Saturday, September 08, 2007

The Only Reality of War

Gw sudah lupa berapa lama gw menunggu untuk bisa membaca tulisan Duong Thu Huong. Yang gw ingat, gw pertama kali mendengar namanya dalam sebuah acara di perpustakaan The British Council, bertahun2 lalu. Ada bukunya (dalam bahasa Inggris) di perpustakaan itu, tapi gw nggak berhasil mendapatkan karena termasuk high on demand ;-) Baru bulan lalu akhirnya gw bisa baca terjemahannya, Novel Tanpa Nama, yang diterbitkan oleh Indonesia Tera. Agak terlambat untuk dibahas sebenarnya, karena novel ini sudah dicetak untuk pertama kali tahun 2004 lalu. Tapi gw yakin gak basbang ;-)

Novel ini berkisah tentang Perang Vietnam dari sudut pandang seorang prajurit Vietnam Utara, Quan. Sebuah sudut pandang yang berbeda dari berbagai cerita Perang Vietnam yang muncul dari sisi prajurit Amerika (biarpun menurut gw Born on the 4th of July juga sebuah penceritaan bagus, despite ketidakgantengan Tom Cruise di situ, but.. surprisingly, justru gw paling suka sama Tom Cruise di film ini ;-)), atau sudut rakyat Vietnam Selatan (ingat film Heaven & Earth nggak?).

Tapi bukan sudut pandangnya yang berbeda saja yang membuat buku ini bagus. Cara penceritaannya dan penangkapan emosi2nya bagus sekali.

Ceritanya sebetulnya sama sekali tidak runtun dan mengalir, lebih berupa fragmen2 pengalaman Quan. Terpisah2 sekuens-nya, dan setiap fragmen nggak panjang. Tapi Duong berhasil menangkap fluktuasi emosional pada setiap fragmen itu, dan.. merangkaikan menjadi sebuah cerita panjang dengan mulus. So.. dari awal sampai akhir membaca buku ini, gw merasa seperti diajak menaiki emotional roller coaster, dimana emptiness menunggu pada akhir perjalanan.

Salah satu fragmen menarik terjadi ketika mereka, kompi dimana Quan adalah salah satu prajuritnya, untuk pertama kali menyantap sup orang utan. Sesuatu yang digambarkan Duong sebagai hidangan yang mengerikan.

Selama beberapa bulan berturut-turut kami lupa rasa daging itu seperti apa. Di kaki Gunung Carambola, kami membunuh dua kambing liar. Kemudian kami tidak menemukan apa-apa dalam waktu yang lama. Selama delapan minggu yang kami makan hanya nasi dengan sedikit garam, cabe, dan sup akar. Dan karenanya sejak itu orang mulai berburu monyet.

Pada hari pertama perburuan mereka membunuh seekor orang utan. Saat itu, hanya lima pemburu dan seorang juru masak yang berani mencoba sup orang utan. Tetapi pada waktu berikutnya, jumlah berlipat ganda, dan setelah itu setengah kompi ikut berpesta. Segera saja semua ikut ambil bagian. Seluruh pasukan pergi berburu orang utan. Kecuali aku.

Tidak lama kemudian mereka tidak puas hanya dimasak sup. Mereka membuat makanan lain, seperti salad monyet dan masakan daging monyet cincang..

(hal. 9)

Sederhana ya? Tapi menurut gw kuat sekali penggambaran fluktuasi emosinya: betapa kelaparan delapan minggu membuat mereka berani mencoba makan binatang yang [seperti dikatakan Duong pada paragraf sebelumnya] "memiliki kemiripan luar biasa dengan manusia.. Di atas itu semua, tangan mereka halus dan putih seperti tangan anak usia dua tahun

Mengerikan, betapa dari yang hanya lima orang yang ‘tega’ mencoba, lantas seluruh kompi seakan berlomba. Bahkan menunjukkan kreativitas untuk mengolahnya menjadi makanan lain. Gw membayangkan.. betapa tipisnya batas antara memakan binatang yang bertangan halus dan putih seperti anak berusia dua tahun, dengan memakan anak berusia dua tahun yang bertangan halus dan putih. If only they found such a two-year old..

Ada juga fragmen lain yang juga sangat berkesan buat gw. Tentang Quan yang kehilangan Hoa.

“Apakah dia sudah menikah?”

“Oh, tidak, itu terlalu menggembirakan.. Kasihan perempuan itu. Di akhir tahun ia hamil. Tak seorang pun yang mau mengakui anak itu. Ia menolak mengadukan siapa ayah bayinya. Karena merasa malu, orang tuanya mengusirnya dari rumah mereka. Ia berlindung di sebuah gubuk tua di sebelah sana..”

