Thursday, August 09, 2007

Indonesia Tinggal Airnya

Topik teranyar di milis SMA angkatan gw adalah: burung Garuda itu sebenernya ada atau enggak sih?

Awalnya dari email ibu ini, yang merasa kenangan masa remajanya luluh lantak gara2 berita ini. Soalnya dia yakin bener pernah berfoto bareng gw di depan sangkar burung (dengan burung hidup di dalamnya) di TMII, yang disebut oleh si pemandu wisata sebagai: burung Garuda lambang negara kita. Gw sih nggak inget episode berpotret ria itu. Kebetulan burung garuda bukan jenis burung favorit gw, dan kalaupun gw punya fantasi masa remaja yang menyangkut burung, itu pasti tentang burung yang lain.. HAHAHAHA..

*maksud gw: gw pilih berfantasi tentang Burung Bulbul yang konon bersuara merdu, Burung Phoenix yang katanya lahir dari api, atau Burung Cendrawasih yang udah pasti cantik bulunya... hayo, siapa yang udah keburu punya bayangan porno gara2 kalimat terakhir tadi ;-)? Ngaku!*

Yang gw ingat, gw pernah baca di suatu tempat dan guru Sejarah juga pernah bilang bahwa Garuda itu adalah burung mitos yang dipilih sebagai lambang negara karena keperkasaannya. Kalau nggak salah idenya diambil dari Jatayu, burung garuda yang punya andil besar menyelamatkan Dewi Sinta dari cengkeraman Rahwana. Naah.. jadi rame deh perdebatan ;-)

Tapi akhirnya gw mengakhiri perdebatan dengan menyajikan dua tautan tentang asal-usul burung garuda – satu dari Bang Enda, satu lagi tentang sejarah rancangan lambang negara. Yang gw tangkap dari kedua artikel itu adalah: lambang negara kita memang dirancang berdasarkan mitos tentang seekor burung perkasa. Tapiii.. dalam kehidupan setelah itu, ditemukan sejenis spesies burung yang mirip dengan penggambaran kita tentang burung garuda. Spesies itu yang kemudian dinamakan sebagai ”Burung Garuda”, berdasarkan kemiripannya dengan lambang negara kita, dan salah satu anak keturunannya disangkarkan di TMII untuk menjadi obyek berfoto bersama.

So.. lambang negara yang memberi nama pada spesies tersebut, not the other way around.

Tentang mengapa si pemandu wisata tampaknya haqqul yaqin menjelaskan pada kami bahwa ini adalah burung Garuda lambang negara, well.. gw pikir itu masalah keterbatasan pengetahuan aja. Nggak bermaksud menipu. Memang lebih mudah mengambil kesimpulan bahwa sebuah lambang negara diilhami dari spesies yang nyata2 ada, daripada menerima bahwa sebuah spesies diilhami dari ide tertentu. Yang kedua itu terdengar kurang realistis dan mengada2; hanya orang2 sok mau tahu dan sok mempertanyakan segala sesuatu yang bakal iseng2 mikirin kemungkinan tersebut ;-)

***

Waktu beberapa hari lalu menerima email lain dari milis yang berbeda, tentang ”ditemukannya” teks kuno lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan 3 "stanza", gw sempat mikir, ”Apa anehnya?”. Jaman SD, waktu pelajaran seni musik, gw diwajibkan beli buku Lagu-Lagu Wajib untuk Sekolah Dasar dan Lanjutan (Muchlis, BA dan Azmy, BA). Gw ingat banget bahwa di halaman pertama buku itu, Indonesia Raya terdiri dari 3 bait. Malah gw sempat pingin nyela karena fwd-an email itu tidak mencantumkan reff yang berbeda untuk bait kedua dan ketiga. Yang kedua tuh harusnya reff-nya berbunyi: “Indonesia Raya, Mulia, Mulia”. Bukan “Indonesia Raya, Merdeka, Merdeka” seperti di bait pertama. Atau.. kalau yang gw baca di buku biografi tentang WR Soepratman dulu (sayang bukunya juga nggak ketemu, gw bacanya jaman SD), teks aslinya malah bukan “Indonesia Raya”, melainkan “Indones, Indones”.

Kalau bunyi bait ketiga, terus terang gw juga lupa ;-) Tapi gw nggak lupa bahwa ada 3 bait yang berbeda, karena waktu SD gw sering songong nyanyi pakai bait kedua biar beda ama temen2 gw.. HAHAHAHA..

Gw pikir itu hanya euphoria sebagian orang yang nggak tahu ada bait kedua dan ketiga. Gw berencana mencarikan buku lagu2 itu, memotretnya sebagai bukti otentik, dan mengirimkannya pada si teman. Sayangnya yang ketemu cuma yang jilid II, lagu daerah, jadi niatnya belum terlaksana.

Kemarin gw udah hampir lupa masalah ribut2 lagu kebangsaan ini, lhaaa... kok, di infotainment dibahas besar2an! Gw jadi penasaran dan nge-browse deh ;-) Dan.. hasil browsing-nya bikin gw agak tempra.

