Wednesday, February 11, 2009

2K Pangkat Tiga

Beberapa hari terakhir ini lagi asyik main xylophone sama Nara. Itu lho... instrumen musik mainan buat bayi yang berbentuk bilah-bilah logam; yang kalau dipukul bunyinya berisik minta ampun (gambar dari sini) :-) Nara kan sekarang lagi asyik2nya shaking and banging, alias semua barang digoncang2 dan dibentur2kan. Daripada piring dan gelas yang digoncang-benturkan, mendingan gw beliin xylophone :-)

Ternyata lumayan susah ngajarin Nara memukul dengan benar :-) Pangkal kesulitannya ada dua: koordinasi motorik yang belum baik dan oral stage yang membuatnya hobi banget memasukkan segala benda ke mulut. Alhasil, bukannya dipukul2, malah stick-nya bolak-balik masuk mulut. Dikira permen loli, kali.. hehehe...

Tapi dengan konsistensi untuk membetulkan cara memegang, mencontohkan bagaimana dan dimana bagian yang dipukul, lama2 Nara bisa juga. Pukulannya mulai menghasilkan bunyi yang nyaring, meskipun sering juga terpukul bagian rangka plastiknya, sehingga bunyinya kurang enak didengar.

Bunyi logam yang bergema nyaring menjadi konsekuensi menyenangkan buat Nara. Langsung deh, kalau pukulannya pas, dan terdengar bunyi nyaring, Nara tersenyum memamerkan tiga giginya ;-) Apalagi kalau kemudian ibunya ikut tepuk tangan, bertambahlah konsekuensi menyenangkan yang membuatnya makin bersemangat. Pukul terus, pukul terus, sehingga makin lama makin ahli.

Practice makes perfect, itu yang terjadi. Dan memang benar sekali ungkapan itu, karena memang hanya ada dua hal yang penting dalam proses belajar: konsekuensi (dalam bahasa 'keren'-nya disebut reinforcement) dan konsistensi pemberian konsekuensi itu. Lainnya sih modifikasi aja ;-)

Sempat buka2 buku Psychology of Learning, tulisannya Arno F Wittig, yang gw tinggal di kantor untuk membuktikannya. Dan ternyata memang benar! Mau prinsip belajar dengan classical conditioning, instrumental/operant conditioning, modeling, maupun verbal learning, prinsipnya sama: 2K, alias konsekuensi dan konsistensi.

Hanya cara pemberian konsekuensinya saja yang berbeda2. Pada classical conditioning, misalnya, konsekuensi diberikan diawal, bersamaan dengan stimulus yang diharapkan memicu perilaku tertentu. Pada operant conditioning, konsekuensi muncul sebagai akibat dari melakukan perilaku tertentu. Sementara pada modeling, yang diberi konsekuensi adalah orang lain, tapi konsekuensi itu akan diadaptasi oleh si observer untuk mengharapkan suatu saat dia akan mendapatkan konsekuensi itu juga jika melakukan hal yang sama.

Naah... berdasarkan teori2 pembelajaran tersebut, kening gw jadi berlipat2 ketika membaca tentang Kantin Kejujuran. Salah satunya seperti yang terkutip berikut ini:

Kantin Kejujuran merupakan bagian kegiatan Gerakan Aksi Langsung Antikorupsi Sejak Dini atau Galaksi yang dicanangkan Karang Taruna Tingkat Nasional dengan Kejaksaan Agung. Gerakan ini bertujuan menciptakan sikap dan budaya jujur di masyarakat sebagai bentuk pembinaan masyarakat taat hukum.


*Eh sebenernya, 2K (= Kantin Kejujuran) ini proyeknya siapa sih? Kejagung atau KPK? Karena di artikel lain ini proyeknya KPK ;-)*

Eniwei... terlepas dari projectnya siapa, tetap aja konsepnya membuat kening gw berkerut. Kenapa? Ya karena gw nggak menemukan 2K yang lainnya, yaitu Konsekuensi dan Konsistensi a.k.a dua unsur penting pembelajaran di sini.

