Saturday, September 22, 2007

Terang Bulan

“’Terang bulan, terang bulan di kali.. Buaya timbul disangkalah mati,’ Malaysiaaaa... Malaysia! Lagu kebangsaan aja kok nyontek lagu keroncong Indonesia!”

Begitu Bapak biasa mencela tiap kali mendengar lagu kebangsaan Malaysia berkumandang, misalnya saja ketika Malaysia memenangkan pertandingan Piala Thomas. Bikin gw cengar-cengir sendiri, karena memang nada “Keroncong Terang Bulan” yang beliau nyanyikan itu sama persis sis dengan “Negaraku”, lagu kebangsaan Malaysia. Nggak tahulah versi siapa yang benar; kalau menurut versi Bapak (baca: Indonesia?), Keroncong Terang Bulan itu muncul duluan. Tapi.. kalau menurut versi lain yang gw dengar (versi Malaysia?), Indonesia yang membuat lagu kebangsaan Malaysia menjadi berirama keroncong di masa2 konfrontasi RI-Malaysia. Tentang lagu2 itu, baca ajalah di sini, kalau yang dua tautan tadi versi Wiki-Ms ;-)

Bokap gw tukang nyilet kayak gw ya? Hehehe.. Atau malah rasis ;-)?

Entah juga. Menurut gw mungkin gejala yang wajar saja. Kuliah di FH Unpad dengan program studi kesenatmahasiswaan pada masa gencar2nya promosi “Ganyang Malaysia!”, nggak heran kalau Bapak punya soft spot untuk negeri jiran ini. Pokoknya, buat Bapak, Malaysia itu nggak ada apa2nya dibandingkan dengan negeri tercinta Indonesia ini.

*Catatan dulu: eh, bentar.. jangan pada repot2 mencari tahu tentang program studi yang gw sebut di atas ;-) Itu cuma lelucon temen2nya Bapak untuk menggambarkan Bapak yang selama kuliah lebih sering nongkrong di organisasi mahasiswa daripada ruang kuliah. Tapi jaman Bapak kuliah memang ekstrakurikulernya lebih rame daripada kuliah sih.. selain ada konfrontasi RI-Malaysia, ada pemberontakan G30S PKI, .. siapa juga yang bisa tahan duduk manis di ruang kuliah kalau kayak gitu ;-)*

Balik ke cerita awal.. ;-) Buat Bapak, Malaysia itu second to Indonesia.

“Kalau kelihatan agak bagus, itu karena mereka beruntung aja dijajah Inggris, bukan dijajah Belanda. Inggris itu penjajah profesional; mereka nggak maruk menguras kekayaan alam koloninya, melainkan membuat sistem sedemikian rupa supaya koloninya selalu terikat pada mereka. Beda sama penjajah amatir seperti Belanda, yang berpikirnya jangka pendek. Makanya rakyat Indonesia akhirnya muak sama Belanda dan angkat senjata, sementara Malaysia nunggu disuapi kemerdekaan oleh Inggris”

Ah, Bapak, Bapak. Masih nyolot aja setelah sekian tahun konfrontasi berakhir.. hehehe..

Eh, dulu gw pikir omongan Bapak ini cuma sisa2 ke-sensi-an seorang mantan aktivis mahasiswa lho! Baru hari ini gw nyadar Bapak punya point of view yang bisa dipertanggungjawabkan ;-) Yaitu setelah membaca Laporan Khusus Kompas bertajuk “Malaysia Sudah Berjalan Jauh” (Sabtu, 22 September 2007). Salah satu artikelnya, berjudul “Sentralisme yang Kian Mengkhawatirkan” menuliskan kalimat yang senada:

Sebagai bekas jajahan Inggris, Malaysia lebih “beruntung” ketimbang Indonesia. Pemerintah Inggris meninggalkan banyak hal, infrastruktur dan tata administrasi, sehingga Malaysia tidak perlu menguras energi dan waktu untuk membangun pemerintahan dan kelembagaan hingga pelosok.

