Saturday, March 17, 2007

Dua yang Berbeda

Brief encounter gw dengan milis yang gw ceritakan di sini ternyata cukup berkesan bagi beberapa orang. Dengan demikian, walaupun gw sudah cukup lama tidak ngintip2 milis itu, apalagi posting, ada seorang teman yang bertanya mengapa gw tidak pernah lagi posting di sana. Yaah.. jawaban gw sih sama dengan alasan yang gw kemukakan dalam posting terakhir: gw merasa lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya jika posting di sana.

Kenapa lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya? Well.. di antara orang2 yang merespons posting gw, ternyata ada yang penggunaan kata2nya cukup nasty. Mungkin maksudnya tidak nasty, mungkin dalam persepsinya kata2 itu tidak harus bikin tersinggung, hanya fenomena biasa dalam suatu perdebatan. Namun, menurut gw, kata2 itu sudah cukup nasty. Dan menurut gw, kalau gw sudah bikin orang mengucapkan kata2 nasty begitu, gw juga sudah melakukan sesuatu yang bermudharat. Sementara manfaatnya belum jelas ;-) Irisan himpunan belum tentu ditemukan, belum tentu banyak orang yang belajar sesuatu dari perdebatan itu, sementara nyatanya kata2 nasty itu sudah keluar. Selain pasti bikin gw gak happy, kata2 nasty yang bertebaran mungkin bikin orang2 lain nggak happy juga. Dan gw percaya apa yang dikatakan dalam agama bahwa hendaklah semua yang kita lakukan bermanfaat, dan hendaklah menghindari sesuatu yang bermudharat.

Teman gw menganggap alasan gw itu tidak logis. Singkatnya, gw dianggap menggunakan Tuhan sebagai tameng dari ketidakberanian gw posting. Kurang lebih dikatakan bahwa gw tidak logis, karena gw menganggap bahwa “Tuhan berkehendak” gw menghentikan posting2 gw.

Nah.. gw jadi bingung deh.. hehehe.. Karena memang gw tidak melacurkan nama Tuhan di sini ;-) Gw tidak menganggap gw berhenti posting demi menuruti “kehendak Tuhan”. Gw pikir Tuhan terlalu agung untuk ngurusin hal2 seremeh temeh ini. Tuhan punya banyak urusan lain yang lebih penting daripada menghendaki gw berhenti melakukan perilaku2 kecil tertentu ;-).

Well.. gw ngerti alur berpikirnya teman gw tersebut. Sebagai orang yang sangat mengutamakan logika, dan sama sekali a big no-no kalau menyangkut kepercayaan, tidak heran jika dia menganggap logika dan kepercayaan adalah dua hal yang bertentangan. Kalau gw bicara tentang mudharat dan manfaat, itu artinya gw tidak logis dan punya kepercayaan fanatik. Bahwa kalau tidak bersandar pada apa yang dimiliki oleh manusia (baca: logika), maka dia menggantungkan semua pada suatu kekuatan [yang menurut dia] fiktif. Tentu, sulit buat dia melihat bahwa gw sedang memadukan kedua unsur ini: bahwa keputusan itu mutlak tanggung jawab gw, diambil secara logis berdasarkan perhitungan gw. Konsep agama (dalam hal ini mudharat-manfaat) hanyalah sebuah dasar yang gw gunakan untuk memutuskan sesuatu. Jadi, keputusan gw bukan lantaran kehendak Tuhan, melainkan merupakan interpretasi gw terhadap petunjuk yang diberikan Tuhan.

Contoh gampangnya bisa menggunakan analogi berikut ini: gw dan bapaknyaima mengajarkan Ima untuk mau berbagi serta menolong orang lain. Waktu ada bencana tsunami Aceh, Yogya, dll, gw ajak Ima menyumbangkan uang ala kadarnya untuk korban bencana. “Kehendak” (atau lebih tepatnya harapan) gw dan bapaknyaima adalah: Ima bisa punya rasa tepa selira pada orang lain, mau membantu orang lain. Kalau beberapa bulan kemudian Ima memilih tidak jajan seharian karena memasukkan seluruh uang sakunya dalam kotak amal di sekolah, tentu itu “bukan kehendak” gw.. ;-) Itu mutlak interpretasi Ima terhadap apa yang kami ajarkan. Kalau maunya gw, nggak perlu sampai mengorbankan diri untuk menolong orang lain. Uang saku yang gw berikan cukup untuk dibagi dua: sebagian untuk makan siang, sebagian untuk amal. Uang saku itu juga gw berikan dalam bentuk pecahan yang mudah dibagi dua. Tapi.. nggak salah juga jika Ima kemudian punya interpretasi sendiri tentang apa yang diajarkan orang tuanya. Dan nggak salah jika kemudian dia mengatakan bahwa perilaku itu didasari pada “ajaran” orang tuanya untuk membantu orang lain.

Demikian juga dengan keputusan gw ;-) Tuhan memberi pedoman tentang apa yang harus dilakukan oleh manusia dalam bentuk ajaran2 agama. Tapi Tuhan tidak memberikan juklak dan standard operation procedure kaku yang tidak boleh kita ubah. Penerapan, pada akhirnya, selalu kembali pada interpretasi masing2 manusia. Pada logika dan intuisi manusia. Mendasarkan pertimbangan pada kata2 Tuhan tidak berarti lantas free of logic sama sekali. Dan sebaliknya, kali yeee, menjadi logis tidak berarti sama sekali stay away dari suatu kepercayaan pada Kekuatan Besar Tak Terbatas ;-).

Teman gw itu masih memberikan argumen lain: tapi, darimana kamu menilai bahwa pemahamanmu tentang manfaat-mudharat dari apa yang kamu lakukan itu bisa digeneralisasikan pada semua member? Ini kan penilaian pribadimu saja bahwa apa yang kamu lakukan lebih banyak mudharat daripada manfaatnya? Bukan perhitungan akurat.

