Thursday, September 13, 2007

The Last Ramadhan

Ramadhan sudah datang.

Dan seperti tahun2 sebelumnya, inbox pesan singkat di hape maupun email mulai dipadati dengan ucapan “Selamat Menjalankan Ibadah Puasa, Mohon Maaf Lahir dan Batin” sejak beberapa hari lalu. Ditulis dengan berbagai gaya dan bahasa; dari yang to the point sampai yang puitis.

Satu email yang benar2 mencuri perhatian, dikirimkan oleh Daru, seorang teman kuliah via milis angkatan:

Assalaamu 'alaikum Wr. Wb.

Andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu siangnya engkau sibuk berzikir
tentu engkau tak akan jemu melagukan syair rindu
mendayu..merayu...kepada-NYA Tuhan yang satu

Andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu sholatmu kau kerjakan di awal waktu
sholat yang dikerjakan...sungguh khusyuk lagi tawadhu'
tubuh dan qalbu...bersatu memperhamba diri
menghadap Rabbul Jalil... menangisi kecurangan janji
"innasolati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil 'alamin"

(sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku...
kuserahkan hanya kepada Allah Tuhan seru sekalian alam)

Namun teman...
tak akan ada manusia yang bakal mengetahui
apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir kali bagi dirinya
yang mampu bagi seorang hamba itu hanyalah
berusaha...bersedia...meminta belas-NYA

Gw terkesan atas dua bait pertama, tapi bait penutup yang bikin gw tersentak dan berpikir tentang the last ramadhan.

***

Awal 1998

Di suatu persiapan sahur menjelang Idul Fitri, setelah semua asisten rumah tangga pulang kampung, gw ingat Bapak pernah berkata begini

“Waaah.. Mbak, ini puasa terakhir kita sahur bareng ya? Tahun depan, kalau puasa lagi, kamu udah sahur sama suamimu. Mungkin malah udah nggak tinggal di sini lagi.”

Memang, itu akan jadi puasa terakhir kami, setelah sejak 1986 (dua belas tahun!) biasa bahu membahu berdua menyiapkan sahur. Hari pernikahan gw sudah ditetapkan untuk April 1998, hanya beberapa bulan berselang dari Idul Fitri.

Waktu itu gw hanya cengar-cengir dan berjanji bahwa biarpun nanti punya suami dan tinggal jauh dari Bapak, kalau bulan puasa sesekali akan pulang juga untuk menemani Bapak sahur. Tak pernah terpikirkan bahwa itu benar2 Ramadhan terakhir untuk kami berdua; karena walaupun Bapak masih sempat bertemu dua Ramadhan lagi, beliau sudah terlalu sakit untuk berpuasa.

Ramadhan tahun 2004

Sejak menikah tahun 1998, selalu kami sempatkan menginap barang sehari di rumah ortu bapaknyaima pada bulan Ramadhan. Biar bisa tarawih, sahur, dan buka bareng. Tapi entah kenapa, tahun 2004 itu susaaaah sekali mengatur jadwal. Gw beberapa kali harus tugas ke luar kota walaupun puasa, dan demikian pula dengan bapaknyaima. Alhasil.. Ramadhan tahun 2004 menjadi kali pertama kami tidak singgah di rumah Eyang Abah dan Eyang Ti-nya Ima.

Sempat berjanji pada Eyang Ti-nya Ima akan meluangkan waktu untuk Ramadhan tahun depan. Sebuah janji yang nggak mungkin terpenuhi, karena pada 5 Februari 2005 Eyang Ti dipanggil Tuhan dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.

Ya.. Ramadhan itu menjadi the last Ramadhan bagi keluarga besar kami secara utuh.

Oktober 2006

Bulan puasa lalu, ayah tiri gw mulai sakit2an. Puasanya bolong2. Sebuah pemeriksaan di bulan puasa menghasilkan diagnosa: nasopharyngeal cancer. Masih tahap dini, kemungkinan remisi masih sangat besar.

Menjenguk beliau di rumah sakit, gw seperti melihat kesempatan kedua. The chance to redeem everything I did wrong during my father’s illness. Gw percaya bahwa apa yang tidak sempat gw lakukan untuk menyenangkan almarhum Bapak, akan bisa gw lakukan sekarang. Termasuk hal2 kecil seperti sahur dan buka bareng lagi.

I was wrong. Ramadhan lalu menjadi Ramadhan terakhirnya. Tepat 3 minggu sebelum Ramadhan kali ini, 23 Agustus 2007, ayah tiri gw berpulang. Hanya beberapa jam setelah gw mempublikasikan posting ini.

I should’ve seen the signs. Tiga ketidakbetulan berturut2.. sekrup kacamata yang tiba2 copot, kacamata cadangan yang (tidak seperti biasanya) tak terbawa, dan point-of-no return untuk tetap berangkat dengan mobil. Sebuah perfect replica dari ketidakbetulan yang terjadi on the fateful day of my mother-in-law’s accident, dan pada saat Bapak berpulang.

*Oh, we’ll talk about that three not-so-right things later.. in another entry, if I ever get the right emotional push ;-)*

***

Jadi.. ijinkan gw mengutip sekali lagi bait terakhir dari pesan Ramadhan yang indah itu:

Namun teman...
tak akan ada manusia yang bakal mengetahui
apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir kali bagi dirinya

Dan karenanya, semoga kita mendapat kekuatan untuk menjalani Ramadhan kali ini sebaik2nya, seperti yang akan kita lakukan jika ini adalah Ramadhan terakhir kita.

Anyway.. judul entry kali ini memang dipinjam dari sebuah film: The Last Samurai. Selain cocok dengan temanya, ada satu kutipan yang sesuai untuk topik ini:

“The perfect blossom is a rare thing. You could spend your life looking for one, and it would not be a wasted life.”

Let’s consider that we have found our rare perfect blossom ;-) In this Ramadhan ;-)

Selamat menjalankan ibadah puasa.

Mohon maaf atas segala kata yang terucapkan, tindakan yang terlakukan, dan pikiran yang terlintas selama ini.