Saturday, October 18, 2008

Laskar Pelangi: It Would be Perfect if...

Akhirnya, setelah krisis garda belakang teratasi, bisa juga nonton film Laskar Pelangi. Dan... walaupun konsentrasi menonton berulang kali terganggu oleh hilir mudiknya penonton yang telat datang (*sigh!*) serta mas2 cafetaria yang MENGANTARKAN PESANAN MAKANAN para penonton (*double sigh!*), hasil tontonannya cukup untuk membuat sequel tulisan ini.




Laskar Pelangi - Nidji



Dibandingkan dengan film Ayat-ayat Cinta, yang juga merupakan adaptasi novel, film ini menurut gw lebih baik. Perubahan detil ceritanya memang lebih banyak, tapi lebih mulus keterkaitannya dengan cerita asli. Sehingga akhirnya perubahan2 itu malah membumikan ceritanya tanpa mengubah secara signifikan. Nggak seperti AAC yang perubahannya sedikit, tapi signifikan mengalihkan tema cerita.

Sayangnya, perubahan itu membuat semua aksentuasi emosi terkumpul di paruh terakhir cerita. Membuat bagian awal cerita terlalu datar, monoton, dan membosankan.

Separuh pertama filmnya, gw ngantuk ;). Berasa seperti nonton iklan; rangkaian gambar indah, tapi antara satu bagian dengan bagian lain nggak menyatu. Seolah2 sutradara cuma memvisualisasikan bagian cerita aja, nggak mengelaborasi, apalagi merangkaikannya menjadi cerita utuh. Gw rasa, mereka yang belum baca bukunya bakal bingung nonton bagian awal ini.

Pada paruh pertama cerita ini, bisa dibilang semua moral of the story muncul dalam bentuk kata2 Pak Harfan. Pak Harfan pidato. Pak Harfan menasihati Bu Muslimah. Pak Harfan ngobrol dengan Pak Zulkarnain.. Sampai2 gw mikir: kalau emang semuanya harus dari mulut Pak Harfan, kenapa nggak bikin versi sandiwara radio aja ;)?

Padahal, moral of the story mestinya bisa muncul dari bahasa gambar, atau narasi. Misalnya tentang asal mula munculnya sebutan Laskar Pelangi, mungkin akan lebih pas jika Lukman Sardi (= Ikal dewasa) menarasikan. Tidak hanya dengan menggambarkan ke-10 laskar berdiri melihat pelangi, lantas tiba2 Bu Mus berteriak memanggil, "Laskar Pelangiii... sini...". Terus terang, gw merasa makna filosofis di balik kata "pelangi" (yang sudah dijabarkan Andrea) menjadi tak bermakna. Nama Laskar Pelangi hanya menjadi sebutan kebetulan aja. Karena kebetulan Bu Mus melihat mereka melihat pelangi :)

Bahasa gambar juga dapat digunakan untuk menggambarkan perjuangan Lintang. Elaborasilah kesulitannya belajar di dalam kemiskinan dan ketidakpunyaan. Tidak hanya dengan menunjukkan Lintang belajar di bawah lampu teplok, tapi tunjukkan juga kendalanya saat harus juggling belajar dan mengurus adik2. Atau, kalaupun mau menunjukkan perjuangan Lintang mencapai sekolah, KREATIFLAH! Misalnya, tunjukkan betapa Lintang harus mulai mengayuh sepeda dari sebelum terang tanah, dan baru sampai di sekolah saat mentari sudah tinggi. Atau... manfaatkan salah satu cerita yang bikin trenyuh di novelnya: ketika Lintang terhambat perjalanannya, hingga baru mencapai sekolah saat sekolah hampir usai.

Sayangnya, para pembuat film tampaknya agak bingung mau membuat apa di paruh pertama filmnya :). Alih2 kreatif, malah bolak-balik menunjukkan Lintang ketemu buaya lagi, buaya lagi. Dalam paruh pertama, paling tidak gw lihat Lintang ketemu buaya 3x! Sampai2 gw bikin teka-teki gak penting: apa bedanya antara Lintang dengan Gadis Metropolis ;-)?

*Jawabannya: yg satu adalah lelaki yang ketemu buaya berkali2 di darat, sementara yang lainnya berkali2 ketemu lelaki buaya darat ;-)*

Cerita mulai berkembang sekitar adegan karnaval 17 Agustus. Di sini gw puji para pembuat filmnya karena berhasil membumikan cerita: Mahar membuat koreografi tarian Asmat bagi teman2nya. Perubahan ini cukup menunjukkan jiwa seni Mahar, tapi lebih membumi daripada cerita seorang anak kampung yang bisa membuat KOREOGRAFI KOLOSAL mengenai SAPI AFRIKA kan ;)?

Cerita makin berkembang setelah kematian Pak Harfan. Suatu kecerdikan tersendiri menyimpan cerita tentang Lintang yang terhambat oleh buaya dan lomba cerdas cermat untuk disatukan menjadi rangkaian peristiwa pada hari kematian ayah Lintang. Memang jadi deg2an sekali menunggu Lintang yang nggak kunjung datang, padahal lomba segera akan dimulai. Dan memang akhirnya trenyuh sekali ketika Lintang pulang menggenggam piagam kemenangan, ternyata ayahnya sudah hilang di laut.

Bagian cerita Lintang harus berhenti sekolah membuat gw menangis saat membaca novelnya. Dan tetap membuat gw menangis ketika menonton filmnya. Dengan demikian, setidaknya, film ini sudah berhasil menyampaikan bagian penting dari cerita :)

Lomba Cerdas Cermat ini juga menjadikan kecerdasan Lintang lebih membumi. Seperti gw tulis di resensi novelnya, gw merasa Andrea Hirata berhiperbola saat menggambarkan Lintang sebagai jenius. Lomba ini menempatkan Lintang sebagai anak cerdas, very superior, tapi tidak jenius.

