Saturday, September 01, 2007

Indonesian Idle: The Result Show

Saya mengenalnya 3 tahun yang lalu. Setelah bertukar kata di secondary blog miliknya, tiba2 saja muncul Add Friend Request di Friendster saya. Rupanya dia mendahului saya melacak apa dan siapa lawan bicaranya ;-) Sejak itu pertukaran kata berlanjut di kanal maya lainnya; mulai Friendster message, surat elektronik, YM, dan akhirnya SMS. Dari situ terungkap bahwa kami bagaikan botol ketemu tutup; yang satu a novelist-wanna-be, sementara yang satunya can’t resist the temptation to play editor (and play Grammar Nazi, dan bermain peran sebagai Polisi EYD ;-)).

Segera muncul pertanyaan, “Mau nggak tolong bacain bakal novel gw?” yang tentu saja saya sambut dengan senang hati.

Draft novel solo pertamanya yang ditunjukkan kepada saya berjudul Perjalanan Keyla(c). Terus terang, saya penggemar cynic lit atau gloomy lit, bukan chick lit atau teen lit, jadi sebenarnya saya tidak terlalu yakin akan mampu mengomentari draft novel itu dengan sepantasnya. Tapi saya terkejut melihat isi novelnya; walaupun gaya penulisannya chicklit banget, tapi konfliknya khas university of life banget! Beda sekali dengan chicklit2 yang pernah saya baca.

Dan sejak itulah ia menjadi salah satu penulis favorit saya ;-) Walaupun draft novel perdana itu saya kembalikan dengan beberapa catatan mengenai profil psikologis tokoh2nya.

Saya pikir ia sakit hati dengan “celaan” saya pada draft novel solo perdana itu. Tapi.. ia malah mengirimi saya draft novel solo yang lainnya; From Damai with Love(c) Sama dengan sebelumnya, novel ini sarat kandungan university of life-nya, tapi ditulis dengan gaya penceritaan yang handal.

Setelah itu cukup lama ia tidak mengirimkan draft novel apa pun. Malah tiba2 di toko buku muncul novel kolaborasinya dengan Ninit Yunita, berjudul Kamar Cewek(c). I thought it was the end of my editorial career.. hahahaha.. Tapi dengan senang hati saya membeli dan membaca novel itu, serta memberikan komentar (eh.. maksud saya: celaan ;-)) via email. Demikian pula kasusnya ketika novel adaptasi pertamanya terbit, Cinta Pertama. Kritik agak pedas saya layangkan padanya, seperti tertulis di entry ini.

Tapi memang anak ini rupanya keras kepala.. hehehe.. atau mungkin dia agak masochist dan rindu sayatan2 saya ;-). Masih pula dia mengirimi saya draft novel solo ketiga, La Viva Juventude! (c). Novel ketiga ini, amazingly, bebas sepenuhnya dari kritikan saya. Sungguh, saya mati ucap ketika mengomentari novel yang ini; hanya bisa mengoreksi beberapa tata bahasa dan EYD. The psychological profile fits perfectly, alurnya jelas dan mengalir, dan.. ini adalah novelnya yang terlihat menyoroti masalah yang paling dewasa pada seorang wanita ;-)

La Viva Juventude (c) adalah novelnya yang paling saya sukai. Sayangnya, seperti juga hal2 yang paling saya sukai lainnya, biasanya tidak sesuai dengan selera umum ;-) Novel ini tampaknya belum berhasil diterbitkan karena alasan tersebut.

Saya sempat kecewa melihat novel solo perdananya tidak kunjung terbit. Malah yang muncul novel adaptasi lainnya, Kamulah Satu-satunya. I see something in her, dan sungguh saya jika sesuatu itu tersia-sia untuk sekedar menulis novel adaptasi. Tanpa mengurangi rasa hormat, novel adaptasi memberi batasan terhadap imajinasi dan pengembangan karakter; sementara kedua hal ini merupakan kekuatan dari tulisannya ;-)

Untungnya ia tidak patah semangat. Terus menulis dan menulis. Dan dari sudut pandang saya yang mengikuti draft serta novel2nya, makin lama kemampuan berceritanya semakin berkembang. Hingga muncullah draft novel solo keempat di Inbox saya: Indonesian Idle (c). Makin tak banyak yang dapat saya komentari dari tulisan ini, selain hal berikut ini:

From: Maya Notodisurjo [mailto:mayanoto@xxx]
Sent: 15 April 2007 12:06
To: 'okke77@yahoo.com'
Subject: Indonesian Idle - Result Show

Okke darling.

Cerita loe sekali ini jauh lebih ringan dan cerah dibandingkan yg udah ditolak oleh penerbit itu ;-) Moga2 gak ditolak lagi ;-)

Dan walaupun lebih light dan tone-nya lebih ceria, tapi insight2university of life” khas Okke masih ada kok ;-) It’s a nice thing to focus on “forgiveness” – baik dari forgiveness seorang ibu akan ketidakteraturan anaknya, atau forgiveness seorang sahabat pada kecerobohan sahabatnya. Dan loe merangkai kisah dengan enak.. psychologically fit.. hehehe.. Pemilik warnet yg mempekerjakan gadis cantik yg overqualified, seorang duda akan lebih terkesima dengan gadis yg bisa dekat dgn anaknya, pride untuk tidak menerima tawaran Femme.. I think overall they fall into the right place.

I really hope to see it in the bookstore soon.

Selain typo yg masih bertebaran di sana-sini, gak banyak yg gw komentarin. Cuma masalah2 kecil --CENSORED MESSAGE--

OK, gitu aja sih sedikit masukan gw.. ;-) Moga2 berguna ya, Nak ;-)

Cheers!

Dan.. seperti harapan saya dalam email di atas, I do have the opportunity to see the book in the bookstore soon. Kamis, 30 Agustus 2007, akhirnya saya berhasil mendapatkannya di Gramedia Matraman. Suatu kebanggaan tersendiri melihat novel solonya berderet pada rak sebuah toko buku besar.

Saya tak hendak menulis resensi atas bukunya. Cukuplah kutipan email di atas menggambarkan pendapat saya atas novel perdananya itu. It’s now your job to buy and read it yourself ;-). Yes, I mean all of you ;-) Kalau ingin baca sinopsisnya, simak tuturan Dodol Surodol di blognya Okke ini, atau baca kesan2 Haqi di sini.

Saya hanya ingin mengatakan: Congratulations! I’m very, very, very proud of you, Nak Tir! Now you’re no longer just a novelist-wanna-be.

And it’s an honor for me to walk with you in the process of reaching stars ;-). Makan-makan, kita ;-)?