Well.. untuk yang ini, gw juga bingung mesti jawab apa.. hehehe.. Karena, menurut gw, memang tidak mungkin pendapat gw itu sama dengan seluruh anggota. Dan tidak penting buat gw untuk mencari tahu berapa akurasinya ;-) Ini memang masalah pribadi gw kok! Yang bertanggung jawab penuh terhadap apa yang gw lakukan tuh gw sendiri kok! Bukan orang lain, bukan Tuhan ;-) Jadi, kalau menurut gw sudah ada potensi merugikan, sah2 aja buat gw mengambil keputusan sepihak untuk berhenti. Ukurannya memang sulit dijabarkan dengan logika, murni perasaan dan intuisi (yang mungkin bahkan bercampur dengan persepsi pribadi). Tapi selama ini gw percaya bahwa hati gw belum kena collateral damage parah ;-) Hati gw masih bisa gw andalkan untuk membantu otak membuat keputusan ;-).

Hehehe.. mungkin ada beberapa orang yang bakal menggerutu baca tulisan kali ini. Mungkin gw akan dianggap tidak konsisten: kemarin2 bilang nilai dan persepsi manusia itu beda2 dan harus dipahami, dan sibuk menganjurkan untuk tidak menilai perilaku manusia dari batasan2 kita sendiri.. eeeeh, hari ini malah bikin pengakuan terbuka bahwa gw dengan semena2 membuat keputusan berdasarkan penilaian gw sendiri ;-). Well, nggak papa juga kalau ada anggapan demikian. Tapi.. kalau boleh menjelaskan, mungkin prinsip gw bisa dikemukakan dalam dua poin saja:

  1. Dalam kerangka mengambil keputusan untuk diri sendiri, maka kita harus selalu kembali pada penilaian diri kita sendiri. It’s okay jika perhitungan kita tidak akurat, selama kita memiliki niat baik dan mempertimbangkannya masak2. Ketidakakuratan itu bisa diperbaiki, namun niat adalah awal dari segalanya.
  2. Dalam kerangka memberi penilaian pada orang lain, maka sebaiknya jauhilah menggunakan penilaian2 pribadi kita. Setiap orang punya kisah sendiri2, dan apa yang terjadi/dilakukannya sekarang tidaklah terlepas dari jalinan kisah hidupnya. Cobalah pahami dia sebagai dia, bukan sebagai kita, dengan demikian kita bisa menghindari keburukan2 yang mungkin terjadi akibat pemaksaan nilai pada konteks yang tidak tepat.

Hmm.. sebentar! Kok gw deja vu sendiri baca tulisan gw kali ini.. HAHAHAHA.. Dalam bahasa yang berbeda, dan titik tolak yang berbeda, mungkin tulisan yang mirip pernah dikemukakan oleh seorang teman lama. Kurang lebih kutipannya begini (gw ambil dari epilognya aja ya.. males go through the whole book lagi, karena penuh dgn teori ;-)):

Pada tataran praktis dan operasional, rasionalitas manusia mewujud sebagai keragaman cara berpikir manusia yang tertuang dalam konsep-konsep rasionalitas... Mengingat masing-masing konsep memiliki alasan yang kuat dan masuk akal, maka dapat dipahami bahwa rasionalitas manusia sebagai usaha untuk memahami realitas lebih luas dari batasan yang sudah dikemukakan masing-masing konsep itu. Dengan rasionalitasnya, manusia dapat memahami realitas, termasuk memahami beragam pendapat yang berbeda dengan pendapatnya sendiri.

Manusia memiliki kehendak bebas, dan dengan kehendak bebasnya ia menentukan dirinya sendiri, termasuk di dalamnya menentukan tingkah lakunya dan cara-cara memahami dunia. Kehendak bebas manusia sebagai dasar bagi kreativitas dan perkembangan peradaban manusia memungkinkan manusia menemukan banyak alternatif dalam hidupnya dan memilih alternatif yang ia inginkan sesuai dengan kehendak bebasnya.

Kesadaran adalah sebuah fakultas mental pada diri manusia yang memberikannya kemampuan untuk memahami realitas dan berkehendak bebas yang memungkinkan adanya penafsiran terhadap realitas.

Unsur utama kesadaran adalah (a) rasionalitas dan (b) kehendak bebas. Keduanya bekerja secara sinergis dan simultan, saling memengaruhi menghasilkan suatu fungsi operasional metakognitif untuk mengatur proses pemahaman terhadap realitas.

(B. Takwin, 2005, Kesadaran Plural: Sebuah Sintesis Rasionalitas dan Kehendak Bebas, hal 238. Baca review di sini)

Iya.. gw tahu, kutipannya tidak sama persis dengan ide yang gw jabarkan. Dia bicara tentang rasionalitas dan kehendak bebas, gw bicara tentang logika dan kepercayaan. But somehow gw ngerasa kedua hal ini paralel. Oleh karena itu, gw merasa logika dan kepercayaan itu juga bekerja secara sinergis dan simultan, saling mempengaruhi menghasilkan suatu fungsi operasional metakognitif untuk memahami (yang gw samakan dengan menilai) realitas di sekitar kita.

So, it’s all up to us.. bagaimana kita memadukan dua hal yang berbeda, yang seolah2 terpisah, namun sebenarnya ada dalam diri kita dan saling melengkapi. Itu tugas kita untuk memadukan keduanya dan memberikan manfaat yang sebanyak2nya dan meminimalkan mudharatnya bagi diri sendiri dan orang di sekitar kita.

--------------------

PS: Special thanks to ipra yang mengingatkan gw mengenai buku itu ;-)