ngajarin dari awal: dari research skill yang paling dasar seperti menentukan kriteria responden, kemampuan memoderatori diskusi kelompok, bermain2 dengan berbagai projective technique, sampai bikin report. Bahkan gw selalu harus mulai mengajari dari hal yang paling, paling, mendasar: seperti memperbaiki grammatical and vocabulary error di setiap dokumen yang akan dikirim ke klien, memanfaatkan master slide pada Microsoft PowerPoint, sampai mengatur body text dan insert picture yang rapi pada Microsoft Word. Dan jangan lupa: membuat video clip dari rekaman observasi untuk menggambarkan insight2 yang menarik.

Kadang cara gw mungkin bikin mereka sakit hati, bikin mereka jengkel, paling tidak bikin mereka panik atau sedih. Gw ini memang bukan si lembut hati; gw ini si perfeksionis yang bitchy. Tapi.. lihat hasilnya! The fact that they are recruited by other company shows that they are highly qualified, doesn’t it? All their suffering and pains, it all pays.

Kini.. anak panah ke-7 harus gw lepaskan. Setelah 10 bulan gw ajari semua hal yang bisa gw ajarkan, another international research agency recruits her. Tepatnya, my ex colleague in the previous company, who now becomes the Research Manager of that international research agency, takes my newest debutante as his new Research Executive ;-)

Bangga? Sudah tentu. Sebangga responden gw bertahun2 lalu, seorang guru sekolah dasar yang sudah mengabdi lebih dari 30 tahun, ketika tiba2 bertemu dengan mantan muridnya yang sudah menjadi pilot. Sebangga mothergoose yang melihat ugly duckling-nya berubah menjadi angsa cantik. Sebangga seorang pemanah yang melepaskan anak panahnya menuju sasaran. Mereka memang bukan milik gw, dan harus selalu siap gw lepaskan. Dan gw sangat bangga bisa melepaskan mereka ke arah yang lebih baik.

Tapi itu sisi emosionalnya.. hehehe.. From business perspective, I suffer a lot. Gw kembali lagi ke titik nol; harus mencari intan yang belum tergosok di antara setumpuk batu. Dan kalaupun nanti intan itu gw temukan, gw harus menggosoknya hingga punya nilai jual. Dan harus selalu siap bahwa ketika intan itu tergosok indah, gw tidak akan pernah memakainya karena seseorang akan mengambilnya. Membelinya atau mencurinya dengan paksa ;-)

Ya suds-lah.. the life must go on. Gw harus mulai menggali2 reruntuhan batu lagi.. hehehehe..  Ada yang berminat jadi qualitative researcher? Saudara, teman, Aa, Teteh, ..? Kalau berminat, ini tawaran serius lho! Persyaratannya sebagai berikut:

1.       IPK tidak penting, yang penting punya strong analytical ability terhadap data2 kualitatif (narasi hasil wawancara, hasil observasi). Kalau Anda suka membaca, apalagi suka menulis cerita, itu salah satu ciri bahwa Anda punya strong analytical ability.

2.      Good communication skill; mampu menjalin percakapan dengan orang yang baru ditemui, terutama dengan ibu2 dan anak2. Bahasa awamnya: rame dan suka ngobrol tapi tidak ngalor ngidul ;-)

3.      Fluency in English, both oral and written. Ini wajib, karena semua dokumen dan komunikasi dengan klien dilakukan dalam bahasa Inggris. Bahkan di banyak project, presentasinya pun dalam bahasa Inggris.

4.      Lulus S1 ilmu sosial, diutamakan Psikologi. Bukannya mau eksklusif bikin gang psikologi, tapi..  memang metode pengambilan data dan analisanya banyak pakai aliran2 psikologi.

Syarat tidak resminya juga ada: berani menerima tantangan punya atasan langsung yang perfeksionis dan bitchy seperti gw. Contoh keperfeksionisan dan ke-bitchy-an gw bisa dibaca2 dari tulisan di blog ini kok! Aslinya gak banyak beda.. HAHAHAHA..

OK, kalau berminat, just drop a note at my email: mayanoto@gmail.com ya! Nanti gw kasih alamat HR Department yang menangani rekrutmen. Atau nge-drop CV sekalian juga boleh, jadi tinggal gw fwd aja ;-)

-------------

Peringatan: Tidak dijamin bahwa kalau pernah gw siksa lantas bisa direkrut oleh perusahaan multi-nasional atau dapat beasiswa ke luar negeri, apalagi dapat suami yang bakal memboyong tinggal di USA ;-) Cerita di atas adalah cerita nyata, tapi.. sumpah! Bukan gw faktor yang membawa keberuntungan itu.. hehehe..

-------------

Buat my newest debutante who will leave me soon.. I’m gonna miss U a lot, darling! But I’m happy for your big opportunity, and encourage you to reach the stars. Buat my ex colleague.. hmm.. may I kill you? HAHAHAHA..