Monday, August 13, 2007

Monggo Pinarak

Gara2 pada nanyain tentang gambar yang gw pajang di comment box, semangat ke-Jawa-an gw muncul deh ;-) Jadi pingin nulis sesuatu yang berbau2 [huruf] Jawa ;-)

Seperti udah dijawab oleh AJ’s ya, Zil, kalimat itu berbunyi “Monggo Pinarak”. Artinya harafiahnya kurang lebih “Silakan Mampir”, tapi seringnya sih diterjemahkan sebagai “Selamat Datang”. Memang lazimnya diucapkan kalau ada tamu datang sebagai sambutan. Gambar itu gw bikin beberapa tahun lalu, niat awalnya mau dijadikan banner di blog, tapi karena satu dan lain hal nggak jadi. Baru ingat masih nyimpen waktu buka2 photobucket hari Sabtu lalu, dan iseng2 gw pasang di Haloscan. Malah nggak kepikir bahwa pemasangan perdana itu sesuai dengan topik yang sedang tayang ;-)

Hari ini gw nggak mau ngebahas soal asal usul, falsafah, legenda, yang ada di balik aksara Jawa. Udah banyak yang nulis dimana2, googling aja dengan keyword “Aksara Jawa” atau “Huruf Jawa”. Hari ini mau bernostalgia dengan huruf Jawa aja ;-)

***

Gw belajar aksara Jawa secara kebetulan. Waktu itu gw sedang berlibur di Solo, dan bener2 bete ketika sepupu2 gw mengadakan permainan adu cepat membaca kalimat beraksara Jawa dalam majalah Panjebar Semangat. I thought it wasn’t fair, karena sebagai anak metropolitan gw nggak pernah dapat pelajaran Bahasa Jawa seperti mereka. Tapi sepupu2 gw nggak perduli, I was left out. Jadi gw ngambek deh ;-)

Melihat gw ngambek dan membik2 mau nangis, Eyang Kakung lantas menuliskan aksara Jawa di selembar kertas bekas pembungkus Cap Menjangan (obat nyamuk bakar ngetop jaman itu ;-)). Biar gw bisa belajar dan ikutan main. Kertasnya masih gw simpan, nanti kalau sempat fotonya gw upload deh ;-)

Well, tetap aja hari itu gw nggak bisa ikutan main (kan gw perlu waktu buat mempelajari catatan itu ;-)). Dan tetap aja gw kalah telak ketika permainan itu diulang beberapa hari kemudian (iya lah, modal gw cuma beberapa hari belajar, sementara sepupu2 gw punya beberapa Catur Wulan ;-)).

Tapi yang pasti gw dapat ilmu baru.. ;-)

Sampai di Jakarta, gw masih suka iseng2 mempraktekkan nulis dengan aksara Jawa. Biasanya untuk nulis sesuatu yang rahasia, yang pingin banget gw tulis tapi nggak pingin ketahuan orang lain. Curahan perasaannya dalam Bahasa Indonesia sih, tapi dituliskan dengan aksara Jawa. Gw suka berkhayal bahwa tulisan2 gw itu suatu hari akan ditemukan orang (well.. try a few century after I wrote it ;-)) dan orang2 sibuk untuk men-decode artinya. Siapa tahu ntar ada yang merasa menemukan stanza ke-4 dari lagu kebangsaan kita gara2 tulisan gw itu .. HAHAHAHA..

*Oops, sorry, kalimat gw yang terakhir ini tentunya bukan dikhayalkan pada saat gw SD ;-)*

Anyway.. aksara Jawa ini pernah bikin gw happy campur malu berat. Pada suatu ketika, kemampuan gw membaca aksara Jawa menyebabkan kelas gw ditraktir Bakso Charles, kedai bakso di pinggir jalan yang nge-top jaman itu. Tapi makan2 gratis itu ditukar dengan “harga diri” gw.. HAHAHA..

Gara2nya, seorang guru baru di kelas 5 SD, yang baru lulus dari sebuah IKIP di Jawa Tengah, secara sembrono mengatakan bahwa anak2 Jakarta tuh nggak kenal budaya asli (uhm.. baca: Jawa ;-)). Sambil menggoreskan dua bentuk aksara Jawa di papan tulis, beliau berkata,

“Coba, banyak orang Jawa kan di sini? Tapi mana ada anak Jakarta yang bisa baca ini”

Hurufnya “sa” dan “pa”. Dengan ”wulu” di atas huruf ”pa”. Dibaca: sapi ;-)

Si Bapak Guru kaget, tapi mengatakan soal itu mungkin terlalu mudah. Beliau lantas menuliskan sebuah kata lagi. Huruf ’ma” dengan ”cecak” di atasnya, diikuti ”ka” yang diapit ”taling tarung”, diakhiri sebuah ”ka” yang di-”paten”. Still a piece of cake for me.. walaupun sudah disertai bermacam pelengkap huruf. Dibaca: mangkok.