Yang paling bikin gw tempra adalah kata2 dari kantor berita nasional kita ini:

"Rekaman itu banyak sekali unsur Jepangnya, jadi di situ ada unsur propaganda Jepang,"

Satu lagi, masih dari kantor berita yang sama, adalah yang ini:

"Peringatan 17-an merupakan momentum yang baik untuk keputusan itu, apakah kita memakai lagu kebangsaan dalam versi asli atau lagu kebangsaan seperti yang selama ini dipakai,"

Uhm.. dengan tidak mengurangi rasa hormat ya, Pak, memangnya kedua versi itu berbeda? Bukannya sama aja? Hanya saja, yang selama ini dipakai dimana2 adalah bait pertamanya saja? Kok jadi harus nunggu keputusan pemerintah sih? Seolah2 dua versi ini adalah versi yang berbeda ;-)

Kalau perkara bahwa dalam proklamasi kemerdekaan hanya digunakan 1 bait, menurut gw pertimbangan yang wajar dari Bung Karno & Bung Hatta. Lha wong proklamasinya juga nyolong2 waktu saat Jepang lengah, what’s the point to sing the whole text? Satu bait aja udah panjang ampun2an.. kalau 3 bait dinyanyikan sekaligus, bisa2 sebelum proklamator turun podium, Jepang keburu datang ;-)

*OOT: hehehe.. gw ingat banget adegan ketika Susi Susanti memenangkan medali emas olimpiade untuk pertama kali. Lagu kebangsaan kita (yang sudah satu bait doang itu) dipotong oleh orkes simponinya. Dan itupun tetap bikin pengibar bendera kelabakan: sang saka sempat naik turun di ujung tiang bendera lantaran lagunya nggak selesai2.. hehehe.. *

***

Ketika mengobrolkan masalah burung garuda, kesalahan si pemandu wisata gw anggap sebagai masalah kecil. Bukannya gw merendahkannya, tapi.. to err is human, dan menurut gw sih kesalahan yang dia lakukan sangat wajar, mengingat logika yang gw ajukan di bagian atas entry ini.

Menjadi masalah yang berbeda ketika seorang pucuk pimpinan negeri ini melakukan hal yang mirip dengan si pemandu wisata. Bahwa dia tidak tahu ada bait kedua dan ketiga pada versi asli lagu kebangsaan, sesuatu yang sudah ada di buku2 sejarah terdahulu, menurut gw, sudah suatu kesalahan tersendiri. It looks like he didn’t do his homework properly before taking his assignment.

Menuduh bahwa rekaman itu berunsur propaganda Jepang, menurut gw, adalah kesalahan yang lebih fatal lagi. Kalau rekaman itu dibuat ketika versi asli baru diperdengarkan di tahun 1928, maka itu bukan berunsur Jepang. Jepang belum jadi apa2 tahun segitu ;-). Kita masih dijajah Belanda, ingat? Kalau rekaman itu ber-setting tahun 1945, ya wajar aja kalau banyak bau Jepangnya, wong kita sedang dijajah Jepang? Jangan2 beliau lupa, lagi (atau malah nggak tahu?), bahwa naskah proklamasi disusun di rumah Laksamana Maeda? Apa mau dibilang bahwa kemerdekaan kita juga merupakan propaganda Jepang, karena ada bau2nya Maeda-sama ;-)?

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.. siapa dulu ya, yang bilang begini? Bung Karno? Kalau memang Bung Karno yang bilang begini, gw rasa beliau sedang menangis di alamnya sana karena kita2, rakyat Indonesia (bahkan pimpinannya! Can you believe it?), begitu mudah melupakan sejarah. Hingga teks asli lagu kebangsaan kita sendiri pun disimpan oleh bangsa lain, dan ketika kita melihatnya malah mencurigai itu adalah propaganda Jepang.

Gw bayangkan, dengan sedihnya, para pahlawan di alam sana sedang membuat versi lain dari lagu kebangsaan kita:

Indonesia, tinggal airnya
Tanahnya punya swasta
Sejarahnya banyak yang lupa
Rakyat banyak merana
..
Eh, kalau kayak gini, gw bisa kena pasal subversif nggak ya? Moga2 nggak.. kan gw tidak bermaksud menghina lagu kebangsaan. Hanya mengkritisi sedikit keadaan sekarang. Harap maklum ya, Pak Penegak Hukum dimana pun Anda berada ;-) Saya bangga kok dengan lagu kebangsaan kita.. buktinya sampai ingat bahwa dulu ada 3 "stanza" sementara yang lain lupa ;-)

Ngomong2 sebagai bangsa yang lupa pada sejarahnya.. mungkin itu juga sebabnya mengapa tiba2 buah sawo naik pamor. Banyak yang tiba2 suka makan sawo tanggal 8 Agustus 2007 kemarin. Apa mungkin sebaiknya sawo ini dijadikan buah nasional aja ya? Kita belum punya buah nasional kan? Hehehe..

----

PS: barusan dengerin rekaman di YouTube. Ternyata reff-nya dibikin sama untuk semua bait. Nggak tahu kenapa, padahal seingat gw nggak sama. Entah gw yang halusinasi dalam mengingat, atau dalam rekaman itu diubah for the sake of simplicity ;-) Anyway.. enjoy the music below ya ;-)