Thursday, March 15, 2007

Kompromi

Ketika mendapat titah menghadiri pertemuan tahunan Esomar bersama seorang kawan, gw seneng banget! Gw bukan orang yang takut pergi sendiri, apalagi cuma ke KL yang sepelemparan batu dan masih serumpun. Apes2, kalau gw nyasar, salah satu bahasa yang gw kuasai masih memungkinkan gw untuk nanya orang di pinggir jalan ;-). Tapi.. gw seneng, karena the idea of having someone to talk before bed time in a foreign country terdengar asyik. Setidaknya, gw akan punya teman bertimbang.

Dan benar! Memang enak punya teman berbagi kebingungan ketika low cost carrier yang kami tumpangi ternyata tidak mendarat di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) yang nyaman. Ternyata, bandaranya berbeda, sementara "petunjuk dari atas" adalah harus naik kereta ekspres ke KL Central yang cuma ada di KLIA.

Senang juga ada teman bertimbang harus jual US$ berapa untuk "menyambung hidup" di KL tanpa resiko "dicemberutin orang finance". Menyenangkan sekali punya teman "kabur" ke Batu Caves, Selangor, lantaran gak ada lagi yang bisa dilihat di KL sementara "hari masih sore" ;-)

Dan yang paling menyenangkan: gw punya kalkulator hidup yang selalu siap mengoreksi kurs acak-adul gw ;-) Hehehe.. maklum, sebagai qualitative research specialist, gw nggak gitu seneng ngitung2. Gw cenderung pakai plafon atas, kalau RM 1.80 gw itung RM 2, dan pakai Rp 3,000 untuk kurs yang cuma Rp 2,650. Bayangkan betapa melesetnya perhitungan kurs gw kalau nggak ada my beloved friend yang quantitative researcher ini ;-)

Tapi.. ternyata, pergi berdua juga membuat gw harus belajar kompromi. Belajar ngambil titik tengah dari dua orang yang orientasi dan persepsinya berbeda.

Kompromi pertama adalah tentang bagaimana menghabiskan waktu senggang. Teman gw lebih senang menghabiskan waktu di mal yang bertebaran di sekitar tempat menginap kami. Keluar masuk toko, cari toko sepatu Vincci yang asli Malaysia untuk oleh2, dsb.

Gw? Well.. ide gw menghabiskan waktu luang di tempat asing adalah: menyelami kehidupan penduduk lokal. Ini hal yang diajarkan Bapak sejak dulu: perjalanan ke luar negeri adalah kesempatan untuk mempelajari perbedaan budaya, jadi habiskanlah waktu di tempat penduduk lokal, bukan di tempat turis. Public transportation dan supermarket/pasar selalu menjadi pilihan utama Bapak untuk mempelajari tempat baru.

Hal ini masih gw lakukan sampai sekarang. Entah di Manchester, UK yang dingin berkabut, Wellington, NZ yang friendly penuh biri2, sampai Ende, Flores yang kecil mungil, kelakuan gw sama: naik kendaraan umum putar2 kota dan mengunjungi supermarket/pasar.

Nah.. berangkat dari Indonesia gw sudah ngebayangin mau naik monorail sampai capek. Dari monorail mau pindah kereta Putrajaya, dan kereta2 lain yang ternyata banyak banget di KL (sistem transportasi KL tampaknya dibangun swasta, masing2 punya daerah sendiri, jalur sendiri sehingga agak belibet. Mirip jalur Trans Jakarta ;-)) Tapi.. apa boleh buat, kata temen gw ide gw terlalu aneh dan melelahkan. Buat dia monorail itu fungsional, sekedar untuk bawa kita dari satu tempat ke tempat lain. Jadi.. gw terpaksa kompromi deh ;-) Hanya naik monorail sejauh tempat mal yang menarik berada ;-). Gw nggak sepenuhnya putar2 kota, tapi teman gw juga nggak kehilangan kesempatan nge-mall ;-)

Kompromi kedua adalah masalah makan. Gw tidak terlalu pingin menghabiskan sangu (=uang saku) gw buat jajan. Untuk makan gw cenderung cari food court terdekat, hawker terdekat, atau junk food retail terdekat ;-) Sementara teman gw lain lagi! Buat dia, jalan2 tuh harus dinikmati dengan makan yang enak. Cari restoran top yang masakannya enak.

Nah, buat yang ini komprominya agak susah sih. Untuk memilih restoran aja kita butuh waktu lamaaaaa banget! Untuk tiap pilihan gw, dia gak cocok rasanya. Untuk tiap pilihan dia, gw gak cocok harganya.. HAHAHAHA.. Sampai akhirnya kita cap-cip-cup aja milih restoran. Yang ada bikin dua2nya bete: udah harganya mahal, rasanya nggak enak ;-) Untungnya, sarapan pagi di hotel kami uenak tenan, jadi kami sarapan banyak2 biar gak terlalu lapar siangnya ;-) Trik turis banget yaks?

Kompromi ketiga adalah soal beli oleh-oleh. Secara kami perginya berdua, kami mau beli oleh2 patungan untuk seluruh kantor. Nah.. ternyata ini nggak sesederhana yang kami pikir, karena kami punya persepsi berbeda tentang oleh2.

