Friday, August 17, 2007

Teman-teman Maya

Tadinya hendak dijuduli “Teman-teman Maya di Dunia Maya” dengan singkatan “TTM/DM” atau “TM/DDM” (tergantung mana yang lebih dipentingkan: kata ulang “teman-teman” atau kata sambung “di” ;-)). Tapi kok dibaca2 jadi mirip dengan DI/TII ya.. hehehe.. Nggak jadi deh ;-) Diambil singkatnya aja: Teman-teman Maya.

Sesuai judul yang nggak jadi, cerita ini memang berkisar pada teman2 gw di dunia maya ;-)

Karena satu dan lain hal, kemarin gw baca2 lagi semua testimonial di Friendster gw. Dan gw menemukan dua hal yang menarik. Pertama, teman2 gw ternyata punya penggambaran yang konsisten tentang gw: manic depressive (alias bisa riang banget dan bisa mendadak sensitif banget, dengan panikan sebagai highlight), suka banget ikut campur kehidupan orang (yaah.. berhubung ini adalah testimonial, mereka sih menggunakan kata2 seperti: “thanks banget atas support-nya selama ini”, “makasih udah jadi teman curhat”, atau “gw baru tahu loe orang yang care sama teman”.. tapi benang merahnya ikut campur urusan orang toh ;-)?). Yang kedua... kebanyakan dari teman2 gw yang berbaik hati memberikan testimonial adalah orang2 yang awalnya gw kenal di dunia maya. In fact, teman2 gw yang awalnya kenal tidak dari dunia maya malah nggak banyak yang gw add di Friendster.. hehehe..

Gw jadi sadar.. selama ini memang lebih banyak teman2 terbaik gw yang gw kenal dari dunia maya. Setelah kenal di dunia maya, email2an, lanjut SMS-an, dan akhirnya ketemuan, dan.. tiba2 saja mereka menjadi teman baik.

Mungkin buat sebagian orang konyol ya? Di dunia maya, everyone could be anyone. Terlalu banyak ketidakjujuran di dunia maya. Terlalu banyak yang bisa ditutupi dengan pertemanan yang tidak face to face. Banyak yang pesimis dengan pertemanan dari dunia maya. Pertemanan macam apa yang bisa digali dari tengah segala ketidakpastian itu?

Well, suatu waktu dulu, pas jaman kuliah, gw pernah baca literatur tentang terbentuknya persahabatan. Terus terang gw lupa judul bukunya, gw lupa detilnya, tapi gw ingat bahwa beberapa hal yang bisa membentuk persahabatan adalah: kesamaan lokasi, kesamaan nasib, dan kesamaan minat.

Kebanyakan persahabatan dimulai dengan kesamaan lokasi. Kesamaan lokasi inilah yang memberi kita teman2 sekolah, teman2 kuliah, teman2 kerja, .. Sebuah pertemanan yang dimulai dengan menjalani hidup bersama2, yang kemudian direkatkan dengan nasib yang sama dan/atau minat yang sama melalui interaksi terus-menerus. Menjadi dekat karena proximity dan interaction. Atau bahasa Jawanya: witing tresna jalaran saka kulina ;-)

Kebanyakan persahabatan memang dimulai dari situ, tapi bukan tidak mungkin dimulai dari kesamaan minat atau kesamaan nasib, yang kemudian – seperti juga dalam persahabatan yang dimulai dengan kedekatan lokasi – direkatkan melalui interaksi. Interaksi yang jujur dan saling percaya.

And that’s how I met most of my dearest friends. Dari sebuah semesta besar bernama dunia maya. Sebuah semesta besar yang tidak dibatasi proximity; dimulai dengan kesamaan minat dan/atau nasib, kemudian sepenuhnya bertumpu pada kejujuran diri dan kepercayaan pada orang lain. Sebuah hubungan pertemanan yang [buat sebagian orang] dipertanyakan kekuatannya. Siapa yang bisa jujur di dunia maya, kalau di dunia nyata saja bisa nggak jujur? Siapa yang bisa percaya pada orang di dunia maya, kalau di dunia nyata pun kepercayaan kita sering dikhianati?