(hal. 44)

Iya ya, sedikit banyak Malaysia lebih beruntung. Bandingkan dengan infrastruktur yang ditinggalkan Belanda untuk kita. Dari dulu yang bisa disebut2 kok cuma jalan sepanjang Anyer – Panarukan yang diprakarsai oleh Daendels ya.. hehehe.. Emang ada juga sih Banjir Kanal Barat, dan beberapa infrastruktur lain, tapi.. secara umum tampaknya Malaysia memang lebih beruntung karena penjajahan sistematis dan profesional ala Inggris ;-)

Cumaa.. kalau dalam sekian puluh tahun, Malaysia yang sering dicela2 Bapak itu kini sudah melangkah jauh, tentu bukan hanya karena faktor keberuntungan karena pernah dijajah Inggris ya? Lebih banyak karena usaha mereka sendiri yang lebih fokus dan lebih disiplin untuk membangun negara.

Simak artikel lain di halaman 34, yang berjudul “Ekonomi Malaysia Kian Melaju”. Ada empat faktor yang disebut2 di belakang kesuksesan Malaysia.

Malaysia amat diuntungkan memiliki Mahathir Mohamad, pemimpin yang visioner dan berani membuat keputusan yang strategis untuk menyelamatkan negara dan rakyatnya. Dia menolak mengikuti paket program pemulihan ekonomi yang ditawarkan Dana Moneter Internasional. Mahathir juga berani mematok nilai tukar satu dolar AS setara dengan 3,8 RM.

Kedua, Pemerintah Malaysia konsisten dalam bekerja. Setiap kebijakan, baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang yang telah diputuskan, dilaksanakan dengan konsisten.

Ketiga, saat krisis terjadi, jumlah penganggur hanya berkisar tiga sampai empat persen.

Keempat, Malaysia memiliki stabilitas politik yang terjaga sehingga proses pemulihan krisis ekonomi berjalan efektif.

Hmm.. bener juga! Indonesia kurang memiliki 4 faktor ini, sehingga kurang cepat majunya.

Well.. kalau sekarang, yang ketiga dan keempat itu memang mungkin masih sulit ya.. untuk Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang sudah terlanjur terlalu banyak, sangat susah untuk mulai menekan angka pengangguran di bawah 5%. Dan mengatur penduduk yang sedemikian banyak untuk menjaga stabilitas politik juga hal yang susah. Makin banyak kepala, makin banyak maunya, makin sulit menjaga kestabilan politik.

Tapi.. kayaknya kita masih bisa berharap pada dua poin pertama deh: pemimpin revolusioner yang berani membuat keputusan strategis, serta pemerintahan yang konsisten dalam bekerja. Jadi.. kenapa nggak mulai dari kedua poin ini?

Para pemimpin dan orang2 pemerintahan itu bisa lhooo... mulai melangkah ke arah maju seperti Malaysia. Asal jangan dibiasakan lagi ngambil 15 milyar – 35 milyar (bukan juta) dollar AS seperti... (baca pojok usil di Kompas pada hari yang sama, halaman 6 ;-)).

Kalau pemimpin2 kita masih macam ini.. yaah.. baiknya kita ganti aja lagu kebangsaan kita dengan Keroncong Terang Bulan. Pakai syair aslinya:

Terang bulan,
Terang bulan di kali
Buaya timbul disangkalah mati

Jangan percaya,
Mulutlah lelaki pemimpin RI
Berani sumpah, tapi takut mati

Ayoo! Mainkan ukulelenya.. hehehe.. Oops! Jadi usil beneran ;-)

**

PS: Ngomong2, ada yang ngerti nggak sih, kenapa di tautan Wiki-En ini, lagu Terang Bulan dilanjutkan dengan Potong Padi? Emang bisa gitu ya, motong padi waktu terang bulan? Kayak Dayang Sumbi & Roro Jonggrang aja.. lagi terang bulan buru2 menumbuk beras biar Sangkuriang dan Bandung Bondowoso gagal mempersuntingnya ;-)