Monday, September 17, 2007

He Ain't Heavy, He's My Son

Gw baru menyadari suatu hal yang lucu tentang fairy tales: sedemikian banyak fairy tales klasik, namun.. ternyata hanya ada satu yang mengangkat tema parents’ unconditional love towards their child. Dan yang lebih lucu lagi.. satu2nya fairy tale yang mengangkat tema ini bukanlah bercerita tentang ibu dan anak, melainkan.. bapak dan anak.

Lho.. apa yang terjadi dengan semua pepatah ”Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepenggalan” dan ”Surga di bawah telapak kaki ibu” ;-)?

Ya, cerita yang mengangkat tema unconditional love ini, amazingly, adalah cerita tentang seorang ayah yang begitu mencintai anaknya. Tak perduli bahwa anaknya berkali2 mengecewakan dia. Ada yang bisa menebak?

Yup! I’m talking about Pinocchio ;-)

Pasti semua udah pernah dengar doooong, cerita tentang Pinokio? Tapi nggak ada salahnya kalau gw ceritakan lagi ya! Mungkin biar singkat, pinjam aja opening song Operet Pinokio dari Sanggar Shangrila pimpinan Ny Tanzil; sanggar yang nge-top abis akhir dekade 70-an sampai awal 80-an (yang penasaran ama lagunya, monggo di-download aja sendiri di sini. Awas, barang bajakan ;-))

Suatu hari sunyi sepi dan sendiri
Gepeto tua buat boneka lucu
Bukan dari besi, plastik, atau blacu
Tetapi hanya dari sepotong kayu

Dia dapat kaki, tangan, hidung, mata
Tampangnya nakal, lucu, amat jenaka
Sayanglah sayang, dia hanya boneka
Tidak dapat diajak bercanda-canda

Peri Biru datang dengan tiba-tiba
Mengabulkan doa Pak Gepeto tua
Boneka jadi hidup dan berbicara
Semua jadi senang dan bahagia

Reff: Pinokio, Pinokio
Boneka kayu yang lucu
Pinokio, Pinokio
‘Ku sayang, cinta padamu

Ini awal cerita bagaimana Gepeto menciptakan Pinokio dari sepotong kayu. Untuk menemaninya, karena dia hidup sebatang kara. Gw bayangkan Gepeto menuangkan segenap cinta pada boneka yang dibuatnya; kaki, tangan, hidung, mata.. semua carefully measured and designed to portray the perfect image.

Maka, menjadi anugerah luar biasa ketika Peri Biru menghidupkan boneka itu. Pinokio bukan lagi menjadi sekedar boneka lucu, tapi menjadi seorang anak. Biarpun penampilannya tak sempurna, bukan dari daging dan darah, namun ia adalah anak yang hidup. And Gepeto loves his son so much, despite all his unideal condition.

Namun Pinokio nakal sering tergoda
Bolos sekolah tak mau dengar kata
Berpetualang mencari kesenangan
Akhirnya hanya mendapat kemalangan

Rasanya Ny Tanzil memang nggak adil nih, memberikan hanya 1 bait untuk menceritakan the bulk of the story ;-)

Ya, inti ceritanya di sini, kan? Semua orang tentu ingat bagaimana Pinokio bolos sekolah dan menggunakan uang pemberian ayahnya untuk menonton pertunjukkan Boneka Stromboli. Hingga akhirnya ditangkap dan dikurung oleh Pak Stromboli, dan nggak akan bisa lepas jika saja Peri Biru tidak muncul.

Semua orang tentu ingat bagaimana Pinokio mencoba berbohong pada Peri Biru, tidak mau mengakui kesalahannya. Dan semua orang tentu ingat akibat kebohongan itu: hidung Pinokio memanjang. Terus memanjang hingga Pinokio minta ampun dan mengatakan yang sebenarnya.

Semua pasti ingat itu kan?

Tapi sebenarnya ada sisi lain dari cerita itu yang tak kalah menariknya: bagaimana Gepeto tua menyisihkan uang yang nggak seberapa untuk membiayai Pinokio ke sekolah. Bagaimana cemasnya Gepeto tua ketika Pinokio nggak kunjung pulang sekolah. Dan bagaimana leganya Gepeto tua ketika Pinokio akhirnya muncul di rumah kembali setelah semalaman terkurung di belakang panggung Stromboli.

Uang yang hilang tak dipikirkan oleh Gepeto, yang penting anaknya kembali dengan selamat. So deep is his love :-)

*Catatan: oh, kalau yang begini nggak kepikiran, jangan kecil hati. Dulu2 gw juga nggak kepikiran kok.. hehehe.. baru kepikiran setelah jadi ibu dan punya anak sendiri; baru sadar bagaimana sedih dan galaunya Gepeto waktu Pinokio nggak pulang2. Kalau jaman kecil dulu sih gw juga lebih tertarik sama cerita tentang hidung memanjang itu. Malah punya ide untuk rajin berbohong, biar... MANCUNG ;-). Ide ini, tentu saja, disambut Ibu dengan pelototan mata ;-)*

Akhirnya ia insyaf dan jadi jera
Menjadi anak baik dan terpercaya
Peri Biru pun berkenan di hatinya
Pinokio menjadi anak manusia

Akhir kisahnya, tentu semua orang juga ingat. Pinokio memang insyaf dan jera. Menjadi anak yang berbakti pada ayahnya; dengan bersedia mengorbankan jiwa untuk menolong Gepeto yang ditelan ikan paus.

Tapi jera ini muncul setelah sebuah titik balik yang luar biasa: Pinokio, lagi2, tergoda untuk meninggalkan sekolah dan pergi ke Negeri Kesenangan. Tempat dimana ia bisa puas bermain. Dan lagi2, Peri Biru harus turun tangan menolong setelah Pinokio berubah menjadi separuh keledai atas kebodohannya sendiri.

Ohya, gw tahu bahwa moral of the story yang disetujui adalah perkembangan diri Pinokio: dari seorang anak selfish yang kemudian cukup punya integritas untuk mengorbankan diri demi menyelamatkan ayahnya. Suatu perjalanan menuju kedewasaan yang luar biasa.

Cumaaa... gw jadi lebih tertarik pada apa yang dilakukan Gepeto, yang menjadi jalan pendewasaan Pinokio itu.

Gepeto, setelah dikecewakan sedemikian rupa oleh Pinokio, tetap menunjukkan cintanya pada si anak. Saat Pinokio tak pulang2, ia berangkat mencari putranya. Menyeberangi lautan luas hanya dengan rakit sederhana, demi menyusul sang putra yang ”lupa diri”. Gw nggak tahu pasti apakah Gepeto ini adalah inspirator The Hollies, tapi apa yang dilakukannya mengingatkan gw pada syair lagunya yang terkenal: ”He ain’t heavy, he’s my brother son.

Seburuk2 apa yang dilakukan Pinokio, yang tersisa bagi Gepeto hanya rasa cinta dan sayang. His welfare is my concern. No burden is he to bear. We’ll get there, for I know he would not encumber me..

***

Satu pertanyaan tersisa: dan jika kemudian Pinokio menjadi anak manusia.. masihkah kita melihatnya sebagai reward buat pencapaian kedewasaan Pinokio? Atau.. mungkinkah itu merupakan reward bagi unconditional love yang ditunjukkan Gepeto?