Tuesday, August 28, 2007

The V Monologues

Sebenarnya ini entry basbang. Draft sudah dibikin sejak pertama kali baca entry Cahyo habis pitulasan lalu. Tapi karena satu dan lain hal, ngendon aja di di Draft Box ;-) Biar basbang, sayang aja kalo dibuang ;-)

***

Hymenaios adalah Dewi Pernikahan Yunani. Dari namanyalah sebuah simbol ”keutuhan” perempuan diberi nama: hymen. Seperti bisa dibaca dalam tautan terkait, hymen ini sebenarnya nggak jelas fungsi anatomisnya apa; dia sekedar sebuah selaput tipis yang bisa rusak bila tertembus sesuatu. Makanya, dalam masyarakat tradisional, hymen ini diagungkan sebagai unbroken seal yang menandai keperawanan seorang gadis.

Melakukan tes keperawanan sebenarnya gampang2 aja. Nggak perlu dicobain satu2 kok, Tik, Yo.. hehehe.. ;-) Tinggal dilihat seal-nya aja. Kalau unbroken, ya besar kemungkinannya dia masih perawan. Dan lebih mudah lagi karena seal-nya ini berada di area luar vagi*a, jadi nggak perlu susah2 untuk lihat.

Yang gw khawatirkan: pejabat2 kita tahu nggak ya?

Positive thinking aja: mudah2an Bupati Indramayu cukup cerdas dan berwawasan luas untuk memiliki pengetahuan umum ini saat secara impulsif mencanangkan (eh, kata ”mencanangkan” ini kayaknya udah gak dipakai sejak jaman Orde Baru yaks?) tes keperawanan bagi siswi sekolah lanjutan ;-). Moga2 cara tes yang dimaksudkan memang seperti itu, sebuah mengacu pada Prima Nocta seperti di film Braveheart ;-).

Hehehe.. sebenarnya yang bikin gw geleng2 kepala bukan tes keperawanannya. Dengan cara yang tepat dan bijaksana (sekali lagi, baca: dengan cara yang TEPAT dan BIJAKSANA), ini malah bisa jadi semacam social control. Iya sih, sebenernya kalau ada cewek yang jadi nggak perawan, itu pasti ada yang memerawani, jadi bener juga kalo dibilang bahwa nggak fair kalau cuma cewek yang di-tes. Tapi, hey, bukankah secara tidak langsung social control ini jadi membatasi laki2 juga? Kalau cewek takut kehilangan keperawanan, dia lebih hati2 dalam berhubungan dengan cowok. Dan kalau cowoknya macam2, lebih berani untuk ”menghukum” si cowok; entah dengan lebih berani melaporkan si cowok kalau dipaksa berhubungan seksual (daripada rugi 2x: udah ketahuan nggak perawan, nggak ketahuan kalo diperkosa ;-)), atau mengambil tindakan yang lebih drastis seperti meng-kastrasi si cowok on the spot.

*Uhm.. tindakan yang kedua itu bisa jadi peluang bisnis baru. Gw mau bikin pelatihan aaaah.. tentang cara2 penggunaan cutter yang efektif ;-)*

Cumaaa.. seperti di masalah Regulasi Baru Pintu Bis, gw kok pusing mencari hubungan antara video porno dengan tes keperawanan, ya? Kok bisa sih mencoba mengurangi kemungkinan munculnya video2 porno dengan melakukan tes keperawanan? Bukannya masalah pembuatan dan penyebaran video porno itu masalah hukum ya? Asal sanksi pada si pelaku jelas, dan konsisten pelaksanaannya, masalah ini akan tertanggulangi dengan sendirinya. Nggak perlu ngurusin anak perempuan orang perawan apa enggak ;-)

Gw kadang2 heran sama pejabat2 ini. Suka nggak nyambung gitu deh antara permasalahan dan pemecahan masalahnya. Atau memang itu ya kriteria untuk bisa jadi pejabat ;-)?

