Tuesday, September 04, 2007

The Pet Story

Tadi pagi sempat rada panik, karena ketika iseng2 nge-klik CatHome, salah satu homepage yang gw buat jaman baru kenal internet dulu, kok keluar error message. Waaaksss… jangan sampai satu2nya homepage gw yang tersisa dari kejayaan masa lampau lenyap! Dibuat akhir 1995, dan last updated 11 Januari 1997, ini adalah satu2nya homepage yang tersisa dari masa2 baru kenal internet (dan belajar bikin homepage, dan cukup belagu untuk nulis sepenuhnya dalam bahasa Inggris dengan tatabahasa belepotan ;-)). Dua yang lainnya, tentang sastra di Geocities dan tentang hari2 pertamanya Ima di Tripod, sudah punah karena nggak pernah di-update lagi. Habis jaman itu ng-update homepage tuh ribet sih! Mesti kutak-kutik dengan segala syntax, lalu upload pakai FTP. Nggak segampang update blog ;-)

Untung.. setelah dicoba lagi siangnya, memanfaatkan tautan dari Google, ternyata bisa. Phiewww.. lega ;-)

Karena sudah lega, sekarang bisa (dan jadi pingin cerita) tentang kucing ;-)

***

Kenapa dulu bikin homepage tentang kucing? Ya karena dulu gw pecinta kucing banget! Kucing gw sempat mencapai jumlah 16 ekor, sampai2 dulu bapaknyaima menjuluki gw Catwoman ;-) Nggak tahu juga, apakah itu karena gw sehebat si anti-hero itu, atau bapaknyaima kebetulan merasa dirinya adalah Batman ;-) Dan.. ohya, dulu bapaknyaima pernah diledek teman2nya, bahwa saingannya dia (kalau mau pacaran sama gw) bukan cowok lain.. melainkan.. kucing garong jantan ;-)

Hobby gw mengurusi kucing ini menurun dari Ibu. Ibu tuh suka banget kucing. Dan anjing. Makanya sejak kecil sampai kuliah, gw selalu punya pasangan anjing dan kucing yang bagaikan ebony and ivory, live together in perfect harmony ;-)

Bertentangan dengan pemeo umum yang mengatakan bahwa anjing dan kucing adalah musuh abadi, anjing dan kucing gw baik2 saja tuh! Ini masalah pembiasaan aja, menurut gw, seperti Simba dalam film Lion King yang bisa berteman baik dengan Pumbaa dan Timon yang secara kodrat adalah makanannya.

Generasi pertama kucing dan anjing gw memang pernah bete2an. Si cikal bakal ini, Kitty-the-Cat memang pernah sangat sebal dan mencakar Timmy-the-Puppy di masa2 perkenalan dulu. Tapi.. setelah masa perkenalan lewatlah sudah, ada yang menarik: lama2 mereka berdua jadi berteman. Mungkin karena, as a puppy, Timmy mengalami filial imprinting dengan satu2nya “induk” yang ada di dekatnya: Kitty. Bahkan, ketika Kitty-the-Cat punya anak, Timmy-the-Dog sering mengeloni (eh.. bahasa Indonesia bakunya ngelonin itu ada gak ya?) anak2nya. Dan sebaliknya, ketika Skippy-the-Dog (istrinya Timmy yang gw pelihara sejak bayi) beranak, beberapa anaknya Kitty-the-Cat suka ikut menyusu pada Skippy.

Tuh.. siapa bilang kucing dan anjing tidak bisa berteman? Bisa aja.. asal dikondisikan dengan baik ;-)

Ngomong2 soal pemeo, bukan cuma pemeo permusuhan anjing dan kucing saja yang bisa gw tolak kesahihannya.. hehehe.. Ada pemeo lain: bahwa kucing itu binatang egois yang tidak perduli dengan pemiliknya. Menurut pengalaman gw sih kucing bisa amat sangat setia pada majikannya.. hanya saja mereka punya cara sendiri untuk menunjukkan ;-)

Gw pernah punya kucing bernama Ollie. Ollie ini kucing jantan yang sekaligus pemburu tikus handal. Segala jenis tikus pernah dia tangkap; ada celurut, ada tikus got, ada tikus yang tidak teridentifikasi jenisnya apa.. Saking jagonya si Ollie ini, pada suatu masa gw sering sekali menemukan sisa2 bangkai tikus di depan kamar gw. Bikin gw bergidik jijik, karena bangkai tikus itu tidak pernah utuh. Gw tahu nih, ini kerjaannya Ollie, dan gw mulai jengkel sama dia karena jadi kucing jorok yang suka bawa sampah ke rumah.

