Friday, October 10, 2008

PPS

*Nerusin draft yang sempat dibuat sebelum “alih profesi” ;-)*

Sekitar 10 hari sebelum Lebaran, gw dan bapaknyaimanara harus menghadiri pemakaman jenazah di sebuah TPU di Jagakarsa. TPU-nya kecil, semacam pemakaman desa yang diakuisisi pemerintah. Namanya Kuburan Kelurahan, simply karena letaknya paaas di samping kantor Lurah Jagakarsa.

Kalau dilihat di peta Falkplan, kuburan ini letaknya di halaman 85 matriks C87. Yang artinya, jalan termudah mencapainya dari rumah gw adalah keluar tol di TB Simatupang, masuk Jl Kebagusan, luruuuuus aja sampai masuk Jl Jagakarsa. Tapi… berhubung pingin sekalian nostalgila sepanjang jalan kenangan, kami memutuskan lewat Lenteng Agung aja. Jadi dibela2in muter di dekat Kampus UI dulu, napak tilas masa2 pacaran naik angkot merah 02 yang ngetem di Halte UI.

Tapi ternyata… kenangan itu memang sebaiknya nggak diungkit2… hehehe… Sebab, bisa merusak keindahan kenangan itu sendiri ;-) Bayangin aja, ternyata sekarang depan Pasar Lenteng Agung itu macetnya kebangetan. Pertumbuhan angkot tampaknya mengikuti deret ukur, sementara pertumbuhan penduduk sekitarnya mengikuti deret hitung ;-) Makanya, satu angkot bisa lamaaaaa sekali nunggu penumpang tanpa mempedulikan antrian panjang di belakangnya.

Sumpah! Lama benjet ngantri di jalan bak titian serambut dibelah tujuh itu! Padahal jarak tempuh dari awal jalan hingga melewati pasar hanya kurang lebih 500m. Waktu tempuhnya? Hampir setengah jam!

*OOT: Saking lamanya macet, gw sampai hampir nawar lemari plastik yang ada di pasar… hehehe... Lemarinya gambar Thomas & Friends, cocok buat Nara. Tapi kata bapaknyaimanara nggak boleh beli lemari pakaian Nara di pasar, takut bajunya Nara terkontaminasi dan mengalami nasib seperti peminum susu bayi bermelamin di Cina itu. Ya suds… gw sih nurut aja. Disuruh belanja lemari ke Mothercare juga mau kok, Pak… hehehe… asal sediain dananya aja ;-)*

Anyway... untuk mengurangi kebosanan terjebak macet (dan kengerian juga, sebab kami berhenti di tanjakan, pas di belakang angkot yang kalau mau jalan harus mundur sedikit – pasti kurang jago nahan di setengah koplingnya ;-)), kami ngobrol2. Nggosipin si supir angkot, tepatnya ;-) Menurut bapaknya anak2, itulah bedanya orang2 yang time limit kayak kita2 ini dengan orang yang earning limit kayak mereka. Kalau kayak kita, pekerjaannya kan banyak, waktu itu sungguh berharga. Performa kita ditentukan oleh berapa banyak pekerjaan yang diselesaikan dengan waktu sesingkat2nya. In the long run, performa ini yang berkaitan dengan pendapatan.

Sedangkan, kalau buat mereka para supir angkot itu, waktu itu relatif ya… hehehe… Buat mereka yang pasti hanyalah lahir, jodoh, dan mati, jumlah uang setoran. Dan sumber uang setoran itu cuma satu: narik angkot. Makanya, mereka nggak keberatan nunggu penumpang sampai bermenit2 demi sejumlah tambahan uang setoran. Nggak kepikir buat mereka bahwa dengan menunggu lama begitu maka bahan bakarnya terbakar dan marjin profitnya mungkin lebih rendah daripada kalau dia jalan terus. Dan buat angkot2 di belakangnya, nggak terpikir buat buru2, nglakson2, atau apa gitu. Mereka pasrah aja nunggu nasibnya. Kalau di pasar yang ramai aja saingan di depan belum dapat penumpang, apalagi kalau mereka jalan? Kan di depan lebih sepi ;-) Mendingan nunggu yang pasti2 aja, toh kalau nanti yang depan sudah penuh, yang belakang dapat giliran ngetem ngumpulin penumpang juga. Gitu kali ya, isi benak mereka?

