Monday, February 23, 2009

Mengaudit Suami

Akhirnya, setelah berjibaku berasonialisasi bahwa gw nggak perlu bikin NPWP, gw terjebak juga dengan sistem ini ;-) Menjawab pertanyaan Cahyo hampir setahun lalu, iya, Yo, memang akhirnya gw bikin NPWP juga.

Bisa dibilang, Direktorat Jendral Pajak berhasil membuat gw bermetamorfosa jadi "tikus Skinner"; mengubah perilaku gw dengan teknik behavioristik pemberian reinforcement negatif ;-) Ya, ini adalah tindakan aversif! Gw akhirnya bikin NPWP setelah terkena ancaman bakal kena pajak 20% lebih besar, serta harus bayar fiskal 2,5 jeti. Gila bo, fiskal sejuta aja menurut gw udah pemerasan, eeeeh... ini hampir 3x lipat!

*Memang sih, sebenernya gw bisa nebeng bapaknyaimanara. Tapi... gw kan gak mau tergantung sama suami... hehehe... Bukan tipe yang swarga nunut, neraka katut sih ;-)*

Awal2nya sih, gw ngerasa nggak perlu belajar ngisi SPT. Kan kata Pak Manager GA & HR di kantor cukup tulis nihil2 aja, dan melampirkan bukti potong pajak dari kantor. Yaaah... gw haqqul yaqqin bahwa gw gak bodoh2 amat: pasti bisa mengikuti petunjuk pengisian. Kan gw bisa baca tulis, dan bisa berbahasa Indonesia.

Tetapi, saudara2! Ngisi SPT itu ibarat berenang. Nggak cukup cuma teori ambil-nafas-dari-mulut-keluarkan-dalam-air-dari-hidung ;-) Gw jiper juga begitu melihat penampakan keempat lembar yang harus gw isi! Gimana nggak jiper, udah hurufnya sekecil2 kutu beras, item2-nya berulang di sana-sini. Coba, bayangin betapa bingungnya gw menemukan kata "bunga" di form 1770 S-I, kemudian ketemu lagi di form 1770 S-II. Lha, ini surat pajak atau taman bunga sih? Banyak bener bunganya... hehehe... Udah gitu, ternyata format copy paste dari form 1721 A1 ke form 1770 S tidak sesederhana yang gw bayangkan.

*Iya, gw emang bisa nanya juga sama suami gimana caranya ngisi SPT, secara dia udah bertahun2 punya NPWP. Tapi... sekali lagi, gw kan gak suka tergantung sama suami kecuali dalam soal komputer dan peralatan elektronik lainnya ;-)*

Untung, kantor gw bikin workshop setengah hari tentang mengisi SPT Tahunan. Kami dijelaskan, sambil berlatih mengisinya. Jadi tercerahkan deh mengenai berbagai hal seputar pajak ;-)

Yang jelas sih gw nambah informasi bahwa termin "bunga" di 1770 S-I itu berbeda dengan "bunga deposito, tabungan, dan diskonto SBI" di 1770 S-II. Yang di S-II itu adalah bunga simpanan kita, yaitu penghasilan yang dikenai PPh Final, alias sudah pasti jumlah dan waktunya. Sementara yang di S-I itu adalah yang tidak pasti, atau dikatakan tidak dikenai PPh Final. Contohnya kalau gw kerja jadi rentenir, membungakan uang, maka penghasilan gw dari membungakan uang itu dikenai pajak juga.

*Dipikir2, prinsip "bunga" dari 1770 S-I ini mirip teknik Robin Hood :-) Iya dong, kan mengambil [untuk kepentingan rakyat] sejumlah uang dari mereka yang memanipulasi sebagian kecil rakyat ;-)*

Selain dapat pengetahuan yang berkaitan dengan teknis pengisian, gw juga jadi tahu beberapa hal lain yang bikin gw bersyukur.