Sejauh yang gw tahu, Kantin Kejujuran dioperasikan dengan "sekedar" membuat kantin tanpa penjaga. Pengunjung bebas mengambil barang, dan meletakkan sejumlah uang sebagai pembayarannya. Suatu konsep yang bagus, sebenarnya, tapi..... tanpa konsekuensi dan konsistensi, ya sami mawon ;-) Dari mana timbul motivasi untuk bersikap jujur, jika mereka tidak melihat konsekuensi positifnya (dan tidak melihat konsekuensi negatif dari tidak jujur)? Akhirnya, ya kembali ke integritas diri masing2 pengunjung. Pengunjung2 yang integritasnya baik, karena didikan ortunya misalnya, akan lebih besar kemungkinannya untuk jujur. Yang tidak menganggap penting kejujuran, ya nggak akan jujur.

Ohya, memang beberapa tempat mencatat tingginya tingkat kejujuran pada tempat penjualan seperti ini. Laporan Tempo ini, misalnya, menceritakan tentang warung jujur yang ada di Bali - yang mungkin sekali menjadi salah satu referensi KPK/Kejagung saat mencanangkan Kantin Kejujuran. Tapi.... yang mereka mungkin lupa (atau tidak tahu?), bahwa yang menjadi faktor utama keberhasilan di warung ini adalah "sanksi sosial" :-) Masyarakat Bali punya keterikatan masyarakat yang kuat. Mereka sangat berusaha untuk menjadi homogen, menjaga harmoni dengan masyarakat sekelilingnya. "Sanksi sosial", atau yang lebih nyata berupa "sanksi adat" menjadi konsekuensi tidak menyenangkan yang dikhawatirkan terjadi. Oleh karenanya, bayangan atas kemungkinan mendapat konsekuensi tidak menyenangkan ini membentuk kontrol dari berbuat tidak jujur.

Lha, kalau di Kantin Kejujuran yang dicanangkan pemerintah ini, apa yang menjadi konsekuensi pembentuk kontrol diri? Masyarakat yang cenderung loe-loe gw-gw membuat sanksi sosial menjadi majal. Kenapa harus takut nggak jujur? Apa fungsinya? Paling diomongin orang.... tapi kemudian berlalu. Itu juga belum tentu diomongin, wong banyak yang lebih parah kelakuannya and get away with it.

Kenapa Kantin Kejujuran di sebuah SD di Padang bisa berhasil? Yaaaah... karena karakteristiknya beda :-) Anak2 SD berada dalam tahap Middle-Childhood, yang memang dalam tahap Industry vs. Inferiority. I am what I achieve, sehingga berhasil menuruti kata orang tua/guru, menjadi "anak manis", pun sudah merupakan motivasi bagi mereka untuk berbuat jujur. Dengan mengikuti nasihat orang tua/guru untuk berbuat jujur saat berbelanja di kantin kejujuran, mereka sudah membayangkan akan mendapat pujian dan ungkapan bangga.

Lha, begitu Kantin Kejujuran ini dilakukan di SMP - SMA, dimana anak sudah masuk usia remaja dan tahap psikososialnya adalah Identity vs Role Confusion, metode ini backfire ;-) Lha wong justru di tahap ini mereka berusaha sedapat mungkin untuk tidak diasosiasikan dengan orang tua/guru kok ;-) Being a bad boy/girl is much cooler at this stage ;-) Nggak heran kalau kedua kantin kejujuran ini akhirnya ditutup karena rugi ;-)

Intinya, gw nggak bilang bahwa ide Kantin Kejujuran ini jelek :-) Tapi... gw mesti bilang bahwa kalau mau berhasil, ada yang harus dibenahi dari metode ini. Paling tidak, pencanangnya harus kembali ke teori awal: Social Learning Theory

Secara singkatnya, prinsip berikut ini harus diperhatikan:

Pertama, manusia memang bisa belajar melalui observasi terhadap perilaku orang lain dan konsekuensi yang didapat oleh orang tersebut. Prinsip ini membutuhkan dua hal yang solid: role model yang tepat (baca: diaspirasikan oleh orang yang akan belajar), dan konsekuensi yang jelas. Kantin Kejujuran sudah menggunakan role model yang tepat (peer group untuk SMP/SMA, dan guru/ortu untuk SD), tapi.... konsekuensinya belum jelas, jadi masih separuh jalan ;-)