Buat gw, yang penting oleh2 tuh ada keunikan dari tempat yang gw datangi. Nggak perlu mahal, nggak perlu hebat, asal benar2 mencerminkan tempat yang kita datangi. Makanya, pilihan gw adalah gantungan kunci. Harganya nggak seberapa (apalagi belinya di Petaling Street yang pusatnya pedagang kaki lima) tapi menurut gw sudah memadai.

Sementara, teman gw gak enak membelikan anak2 kantor suvenir masal gitu. Dia ngerasa nggak pantes memberikan itu. Ngerasa pelit banget, nggak menghargai teman, karena harganya murah. Jadi.. kami agak lama berdebat soal pro-kontranya beli gantungan kunci.

Well, akhirnya dapat kompromi juga sih! Kami patungan beli gantungan kunci untuk seluruh kantor KECUALI untuk bos dan rekan se-tim masing2. Sama2 enak deh ;-) Walaupun dia tetap critical pada pilihan oleh2 gw untuk researcher se-tim: tempat surat kecil berbentuk Twin Towers yang [masih] terlalu masal untuk dia. Tapi gw cuek aja.. hehehe.. lha wong bapaknyaima dan Ima aja cuma gw belikan beberapa kaos kok ;-) Produksi Petaling, lho ya.. hehehe.. bukan kaos Hard Rock Cafe KL seperti yang dibelikan teman gw untuk pacarnya ;-)

*Gw ngelesnya gini: iya, soalnya loe masih pacaran, jadi masih ngebeliin kaos Hard Rock. Kalo udah nikah 9 tahun kayak gw ntar pasti loe belinya kaos turis gini juga ;-).. tentu aja dibales dengan pelototan geram.. HAHAHAHA.. *

Anyway.. selain belajar berkompromi dengan orang lain, ternyata perjalanan ini juga membuat gw berkompromi dengan ketidakidealan keadaan Jakarta.

Selama ini, gw sibuk dengan persepsi bahwa Jakarta adalah kota paling amburadul. Macet dimana2, rambu jalan yang tidak berfungsi, kendaraan umum bobrok, jalanan banjir, dan seterusnya. Gw berpikir tidak ada kota separah Jakarta; even di Asia Tenggara pun benchmark gw adalah Singapura yang rapi jali dan tertib. Terakhir kali gw menginjakkan kaki di KL memang tahun 90-an awal, jadi udah nggak update lah pengetahuan gw tentang KL! Gw cuma berasumsi bahwa KL sudah jadi mirip Singapura, lantaran banyak TKI dan TKW kerja di sana.

Ternyata.. KL lebih mirip Jakarta daripada Singapura. Motor2 berhenti di depan lampu lalu lintas, lampu penyebrangan yang tidak berfungsi (hehehe.. gw & teman gw sempat sekitar 10 menit nunggu dengan tertib lampu penyebrangan hijau menyala, sebelum kami sadar lampunya rusak ;-)). Memang KL lebih bersih daripada Jakarta, tapi tidak lebih rapi dan jelas tidak lebih tertib daripada Jakarta. Lebih menarik lagi: pulang dari pertemuan di Shangri-La, kami nggak bisa nyebrang karena.. jalanannya banjir! Memang sih banjirnya nggak seberapa, cuma semata kaki, tapi cukup bikin besar hati karena ternyata kita [Jakarta] tidak sendiri ;-).

Waktu gw cerita tentang 'temuan' terbaru gw pada bapaknyaima, komentarnya cuma: "Baguslah! Berarti kamu mesti sering2 ke tempat yang tidak perfect biar lebih sabar sama keadaan di Jakarta"

Hmm.. gw jadi ingat analisa iseng2 kami beberapa bulan lalu ketika menemukan data kuantitatif bahwa konsumen kelas menengah ke bawah rata2 menggemari acara Crime News (baca: Buser, Patroli, dll). Kami berasumsi bahwa tontonan ini membuat mereka bersyukur, karena ternyata ada yang lebih susah daripada mereka. Ternyata.. bener juga! Melihat kota yang mirip2 Jakarta aja bikin gw langsung merasa lebih enak, apalagi kalau lihat kota yang lebih parah daripada Jakarta ya?

Yaah.. kita sering lupa bersyukur atas apa yang sudah kita punya. Maunya ngeluuuh terus. Nggak puaaas terus. Sampai kita ketemu bahwa ternyata masih ada yang lebih parah daripada kita.

OK! Kalau gitu gw bikin daftar kota2 yang harus dikunjungi untuk bikin gw bilang thank God, I live in Jakarta ;-) Kota apa ya? Bangkok? Ho Chi Minh City? Phnom Penh? Hehehe.. Kalau udah nemu kotanya, cari penyandang dana aaah.. ;-)
-----
PS: Ohya, mau bilang special thanks to Mbak Wiet yang udah repot2 cariin informasi hotel dan transportasi di KL. Makasih lho, Mbak, infonya berharga banget ;-)