Ngobrol punya ngobrol, dari topik supir angkutan di Pasar Lenteng Agung ke semesta yang lebih besar (baca: supir angkutan umum di Jakarta & sekitarnya), akhirnya tercetus ide dari bapaknyaimanara:

”Sekali2 pingin deh ngirim supir angkot ke luar negeri. Biar mereka belajar bagaimana mengendarai kendaraan umum. Habis, kalau nggak ngetem, ya ngebut”

Demi mendengar celetukan itu, gw langsung dapat ide: Aha! Kenapa kita nggak bikin PPS aja? Program Pertukaran Supir, gitu!

Programnya ya kayak pertukaran pelajar; supir kendaraan umum dikirim ke negeri2 yang tertib berlalu lintas barang setahun, gitu ;-). Di sana ya kegiatannya sama dengan di sini: mengendarai kendaraan umum. Jadi mereka belajar langsung tentang bagaimana tata tertib lalu lintas.

Sebelum praktek langsung para peserta program ikut matrikulasi dulu. Mungkin sebulan pertama di negeri orang cuma orientasi dan matrikulasi, sambil belajar tata tertibnya. Terus baru habis itu sedikit2 praktek. Menurut gw sih 1 tahun cukup buat “mengubah cara pikir” mereka tentang bagaimana berlalu lintas.

Biar efektif, programnya harus berlangsung beberapa tahun. Jangan hanya sekali aja! Biar jumlah supir terdidiknya cukup besar sehingga bisa menjadi pembaharu bagi teman2nya. Jadi, seleksinya mesti ketat dalam memilih leading edge drivers ;-) Biar kita bisa menciptakan Mafia Berkeley, versi supir angkutan umum ;-)

Tapi, tapi... biayanya dari mana?

Nah! Itu! Menurut gw daripada dana negara habis buat ngebiayain pejabat2 pada studi banding ke luar negeri, mendingan dananya dialokasikan saja untuk Program Pertukaran Supir ini ;-) Soalnya, kalau pejabat2 itu yang ke luar negeri, belum tentu hasilnya bisa diimplementasikan langsung kepada rakyat. Wong hidupnya jauh dari rakyat, biarpun katanya sih representasi rakyat. Apalagi ngebiayain KPU ke luar negeri hanya buat sosialisasi Pemilu. Ngapain jugaaaa gitu lho?

Pertama, berapa sih persentase orang Indonesia di luar negeri? Signifikankah untuk mempengaruhi hasil Pemilu?

Kedua, lha wong di Indonesia aja banyak yang masih nggak tertarik ikut Pemilu, masih gol-put, kenapa sosialisasinya nggak diarahkan ke dalam? Orang2 di Indonesia ini yang akan terkait langsung dengan hasil Pemilu kan? Wong hidupnya di sini. Mbok ya yang di sini aja yang dimaksimalkan.

Ketiga, kalau memang rakyat Indonesia di luar negeri itu signifikan jumlahnya untuk mempengaruhi hasil Pemilu, pertanyaannya: apakah hasil Pemilu signifikan untuk meningkatkan harkat hidup rakyat? Sejauh ini sih hasil Pemilu Indonesia masih mengikuti falsafah Teh Botol Sosro: Apa pun yang menang, minumnya Teh Botol Sosro, kehidupan rakyat ya begitu2 aja.

Jadi... mendingan kalau dananya dialokasikan pada memperbaiki sistem transportasi umum secara langsung. Emang perubahannya nggak besar sih, cuma di sektor pelayanan publik angkutan jalan raya aja. Tapi... setidaknya, perubahannya ada pada sektor riil (tsah!).

Kalau masalah sosialisasi Pemilu, kampanye terselubung biar pada kenal dan milih, nggak usah ngirim KPU ke luar negeri. Realisasikan aja reality show ini ;-)

Gimana? OK kan usul gw? Hehehe... Ayo, partai dan kandidat presiden mana yang mau merealisasikan usul gw? Suara gw dalam Pemilu akan gw berikan pada partai yang calon presidennya mau menjalankan ini ;-)

Cuma ada satu masalah kecil aja ;-) Nama programnya nggak bisa Program Pertukaran Supir dong ya? Kan nggak ada supir dari sana yang dikirim ke sini ;-) Atau ada? Hehehe... Jadi, menerima masukan usul nama program. Coba tulis proposalnya, huruf Arial ukuran 11, spasi rangkap dua ya! Hehehe... Tapi kalau proposalnya ditolak jangan marah ya ;-) Usaha lagi, lihat lagi salah dimana ;-)