Selain itu, Lintang juga tidak berdebat dengan guru PN Timah di lomba cerdas cermat ini. Yang terjadi adalah guru PN Timah (diperankan oleh Tora Sudiro) menggugat dewan juri yang menyalahkan jawaban Lintang. Lebih membumi, menurut gw, selain karena menunjukkan bahwa Lintang masih punya unggah-ungguh, dalam kenyataannya memang biasanya yang bisa protes tuh guru pendamping, toh ;-)? Bukan pesertanya ;-)

Adegan protes guru PN Timah ini juga membuat akhirnya Tora Sudiro ada fungsinya di film ini... hehehe... Dari awal cerita, gw mikir tokoh Pak Mahmud ini gak penting banget ;-) Ada nggak ada, nggak ada pengaruhnya pada cerita. Wong yang di-highlight adalah kisah cinta Ikal - A Ling kok, jadi ngapain bikin tokoh yang naksir Bu Mus ;-)

***

Gw merasa perlu memberikan catatan khusus untuk casting-nya. Pada awalnya, gw merasa kurang sreg Cut Mini memerankan Bu Mus karena citra Mini yang terlalu riang dan sering berperan rada konyol. Tapi, ternyata dia cukup berhasil memerankan guru bersahaja ini. Dan... logat Melayunya enak sekali didengar ;-) Sedikit banyak, logat Mini ini membantu kita connected dengan masyarakat Belitong.

Para anak Belitong yang berperan sebagai Laskar Pelangi juga tak mengecewakan. Memang, di sana-sini masih terdengar dialog bak hafalan belaka. Terutama dialog pemeran Flo yang mengingatkan gw pada anak kelas 1 SD membaca ini-budi-ini-ibu-budi ;-) Tapi... makin lama, kayaknya mereka makin enjoy dengan perannya, dan makin alamiah berdialog.

*Catatan nggak penting: walaupun si Flo ini ngomongnya hafalan, tapi dia cantik banget! Prediksi gw, dalam 4-5 thn lagi, yang pingin kenalan sama Marcella El Jolia Kondo ini harus antri ambil nomor. Siapa siaap ikutan antri ;-p? Suntingan 22 Oktober 2008: yang siaap jadi pedofil boleh ngintip fotonya Marcella di blognya ManSup. As is. Cantik kan ;)? Mirip siapaaaaa gitu potongan rambutnya ;-) *

Kesepuluh jempol gw (ya, jari gw kan jempol semua ;-)) gw acungkan buat pemeran Mahar ;-) Pada saat teman2nya masih mengucapkan hafalan, Verrys Yamarno ini sudah alamiah sekali berakting. Benar2 menghidupkan tokoh Mahar yang nyentrik2 songong, tapi good looking ;-) Dalam beberapa tahun ke depan, mungkin si Verrys ini bisa jadi bintang film pemenang Citra; kalau diarahkan dengan baik :-)

Salah casting malah gw tengarai ada pada para bintang2 besar di film ini ;-) Alex Komang, misalnya, menurut gw terlalu ganteng buat tokoh ayahnya Lintang. Emang sih... Alex itu hitam, kurus, dan rambutnya awut2an... hehehe... Tapi kurang ringkih! Dan... menurut gw sayang banget mempekerjakan aktor sekaliber Alex Komang untuk sebuah peran yg nggak perlu dieksplorasi oleh pemerannya :(

Juga, menurut gw, adalah sebuah kesia2an menempatkan Jajang C Noer serta Rieke Diah Pitaloka; dua2nya untuk peran yang nggak perlu dieksplorasi pemerannya. Apalagi Rieke jelas gagal berlogat Melayu, jadinya malah agak merusak chemistry cerita.

*Ngomong2, gw pribadi merasa Alex Komang lebih cocok untuk peran ayahnya Ikal. Kharismanya ada. Pasti akan lebih cocok daripada Mathias Muchus jika kelak ada adegan "Baju Safari Ayahku" di film "Sang Pemimpi" ;-)*

Tapi... kesalahan casting paling parah adalah.... tokoh Lintang dewasa! Hwaduh! Sumpah! Orang ini terlalu kekar, dan terlalu modis buat jadi Lintang! Dan... posenya si Lintang dewasa saat memangku anaknya sambil menyampaikan pesan sponsor "Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan" itu enggak banget deh! Model abis!

Bener deh, kalau Lintang dewasa seperti itu, dia pasti nggak bakal lama2 jadi supir tronton. Pasti bakal jadi bintang iklan, atau bintang sinetron. Apes2 jadi gigolo... hehehe...

***

Anyway... kesimpulan gw: film ini cukup bagus. Akan lebih bagus lagi kalau paruh pertamanya nggak garing, dengan lebih banyak memberikan aksentuasi emosi melalui bahasa gambar. Hilangkan aja bagian2 nggak penting seperti Samson ngejar2 A Kiong untuk "memperbesar dada"nya dengan belahan bola kasti, atau adegan mencari Flo yang cuma beberapa detik itu. Gunakan waktu dari adegan gak penting itu untuk mengelaborasi paruh pertama filmnya supaya lebih menyentuh. Jadi, nggak semua emosi ngumpul di belakang.

And it would be perfect if you don't put too many stars there ;-) Kebanyakan bintang justru silau, men! Dengan sedemikian banyak bintang besar di peran yang nggak perlu, jadinya film ini kayak jadi kursi parlemen ;-) Semua yang "berjasa" di Pemilu dapat jatah kursi... hehehe... tanpa memperhatikan prinsip the right man in the right place ;-)