Tapi ternyata maksudnya Ollie itu baik lho! Setidaknya, menurut interpretasi gw, dia hanya berusaha menunjukkan rasa sayangnya pada gw: dengan membawakan makanan yang [menurut standardnya] lezat banget ;-)

Interpretasi ini muncul karena – setelah berkali2 cuma meninggalkan sisa bangkai tikus di depan pintu kamar gw – suatu hari Ollie pulang berburu pada saat gw masih di meja belajar. Dia membawa seekor bangkai tikus di mulutnya; bangkai yang sudah separuh habis dimakan. Sisa tikus itu lantas diletakkannya di dekat KAKI gw, dan dia duduk dengan KHIDMAT di situ. Gw, tentu saja, menjerit2 ketakutan melihat upeti ini. Dan kayaknya Ollie sakit hati banget sama ”penghinaan” gw.. karena sejak itu dia nggak pernah lagi membawakan gw tikus ;-)

Yaah.. maaf ya, Ollie, habis standard kita beda sih.. :-) Tapi setidaknya ini membuktikan bahwa binatang itu bukan sekedar gulungan bulu lucu yang reaksinya terbatas pada approval & rejection kan? Mereka punya perasaan sayang dan rasa terima kasih juga pada mahluk lain di sekitarnya ;-)

Jadi jangan percaya deeeh.. sama film ini. Film ini mendiskreditkan kucing banget ;-)

Memang sih.. dibandingkan dengan kucing, anjing punya cara yang lebih lugas dalam menunjukkan kesetiaan dan rasa sayang pada majikan. Cara yang [mungkin bisa dibilang] lebih universal. Seperti yang ditunjukkan anjing gw, Lola.

Lola ini ”anak haram”. Hasil persilangan seekor anjing betina keturunan ras dengan seekor anjing jantan kampung. Yaah.. mirip di cerita The Lady and the Tramp lah! Bedanya, kisah Lola-the-Puppy tidak berakhir happy. Akhir kisahnya lebih mirip dengan Lola di Copacabana: sepi, sendirian, nggak ada yang mau. Pemilik induknya dengan tega meninggalkan Lola dan kedua saudaranya ketika mereka pindah rumah (May their souls rot in hell! The neighbour’s soul, I mean, not Lola’s ;-))! Tentu aja gw kasihan lihat seekor anjing kecil terlunta2, and that’s why my brother and I took Lola to our home.

Lola cukup lama tinggal bersama kami. Saat mengadopsi Lola, gw masih SMP. Tapi Lola masih hidup hingga gw pacaran dengan bapaknyaima. Dan.. Lola menunjukkan rasa sayangnya pada majikan by escorting bapaknyaima kalau pulang ngapel ;-)

Hehehe.. iya, bapaknyaima tuh kalau ngapel sampai TV abis, sekitar jam 1 malem gitu. Angkot udah nggak ada, jadi dia kudu jalan sekitar 1km dari kompleks rumah gw ke jalan raya. Dan di situlah Lola selalu ”mengawal” bapaknyaima. Dengan manis dia bakal nemenin bapaknyaima sampai dapat omprengan, baru setelah itu pulang ke rumah.

Such a loyalty, ya? Dog is indeed man’s best friend ;-)

***

Yaaah.. sejak menikah sih gw tidak terlalu dekat dengan kucing lagi. Habis, waktu hendak menikah, baru ketahuan bahwa gw mengidap toxoplasma. Walaupun toxoplasma ini bisa ditularkan oleh hewan apa saja, namun hampir bisa dipastikan bahwa gw tertular dari kucing. Pilihannya adalah punya anak atau punya kucing.. dan tentu aja gw milih punya anak.. hehehe... Terpaksa, kucing2 gw sejak saat itu ”diliarkan” dan tidak boleh masuk ke dalam rumah lagi. Hanya boleh diberi makan di garasi.

Tapi.. rupanya, yang namanya air cucuran jatuh ke pelimbahan juga ;-) Seperti tampak pada gambar Ima beserta Monty & Monica (note: Monica mojomblo, emangnya gw pikirin ;-)) di bawah ini ;-)

Biarpun nggak dibiasakan berteman dengan kucing, teteeeup aja Ima akhirnya cinta benar pada kucing. Jadi mikir2.. yang namanya minat dan ketertarikan itu masalah nurture atau nature sih? Hehehe.. Selama ini gw pikir unsur nurture lebih berperan, tapi.. jangan2 emang nature-nya gitu ;-)

BTW, jadi kepikiran iseng nih: ceritanya hari ini diawali dengan Catwoman, dan bener2 akhir ceritanya mirip Catwoman ya? Kan akhirnya peran Catwoman digantikan oleh Helena Wayne (a.k.a the Huntress), yang tak lain tak bukan adalah anak perempuan dari Catwoman & Batman ;-)