Friday, August 03, 2007

Pantun Sawo

Seminggu sebelum Pilkada. Gw masih belum lihat kedua kandidat jor-joran meyakinkan masyarakat akan visi dan misinya. Visi dan misi masih dijelaskan dalam forum2 khusus yang tidak semua masyarakat tahu atau punya akses. Untuk masyarakat umum? Hanya jor-joran masang spanduk dan iklan aja. Plus pawai yang bikin macet Jakarta ;-)

So.. kalau ditanya, gw juga belum tahu mau nyoblos siapa. Kemungkinannya masih fifty-fifty; antara ngerusak surat suara atau nyoblos kandidat yang nggak [terlalu] bikin gw il-feel.

Lho? Iya.. gw memang belum tahu mana kandidat yang lebih baik. Tapi.. gw jelas tahu kandidat mana yang kampanyenya bikin gw bete ;-)

Kalau sebelumnya gw sempat il-feel dengan iklan nasionalnya satu kandidat, bayangkan dong.. betapa nikmat rasanya sekarang setelah digempur kiri-kanan, atas-bawah, depan-belakang, dengan iklan kandidat lainnya ;-)? Nonton TV.. eeeh.. muncul iklannya. Dengan berbagai versi! Pas Result Show Grand Final Indonesian Idol aja kalau nggak salah ngitung ada 3 versi berbeda iklan si bapak ini yang ditayangkan. Nyalain radio.. eeeeh.. ketemu juga beberapa versi iklan dari kandidat yang ini. Yang katanya kita mesti memilih ahlinya lah! Yang katanya mesti memilih yang ngerti Betawi lah! Terus.. sepanjang jalan, dimana2 lihat spanduk bapak ini. Kadang2, spanduknya kandidat yang lain cuma selembar, spanduk kandidat ini lima lembar! Dengan warna beda2!

Bikin il-feel kan? Berasa lagi dicuci otak deh.. hehehe.. Untung belum sampai kebawa mimpi tuh! Males banget nggak sih, ngimpiin kandidat Pilkada ;-) Nggak ada kinky2nya sama sekali ;-)

Oleh sebab itu, ketika beberapa hari lalu mendengar iklan radio Pilkada yang talent-nya Ibu Hj Tuty Alawiyah A.S., yang mengutip [salah satunya] An Nisa QS 4:58, gw udah mau teriak, ”Tidaaaaaaakkk...”! Soalnya, ayat itu kan menyebut tentang ”menyerahkan amanat kepada yang layak menerimanya”, dan kalau nggak salah, Bu Tuti juga bicara tentang menyerahkan pada ahlinya. Dengar keyword ”serahkan pada ahlinya”.. waaah.. langsung deh imajinasi gw berkembang ke arah satu kandidat tertentu.

Untung, ternyata itu iklan himbauan agar nggak gol-put aja. Kebangetan deh, kalau ternyata ayat2 suci juga dilacurkan untuk kampanye pribadi.

Ngomong2 soal promosi.. well, memang kedua kandidat ini punya pendekatan yang beda. Nggak tau juga ya, apakah pendekatan yang berbeda ini disebabkan oleh perbedaan target market. Mungkin kandidat yang satu menargetkan niche market dengan spanduk2 yang lebih witty: ”Lagu lama buang aje.. ”. Atau ”Benahi Jakarta, kita bekerja dalam keragaman” (yang menurut gw witty banget, mencuplik slogan rivalnya seolah2 sudah tercakup dalam programnya ;-)). Atau ”Banyak koalisi = banyak hutang budi.. oooh, syeram”. Berasa kan jargon2nya lebih metaphoric ;-)? Untuk memahaminya, orang mesti punya background information yang cukup dan kemampuan berpikir abstract sequential. Mengaitkan satu hal dengan hal lain, baru ketemu kesimpulannya.

Sementara, kandidat yang satunya.. Kata2 di spanduknya dibuat seharafiah mungkin, malah pakai pantun2 yang [maaf2 aja] kedengarannya terlalu denotatif. Yaah.. kalau mau dukung kontestan PDL sih cocok2 aja pakai kalimat sejenis, ”Pasar Rebo Pasar Senen, xxx emang paling paten”. Tapi.. secara ini pemilihan gubernur, gitu deh, nggak ada ya pantun yang lebih witty?

Iya, gw ngerti. Mungkin kandidat memang menargetkan mass market dengan strategi bombardir begini. Makanya dia [berusaha] pakai teknik flooding, dengan pasang iklan/spanduk sebanyak2nya, dan kata2 di spanduknya dibuat seharafiah mungkin. Dan spanduknya segede2 megaloman untuk meningkatkan efektivitas.

*Note: yang lazim memang ”Segede Gaban”. Tapi Gaban itu kan cuma segede manusia biasa. Kalau mau bombastis lebih cocok pakai Megaloman atau Voltus ;-)*

Masalahnya, si bapak ini kayaknya lupa, atau nggak tahu, bahwa yang namanya teknik flooding itu juga butuh interval. Kalau nggak pakai interval, tancap gas terus, bisa2 yang dituju malah membangun resistensi dan fed up. Nama tekniknya kan flooding, pembanjiran, bukan pembanjirbandangan! Seperti juga banjir, kalau sedikit sih asyik2 aja, bisa buat berenang. Kalau udah banjir bandang.. udah nggak lucu lagi! Rumah juga bisa ilang tuh ;-)

Naaah.. di kasus ini, si bapak ini sudah kehilangan satu suara gara2 bikin gw bete dengan kampanyenya ;-) Jadi.. mungkin saja beliau mendapatkan banyak suara yang dikejarnya. Tapi.. bisa jadi beliau juga kehilangan suara dari pemilih berayun seperti gw ;-)

Anyway.. karena si bapak itu sudah pasti nggak dapat suara gw, sebagai hadiah hiburan gw kasih pantun aja deh. Siapa tahu bisa menggenapi pantun2 beliau yang cukup crunchy itu:

Cari sawo kok dapatnya jambu mete
Kampanye diperhatikan dong, Pak Sawo , biar nggak bikin bete

Nemu sawo kok kecil-kecil
Kalau mau dapat suara, Pak Sawo , kampanyenya jangan bikin il-
feel

Dan.. kalau boleh usul, Pak, itu himbauan ini mendingan dianulir aja. Emang sih bikin orang ingat.. tapi.. at the same time, kok mengingatkan gw pada Coblos Moncong Putih. And.. the analogy, Pak, between you and the-creature-with-the-white-muzzle, doesn’t look good. Ini bukan menghina lho.. tapi, ya maaf, habisnya imajinasi gw suka mengait2kan hal yang senada sih ;-) Kan nggak lucu aja kalau selama 5 thn ke depan saban kali lihat gubernur kita yang teringat adalah mahluk bermoncong putih.