Aku tidak tahu Hoa adalah milikku. Tetapi ia adalah satu-satunya yang aku cintai selama masa mudaku.

..

.. Aku menunggu sampai ia menumpahkan semua tangisnya, menuangkan semua rasa sakitnya selama seputuh tahun terakhir ini. Waktu berlalu diiringi rintihan serangga yang berbunyi nyaring, suara sungai yang gaduh. Kuusap air matanya

.. Aku berusaha menenangkannya, “Tolong janganlah menangis lagi. Kita bukan anak-anak lagi. Aku pergi ketika aku berumur delapan belas tahun. Sekarang aku dua puluh sembilan tahun. Rambutku bahkan sudah mulai beruban

..

“Ini bukan salah kita.. Bukan salahmu. Atau aku..”

..

Apa yang akan kulakukan hari berikutnya? Akankah aku kembali ke sini lagi, secara sembunyi-sembunyi, di saat senja kala! Aku bisa saja menghindari orang-orang di desa, tetapi aku tidak bisa melepaskan suara hatiku. Esok pagi aku tidak mencintainya seperti sekarang ini. Perut buncit ini mengingatkanku pada laki-laki lain. Impian indah yang dulu membuat kami saling terikat satu sama lain telah mati.

(hal. 157 – 168)

Pada akhirnya, perang itu hanya membuat semua impian mati. Even when you win, you lose. Seperti Quan yang kehilangan cintanya, bukan karena salah siapa2, tapi karena tak sanggup lagi mencintai Hoa. Dan salahkah Hoa jika kehilangan seluruhnya? Hell, we don’t even know apakah sepuluh tahun yang panjang itu membuat dia tergelincir ke pelukan pria lain, atau dia sekedar casualty of war yang (mungkin seperti banyak gadis2 di masa perang) diperkosa oleh orang yang bahkan tak dikenalnya?

The winner takes it all, itu kata ABBA. Tapi itu tampaknya tidak terjadi dalam perang. Dalam perang, the winner [does not always] take it all. Akhir sebuah perang, mungkin lebih cocok digambarkan oleh lagu yang dinyanyikan Martika, Toy Soldiers:

Only emptiness remains
It replaces all, all the pain

That, I guess, is the only reality of war.

Itu tampaknya yang ingin disampaikan oleh Duong Thu Huong dalam bukunya yang benar2 menguras emosi. Atau seperti yang dituliskannya pada buku yang lain (yang tak sabar ingin gw baca), yang dijadikan teaser di cover belakang "Novel Tanpa Nama": Di negeri kami, 25 tahun setelah perang, tak kunjung terdengar alunan piano menelusup lewat jendela,..

BTW, sepanjang membaca cerita itu, gw sempat berpikir bahwa Duong Thu Huong itu laki2. Ternyata.. dia itu perempuan. Satu nilai lebih lagi buat Duong! Menurut gw, luar biasa sekali seorang perempuan bisa membuat penokohan [fiktif] laki2 yang begitu kuat; seperti yang dilakukan Duong terhadap tokohnya, Quan. She must be a wonderful woman. Walaupun tak sama sejarahnya, Duong mengingatkan gw akan another wonderful woman: Aung San Suu Kyi.

Seperti Suu Kyi, Duong juga dijebloskan ke penjara oleh pemerintah Vietnam. Tuduhannya adalah mengirimkan dokumen berisi “pesan rahasia”, hanya karena telah mengirimkan manuskrip novel ini. Dia dijebloskan ke penjara setelah [seperti dituliskan dalam kata pengantar] “menghabiskan tujuh tahun masa mudanya di garis depan perang Vietnam, melawan keletihan, wabah, bencana dan putus asa, tinggal di relung-relung gua, pekat belantara dan bunker-bunker pengap bawah tanah, memimpin sebuah pasukan Brigade Pemuda Komunis demi sebuah kekuasaan, yang kini setelah perang dimenangkan, justru menyekapnya.. “

Yup! We can never win the war, can we?

----

Catatan: ohya, biasanya gw gak demen baca terjemahan. Tapi sekali ini terjemahannya enak banget buat dibaca. Nggak heran, sebab yang menterjemahkan ternyata adalah Sapardi Djoko Damono. Hehehe... tulisan2nya SDD selalu bisa bikin gw “leleh”.. ternyata terjemahannya pun tak kalah dari karya2 SDD sendiri ;-)