Tapi alhamdulillah, yang begitu tidak terjadi pada gw selama ini. Pertemuan, biasanya, hanya menegaskan apa yang gw percayai dari dunia maya. Kalau chemistry-nya udah pas di dunia maya, di dunia nyata the connection only grows stronger.

Mungkin kuncinya adalah karena gw lebih “kejam” di dunia maya daripada di dunia nyata. Hehehe.. itu sih kesan yang gw tangkap dari testimonial teman2 (ex) maya gw ;-) Kalau di dunia maya, gw hobby banget nyilet2 orang secara telengas (walaupun kata2nya, mudah2an, masih terbilang sopan ;-)). Dengan demikian, begitu ketemu versi nyata yang lebih cerah-ceria, mereka seolah2 mendapatkan kejutan yang manis.. hehehe..

Buat gw pribadi, pertemanan dunia maya memang lebih cocok, barangkali. Gw tuh awkward banget kalau dalam dunia nyata. Gw mendiagnosa diri gw sendiri sebagai penderita agoraphobia (walaupun mungkin masih dalam taraf yang amat, sangat ringan ;-)); yaitu panic disorder yang diasosiasikan dengan kerumunan/gerombolan orang. Teman2 SMP – kuliah gw benar, gw memang panikan, apalagi kalau berada di kerumunan orang.. hehehe..

Karena agoraphobia ini, kegiatan2 pertemanan dunia nyata juga banyak yang nggak cocok sama gw. Misalnya aja: shopping bareng. Temen2 sekantor gw aja sekarang jarang ngajak2 mall-ing.. hehehe.. Secara kalau mereka hunting Mango yang lagi sale, gw malah nongkrong di toko buku. Nggak funky banget kan, gw? Hehehe.. Lha wong my aspired ideal vacation adalah: duduk santai di sebuah tempat teduh di pinggir pantai, dengan setumpuk buku, membaca sambil dihembus angin semilir dan diiringi debur ombak sebagai musiknya. Very lonely idea ;-) Lagian, kalau gw beli baju tuh karena gw butuh baju baru, bukan karena ada sale ;-)

Dan masih berhubungan dengan agoraphobia itu juga, gw lebih suka berteman satu lawan satu, tidak bergerombol. Mungkin itu juga yang bikin gw lebih cocok mulai pertemanan dalam dunia maya. Email2an pribadi, SMS-an, adalah bentuk pertemanan satu lawan satu, where we can know each other better, where we can measure how deep we can trust each other better. Gw selalu merasa yang begini nih menguatkan emotional bond lho.. hehehe.. dan [buat gw] lebih efektif serta lebih intensif daripada harus menghabiskan waktu berjam2 nongkrong bareng atau shopping bareng.

Tapi tentunya tiap orang punya pendapat sendiri2, kali ya.. Punya cara sendiri2 buat berteman. Dan karena itu.. gw hanya bisa berterima kasih pada teman-teman maya gw, who have trusted me enough to be your friend. Terima kasih untuk persahabatan yang terjalin, terima kasih untuk kepercayaan yang diberikan sejak dalam pertemanan maya, terima kasih atas kepercayaan yang lebih besar ketika kita sudah bertemu di dunia nyata. Dan yang jelas: terima kasih untuk tidak menghindar ketika akhirnya tahu bahwa gw tidak secantik yang [mungkin] kalian bayangkan, tidak sebijak yang [mungkin] kalian bayangkan, tidak setenang yang [mungkin] kalian bayangkan, serta yang pasti tidak sepintar yang [mungkin] kalian bayangkan.

Thanks for confiding in me and being my friends, even when you haven’t met me in person :-)