Kayaknya gw sukses bikin panas si Pak Guru baru ;-) Dia bilang mau kasih satu soal lagi, lebih panjang dan berbentuk kalimat. Tapi kalau gw masih bisa baca dengan benar, satu kelas akan ditraktir Bakso Charles jam olahraga berikutnya.

Kalimat itu berbunyi:

Pak X guruku sing ganteng dhewe

Well, gw terlambat menyadari bahwa gw sedang ”dikerjain”.. hehehe.. Jadi, triumphantly, kalimat itu gw baca keras2 di depan seluruh kelas ;-)

Gw jadi bahan tertawaan anak2, sekaligus sejak itu sering diledek sebagai ”pacarnya” Pak X. Padahal ya, yang namanya Pak X itu nggak ada ganteng2nya sama sekali: bulet buntek dengan raut wajah seperti teddy bear kejepit pintu ;-)

Tapi nggak papa deh, setidaknya ”harga diri” gw dibayar dengan hampir 40 mangkok bakso plus es teh manis ;-) Lumayan untuk ukuran anak SD jaman itu ;-)

PERINGATAN:

Don’t let the above story inspire you, unless you want to pay the price ;-) Harga diri gw udah naik beberapa ratus kali lipat sejak jaman SD.. HAHAHAHA..

Ohya, referensi tentang wulu, cecak, taling tarung, paten, dan hanacaraka, bisa dilihat di sini.

Dan.. nggak, Pak X tidak secentil kesan hari itu. The rest of the year dia baik2 aja kok, nggak pernah kecentilan sama gw atau murid2 cewek lainnya :) He was a good teacher, cuma suka ngerjain orang aja ;-)

Akan halnya Bakso Charles, sampai sekarang masih berdiri di Rawamangun. Sekarang gedungnya udah mentereng, dua tingkat, tapi.. buat gw sih rasanya nggak se-fenomenal jaman SD dulu. Mungkin syaraf2 sensor rasa gw udah berubah.. atau.. gara2 sekarang gak gratis ya ;-)?

***

Masih urusan huruf Jawa, dan masih urusan cowok, gw juga pernah punya pengalaman mengesankan lainnya. Ceritanya, pas di kelas 6, ada dua teman main gw yang pingiiiin banget tahu who the boy at school I had my [first] crush on. Yaah, sebenernya sih gw curang: mereka udah curhat panjang lebar ke gw tentang siapa yang mereka taksir, while I sealed my lips and refused to give any name in return ;-) So, to set the score, gw putuskan aja untuk menuliskan namanya pada selembar kertas yang kemudian gw berikan pada dua teman gw itu. Ditulis dengan aksara Jawa, tentu saja ;-)

Dalam perhitungan gw, kedua teman main gw itu nggak akan bisa baca. Yang satu orang Batak, yang satunya Chinese yang orang tuanya asal Bandung. Apalagi dengan pengalaman fenomenal gw membuat seisi kelas ditraktir, rasanya nggak mungkin ada yang nebak. Paling enggak, mereka berdua butuh waktu lama untuk decode the writing. Waktu yang cukup sampai gw lulus SD dan the whole thing is forgotten ;-)

Sayang.. gw lupa bahwa salah satu teman main gw itu selalu diantar jemput oleh si Mbok, pembantunya yang Jawa banget dan selalu berkain kebaya. Si Mbok cuma perlu 3 detik untuk menterjemahkan tulisan gw ;-)

Hehehe.. emang sombong itu tak boleh ya ;-) Sepandai2nya tupai meloncat, suatu saat dia akan jatuh juga. Dan jangan percaya angka awal, karena selalu ada yang siap nyalip di tikungan. Berantakan deh rencana gw gara2 nggak ingat dua hal ini ;-)

***

BTW.. tadi gw nemu situs program Pallawa; program untuk mengubah tulisan dalam huruf latin menjadi aksara Jawa. Hmm.. kayaknya menarik juga! Gw pingin beli deh! Lucu juga kali ya, kalau tiba2 blog gw ditulis dengan aksara Jawa ;-)