***

BTW, gw beruntuuuung banget lho, Gubernur DKI Jakarta jaman gw SMP-SMA dulu nggak punya ide impulsif kayak Bupati Indramayu ;-) Umur segitu tuh gw masih suka2nya ballet, malah masih berkhayal bisa jadi prima ballerina suatu hari kelak, seperti my idol Dame Margot Fonteyn de Arias. Biar kata hymen itu nggak gampang2 rusak karena olahraga, dengan segala center split, grand jeté, arabesque, dan gerakan2 absurd lainnya, gw sih nggak yakin I would’ve passed the test ;-)

Naaah.. bayangin dong kalau tiba2 gw di-tes, dan.. ortu gw dipanggil ke sekolah karena.. vonisnya adalah gw tidak perawan ;-) Secara sekolah gw itu isinya betina semua (kecuali beberapa guru, satpam, dan tukang kebon), dan gw belum pernah pacaran (well, kalo cuma ngecengin anak CC sih waktu itu kegiatan sehari2 ;-)), pasti terjadi kehebohan luar biasa! Jangan2 tuh bapak2 guru dan tukang kebon di-line up di kepolisian buat penyidikan lebih lanjut.. hehehe..

Atau malah yang terjadi sebaliknya ya? Kalau gw terbukti emang perawan, lantas gw dijadikan orang suci. Beatified. Dijadikan simbol atau pelindung gadis2 yang kena sanksi sosial atas apa yang tidak mereka lakukan, mungkin? Hehehe..

***

Anyway.. beberapa tahun lalu pernah ngobrol2 dengan seseorang tentang the biggest fear membesarkan anak perempuan. Menurutnya, the biggest fear bukanlah mendapatkan suatu hari putrinya pulang dalam keadaan hamil tanpa suami. Kalau itu sih namanya anak perempuannya [maaf] es-ti-yu-pi-ai-di, dan nggak bisa menyalahkan atau menyesali anak yang memang kurang mampu berpikir. Yang jadi the biggest fear adalah: mendapatkan anak perempuannya menyimpan kond*m.. apalagi menemukan kond*m yang sudah dipakai di antara barang2 anak perempuannya ;-).

Kenapa? Yaah.. karena dengan demikian berarti si anak perempuan memiliki pilihan sendiri; pilihan yang tidak di-encourage, tapi tetap dipilih, bahkan telah diperhitungkan masak2 upaya penangulangan dampak negatifnya. That’s the biggest fear: menerima kenyataan bahwa pilihan yang sudah dibuat oleh si anak ternyata pilihan yang bertentangan dengan apa yang kita harapkan. Berarti ada yang kurang tepat dalam proses pendidikannya atau transfer nilai pada si anak. Entah karena kurang mampu menginternalisasikan nilai2 yang dipegang oleh orang tuanya pada si anak, atau telah terlalu berhasil mendidik si anak supaya punya pilihan sendiri (yang konsekuensinya adalah memilih yang bertentangan denan pilihan orang tuanya).

Ini posisi yang paling susah, dan paling dilematis ;-)

Dan menurut gw, posisi ini yang lebih cocok digunakan sebagai sudut pandang sang Bupati dalam menanggapi kasus maraknya VCD porno. Kalau video porno menjadi marak, berarti kan ada yang salah dengan sistem pendidikan dan pentransferan nilai2 luhur (tsah!) bangsa ;-). Mestinya sang Bupati bertanya seperti ini saja pada diri sendiri:

Astaga!
Apa yang sedang terjadi?
Oh oh astaga!
Hendak kemana semua ini?
Bila kaum muda sudah tak mau lagi perduli
Mudah putus asa dan
Kehilangan arah

(Astaga!, dipopulerkan oleh Ruth Sahanaya)

***

Balik ke masalah Tes Keperawanan yang sempat dicanangkan oleh Bupati Indramayu..

Kabar terakhir yang sempat gw baca sih udah dibatalkan ;-) Pembatalannya sih bagus2 aja, cumaaa... duh, alasannya kok naif banget:

”Kalau banyak yang menolak, ya tidak dilaksanakan,” kata Irianto di Indramayu pada Jumat (17/8).

(dikutip dari sini)

Duh! Gimana sih? Mosok alasan tidak dilaksanakannya hanya karena banyak yang menolak? Konyol banget kan? Berarti memang pencanangannya dulu tidak dipikirkan matang2. Nggak tahu deh mana yang lebih bikin gw jengkel; karena ide absurd tentang tes keperawanan, atau karena pejabat berwenang mengeluarkan ide tanpa pemikiran matang2 ;-)

----------------------

Credit Title:

Judul entry yang nggak nyambung sama bahasannya ini diambil dari The Vagina Monologues, yang sudah pernah pula dipentaskan di Indonesia.