Monday, September 24, 2007

Masih ada "Dan"-nya

Hari kedua puasa lalu, gw dapat email dari seorang teman lama yang tinggal nun jauh di belahan bumi yang berbeda. Email balasan terhadap email gw seminggu sebelumnya, dan dimulai dengan:

pertama2 minta maaf. bukan karena puasa huahahhaha karena gue ngga puasa (tahu deh.. belum terpanggil, maunya sih lebih ke arah puasa nahan marah, soalnya kalau makan dan minum ngga bulan puasa pun suka ngga sempet/lupa)

Jujur aja, gw agak kaget baca pembukaan emailnya ini ;-)

Nggak, gw nggak berhak dan nggak ingin menilai keimanan seseorang, apalagi hanya karena dia [walaupun muslim] tidak berpuasa. Gw tahu susahnya berpuasa di negeri yang berbeda musim. To tell you the truth, track record gw beberapa kali puasa di negeri lain yang berbeda musim, nggak pernah bagus.. hehehe.. Paling banter 3:1 deh, 3 hari nggak puasa, sehari berhasil puasa ;-) Kalau lagi summer, gw nggak tahan panasnya. Kalau lagi winter.. ternyata.. dingin itu bikin laper, Jenderal! Haus sih kagak, tapi badan menggigil karena cadangan lemak menyusut.

*Catatan: jaman dulu lemak gw belum sebanyak sekarang! Catet!*

Yang terakhir, tahun 1996, malah gw cuma membukukan angka 9:2.. hehehe.. Satu hari puasa, 3 hari tepar, 6 hari nyoba puasa lagi tapi nggak full, baru di hari terakhir sebelum lebaran dipaksain puasa lagi. Salah gw juga sih.. pas berangkat itu gw bingung mengira2 jam imsak di pesawat. Ngeyel nggak mau pakai privilege sebagai musafir ;-) Jadi.. biar aman, gw makan/minum terakhir jam 21:00, sebelum pesawat berangkat. Dua belas jam kemudian mendarat, baru jam 14:00 di destination yang 5 jam lebih cepat dari Jakarta itu. Maghribnya menjelang jam 21:00, jadi masih harus puasa lagi cukup lama. Total jenderal 21 jam gw puasa, dalam keadaan lelah dan jet-lag. Teparlah besoknya, radang tenggorokan!

OK, jadi gw nggak menyalahkan si teman lama jika dia tidak berpuasa. Apalagi menilik sejarah lingkungan keluarganya yang priyayi-abangan, dan sekarang ia menikah dengan seorang non-muslim, tentu susah untuk meyakinkannya untuk berpuasa. Biar kata teman gw ini punya personality yang kuat, bisa jadi apa saja yang dia mau, tapi belief system yang terlanjur tertanam dan terkuatkan oleh lingkungan dimana ia dibesarkan adalah puasa-itu-tidak-perlu.

Cumaa.. gw bener2 kaget membaca alasannya. Gw kaget karena gw nggak bisa mengingat kapan terakhir kali gw mengasosiasikan puasa dengan menahan lapar dan haus ;-)

Ohya, bulan puasa itu memang default-nya menahan lapar dan haus kan? Dari imsak sampai maghrib. Tapi justru itu masalahnya! Buat gw lapar & haus itu sudah jadi default, bukan tujuan puasa lagi ;-) Tujuan puasa lebih dari sekedar menahan lapar dan haus. Itu cuma prasyarat aja. Prasyarat biar kita bisa menggapai tujuan yang sebenarnya dari puasa itu: mampu menahan diri dari segala hal yang buruk. Nggosip. Marah. Nyilet orang. Sok tahu. Mau tauuu aja urusan orang... ;-) Sesuatu yang susah dilakukan dalam keadaan tidak lapar dan haus, APALAGI dalam keadaan lapar & haus ;-)

Maka, gw cukup kaget ketika menemukan seseorang yang usianya nggak jauh dari gw masih melihat puasa sebagai a mere lapar dan haus. OK-lah, kalau dia nggak lihat perlunya atau pentingnya.. hehehe.. Biarpun kita punya pandangan yang beda aja, setidaknya itu bikin dia kelihatan ngerti apa maunya. Ngerti kenapa dia nggak mau puasa. Tapi.. mengatakan bahwa nggak puasa karena toh sehari2 sudah sering nggak makan dan nggak minum, meletakkan puasa sebagai sekedar menahan lapar & haus.. lha.. kok jalan pikirannya kayak anak seumur Ima sih? Hehehe..

**

Belum habis kekagetan gw, tadi pagi nonton berita di TV. Ada berita FPI sedang merazia warung yang buka di siang hari. Di tayangan televisi jelas terlihat bagaimana mereka mengobrak-abrik warung yang buka; membanting gelas, menghancurkan meja2, mencongkel dinding2 kayu mencari makanan/minuman yang disembunyikan. Klausul yang menjustifikasi tindakan mereka: ini bulan puasa, dan warung yang buka berarti tidak menghormati bulan puasa.

WTF!

Gw hanya bisa tersenyum melihat ini. Sedang membela bulan puasa dengan merazia warung yang buka? Atau sebaliknya: menginjak2 bulan puasa dengan melanggar apa yang sebenarnya menjadi tujuan puasa, beyond lapar dan haus yang default itu?

**

Tadi pagi juga sempat blogwalking, menemukan sebuah cerita menarik di blog Mamah Ani, bibinya Neng Astrini. Tentang ibu2 di kampung seputar Serpong yang [meminjam kata2 si Mamah]: ”separuh wajib” ikut pengajian, dengerin ustadz atau ustadzah “ngajarin yang baik baik”, kalau nggak hadir, ya dikucilkan, ya diomongin, ya dicap kapir.

Deeuh! Ini lagi yang lucu.. hehehe.. seolah2 perbuatan buruk yang wajib dihindari di bulan puasa ini terbatas pada tidak ikut pengajian. Sementara mengucilkan orang, memberi label kafir pada orang lain, hukumnya sah2 aja ;-) Jadi inget sinetron2 Indonesia.. dimana ”pendosa” kena azab Tuhan, sementara penduduk kampung yang mencacimaki si ”pendosa” selamat2 aja. Padahal.. emangnya perbuatan yang mereka lakukan itu gak tergolong ”dosa” ;-)?

**

Melihat2 semua itu, jadi inget lagunya Tasya, yang berjudul ”Apakah Arti Puasa?

Apakah arti puasa?
Puasa tidak makan
Puasa tidak minum
Sejak subuh sampai maghrib

Apakah arti puasa?
Puasa menahan lapar
Puasa menahan haus
Dan menjaga perilaku

Itu lagu siapa yang menciptakan ya?

Siapa pun yang menciptakan, sayang sekali kalimat dan menjaga perilaku” itu ditaruh di bait kedua. Jadinya.. yaaah.. sampai sekarang, orang2 sering lupa bahwa dalam yang namanya puasa itu menahan lapar dan haus bukan lagi berita utama ;-) Selalu saja lupa bahwa masih ada ”dan”-nya: menjaga perilaku ;-)

Dan… kata sambungnya “dan” lho, ya… bukan “atau”. Jadi tidak bisa terpisahkan atau menggantikan menahan lapar/haus ;-)