Syukur gw yang pertama adalah: untuuuuunggg.... gw udah nggak kerja honorer lagi ;-) Jaman tahun 2001 dulu, gw sempat berhenti kerja karena punya angan2 impulsif ngurus anak ;-) Gw kerja freelance biar punya waktu banyak buat Ima. Project-based. Naah, syukurlah gw insyaf dan kembali ke jalan yang benar... HAHAHA... sebab, kalau tidak, gw bakalan pusiiiiingg dan dar-ting ngurusin PPh gw ;-)

Iya, gw baru tahu kenapa kantor gw mengenakan 5% potongan pajak pada supplier kami (freelance moderator/translator). Ternyata, itu berkaitan dengan skala pajak yang dikenakan. Hingga tahun pajak 2008, penghasilan di bawah 25jt dikenai 5% pajak (sejak 2009 yang kena 5% adalah jumlah di bawah 50jt). Nah, namanya freelancer di bidang kami, honor per jasanya nggak mencapai 25jt, jadi dipotong 5% saja. Tapiiii..... coba kalau setahun dapat sekian project, kan jumlah penghasilan tahunannya bisa saja mencapai skala yang harusnya kena 25% pajak, ya toh?

Naah.... sakit hati kan, kalau setelah kerja setahun merasa sudah bayar pajak, ternyata... oh, oh, oh, kita dinyatakan kurang bayar! Karena 5% kali total jumlah penghasilan tahun itu tentu di bawah jumlah pajak berjenjang, kalau penghasilan kita sudah kena yang 10% - 35% ;)

Syukur gw yang kedua adalah: harta gw nggak banyak... hehehe... Di form 1770 S-II cuma disediakan 6 baris untuk mencatatkan harta. Gw bersyukur harta yang harus gw catatkan nggak sampai 6 item. Coba kalau gw kaya raya, pasti gw harus sibuk fotokopi atau bikin tabel baru untuk mencatatkan harta gw. Atau setidaknya menuliskannya di Post It ... hehehe....

Konon kabarnya, menurut peraturan, sampai berapa gram emas yang kita punya aja harus dicatatkan sebagai harta. Naaah... gw kan cuma punya 2 emas: Mas Japro sama Mas Nara... hehehe... udah gw tulis dua2nya aja lembar harta itu masih lowong ;-)

Tapiiii... selain ada pengetahuan yang membuat gw bersyukur, ada juga informasi yang bikin gw mengumpat dalam hati ;-) Umpatan yang pertama adalah: Damn! I wish I were a surgeon! Atau paling enggak: damn! Coba gw dulu jadi lawyer seperti anjuran Bapak! Kan jadinya gw termasuk tenaga ahli yang PPh atas pekerjaannya adalah flat rate 7,5% ;-) Nggak kena pajak berjenjang seperti sekarang ;-)

*Suntingan 24 Februari: eh, tapi kalau kata Rudy, pada akhirnya tetap kena aturan pajak yang bertingkat2 itu ding! Dan menurut kata iklan, kan, "Benar apa yang dikatakan Rudy!", jadi nggak ada alasan buat iri ;-)*

Dan satu lagi yang bikin gw mengumpat dalam hati adalah bias gender dalam sistem perpajakan ini! Damn! Ternyata PTKP suami gw lebih besar daripada PTKP gw! Soalnya gw sebagai perempuan, biarpun berbuntut berapa pun, tetap dianggap "tidak kawin", alias cuma dapat PTKP pribadi. Sementara bapaknyaimanara dapat PTKP berkali2 lipat karena menikah dengan 2 anak. Curang! Kan persetujuan pembagian biaya rumah tangga diperhitungkan berdasarkan perkiraan penghasilan bersih :-) Lha, ternyata, selama ini penghasilan bersih tahunannya lebih besar daripada yang "dilaporkan" kepada gw :-)

Hmmm... kayaknya suami gw perlu gw audit nih! Lumayan kan, 11 thn menikah, 10 thn menikah dengan 1 anak. Hitung aja berapa jumlah "pendapatan tidak dilaporkan"-nya yang nggak gw kenai "pajak"... hehehe... Kalau gw tagih sekarang, mungkin bisa dapat satu Blackberry Bold ya ;)? Atau... seapes2nya bisa dapat sebatang lipstik lah ;-)

So, if you excuse me, I'll go auditing my husband now ;-) He can run from the tax system, but he cannot hide from me ;-)