Kedua, intrinsic reinforcement (baca: perasaan dan pikiran yang timbul terhadap konsekuensi) juga harus diperhatikan. Ini kaitannya dengan tahapan psikososial di atas. Kalau buat remaja, bisa jadi justru "berhasil melanggar aturan" itu memberikan intrinsic reinforcement. Bangga dong, kalau bisa membangkang terhadap perintah guru ;-) Tentu ini menjadi backfire untuk Kantin Kejujuran, karena secara tidak langsung justru mendidik mereka untuk "mencuri"

Ketiga, pembelajaran tidak selalu disertai dengan perubahan tingkah laku. Ini juga harus diingat oleh para pencanang konsep Kantin Kejujuran. Karena sifatnya lebih kognitif, tetap bisa jadi siswa2 itu belajar sesuatu secara konsep, tapi tidak mengubah perilakunya. Jadi jangan heran kalau setelah kantin kejujuran diadakan dimana2, tetap saja tingkat kejujuran tak meningkat ;-)


Harus diingat pula bahwa peran situasi sosial dalam sebuah "Social Learning" sangat besar. Jadi, meskipun bisa saja kejujuran terbentuk saat di SD/SMP/SMA karena penggunaan role model, konsekuensi, dan konsistensi yang tepat, akan terjadi pembelajaran baru selepas mereka dari dunia sekolah. Lha, iya, nanti kalau anak2 ini sudah lulus dan masuk dunia kerja, lantas melihat bahwa senior2nya korupsi, apa iya mereka kebal terhadap pembelajaran baru? Apa iya, proses pembelajaran sosial ini akan terulang lagi dengan para senior korup sebagai role model baru ;-)?

Jangan lupa, ada 2K lagi yang bisa berperan memunculkan kebutuhan akan pembelajaran sosial baru: Kesempatan dan Kebutuhan ;-) Kalau punya kebutuhan, dan ada kesempatan, apalagi diberi contoh oleh seniornya, yaaaah.... namanya juga manusia ;-)

So... kalau boleh komentar, bukan hanya jumlahnya, Pak, yang harus membuat Bapak miris ;-) Melainkan konsep dasarnya ;-) Supaya bisa mengantisipasi dan mencegah kemungkinan gagal. Supaya hasil pembelajarannya maksimal. Mau jumlahnya banyak, kalau nggak kuat dasarnya, kecil kemungkinan berhasil.

***

Tapi lupakan dulu prognosa keberhasilan Kantin Kejujuran ini di masa depan. Kita fokus di "menanamkan kejujuran" pada remaja saja dulu. Iseng2, gw pikir, ada hal lain yang bisa dilakukan untuk membiasakan remaja bersikap jujur. Pakai aja game online seperti Pet Society ini ;-)

Beberapa teman gw tiba2 pet-nya jadi tajir mampus, karena pakai cheat ;-) Hmmm... karena cheat-nya harus pakai donlot cheat engine segala, dan mengubah beberapa syntax, tentu effort-nya gede untuk bisa berbuat "tidak jujur". Gw pikir akan lucu juga kalau nyebar cheat palsu di internet. Begitu dicoba, tiba2 keluar kalimat "Sorry, you've been robbed. It wasn't the right cheat. Yes, we lie, and you lose!" ;-) Terus koinnya yang sudah dikumpulkan dengan susah payah itu hilang. Pasti habis itu kapok... hehehe.... pasti mikir2 lagi untuk mengulangi berbuat curang, karena konsekuensinya besaaar ;-)

Jadi... alternatif aja nih buat KPK & Kejagung. Daripada susah2 set up kantin di berbagai sekolah, bikin aja cheat palsu untuk berbagai game online. Sebar di internet ;-) Lebih mudah dan murah, tapi hasilnya mungkin bisa lebih efektif... HAHAHAHA... Setidaknya lebih nampol hasilnya buat remaja ;-)